تسجيل الدخولSudah baca? lanjut komentar yuk! 🫰😁
Marfa dengan sigap mengulurkan tangan untuk menyambut jas putih yang disampirkan di lengan Liam, serta tas kerja kulit milik pria itu. Jemarinya sempat bersentuhan sekilas dengan tangan Liam yang terasa dingin."Papa!" seru Vian riang, langsung berlari menghampiri dan memeluk kaki jenjang Liam.Liam menunduk, mengusap lembut kepala anak sambungnya dengan senyum tipis yang samar. "Mau berangkat sekolah, hm?"Liam dan Vian berbincang hangat di ruang depan, sedangkan Marfa melangkah ke dalam. Ia membawa tas kerja Liam menuju kamar, lalu berbelok membawa baju kotor serta jas putih suaminya ke area ruang cuci, sebelum berangkat mengantar Vian ia memutuskan untuk mencuci lebih dulu. Toh, waktu masih cukup. Seperti kebiasaannya, Marfa mengecek satu per satu bagian jas sebelum memasukkannya ke dalam mesin cuci. Namun, saat merapikan bagian atas jas itu, pandangannya terhenti pada area bahu kanan yang dekat dengan kerah leher.Di atas kain putih yang bersih itu, menempel noda samar berwar
"L-Liam, k-kenapa kamu masih ada di sini?" Maryo bicara gugup. Liam tidak menjawab pertanyaan mertuanya, cekalan tangannya pads Arman menguat hingga lelaki di depannya meringis kesakitan. "Argggh," pekik Arman. Liam melepas cekalannya setengah menyentak hingga Arman mundur beberapa langkah.Semua orang mungkin masih tidak menyangka dengan kedatangan Liam, apalagi keluarga Marfa yang saat ini mematung. "Apa kamu sudah selesai di sini, Marfa?" panggil Liam dengan suara rendah namun terdengar jelas. Marfa mengangguk. Tubuhnya masih terasa lemas, namun kedatangan Liam benar-benar membuatnya merasa sedikit lega dan tenang karena merasa ada tempat aman untuknya dan Vian. "Mari pulang," ucap Liam tenang. Marfa menyapu sisa air mata di wajahnya dengan jemari yang masih bergetar. Hatinya sudah terlalu hancur untuk tetap bertahan di tempat yang tak pernah menganggapnya ada. Tanpa sanggup menatap orang tua maupun saudara-saudaranya lagi, ia hanya mengangguk pelan."I-iya, Mas..." sahut
Lasmi bergeming, ia tidak merespon tatapan hancur dari putrinya itu. Ia tetap berdiri tak acuh dengan ekspresi dingin dan masa bodoh dengan apa yang Marfa dan Vian rasakan. Sejak dulu, Marfa selalu dianaktirikan di rumah ini. Bapaknya begitu membanggakan dan menyayangi Arman sebagai putra sulung, sementara Ibunya sangat memanjakan adik-adiknya. Marfa berada di tengah—sendirian, hanya dianggap beban yang merepotkan. Apalagi saat statusnya masih janda beberapa waktu lalu, Marfa benar-benar diperlakukan tak ubahnya sebuah aib keluarga yang harus disembunyikan."Bapak, sudahlah. Kalau Mbak Marfa tidak mau bantu cuci piring, suruh saja dia di depan catat buku tamu," sela Lely, adik perempuan Marfa yang baru saja lulus SMA.Gadis itu berdiri bersedekap dada dengan wajah meremehkan. "Sekarang kan sudah jadi orang kaya, mana mau dia pegang-pegang barang kotor--""Lely! Mbak tidak begitu, ya!" potong Marfa, suaranya meninggi. Ia jauh lebih berani menghadapi adiknya dibanding saat berhada
Pagi itu, mobil Liam sudah siap terparkir di halaman. Setelah pamit dan memberikan pesan singkat pada Vian, pria itu segera bersiap kembali ke kota karena urusan pekerjaan yang tidak bisa ditinggal. Sedangkan Marfa dan Vian berniat tinggal sehari atau dua hari lagi. "Dah, Papa! Hati-hati di jalan!" ucap Vian riang sembari melambaikan tangan ke arah mobil Liam yang mulai melaju perlahan meninggalkan pekarangan.Setelah mobil itu menghilang di balik belokan jalan, Marfa menggenggam jemari kecil Vian. Mereka berdua berjalan santai dari rumah sang nenek menuju tenda hajatan di rumah orang tuanya. Marfa sendiri sudah mengenakan pakaian yang rapi untuk menghadiri acara syukuran khitanan keponakannya itu.Sesampainya di sana, suasana sudah sangat riuh. Orang tua dan saudara-saudaranya bersiap untuk menyambut para tamu undangan yang mulai berdatangan. Mereka tampak padu dalam balutan pakaian seragam yang selaras dan menawan.Marfa terduduk sejenak sebelum ikut merewang di acara keluarga
"Ini minumnya, Mas." Liam menerima gelas itu tanpa banyak bicara, matanya sempat menatap Marfa yang kini sengaja menghindari kontak mata dengannya. "A-ku mau jemput Vian dulu di rumah Ibu, Mas," pamit Marfa bergegas. Rasa malu setiap bertatapan dengan Liam membuat dirinya butuh ruang untuk bernapas dan menetralkan detak jantungnya yang masih berantakan. *** Begitu Isya berlalu, keriuhan di rumah Maryo makin terasa. Halaman depan sudah dipasangi terpal besar dan dilapisi karpet tebal. Para lelaki desa, mulai dari tetangga sekitar hingga tokoh masyarakat, sudah duduk bersila membentuk lingkaran besar. Suara obrolan riuh dan aroma asap rokok menyan bercampur wangi bumbu masakan mendominasi udara malam. Ketika Liam melangkah ke area kenduri bersama Marfa, beberapa mata langsung tertuju padanya. Pria kota itu tampil rapi dan bersih dengan kemeja rapi yang tergulung sedikit di bagian lengan serta celana kain hitam. Penampilannya penuh wibawa dan berkelas meski tidak memakai sesuatu
Marfa yakin rasa jamu racikan neneknya itu sangat pahit, tetapi ekspresi Liam hampir tidak berubah sedikit pun saat meminumnya. Pria itu tetap tenang tanpa mengernyit ataupun menunjukkan raut ragu."Pahit, Mas?" tanya Marfa polos, penasaran.Setelah cairan pekat dalam botol itu habis, Liam menjauhkan wadah itu sembari meremas pelan jemari Marfa, sebelum perlahan melepaskannya."Pahit. Kamu mau coba?" tanya Liam dengan suara rendah.Marfa melirik botol kaca yang kini sudah tandas. Ia hendak menggeleng pelan untuk menolak, namun tanpa diduga Liam merengkuh pinggangnya lebih rapat.Sebelum Marfa sempat mengucapkan kata, bibir Liam sudah mendarat sempurna di atas bibirnya.Pria itu mendaratkan ciuman yang dalam dan menuntut, seolah sengaja membagi rasa pahit-hangat rempah yang masih tertinggal di indra pengecapnya sebagai bentuk hukuman kecil untuk sang istri.Marfa membelalak kaget. Jemarinya refleks meremas bahu kokoh Liam saat kehangatan dan rasa pahit jamu itu menyapu bibirnya,







