로그인Ibu Ratna terdiam sejenak. Membayar pembunuh bayaran profesional berarti menghabiskan hampir seluruh sisa aset kekayaan yang ia sembunyikan dari suaminya. Namun mendengar rintihan kesakitan anaknya, ia langsung membuang keraguannya."Baik. Ibu akan cari kenalan lama Ayahmu di dunia bawah tanah. Ibu bakal sewa tim pembunuh terbaik buat kamu," setuju Ibu Ratna lugas. "Apa tugas mereka?""Tugas mereka cuma satu," desis Indra tegas, menyandarkan kepalanya ke tembok basah. "Suruh mereka serbu rumah Wildan malam besok. Bumihanguskan rumah kuli bangsat itu. Habisi semua orang di sana, kecuali Maya. Suruh mereka culik Maya dan bawa dia ke aku dalam keadaan hidup."Sang buronan itu kini tidak lagi memperdulikan opini publik yang sudah hancur. Ia tidak peduli lagi pada karier hukumnya yang tamat, ataupun arogansi militer ayahnya yang telah mengusirnya. Satu-satunya tujuan hidup Indra saat ini hanyalah membumihanguskan tempat berlindung Wildan dan merebut Maya kembali. Ia ingin menjadikan wanit
Setelah berhasil meloloskan diri dari tabrakan mobil SUV milik Black Wolf, Indra menyeret tubuhnya menembus kegelapan lorong-lorong perkampungan kumuh. Hujan deras mengguyur tubuhnya tanpa ampun. Nafas mantan jaksa itu tersengal-sengal. Kondisinya saat ini benar-benar berada di titik paling memprihatinkan.Tulang rahangnya terasa retak akibat pukulan brutal Wildan di penthouse tadi. Setiap kali ia mengambil napas, rasa nyeri yang luar biasa menusuk wajahnya. Kemeja mahalnya robek di berbagai sisi, bersimbah darah dan kotor oleh lumpur selokan. Seluruh pengawal bayarannya telah kabur meninggalkannya. Ia kini sendirian, tanpa uang sepeser pun, tanpa senjata, dan menjadi buronan di tengah malam yang dingin.Akan tetapi, rasa sakit yang mendera sekujur tubuhnya itu justru memicu ledakan adrenalin. Rasa putus asa itu terbakar habis, mengubah ketakutannya menjadi dendam kesumat.Indra bersandar pada tembok bata yang lembab di sebuah gang buntu. Ia tahu persis bahwa Wildan tidak akan pernah
"Kamu deketin aku dari awal karena kamu tahu ayahku adalah saksi palsu yang bikin ibumu mati di penjara! Kamu tahu semuanya!" raung Maya, memukul lantai dengan tangannya. "Kamu sengaja manfaatin traumaku dari Indra biar aku lari ke pelukanmu!""Nggak pernah sekalipun aku niat nyakitin kamu, May!" Wildan tidak tahan lagi. Ia melangkah maju secara paksa dan langsung berlutut di hadapan Maya, menjulurkan tangannya untuk memegang bahu wanita itu.Namun, Maya bereaksi jauh lebih keras. Ia menepis tangan Wildan dengan penuh rasa jijik.PLAK!Maya menampar pipi Wildan dengan keras. "Jangan berani-beraninya kamu sentuh aku!" jeritnya, memundurkan tubuhnya hingga punggungnya menabrak dinding."Kamu sengaja nidurin aku! Kamu sengaja ngehamilin aku! Biar apa?!" lanjut Maya sambil menangis tersedu-sedu, memeluk perutnya sendiri. "Biar bayi di dalam kandunganku ini bisa jadi piala kemenanganmu buat ngancurin keluarganya Indra dan juga … validasi atas dirimu sendiri kalau kamu sudah berhasil balas
Gagal menangkap Indra di jalanan kumuh tadi membuat Wildan benar-benar frustrasi. Ia terpaksa pulang ke rumah mewahnya dengan tangan kosong. Kemeja dan jaket kulitnya basah kuyup karena hujan badai, sementara buku jarinya masih meneteskan darah akibat meninju tembok gang pelarian Indra.Begitu pintu utama rumah dibuka, Wulan yang sedari tadi menunggu dengan wajah cemas langsung berdiri menyambutnya."Wil, gimana? Indra berhasil kamu tangkap? Mana dia?" tanya Wulan panik, melihat adiknya masuk hanya bersama Beno."Dia kabur, Mbak," jawab Wildan dengan nada lelah dan kasar. "Mobil kita kecelakaan waktu di jalan. Dia manfaatin situasi itu buat lari ke perkampungan padat."Wulan menutup mulutnya karena terkejut. "Astaghfirullah ... terus Maya gimana, Wil? Dia dari tadi nangis terus di dalam kamar. Sepertinya dia pengen pergi dari rumah ini.”"Biar aku yang urus," potong Wildan singkat. Ia mengusap wajahnya yang basah, lalu langsung berjalan menaiki tangga menuju kamar utama.Langkah kaki
"Woi! Lepasin, anjing!" Beno yang terkejut setengah mati segera menerkam tubuh Indra, berusaha menarik pria itu ke belakang. “Bajingan laknat! Lepaaas!”Akan tetapi, kepanikan dan serangan mendadak tersebut sudah terlanjur membuahkan hasil. Kemudi mobil seketika kehilangan kendali. Ban SUV berukuran besar itu tergelincir di atas aspal yang tergenang air banjir."Hati-hati, di depan!!" teriak Beno panik saat melihat arah mobil. “Awas! Banting setirnya!”Wildan mencoba meraih setir dari kursi penumpang, namun semuanya sudah terlambat. Kendaraan berat itu oleng ke arah kiri dan menabrak pembatas jalan beton dengan benturan yang sangat keras.BRAK!!!Suara hantaman logam yang beradu dengan beton terdengar memekakkan telinga. Kaca depan mobil retak seribu. Asap putih dari airbag yang mengembang langsung memenuhi kabin mobil, menciptakan kebutaan sementara dan guncangan hebat yang membuat semua orang di dalamnya terpelanting keras.Di tengah kepanikan, suara alarm mobil yang melengking, dan
Setelah menyeret tubuh Indra yang babak belur dari dalam penthouse mewahnya, Wildan dan Beno melemparkan sang mantan jaksa secara kasar ke kursi belakang mobil SUV hitam yang telah bersiaga.Hujan deras mulai mengguyur Jakarta, menghantam atap mobil dengan suara berisik. Di dalam kabin yang temaram, Wildan duduk di kursi penumpang depan dengan tatapan lurus dan rahang mengeras."Injak gasnya," perintah Wildan kepada pengemudinya dengan nada bariton yang tegas. "Aku mau sampai di rumah secepat mungkin. Aku harus kelarin kesalahpahaman ini malam ini juga. Bawa bajingan ini hidup-hidup ke hadapan Maya.""Siap, Bos Besar. Tapi jalan tol arah rumah Bos sedang perbaikan dan banjir yang menggenang lumayan tinggi kalau kita lewatin," lapor sang pengemudi sambil memutar setir. "Kita terpaksa harus potong kompas lewat jalur alternatif di area pinggiran kota. Jalannya agak sempit.""Aku nggak peduli mau lewat mana. Yang penting cepat!" desak Wildan tidak sabar.Di kursi belakang, Beno duduk di s







