Mag-log inSedih banget jadi Marfa 😢😢
"Ya ampun, lalu bagaimana denganmu? Apa yang kamu lakukan saat itu?" Lio menggeleng pelan. "Aku hanya duduk diam, pura-pura tidak dengar. Aku hanya merasa bukan siapa-siapa. Ayah dan Ibu mengangkatku sebagai anak hanya agar aku mendapatkan pendidikan dan hidup yang layak--" Wajah Lio berubah muram, Marfa mengerti pasti anak itu merasa asing. Ia lalu meraih jemari kecil Lio lalu menggenggamnya. Alena dan Liam mengangkat Lio sebagai anak mereka hanya agar terlihat dimuka umum, tapi di keseharian Lio bahkan dimasukan ke asrama. Marfa mungkin tidak paham kenapa mereka melakukan itu, yang ia sadar sekarang mungkin itu salah satu yang membentuk sikap Lio jadi anak yang pendiam namun berambisi. "Tante Marfa--" Lio menatap Marfa, kali ini seolah ada sesuatu yang ingin ia tanyakan namun ragu. "Kenapa Lio?" Lio terdiam sesaat lalu menggeleng pelan. "Tidak." Tak lama mereka mendengar suara langkah kaki. Keduanya terdiam dan menatap ke arah pintu. Tepat di sana, Liam berdiri. "Pap
"Ibu, soal itu.... ""Ibu tidak masalah," ucap Lisya cepat. Ia bahkan seolah tidak berniat mendengar penjelasan Marfa. "Uang itu sudah diterima orang tuamu. Aku tidak akan menyuruh Liam untuk mengambil atau menagihnya. Tapi--"Lisya mendekatkan duduknya. "Kamu tetap harus membayarnya."Ucapan Lisya terdengar sangat serius. Marfa menelan ludah, jumlah uang yang Liam berikan pada orang tuanya memang sangat banyak. Tapi sebelum ini, Liam bahkan tidak memberatkan Marfa sedikit pun. Lisya justru mengungkitnya seakan Marfa berhutang dan harus tahu diri membayarnya. "Bukan dengan uang. Kamu jelas tahu apa yang Ibu inginkan kan?" Setiap ucapan Lisya terlontar seperti sebuah desakan yang tak boleh Marfa tolak. Marfa menatap Lisya, mencoba mencerna apa maksud wanita paruh baya itu. "Anak. Kali ini Ibu sangat memohon Marfa! Bagaimana pun carannya, Ibu ingin kamu bisa mengandung cucuku!" "Ibu," Marfa gugup, ia kesulitan bicara. "Aku dan Mas Liam juga sudah pikirkan soal itu. Ibu tenang saja--
Liam bukan seseorang yang mudah diajak mengobrol, apalagi dengan tema di luar dari pekerjaannya saat bertugas menjadi seorang dokter, tentu saja keinginan Angger itu terbilang cukup berani. "Anda anak Pak Rusdi kan? Kebetulan saya rekan bisnis beliau--" "Kalau bukan urusan medis, itu berarti tidak ada kaitannya dengan tugas saya sebagai dokter," potong Liam cepat saat mendengar apa maksud Angger. Ia sempat tegang saat menyangka Angger akan bertanya soal Marfa. Ternyata, lelaki itu justru menanyakan hal di luar dari tebakan Liam. "Saat ini masih jam praktik, akan lebih baik jika Anda tidak menahan saya sekarang," lanjut Liam tanpa basa-basi. Kalimat Liam bisa Angger mengerti, pemuda itu tidak lagi berharap untuk bisa menyita sedikit waktu Liam untuk mengobrol. Mungkin lain kali di luar jam kerja ia bisa membuat janji temu. Angger menghela napas, menurutnya sikap Rusdi masih jauh lebih ramah ketimbang Liam. Padahal awalnya Angger pikir mengobrol dengan yang lebih muda akan lebih m
Marfa meremas kuat-kuat ujung bajunya. Rasa tidak nyaman dan sesak kembali menyeruak, memenuhi rongga dadanya.Ia memaksakan senyum getir. "Kamu yakin Mas? Kemarin kamu yang menolak ide itu."Marfa menatap wajah suaminya yang mendadak tampak tegang dan tidak serileks biasanya."Sekarang aku hanya mempertimbangkan keinginan Ibu," jawab Liam seraya memalingkan tatapannya ke arah lain, seolah kehilangan aura dominan yang selalu ia tunjukkan. "Beliau sudah tua. Mungkin memang sebaiknya kita usahakan dulu untuk punya anak dengan cara itu."Marfa berdeham pelan untuk menghalau rasa ganjal di tenggorokannya. Senyum tipis masih terukir di wajahnya, namun siapa pun yang melihatnya bisa tahu bahwa senyum itu tidak menunjukkan kelegaan. "Baiklah. Mari kita coba," jawab Marfa pada akhirnya.Ia tidak menolak sama sekali. Marfa memilih menerima tawaran itu, meski hatinya bertanya-tanya. "Besok jadwal dengan Dokter Alya. Tidak perlu datang, kamu bisa libur. Aku akan mengatur ulang jadwalny
Setelah memastikan kondisi pasien stabil dan memindahkannya ke ruang perawatan, Liam keluar. Ia melepas sarung tangan medisnya lalu bergegas menuju meja perawat untuk mengambil map rekam medis yang baru saja diperbarui.Matanya dengan cepat memindai baris demi baris informasi pribadi sang pasien hingga terhenti tepat di kolom identitas utama.Nama Pasien: Angger Prastyo. Manik mata Liam membelak mendapati nama itu tertera dengan sangat jelas.Liam mematung sesaat, pikirannya mulai berkecamuk. Teka-teki yang sejak semalam berputar di kepalanya akhirnya ia temukan jawabannya. Lelaki yang menyelamatkan Vian di mall, pria yang tak sengaja menyenggol pundaknya, dan pasien gagal jantung yang baru saja ia tangani dengan tangannya sendiri adalah orang yang sama-mantan suami Marfa. Liam yakin itu, bukan hanya kebetulan memiliki nama yang sama. Liam menutup map rekam medis itu rapat-rapat. Ekspresi wajahnya berubah drastis, ketegangan terpancar jelas dari rahangnya yang mengeras. Tanpa m
Di sepanjang perjalanan pulang, keheningan menelusup ke dalam mobil. Marfa duduk di samping kemudi, sementara anak-anak berada di jok belakang bersama Bi Ratih. Vian yang kelelahan mulai tertidur pulas, dan Lio hanya menatap luar jendela tanpa bersuara.Marfa mencoba mengalihkan rasa gelisah di dadanya dengan membuka ponsel. Namun, saat jemarinya membuka aplikasi pesan dan mengklik status WhatsApp milik adik iparnya, sebuah foto membuat napas Marfa tertahan. Di status WhatsApp Hilya, terpampang foto gadis itu bersanding manja dengan Liam. Namun, bukan keberadaan Liam yang membuat napas Marfa tercekat, melainkan sosok wanita yang berdiri di sebelah mereka—Alena. Bertiga, mereka tersenyum ke arah kamera di dalam rumah keluarga Liam.Secara refleks, Marfa menoleh ke samping. Pandangannya meneliti penampilan suaminya, pakaian yang dikenakan Liam sama persis dengan yang ada di foto. Marfa lalu mengecek keterangan waktu pada status WhatsApp itu, beberapa jam yang lalu. Waktu yang coc







