Se connecter“Anak bodoh. Kau sudah membuka segel yang seharusnya kubiarkan terkubur.”Ucapan Tetua Agung Guo menggantung di ruangan itu.Lian tidak langsung menjawab. Ia memperhatikan wajah lelaki tua tersebut, mencari tanda kemarahan, penyesalan, atau ketakutan. Yang terlihat justru campuran ketiganya.Di belakang Tetua Guo berdiri perwakilan Aliansi Sekte Lurus bersama empat kultivator berjubah putih. Dua orang membawa pedang, satu memegang lempeng pendeteksi energi, sementara yang terakhir menggenggam gulungan perintah.Mo Jian berdiri di depan Lian.“Ketua Guo, apa maksud ucapan Anda?”Tetua Guo mengalihkan pandangan kepada Mo Jian. “Kalian seharusnya tidak membuka ruang ini.”“Kami tidak tahu apa yang ada di baliknya.”“Tetapi sekarang kalian sudah tahu.”Perwakilan aliansi melangkah maju. Wajahnya tetap tenang, meski matanya terus memperhatikan mangkuk batu yang kosong.“Cukup. Ruangan ini merupakan peninggalan terlarang. Semua benda yang ditemukan harus diserahkan kepada Aliansi Sekte Luru
Pantulan di dalam mangkuk air itu tersenyum.Lian tidak ikut tersenyum.Ia justru mundur setengah langkah, menjaga jarak dari mangkuk batu yang berada di tengah ruangan. Tangan kanannya masih terasa seperti ditusuk jarum dari dalam. Setiap kali ia menggerakkan jari, rasa sakit menjalar sampai ke bahu.Sosok di permukaan air tidak mengikuti gerakannya.Pantulan itu tetap duduk di kursi besi, dengan kedua tangan terikat rantai hitam. Wajahnya samar, seolah seseorang telah menghapus bagian-bagian penting dari ingatan tentang dirinya.“Jadi,” kata Lian pelan, “kau mengaku sebagai orang yang kami cari?”“Aku tidak pernah mengatakan bahwa aku orang yang kalian cari.”“Benar juga. Kau hanya bilang namamu tidak pernah diberikan.”Mo Jian mengangkat pedangnya. Ujung bilahnya mengarah tepat ke permukaan air.“Cukup bermain kata. Siapa kau?”Sosok itu menoleh kepadanya.“Seorang murid Balai Pedang Putih masih membawa pedang yang sama. Kalian selalu menyukai jawaban yang bisa ditulis di laporan.”
“Peringatan: saksi pertama bukan Tetua Shen.”Tulisan itu masih terpampang di halaman kitab ketika suara dari balik pintu kembali terdengar.“Lian, mundurlah. Apa pun yang kau dengar, jangan buka pintu itu.”Kali ini suara tersebut terdengar lemah. Ada bunyi napas berat di sela-sela kalimatnya, seolah orang yang berbicara sedang menahan rasa sakit.Lian menatap Yue Ning.“Menurutmu?”“Menurutku kita tidak punya cukup bukti untuk mempercayai siapa pun.”“Jawaban yang sangat menenangkan.”Mo Jian mengangkat pedangnya. “Kita harus menemukan jalan keluar sebelum pintu itu memutuskan untuk menutup dirinya sendiri.”Seolah memahami ucapannya, empat lubang pada permukaan pintu batu mulai berpendar. Cahaya muncul bergantian, membentuk pola yang menyerupai lingkaran terputus.Yue Ning segera mendekat.“Jangan sentuh apa pun.”Ia mengamati empat simbol yang terukir di sekitar lubang. Simbol lingkaran, garis pa
“Lian, jangan percaya padanya.”Suara itu datang dari balik lorong.Suara Tetua Shen.Lian membeku sesaat. Ia mengenali suara serak itu, termasuk jeda pendek di antara kata-katanya. Namun, justru karena itulah ia tidak langsung bergerak.Di hadapannya berdiri sosok yang memakai suara Han Rui. Pergelangan tangannya memiliki tanda hitam melingkar, sama seperti bekas kutukan yang pernah Lian bakar di leher penjaga itu.Di belakang sosok tersebut, seseorang berbicara lagi.“Jangan dengarkan suara yang meniruku.”Lian memejamkan mata sebentar.“Bagus,” gumamnya. “Sekarang ada dua orang yang meminta dipercaya. Biasanya satu saja sudah cukup merepotkan.”Mo Jian mengangkat pedangnya. Yue Ning berdiri di samping meja batu, satu tangan menggenggam daftar nama yang mereka temukan.“Siapa kau?” tanya Mo Jian kepada sosok di lorong.Orang itu tidak menjawab. Ia hanya mengulurkan tangan lebih jauh.“Kitab itu. Sekarang.”“Kalau kau memang Han Rui, sebutkan nama orang yang menyelamatkanmu di gudang
Batu nisan itu tidak memiliki nama, tetapi seseorang telah membersihkannya baru-baru ini.Lian menyadarinya ketika berjongkok di depan makam kecil di belakang aula leluhur Sekte Awan Hijau. Lumut masih menutupi sebagian permukaan batu, dan rumput liar tumbuh rapat di sekelilingnya. Namun, tanah tepat di depan nisan tampak lebih padat daripada tanah di sekitarnya. Ada bekas sapuan pada permukaan batu, seperti seseorang baru saja menghapus debu dengan kain basah.“Kalau ini makam orang yang tidak pernah mati,” gumam Lian, “berarti kita sedang mencari orang yang cukup merepotkan sampai-sampai kematiannya saja tidak bisa dipercaya.”Yue Ning meliriknya. “Kau masih sempat bercanda?”“Kalau aku berhenti bercanda, mungkin aku mulai panik. Aku lebih suka yang pertama.”Mo Jian tidak ikut menanggapi. Sejak meninggalkan aula leluhur, ia terus memeriksa pepohonan dan sudut bangunan, memastikan tak ada orang yang mengikuti mereka. Ia juga belum sepenuhnya pulih dari kenyataan bahwa Xu Wen, guruny
Lian belum pernah berharap pulang ke sekte secepat ini.Biasanya, perjalanan kembali ke Sekte Awan Hijau berarti makan seadanya di jalan, mengeluh tentang tugas tambahan, lalu tidur sebelum seseorang menemukan alasan baru untuk menyuruhnya bekerja. Kali ini, setiap langkah terasa seperti menghitung waktu yang mungkin tersisa bagi seseorang.Tetua Shen berada di sana.Dan menurut kitab hitamnya, seseorang telah mencatat nama Lian jauh sebelum ia memahami warisan yang diterimanya.“Berapa lama lagi?” tanya Lian.“Kalau kau berhenti mengeluh, mungkin lebih cepat,” jawab Yue Ning.“Aku tidak mengeluh. Aku sedang memastikan kita semua menyadari bahwa kakiku punya batas.”“Kakimu baik-baik saja.”“Benar. Yang bermasalah adalah seluruh bagian tubuhku yang lain.”Yue Ning melirik lengan kanannya yang masih dibalut kain. Sejak bentrokan di rumah singgah, wajahnya terlihat lebih serius dari biasanya. Ia telah mengganti balutan itu dua kali, tetapi warna gelap di sekitar pergelangan Lian belum s







