ホーム / Urban / Kuli Gagah Spesialis / Bab 194. Penyangkalan

共有

Bab 194. Penyangkalan

作者: Risya Petrova
last update 公開日: 2026-11-05 23:58:30

Mendengar ucapan Wildan yang menusuk tajam, dunia seolah berhenti berputar bagi Indra Wiguna. Jari telunjuknya yang tadinya menempel erat pada pelatuk pistol otomatis mendadak kaku, urat-urat di pelipisnya menegang hebat, dan napasnya tertahan di kerongkongan.

"A-apa maksudmu ...?" suara Indra tercekat, nada tinggi penuh amarah itu seketika runtuh berganti menjadi getaran ketakutan yang luar biasa. "Ayah dan Ibu ... mendengarkan apa melalui radio ...?"

Di kejauhan, tersembunyi di balik kegelapa
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター

最新チャプター

  • Kuli Gagah Spesialis   Bab 194. Penyangkalan

    Mendengar ucapan Wildan yang menusuk tajam, dunia seolah berhenti berputar bagi Indra Wiguna. Jari telunjuknya yang tadinya menempel erat pada pelatuk pistol otomatis mendadak kaku, urat-urat di pelipisnya menegang hebat, dan napasnya tertahan di kerongkongan."A-apa maksudmu ...?" suara Indra tercekat, nada tinggi penuh amarah itu seketika runtuh berganti menjadi getaran ketakutan yang luar biasa. "Ayah dan Ibu ... mendengarkan apa melalui radio ...?"Di kejauhan, tersembunyi di balik kegelapan ruang kerja yang hancur di kediaman Soebroto, perangkat radio penerima militer yang ditinggalkan menyala mengeluarkan suara bising dari pelabuhan. Jenderal Soebroto dan Ibu Ratna yang terduduk lemas di lantai terpaku ngeri. Jantung mereka bagaikan berhenti berdetak saat mendengar suara putra tunggal mereka bergetar ketakutan melalui gelombang udara malam yang sunyi."Mereka mendengar setiap rintihan putus asamu, Indra," lanjut Wildan dengan suara bariton yang menghujam jiwa. "Mereka mendengar

  • Kuli Gagah Spesialis   Bab 193.

    ​Desir angin laut malam di pesisir utara Jakarta terasa begitu pekat membawa bau amis air asin dan kelembapan malam. Garis pantai yang membentang luas di kawasan pelabuhan tua itu tampak gelap gulita, diselimuti bayangan kontainer-kontainer logistik berukuran raksasa yang berjejer rapi bagaikan kuburan besi raksasa.​Di balik tumpukan kontainer dan kegelapan dermaga, puluhan kendaraan taktis lapis baja milik pasukan Black Wolf terparkir tanpa menyalakan lampu satu pun. Mesin-mesin diesel mereka dimatikan, menyisakan keheningan mati yang mematikan.​Wildan berdiri tegak di atas lambung sebuah truk kargo terbengkalai, mengenakan rompi taktis serba hitam dengan senapan serbu laras panjang yang terkokang sempurna di tangannya. Sorot mata elangnya menatap lurus ke arah cakrawala laut lepas di ufuk utara, tempat titik cahaya merah sebuah helikopter perlahan-lahan mulai membesar.​"Semua unit posisikan diri," suara berat Beno berbisik tegas melalui alat komunikasi intercom internal yang te

  • Kuli Gagah Spesialis   Bab 192. Apa ini akhirnya?

    "Saya tadinya sempat berpikir harus mencarinya sampai ke ujung dunia untuk menuntaskan urusan kami. Ternyata, dia sendiri yang mengantarkan nyawanya ke mulut singa."Ibu Ratna membelalakkan matanya, napasnya tak beraturan di balik rangkulan suaminya. "Jangan sombong kamu, bajingan! Indra tidak sendiri! Dia bersama pasukan bayaran internasional dan dipersenjatai perlengkapan militer mutakhir! Kali ini kamu pasti mati!" teriak wanita paruh baya itu dengan sisa-sisa tenaga dan kebencian yang meluap-luap.Wildan menoleh perlahan, menatap tajam ke arah Ibu Ratna tanpa rasa tersinggung sedikit pun. "Silakan pegang keyakinan itu erat-erat, Bu Ratna. Nikmati setiap detik harapan palsu sebelum anak kebanggaan Ibu itu berlutut di hadapan saya dengan kepala tertunduk."Wildan kemudian mengalihkan pandangannya kepada Jenderal Soebroto. Pria tua yang dulunya disegani sebagai perwira tinggi bintang dua itu kini tampak begitu rapuh, terseret dalam pusaran kehancuran total yang diciptakan oleh kebodo

  • Kuli Gagah Spesialis   Bab 191. Kebetulan

    Suara desau angin dari ayunan guci keramik itu memecah keheningan detik-detik terakhir di dalam ruang kerja yang porak-poranda. Namun insting seorang penguasa jalanan yang telah ratusan kali lolos dari maut tidak pernah sepenuhnya tertidur. Tepat sepersekian detik sebelum hantaman maut itu meremukkan tengkoraknya, pantulan bayangan di pecahan kaca jendela mendadak menangkap kilatan benda keras yang meluncur cepat ke arahnya.Wildan tidak sempat berbalik sepenuhnya. Ia hanya mampu melemparkan tubuhnya ke samping dengan gerakan refleks secepat kilat.PRANG!Guci keramik hias berukuran sedang itu menghantam sisi bahu dan pelipis kiri Wildan sebelum akhirnya pecah berkeping-keping menghujani lantai kayu. Serpihan keramik tajam berhamburan ke segala arah, menciptakan suara bising yang memekakkan telinga.Wildan terhuyung ke depan, lututnya hampir menyentuh lantai. Darah segar seketika menetes hangat dari pelipisnya, mengalir melewati rahangnya yang kokoh. Rasa sakit akibat hantaman brutal

  • Kuli Gagah Spesialis   Bab 190. Hardikan belakang

    Debu sisa ledakan masih melayang di udara ruang kerja yang porak-poranda. Jenderal Soebroto tidak bergeming di balik meja kerjanya. Tongkat kayu tua digenggamnya erat, bukan untuk menopang tubuhnya yang sudah mulai menua, melainkan untuk menahan amarah yang hampir meledak.​Di hadapannya, Wildan berdiri tegak. Tanpa senyum, tanpa basa-basi. Laras senjatanya dibiarkan menunjuk ke lantai, tetapi sorot matanya jauh lebih mematikan dari peluru mana pun.​"Kenapa Anda terus cari mati, Jenderal?" suara Wildan memecah sunyi, rendah namun bergetar penuh tekanan.​Soebroto mendengus dingin. Sudut bibirnya terangkat dalam senyum sinis. "Cari mati? Kau hanya anak kemarin sore yang kebetulan memegang senjata di atas runtuhannya dinasti orang lain, Wildan."​"Dinasti?" Wildan terkekeh pelan, tawa tanpa rasa humor. Ia melangkah maju satu langkah, memangkas jarak hingga meja kerja menjadi satu-satunya pembatas di antara mereka. "Yang tersisa dari dinasti Anda malam ini cuma debu dan bangkai pengawal

  • Kuli Gagah Spesialis   Bab 189. Kembali

    ​Suara letupan senjata api dan deru mesin kendaraan taktis yang menggema di kediaman Jenderal Soebroto tampaknya berada di dunia yang sangat berbeda dengan tempat pelarian Indra saat ini. Di sebuah kamp latihan militer rahasia yang terletak di wilayah terpencil di seberang lautan, suasana sore itu tampak terik dan dipenuhi bau mesiu serta debu jalanan.​Indra berdiri tegak di lapangan tembak terbuka dengan postur tubuh yang mulai pulih sepenuhnya. Meskipun tangan dan sebagian fisiknya masih menyisakan sisa-sisa luka akibat insiden pelarian di laut lepas beberapa waktu lalu, sorot mata beringas dan ambisi gelapnya tidak pernah surut sedikit pun. Di hadapannya, target sasaran berupa siluet manusia berlubang-lubang akibat terjangan peluru kaliber besar.​Di sampingnya berdiri seorang pria bertubuh kekar, sekutu baru sekaligus pemimpin faksi militer bayaran lokal yang menampung pelariannya—seorang gembong senjata bernama Victor.​Victor menurunkan senapan serbunya, melirik ke arah Indra

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status