LOGINPandangan Nisa terlihat kosong. Dalam pikirannya saat ini hanyalah ribuan kalimat yang keluar dari mulut Amelia. Ya, wanita itu telah menceritakan apa yang telah terjadi antara mereka berdua.
Nisa mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan. Tak percaya dengan apa yang telah dikatakan oleh Amelia. Namun, rekaman dari cctv yang ada di villa, menunjukkan jika apa yang dikatakan oleh Amelia adalah sebuah kebenaran. Ya, kebenaran pahit yang harus Nisa terima. Tapi, bagaimana mungkin semua itu bisa terjadi? Sang suami yang taat dalam beragama, bisa melakukan hal sehina itu? Nisa menghela napasnya dengan kasar. Dadanya terasa sesak, seolah ada batu yang menimpa dirinya. "Bagaimana semua itu bisa terjadi?" lirih Nisa dengan air mata yang mengalir membasahi pipi. "Sayang!" Suara berat dan merdu yang selalu membuat Nisa merasa rindu dan bahagia,, kali ini membuat dirinya merasa jijik. Bahkan, untuk menoleh saja, enggan dia lakukan. "Ada apa? Apa yang sedang terjadi?" Fajar mendekati Nisa, saat menyadari jika sang istri sedang menangis. "Kenapa kamu menangis?" Fajar mengulurkan tangan, ingin menghapus air mata yang membasahi pipi sang istri, akan tetapi Nisa menepis tangannya. Fajar mengernyitkan kening, saat melihat tatapan penuh rasa benci dan kecewa terpancar dari mata indah sang istri. "Ada apa, sayang? Kenapa kamu menatapku begitu?" Fajar merasa bersalah, karena sudah membuat Nisa harus menanggung tanggung jawabnya saat ini. Andai saja dirinya tidak dipecat, mungkit Fajar bisa mencoba mencari pinjaman dan akan membayar semua tunggakan hutang mereka. Tapi, saat ini Fajar tidak memiliki pekerjaan atau pun uang. Dari mana dia bisa membayar hutang-hutang mereka yang sudah menunggak? "Aku benar-benar kecewa sama kamu, Mas," lirih Nisa dengan geram penuh amarah. "Mas tahu, Dek, Mas salah. Mas janji, Mas akan mencari pinjaman untuk---" "Cih ...." Nisa berdecih dengan tatapan marahnya. "Ini bukan soal hutang, Mas," ucap Nisa, membuat Fajar mengernyitkan keningnya. "Sebaiknya kamu katakan dengan jujur, Mas, dosa apa yang sudah kamu perbuat dibelakang aku?" Fajar mengernyitkan kening, merasa tak paham dengan apa yang dimaksud oleh Nisa. Namun, seketika dia teringat akan dosa yang telah dia perbuat saat di Villa. Dosa sekaligus pengkhianatan dalam rumah tangganya. "Kamu sudah ingat? Dosa dan pengkhianatan yang kamu berikan kepadaku?" Desis Nisa menatap tajam Fajar. "A-apa yang kamu maksud, Dek? Pengkhianatan apa?" Fajar berpura-pura tidak tahu. Ya, bukankah kejadian malam itu hanya dirinya dan Amelia saja yang tahu? Bahkan, Amelia sudah berjanji untuk tidak menceritakan kejadian pada malam itu dengan siapapun. Dan juga, Amelia tidak mengetahui siapa istrinya. Jadi, tidak mungkin Nisa bisa tahu tentang kejadian pada malam itu 'kan? "Jangan berpura-pura kamu, Mas. Aku sudah tahu semuanya!" Geram Nisa yang sudah mengepalkan tangannya erat. "Kamu telah berkhianat dibelakangku. Kamu telah mendustai pernikahan kita. Kamu telah berselingkuh dengan wanita itu! Iya 'kan?" Pekik Nisa memukul dada bidang Fajar, membuat pria itu terkejut. "Dek, tenangkan diri kamu. Anak-anak sedang tidur," mohon Fajar. Nisa tersenyum dengan bibir yang bergetar. "Kamu menyuruh aku tenang? Di saat kamu menikmati tubuh orang lain?" Desis Nisa sambil tertawa perih. Seolah tersambar petir, Fajar hanya diam mematung di tempatnya. Menatap Nisa penuh rasa bersalah. Namun, dari mana istrinya bisa tahu tentang pengkhianatan yang telah dia lakukan? Apakah Amelia yang mengatakannya? Tapi, dari mana Amelia tahu jika Nisa adalah istrinya? "Di hari anniversary kita, kamu malah bersetubuh dengan wanita lain. Kamu malah bermain dengan wanita lain. Kamu telah menodai pernikahan kita, Mas. Kamu telah mengkhianati kepercayaan aku dan pernikahan kita, Mas!" Pekik Nisa penuh amarah. Fajar benar-benar merasa bersalah kepada Nisa. Ya, dia memang telah menodai pernikahan mereka. Tapi, semua itu bukan dilakukan dengan sengaja. Fajar juga tidak tahu, bagaimana semua itu bisa terjadi. Namun, hal itu tidak menutupi kemungkinan jika dirinya telah menodai pernikahan mereka. "D-dek, Mas minta maaf. Mas salah, mas berdosa, Dek. Mas mohon, dengarkan alasan, Mas," pinta Fajar membujuk Nisa. Nisa menepis tangan Fajar yang hendak menyentuhnya. "Jangan sentuh aku, aku benar-benar jijik disentuh olehmu," desis Nisa penuh rasa marah dan kecewa. "Dek, kamu berhak marah kepada Mas. Tapi tolong, dengarkan penjelasan Mas dulu," mohon Fajar lagi yang tidak mau menyerah untuk mendapatkan maaf dari sang istri. Fajar harus menebus semua dosa-dosanya terhadap Nisa. "Alasan apa yang mau kamu katakan, Mas? Alasan apa? Alasan jika kamu terpaksa? Alasan jika kamu diancam oleh wanita itu? Atau alasan jika memang belalai kamu itu merasa kedinginan butuh kehangatan? Hah? Alasan apa yang ingin kamu katakan?" Cecar Nisa dengan geram. "Dek, bukan itu. Bukan semua itu," jelas Fajar. "Mas mohon, kamu dengarkan alasan Mas yang sebenarnya." Nisa berdecih pelan. "Baiklah, alasan apa yang ingin kamu katakan, Mas?" Fajar menarik napas dan menghelanya secara perlahan. Dari mana dia harus memulainya? "Malam itu---" Fajar menceritakan apa yang sebenarnya terjadi, menurut versi dirinya. Fajar menjelaskan dengan detail, jika dia benar-benar tidak menyadari hal tersebut. Dalam ingatan Fajar, jika dirinya sedang bercumbu dengan Nisa. Ya, dalam pandangan Fajar, jika wanita pada malam itu adalah sang istri. "Mas berani bersumpah, Dek. Mas benar-benar tidak ingat tentang kejadian malam itu. Kepala Mas terasa pusing, dalam dalam ingatan Mas saat itu adalah kamu. Mas berani bersumpah." Jika Fajar sudah bersumpah, maka apa yang diucapkan oleh pria itu kemungkinan benar. "Bersumpah demi apa kamu, Mas?" Tanya Nisa ingin memastikan. "Mas berani bersumpah di atas kitab suci,, jika kejadian pada malam itu benar-benar di luar kendali, Mas." Nisa menarik napas dan menghelanya secara perlahan. "Apa Mas Fajar sebenarnya telah dijebak?" Pikir Nisa. Nisa mengingat kembali, bagaimana Amelia memperlakukan Fajar. Bagaimana cara mereka dipertemukan, hingga Fajar bisa menjadi pengawal pribadi wanita itu. Dan juga, mengingat wajah Amelia yang sepertinya terpesona oleh Fajar, saat wanita itu meminta suaminya. Ya, bisa saja jika Fajar telah dijebak oleh Amelia. Nisa percaya, jika sang suami tidak akan mungkin melakukan hal tersebut, karena dia memiliki ketaatan dalam beragama dan setia. "Maafin, Mas, Dek, maafin Mas yang sudah bersalah kepada kamu. Tapi percayalah, jika Mas tidak sadar akan kejadian pada malam itu," ucap Fajar memohon. Nisa kembali menghela napasnya secara kasar dan panjang. Dia menatap sang suami dan ingin memaafkan, akan tetapi bayangan video di mana Fajar mencium Amelia dan mengangkat tubuh wanita itu ke atas meja, serta melakukan---- Nisa memejamkan mata, berusaha menghapus ingatannya itu. "Kamu tau, Mas? Wanita itu memberi syarat atas pinjaman yang aku minta," ucap Nisa melirik tajam Fajar. "Sya-syarat apa, Dek?" "Dia meminta kamu, Mas. Dia meminta kamu menjadi suaminya," jawab Nisa dengan mata yang memerah dan basah. "Sebenarnya sudah sampai sejauh mana hubungan kalian?" Nisa mengusap wajahnya dengan putus asa. "Mas berani sumpah, Dek, kalau Mas tidak memiliki hubungan apapun dengan nyo---" "Cukup, Mas! Aku tidak ingin mendengar pembelaan kamu!" Pekik Nisa. Fajar menatap sendu sang istri. Dia bisa merasakan, bagaimana sakitnya perasaan Nisa saat ini. "Sebaiknya kamu fikirkan, menerima tawaran itu atau tidak." Nisa menatap Fajar dengan hati yang tertusuk ribuan pisau. "Dek---" "Aku tidak ingin melihat kamu, Mas. Jadi, sebaiknya kamu jaga jarak denganku, hingga amarahku benar-benar mereda dan bisa memaafkan kamu." Nisa berlalu melewati Fajar, tanpa menoleh sedikit pun ke arah pria itu. "Gunakan waktumu untuk berpikir, Mas. Menerima tawaran tersebut atau menolaknya."Amelia menatap Fajar yang terlihat enggan untuk mencium dirinya. Walaupun begitu, tatapan matanya masih mengunci pria itu, memastikan sebesar apa cinta Fajar kepada Nisa. "Jika kamu tak mau, tidak masalah." Amelia masih menatap Fajar tanda berkedip sedikit pun. "Aku bisa memberikan uangnya besok. Tepat setelah akad nikah kita." Amelia menarik sudut bibirnya, saat melihat reaksi wajah Fajar yang berubah panik dengan kening mengkerut.Pria itu mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan, menatap kosong ke arah lain dengan pikiran yang berkecamuk. Apa yang harus dia lakukan saat ini. Apakah ini adalah akhir dari kesetiaannya?Amelia menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. Kedua tangannya diletakkan tepat di atas sandaran tangan di setiap sisinya. Dagunya terangkat sedikit ke atas, dengan tatapan mata yang masih tertuju kepada Fajar.Merasa tak ada reaksi apapun dari Fajar, Amelia pun berinisiatif untuk menghitung waktu. "Sepuluh ... Sembilan .
Fajar tak sanggup melihat air mata sang istri. Dia menangkup wajah Nisa dan menghapus setiap air mata yang keluar. "Maafkan aku, Dek. Maafkan aku yang tidak sempurna ini!" Braakk ... Nisa dan Fajar terkejut, saat seseorang menendang pintu kayu rumah mereka hingga roboh. Nisa menghapus air matanya, bergegas menuju teras rumah bersama Fajar untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi. "Ka-kalian---" Suara Nisa terdengar bergetar. Fajar memeluk sang istri yang tubuhnya sudah bergetar ketakutan. "Waah, apakah kalian berpelukan untuk salam perpisahan?" Yani tertawa jahat. Nisa mencengkram erat lengan Fajar, menandakan jika wanita itu sangat ketakutan. Kedatangan Yani kali ini tidak seperti biasa. Nisa merasa ada kesialan yang akan menimpanya saat ini. Akankah Yani akan menyeretnya kehadapan pria hidung belang? Karena tidak bisa membayar hutang-hutang mereka?
Fajar mengusap wajahnya kasar. Dia tidak menyangka jika sang istri tega memaksanya untuk menikah dengan Amelia. Walaupun Nisa telah mengancamnya, tetapi Fajar tetap enggan untuk menikah lagi."Bagaimana bisa aku mengkhianati pernikahan kita, Dek?" Lirih Fajar menatap sendu Nisa.Nisa berdesis pelan. "Bukankah kamu memang sudah mengkhianati pernikahan kita, Mas?" Fajar mengangkat kepalanya, menatap langit-langit kamar. Dia berusaha menarik napas, akan tetapi terasa sesak di dada."Jujur saja, aku sudah lelah hidup susah begini!" Suara Nisa terdengar jauh, padahal wanita itu berada di dekat Fajar."Tiga tahun kamu di penjara, Mas, aku banting tulang untuk menghidupi keluarga kita. Mengganti tugasmu sebagai seorang suami!"Air mata Nisa pun terjatuh. Jujur saja, sebenarnya dia enggan membahas perihal tentang kecelakaan yang dialami oleh Fajar tiga tahun lalu. Nisa ikhlas menjalani semuanya. Akan tetapi, rasa sakit yang ditorehkan o
Nisa sengaja pergi pagi-pagi sekali, karena dia enggan untuk melihat wajah Fajar. "Nisa!" Panggil Buk Nella.Nisa menoleh, keningnya sedikit mengkerut saat melihat wajah serius dari kepala pelayan."Ya, Buk?" Nisa mengeringkan tangannya yang basah."Kamu di panggil oleh nyonya besar ke ruang kerjanya," ucap Buk Nela, membuat Nisa menahan napasnya."Sekarang!" Titah Buk Nela dengan tatapan matanya yang tajam.Nisa mengangguk pelan, dia pun bergegas menuju ke ruang kerja Amelia."Mau apa lagi wanita itu?" Batin Nisa penasaran.Sesampainya di ruang kerja Amelia, Nisa mengetuk pintu hingga terdengar suara dari dalam ruangan. Dia membuka pintu dan melihat sosok Amelia yang sedang duduk di kursi kerjanya."Nyonya memanggil saya?" Tanya Nisa menahan rasa benci dan amarahnya. Amelia tersenyum miring. Senyuman yang seolah sedang mengejek Nisa saat ini. Melihat hal itu, Nisa pun refleks mengernyitkan keningnya."Aku pikir kamu gak akan kembali ke tempat ini," ucap Amelia sinis.Merasa tahu ke
Pandangan Nisa terlihat kosong. Dalam pikirannya saat ini hanyalah ribuan kalimat yang keluar dari mulut Amelia. Ya, wanita itu telah menceritakan apa yang telah terjadi antara mereka berdua. Nisa mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan. Tak percaya dengan apa yang telah dikatakan oleh Amelia. Namun, rekaman dari cctv yang ada di villa, menunjukkan jika apa yang dikatakan oleh Amelia adalah sebuah kebenaran. Ya, kebenaran pahit yang harus Nisa terima. Tapi, bagaimana mungkin semua itu bisa terjadi? Sang suami yang taat dalam beragama, bisa melakukan hal sehina itu?Nisa menghela napasnya dengan kasar. Dadanya terasa sesak, seolah ada batu yang menimpa dirinya. "Bagaimana semua itu bisa terjadi?" lirih Nisa dengan air mata yang mengalir membasahi pipi. "Sayang!"Suara berat dan merdu yang selalu membuat Nisa merasa rindu dan bahagia,, kali ini membuat dirinya merasa jijik. Bahkan, untuk menoleh saja, enggan dia lakukan. "Ada apa? Apa yang sedang terjadi?" Fajar mendekati Ni
Plaak ...Nisa tersungkur, saat mendapatkan tamparan keras dari Yani—renternir yang meminjamkan uang kepadanya untuk membayar kerugian korban kecelakaan."Sudah dua bulan kamu tidak membayar hutang! Kamu pikir saya ini gak butuh uang, apa?" Pekik Yani dengan suaranya yang menggelegar."I-iya, Mami, saya pasti akan membayar hutang-hutang saya," Nisa memohon keringanan sambil menahan rasa perih pada sudut bibirnya yang sudah mengeluarkan darah."Begini saja, bagaimana jika kamu---" Yani tersenyum licik sambil menggantung kalimatnya."Ba-bagaimana apa, Mam?" Nisa merinding melihat senyuman iblis yang keluar dari wajah wanita paruh baya yang ada dihadapannya saat ini.Yani menatap keseluruhan tubuh Nisa. Dia melangkahkan kaki dan mencengkram wajah Nisa dengan kasar. "Tubuh dan wajahmu tidak buruk, bagaimana jika kamu menjualnya saja?" Bisik Yani membuat Nisa menelan ludahnya dengan kasar."Sa-saya akan membayar hutang-hutang saya, saya janji," ucap Nisa sambil berjalan mundur menjauhi Ya







