MasukFajar tak sanggup melihat air mata sang istri. Dia menangkup wajah Nisa dan menghapus setiap air mata yang keluar.
"Maafkan aku, Dek. Maafkan aku yang tidak sempurna ini!" Braakk ... Nisa dan Fajar terkejut, saat seseorang menendang pintu kayu rumah mereka hingga roboh. Nisa menghapus air matanya, bergegas menuju teras rumah bersama Fajar untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi. "Ka-kalian---" Suara Nisa terdengar bergetar. Fajar memeluk sang istri yang tubuhnya sudah bergetar ketakutan. "Waah, apakah kalian berpelukan untuk salam perpisahan?" Yani tertawa jahat. Nisa mencengkram erat lengan Fajar, menandakan jika wanita itu sangat ketakutan. Kedatangan Yani kali ini tidak seperti biasa. Nisa merasa ada kesialan yang akan menimpanya saat ini. Akankah Yani akan menyeretnya kehadapan pria hidung belang? Karena tidak bisa membayar hutang-hutang mereka? "Aku gak mau buang-buang waktu. Jadi, katakan saja, mana uangku?" Pinta Yani menatap tajam ke arah Nisa dan Fajar. "Bu-bukankah kami masih memiliki waktu lagi untuk membayarnya?" Nisa berusaha memberanikan diri untuk menjawab Yani. Yani tertawa pelan. "Waktu?" Tawa Yani pun semakin kencang. "Aku tak punya waktu lagi. Sebaiknya, kalian kembalikan uangku sekarang!" Yani menatap tajam Fajar dan Nisa. "U-uang itu belum ada saat ini. Tolong kasih kami waktu lag---" "Bawa wanita itu!" Titah Yani kepada anak buahnya. "Baik, Bos!" Fajar sudah bersiap melindungi sang istri, akan tetapi pria itu kalah saat sebuah alat kejut mendarat di tubuhnya, membuat Fajar terjatuh lemas. "Kamu pikir aku bodoh?" Desis Yani menunjuk Fajar yang terjatuh di lantai. Nisa sudah berada di dalam cengkraman anak buah Yani. "Mas----" lirih Nisa meminta tolong. Fajar berusaha bangkit, tapi tubuhnya masih terasa kebas dan lemas. "Dek--" "Mas, hiks ... Tolong aku! Hiks ... Aku gak mau dibawa mereka, Mas, hiks .. tolong aku!" Mohon Nisa sambil berusaha melepaskan dirinya dari cengkraman pria yang menahannya. "Jika kamu menginginkan istrimu kembali, maka kamu harus melunasi semua hutang-hutangmu saat ini juga," desis Yani. "Jika tidak, maka wanita cantik ini akan menjadi pelacurku!" Yani menyentuh wajah Nisa, membuat wanita itu merasa jijik. "Jangan! Aku mohon, jangan bawa istriku!" Fajar berusaha bangun dan berlutut dihadapan Yani. "Tidak perlu memohon. Aku hanya mau uangku kembali," jawab Yani tanpa rasa iba. "Ada uang, maka istrimu akan kembali utuh. Yani memberi kode kepada anak buahnya untuk membawa Nisa pergi. "Maaasss ... Tolong aku, Mas, hiks ... Bebaskan aku ... Hikss ...." Pekik Nisa dengan tangisnya yang terdengar pilu dan ketakutan. Bug ... Sebuah pukulan mendarat di wajah Fajar, saat pria itu ingin bangkit dan menyelamatkan sang istri. "Bayar semua hutang-hutang kalian, jika ingin istrimu tak tersentuh," desis Yani. "Aku beri waktu sampai siang ini. Jika kamu belum membawa semua uangku, maka tubuh istrimu yang akan membayar semuanya," ucap Yani sebelum pergi meninggalkan Fajar. Buk Inem yang baru saja tiba, langsung berlari dan berusaha memohon kepada Yani untuk melepaskan Nisa, akan tetapi yang didapat oleh wanita paruh baya itu adalah sebuah dorongan kuat, sehingga membuatnya terjatuh. "Buuukk---" pekik Nisa yang sudah dipaksa masuk ke dalam mobil. Fajar bergegas membantu Buk Inem yang terjatuh. "Selamatkan Nisa, Fajar! Selamatkan Nisa! Hiks ...." Mohon Buk Inem. Fajar pun bangkit dan mengejar mobil yang membawa sang istri entah ke mana. "Nisaaaaa----" pekik Fajar sambil mengejar mobil dihadapannya. Fajar terjatuh di atas aspal, air matanya berderai dengan dada yang bergemuruh. "Apa yang harus aku lakukan?" Lirih Fajar sambil memicit keningnya. Satu-satunya tempat yang bisa menyelamatkan Nisa saat ini adalah Amelia. Tak ada cara lain demi bisa mendapatkan sang istri kembali. Ya, Fajar harus memohon kepada Amelia untuk memberikannya pinjaman. Apapun akan Fajar lakukan, asalkan Nisa kembali ke dalam pelukannya. Di kediaman Amelia. "Saya mohon, izinkan saya bertemu dengan nyonya bos," pinta Fajar kepada satpam yang berjaga di pintu pagar. "Tapi---" "Saya mohon. Tolong hubungi nyonya, saya ingin bertemu dengannya." Pinta Fajar lagi. Melihat Fajar yang seolah kehilangan harapan, salah satu satpam pun mencoba menghubungi kepala pelayan untuk memberitahu kedatangan pria itu. Beberapa detik kemudian, pintu pagar pun terbuka. Fajar dipersilahkan masuk ke dalam istana yang dulunya tempat dia dan sang istri mencari nafkah. Kepala pelayan rumah menyambut kedatangan Fajar, mempersilahakn pria itu untuk duduk di ruang tunggu. "Nyonya akan segera kembali, jadi kamu tunggulah di sini," titah Nela dan meninggalkan pria itu. Di tempat lain. Amelia yang berada di perjalanan menuju kantor, mendapatkan panggilan dari Nela, di mana wanita itu mengatakan jika Fajar datang dan ingin bertemu. Sudut bibir Amelia tertarik, dia langsung menghubungi sekretarisnya untuk membatalkan semua pertemuannya hari ini. Dan juga, Amelia meminta kepada sang supir untuk kembali ke rumah. Sesampainya di rumah. Jantung Amelia berdegup dengan kencang. Bibirnya terus saja berkedut untuk membentuk sebuah senyuman, tetapi dia berusaha untuk menahan semuanya seolah tak terjadi apa-apa. Amelia melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah, wajahnya terlihat datar dan dingin. Hal pertama yang dia cari adalah keberadaan Fajar. "Ke ruangan saya," titah Amelia tanpa menoleh ke arah pria itu. Fajar menghela napasnya secara panjang dan pelan. Dia bangkit dari tempat duduk dan mengikuti Amelia menuju ruang kerja wanita itu. Sesampainya di ruang kerja. "Duduk!" Titah Amelia. Fajar menurut, walaupun pikirannya entah ke mana saat ini. Klik ... Kening Fajar mengkerut, saat mendengar suara pintu yang terkunci. "Katakan, apa maumu?" Tanya Amelia yang tidak ingin membuang-buang waktu. Fajar menarik napas panjang secara perlahan. "Nyonya, saya mohon, tolong pinjamkan saya uang," pinta Fajar dengan kepala tertunduk. Amelia tertawa pelan. "Kamu bilang apa?" Fajar menggigit bibir bagian dalamnya. Dia memberanikan diri untuk menatap wanita yang ada dihadapannya saat ini. "Tolong, pinjami saya uang," pinta Fajar. Amelia menganggukkan kepalanya. "Kamu tau 'kan? Syarat yang aku ajukan kepada istrimu?" Fajar menuduk dan menganggukkan kepalanya pelan. "Lalu, kenapa kamu harus meminjam uang?" Amelia merasa penasaran. "Cukup berikan aku jawaban, menikah denganku atau pergi dari sini." Fajar mengepalkan tangannya. "Kenapa? Kamu tidak setuju?" Amelia berjalan mendekati Fajar. "Saya tidak ingin menyakiti perasaan istri saya," jawab Fajar menatap Amelia. Amelia tertawa pelan. "Lalu, apakah mengajak hidup susah itu tidak termasuk dalam menyakiti perasaan istri kamu?" Ledek Amelia. Amelia tertawa pelan sambil menggelengkan kepalanya. Tangannya terulur dan mengangkat wajah pria yang ada dihadapannya saat ini. "Jangan buang waktuku. Katakan saja apa jawabanmu saat ini," desis Amelia dan menepis wajah Fajar. Amelia berjalan menjauhi Fajar, mendaratkan tubuhnya di kursi tunggal yang tak jauh dari pria itu. "Aku beri waktu lima detik untukmu menjawab permintaanku." Amelia menaatap Fajar serius. "Di mulai dari sekarang. Satu ... Dua ... Tiga ... Em---" "Saya setuju," jawab Fajar menghentikan hitungan Amelia. Amelia menahan senyumnya. "Katakan dengan jelas." Fajar menarik napas dan mengepalkan tangannya. "Saya setuju menikah dengan anda," jawabnya menatap Amelia. Amelia tersenyum tipis. "Baiklah, aku akan mengurus pernikahan kita besok. Begitu juga dengan janji yang aku berikan kepada istrimu." "Besok?" "Hmm, lebih cepat lebih baik!" Fajar menghela napas pelan. "Bisakah saya meminta sejumlah uang dulu untuk saat ini?" Pintanya dengan tatapan memohon. Amelia mengernyitkan kening. "Saya harus menyelamatkan Nisa," ujar Fajar. "Lalu, apa urusannya denganku?" "Saya membutuhkan sejumlah uang dengan nominal yang cukup besar. Jika tidak bisa melunasi hutang-hutang saya sampai siang ini, maka Nisa akan---" Fajar menggantung ucapannya. Amelia menatap keseluruh wajah Fajar, di mana terlihat raut wajah khawatir tertulis di sana. Ah, betapa besar cinta pria itu kepada Nisa. Apakah dia bisa mendapatkan cinta seperti itu? "Berapa yang kamu butuhkan?" Tanya Amelia membuat Fajar menatapnya. "Ini tidak gratis. Anggap saja sebagai uang muka," sambung Nisa dengan tersenyum. "Uang muka?" "Ya. Aku memberikan kamu uang dan kamu harus membayarnya," sahut Amelia. Kening Fajar mengkerut. "Membayar? Bagaimana caranya aku bisa membayar---" "Cium aku! Berikan aku ciuman panas seperti malam itu!"Fajar menatap kosong pandangan yang ada di hadapannya saat ini. Pikirannya seolah penuh, sehingga membuat kepalanya terasa berat dan berdenyut. Fajar mengangkat tangan kanannya, memijit pangkal hidupnya yang terlihat mancung. Sesekali dia menghembuskan napas dengan berat, seolah ada beban yang sedang menghimpit dadanya. Nisa yang melihat kondisi sang suami saat ini, bisa merasakan apa yang sedang pria itu pikirkan. Berat memang jalan yang harus mereka jalani, akan tetapi hanya jalan itulah satu-satunya cara agar mereka terbebas dari jeratan renternir. Hutang yang tak seberapa, telah menjadi berlipat ganda setiap bulannya, hingga mereka tak mampu untuk membayar lunas hutang-hutang tersebut. Andai saja Amelia tak membantu, mungkin hutang-hutang mereka tidak akan pernah lunas. Bahkan, walaupun Nisa menjadi seorang wanita panggilan sekali pun, hutang-hutang itu juga tidak akan pernah lunas. Ya, itulah jahatnya renternir. Menjerat orang dengan caranya yang tidak masuk akal. "Kopinya, M
Amelia menatap Fajar yang terlihat enggan untuk mencium dirinya. Walaupun begitu, tatapan matanya masih mengunci pria itu, memastikan sebesar apa cinta Fajar kepada Nisa. "Jika kamu tak mau, tidak masalah." Amelia masih menatap Fajar tanda berkedip sedikit pun. "Aku bisa memberikan uangnya besok. Tepat setelah akad nikah kita." Amelia menarik sudut bibirnya, saat melihat reaksi wajah Fajar yang berubah panik dengan kening mengkerut.Pria itu mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan, menatap kosong ke arah lain dengan pikiran yang berkecamuk. Apa yang harus dia lakukan saat ini. Apakah ini adalah akhir dari kesetiaannya?Amelia menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. Kedua tangannya diletakkan tepat di atas sandaran tangan di setiap sisinya. Dagunya terangkat sedikit ke atas, dengan tatapan mata yang masih tertuju kepada Fajar.Merasa tak ada reaksi apapun dari Fajar, Amelia pun berinisiatif untuk menghitung waktu. "Sepuluh ... Sembilan .
Fajar tak sanggup melihat air mata sang istri. Dia menangkup wajah Nisa dan menghapus setiap air mata yang keluar. "Maafkan aku, Dek. Maafkan aku yang tidak sempurna ini!" Braakk ... Nisa dan Fajar terkejut, saat seseorang menendang pintu kayu rumah mereka hingga roboh. Nisa menghapus air matanya, bergegas menuju teras rumah bersama Fajar untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi. "Ka-kalian---" Suara Nisa terdengar bergetar. Fajar memeluk sang istri yang tubuhnya sudah bergetar ketakutan. "Waah, apakah kalian berpelukan untuk salam perpisahan?" Yani tertawa jahat. Nisa mencengkram erat lengan Fajar, menandakan jika wanita itu sangat ketakutan. Kedatangan Yani kali ini tidak seperti biasa. Nisa merasa ada kesialan yang akan menimpanya saat ini. Akankah Yani akan menyeretnya kehadapan pria hidung belang? Karena tidak bisa membayar hutang-hutang mereka?
Fajar mengusap wajahnya kasar. Dia tidak menyangka jika sang istri tega memaksanya untuk menikah dengan Amelia. Walaupun Nisa telah mengancamnya, tetapi Fajar tetap enggan untuk menikah lagi."Bagaimana bisa aku mengkhianati pernikahan kita, Dek?" Lirih Fajar menatap sendu Nisa.Nisa berdesis pelan. "Bukankah kamu memang sudah mengkhianati pernikahan kita, Mas?" Fajar mengangkat kepalanya, menatap langit-langit kamar. Dia berusaha menarik napas, akan tetapi terasa sesak di dada."Jujur saja, aku sudah lelah hidup susah begini!" Suara Nisa terdengar jauh, padahal wanita itu berada di dekat Fajar."Tiga tahun kamu di penjara, Mas, aku banting tulang untuk menghidupi keluarga kita. Mengganti tugasmu sebagai seorang suami!"Air mata Nisa pun terjatuh. Jujur saja, sebenarnya dia enggan membahas perihal tentang kecelakaan yang dialami oleh Fajar tiga tahun lalu. Nisa ikhlas menjalani semuanya. Akan tetapi, rasa sakit yang ditorehkan o
Nisa sengaja pergi pagi-pagi sekali, karena dia enggan untuk melihat wajah Fajar. "Nisa!" Panggil Buk Nella.Nisa menoleh, keningnya sedikit mengkerut saat melihat wajah serius dari kepala pelayan."Ya, Buk?" Nisa mengeringkan tangannya yang basah."Kamu di panggil oleh nyonya besar ke ruang kerjanya," ucap Buk Nela, membuat Nisa menahan napasnya."Sekarang!" Titah Buk Nela dengan tatapan matanya yang tajam.Nisa mengangguk pelan, dia pun bergegas menuju ke ruang kerja Amelia."Mau apa lagi wanita itu?" Batin Nisa penasaran.Sesampainya di ruang kerja Amelia, Nisa mengetuk pintu hingga terdengar suara dari dalam ruangan. Dia membuka pintu dan melihat sosok Amelia yang sedang duduk di kursi kerjanya."Nyonya memanggil saya?" Tanya Nisa menahan rasa benci dan amarahnya. Amelia tersenyum miring. Senyuman yang seolah sedang mengejek Nisa saat ini. Melihat hal itu, Nisa pun refleks mengernyitkan keningnya."Aku pikir kamu gak akan kembali ke tempat ini," ucap Amelia sinis.Merasa tahu ke
Pandangan Nisa terlihat kosong. Dalam pikirannya saat ini hanyalah ribuan kalimat yang keluar dari mulut Amelia. Ya, wanita itu telah menceritakan apa yang telah terjadi antara mereka berdua. Nisa mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan. Tak percaya dengan apa yang telah dikatakan oleh Amelia. Namun, rekaman dari cctv yang ada di villa, menunjukkan jika apa yang dikatakan oleh Amelia adalah sebuah kebenaran. Ya, kebenaran pahit yang harus Nisa terima. Tapi, bagaimana mungkin semua itu bisa terjadi? Sang suami yang taat dalam beragama, bisa melakukan hal sehina itu?Nisa menghela napasnya dengan kasar. Dadanya terasa sesak, seolah ada batu yang menimpa dirinya. "Bagaimana semua itu bisa terjadi?" lirih Nisa dengan air mata yang mengalir membasahi pipi. "Sayang!"Suara berat dan merdu yang selalu membuat Nisa merasa rindu dan bahagia,, kali ini membuat dirinya merasa jijik. Bahkan, untuk menoleh saja, enggan dia lakukan. "Ada apa? Apa yang sedang terjadi?" Fajar mendekati Ni







