LOGINKurir tak berseragam itu tersentak kaget. Ia menoleh, menatap sosok pria berwajah hancur dan berlumuran darah yang tiba-tiba muncul dari balik kabut."Siapa Anda? Menyingkir, saya punya tugas penting," ucap kurir itu dengan nada waspada, mencoba mempertahankan koper logam di pelukannya."Berikan koper itu padaku! Aku putra Jenderal Soebroto!" raung Indra, menunjuk ke arah gerbang. "Itu paket untuk ayahku, kan? Serahkan padaku sekarang juga!"Awalnya, sang kurir menggeleng tegas. Ia sangat ingat dengan instruksi ketat dari Wildan. "Maaf, saya tidak peduli Anda siapa. Instruksi bos saya sangat jelas dan mutlak. Koper ini harus diserahkan langsung ke tangan Jenderal Soebroto, bukan diwakilkan!""Persetan dengan bosmu!"Indra tid
Bab 88Deru mesin mobil Wildan perlahan menjauh dan lenyap ditelan kegelapan malam, menyisakan keheningan yang luar biasa mencekam di dalam gudang raksasa tersebut. Bau anyir darah dan debu masih mengambang pekat di udara.Di atas lantai beton yang dingin dan kotor, Indra terkapar tak berdaya. Wajah sang jaksa yang dulu selalu memancarkan arogansi kini hancur tak berbentuk. Tulang hidungnya patah, sudut bibirnya robek, dan darah segar terus merembes menodai kemeja mahalnya. Rasa sakit yang teramat luar biasa menjalar dari ulu hatinya, meremukkan setiap inci persendiannya.Akan tetapi, di balik rasa sakit fisik yang melumpuhkan itu, sisa-sisa kewarasan Indra berteriak membunyikan alarm bahaya berskala maksimal.Insting bertahan hidupnya berontak. Otaknya memutar ulang kalimat ancaman mematikan dari Wildan, ‘Jalur militer rahasia. Tepat sebelum matahari terbit.’"T-tidak ... dokumen itu ... Ayah nggak boleh lihat dokumen itu," rintih Indra dengan suara parau yang tersedak oleh darahnya
Udara di dalam markas Black Wolf terasa pekat oleh bau keringat, anyir darah, dan debu yang berterbangan. Gudang raksasa itu kini tak ubahnya seperti ladang pembantaian. Suara rintihan kesakitan menggema dari puluhan preman bayaran yang terkapar bersimbah darah di atas lantai beton. Pasukan Black Wolf berdiri mengelilingi sisa-sisa musuh mereka dengan tatapan buas, memastikan tidak ada satu pun yang berani bangkit kembali untuk menantang takdir mereka malam itu.Di tengah kekacauan yang mulai mereda, Hendra yang sebelumnya sempat terpelanting akibat hantaman lutut Wildan, rupanya masih memiliki sisa-sisa kesadaran. Melihat pasukannya dibantai habis-habisan oleh jaringan Wildan, harga diri bos mafia pencucian uang itu memberontak menolak kekalahan.Dengan gerakan pengecut dan napas tersengal, Hendra merogoh saku jaket kulitnya. Ia mengeluarkan sebilah pisau lipat taktis dan menekan tombol hingga bilah logam tajamnya terhunus memantulkan cahaya lampu sorot."Mati kau, keparat!" erang H
Bab 86Menjelang tengah malam, ketegangan di pelataran markas Black Wolf mencapai puncaknya. Konvoi kendaraan yang dipenuhi oleh pasukan Hendra dan Indra akhirnya menerobos masuk ke area depan bengkel secara brutal. Puluhan preman bayaran berwajah sangar turun dari truk dan mobil SUV mereka. Suasana gelap gulita di area tersebut sama sekali tidak membuat nyali mereka ciut."Hancurkan semuanya! Jangan sisakan satu pun mesin di tempat rongsokan ini!" teriak Hendra memberi komando sambil mengacungkan parang. "Bikin tempat ini jadi abu!"Mendengar perintah itu, para preman beringas tersebut mulai merusak fasilitas luar bengkel. Mereka mengayunkan tongkat besi, rantai, dan parang ke arah tumpukan onderdil, papan nama, dan beberapa mobil tua yang sengaja diparkir Wildan di depan.PRANG! BRAK!Suara kaca pecah dan besi beradu memecah keheningan malam.Indra yang masih duduk nyaman di dalam mobil komando, tersenyum miring melihat tidak adanya perlawanan dari pihak lawan. Sesuai dengan perkir
Tanpa membuang waktu sedetik pun, Wildan segera mengancingkan kemeja hitamnya dan melangkah keluar dari kamar utama menuju pos komando keamanan di lantai satu. Kepala keamanannya langsung berdiri tegap menyambut kedatangan sang bos besar."Lipatgandakan penjagaan di seluruh area rumah malam ini juga," perintah Wildan dengan nada bariton yang tegas dan sangat ketat. "Tarik beberapa orang dari pos luar untuk menjaga perimeter dalam. Kunci semua gerbang dan aktifkan sensor gerak. Pastikan Maya dan Mbak Wulan tidak tersentuh oleh percikan konflik apa pun di luar sana malam ini.""Siap, Bos! Kami akan berjaga dua puluh empat jam penuh tanpa kedip. Nggak akan ada satu ekor lalat pun yang bisa lolos ke dalam rumah ini," jawab kepala keamanan itu dengan sigap dan raut wajah serius.Setelah memastikan benteng pertahanannya tertutup rapat tanpa celah, Wildan kembali ke kamar utama. Di atas ranjang berlapis seprai sutra, Maya masih tertidur sangat lelap pasca-pergumulan panas mereka. Napas wanit
Di dalam kediaman mewah yang dijaga ketat oleh puluhan pasukan Black Wolf, realitas perang seakan tertahan di luar gerbang tinggi bangunan tersebut. Kontras dengan Indra yang sedang sibuk merancang pembantaian berdarah bersama aliansi mafianya, suasana di kediaman Wildan justru terasa luar biasa hangat dan damai.Aroma masakan rumahan yang lezat menguar dari arah dapur, menyapu bersih sisa-sisa trauma psikologis yang selama ini bersarang di dada Maya. Wulan, dengan celemek melingkar di pinggangnya, berjalan ke ruang tengah dan meletakkan semangkuk sup kaldu ayam kampung yang masih mengepulkan asap ke atas meja. Sedangkan satu orang asisten rumah tangga lainnya membersihkan perlengkapan masak yang habis digunakan oleh Wulan."Ayo dimakan mumpung masih hangat, May," ucap Wulan lembut, mengelus bahu Maya yang sedang duduk bersantai di sofa. "Mbak sengaja masak sup kaldu ini pakai rempah-rempah pilihan biar fisikmu cepat pulih. Kamu lagi hamil muda, nutrisinya harus dijaga ekstra ketat.







