LOGINPertahanan fisik Wildan benar-benar sudah hancur. Ia tidak bisa bergerak lagi di atas lantai marmernya sendiri. Pemandangan di sekitarnya sangat kacau. Anak buah Beno tidak ada yang bisa membantunya karena mereka masih tertahan di belakang rumah. Puluhan pembunuh bayaran menodongkan senjata laras panjang tepat ke arah kepala Wildan.Terdengar suara langkah kaki yang berat dari arah pintu depan yang sudah jebol akibat ledakan. Seseorang berjalan masuk dengan sangat santai.Pria itu adalah Indra Wiguna. Penampilannya sangat berbeda dari sebelumnya. Kaki kanannya berjalan pincang dan harus dibantu dengan penyangga besi. Separuh wajah kanannya ditutupi topeng plastik berwarna hitam legam untuk menyembunyikan bekas luka yang cacat parah akibat terseret karang laut.Indra berhenti sejenak di dekat tubuh Wildan yang terkapar bersimbah darah. Ia menatap Wildan dari atas ke bawah."Kerja yang bagus," ucap Indra kepada anak buahnya dengan suara serak. Matanya menatap Wildan dengan penuh kebenc
Akibat ledakan dahsyat yang menghancurkan gerbang depan tersebut, formasi pertahanan Black Wolf langsung hancur berantakan dalam hitungan detik. Asap tebal berwarna hitam pekat menggulung menutupi pandangan, membawa aroma mesiu yang sangat menyengat dan mencekik paru-paru. Ratusan pembunuh bayaran elite bersenjata otomatis yang didanai secara tak terbatas oleh sisa kekayaan konglomerat Budiarto merangsek masuk menembus kepulan asap tanpa mendapat perlawanan yang berarti."Habisi semua yang bergerak! Jangan sisakan satu pun penjaga hidup-hidup!" teriak salah satu komandan bayaran bertopeng hitam dengan suara seraknya yang menggema di tengah puing-puing.Baku tembak dan perkelahian massal yang luar biasa brutal pun pecah seketika di area depan mansion. Sayangnya, kali ini pasukan Beno berguguran dengan sangat cepat. Mereka kalah jumlah, kalah persenjataan, dan yang paling fatal, sebagian besar pasukan inti masih tertinggal di area taman belakang karena terperangkap oleh taktik pengecoh
Setelah sukses menyusun taktik Kuda Troya dengan memanfaatkan pesan palsu dari Ibu Lestari, Wildan bersiaga penuh dalam kegelapan malam. Ia berdiri kokoh seperti bayangan maut di teras belakang rumahnya. Seluruh penerangan di area taman dan garasi sengaja dimatikan, menciptakan suasana sunyi yang mencekam.Lima penembak jitu terbaik dari Black Wolf telah mengambil posisi strategis di atas atap rumah, moncong senapan mereka siap memuntahkan timah panas kapan saja. Puluhan anggota pasukan inti yang membawa senjata tajam juga telah bersembunyi rapi di setiap sudut buta, di balik semak-semak lebat, di belakang pilar-pilar besar, dan di area kolam renang.Mata tajam Wildan terus mengawasi gerbang besi belakang yang sengaja tidak dikunci. Udara malam terasa membekukan, tetapi darah Wildan mendidih oleh hasrat untuk membantai siapa pun yang berani mengusik keluarga dan kebahagiannya."Kalian datang hanya akan mengantarkan nyawa," ujar Wildan lirih nyaris berbisik sambil mengeratkan genggaman
Merasakan dinginnya moncong pistol di dahinya dan berada di bawah tekanan maut yang begitu nyata, mental keberanian bu Lastri hancur tak bersisa. Kesombongan dan ketamakannya langsung lenyap. Wanita paruh baya itu menangis histeris ketakutan menghadapi kematiannya."Iya! Iya, Ibu ngaku! Ampun, Wil, tolong jangan bunuh Ibu!" jerit Ibu Lestari sambil menangkupkan kedua tangannya memohon ampun dengan sangat memprihatinkan. Air matanya mengalir deras meratapi kebodohannya sendiri. "Indra yang suruh Ibu! Dia sama Budiarto yang janjiin bakal lunasi sisa uang satu miliar kalau Ibu berhasil bikin Maya tidak sadar malam ini.”"Jam berapa komplotan bajingan itu masuk?!" cecar Wildan dengan nada suara yang semakin meninggi dan mengintimidasi."Jam tiga pagi ini, Wildan ... Pasukan bayaran dari bos Kohar bakal masuk dari gerbang belakang taman. Mereka butuh Maya pingsan biar gampang diculik dan dibawa kabur tanpa bikin keributan fisik sama penjaga keamanan di depan," aku Ibu Lestari di sela tangis
Tetesan susu cokelat itu rupanya sudah sempat tertelan oleh Maya. Hanya satu tegukan kecil sebelum tangan Wildan menghantam gelas kaca tersebut hingga hancur berkeping-keping. Namun satu tegukan kecil itu sudah lebih dari cukup untuk membuat racun obat tidur dosis tinggi tersebut bereaksi dengan sangat cepat di dalam aliran darahnya.Telinga Maya mendadak berdenging sangat keras. Pandangannya langsung berputar hebat. Ruang tengah yang terang benderang seketika terasa berayun naik turun. Maya memegang kepalanya yang tiba-tiba terasa berdenyut sakit dan sangat pusing."Wil ... Wildan ... kepala aku pusing banget …," panggil Maya lirih. Suaranya terdengar sangat jauh dan bergema di telinganya sendiri.Kepalanya terasa ditimpa beban yang sangat berat. Rasa kantuk yang brutal dan tidak wajar menyerang saraf otaknya secara paksa. Kelopak matanya memberat, tidak sanggup lagi terbuka meski ia berusaha keras untuk tetap menatap wajah suaminya. Tenaganya terkuras habis dalam hitungan detik. Kak
Konflik di dalam sangkar emas tersebut semakin memanas ketika jarum jam menunjuk ke angka sebelas malam. Di dalam kamar tamu yang mewah, Ibu Lestari sedang duduk gelisah di tepi ranjang. Ponsel pintar di tangannya tiba-tiba bergetar, menampilkan sebuah pesan teks rahasia dari nomor sekali pakai yang tidak dikenal.Pesan itu datang dari Indra Wiguna. Sang mantan jaksa berwajah cacat itu memberikan sebuah instruksi yang sangat keji:'Kami akan menyusup masuk jam tiga pagi ini. Pastikan Maya dalam kondisi lumpuh total. Campurkan obat tidur dosis tinggi yang sudah kami selipkan di dalam tasmu ke dalam susu kehamilannya. Kalau kamu gagal, sisa pelunasan bayaran satu miliar rupiah milikmu akan hangus detik ini juga!'Membaca ancaman sekaligus janji bayaran bermilyaran itu, mata Ibu Lestari langsung membelalak. Sifat serakah dan gila hartanya seketika mengalahkan naluri keibuannya. Komplotan Indra jelas berencana menyusup malam itu juga, dan mereka membutuhkan Maya dalam kondisi tidak sadar







