Share

Bab. 4 - Terbongkar

Author: Rira Syaqila
last update publish date: 2025-10-11 00:25:23

Pandangan Nisa terlihat kosong. Dalam pikirannya saat ini hanyalah ribuan kalimat yang keluar dari mulut Amelia. Ya, wanita itu telah menceritakan apa yang telah terjadi antara mereka berdua.

Nisa mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan. Tak percaya dengan apa yang telah dikatakan oleh Amelia. Namun, rekaman dari cctv yang ada di villa, menunjukkan jika apa yang dikatakan oleh Amelia adalah sebuah kebenaran.

Ya, kebenaran pahit yang harus Nisa terima.

Tapi, bagaimana mungkin semua itu bisa terjadi? Sang suami yang taat dalam beragama, bisa melakukan hal sehina itu?

Nisa menghela napasnya dengan kasar. Dadanya terasa sesak, seolah ada batu yang menimpa dirinya.

"Bagaimana semua itu bisa terjadi?" lirih Nisa dengan air mata yang mengalir membasahi pipi.

"Sayang!"

Suara berat dan merdu yang selalu membuat Nisa merasa rindu dan bahagia,, kali ini membuat dirinya merasa jijik. Bahkan, untuk menoleh saja, enggan dia lakukan.

"Ada apa? Apa yang sedang terjadi?" Fajar mendekati Nisa, saat menyadari jika sang istri sedang menangis.

"Kenapa kamu menangis?" Fajar mengulurkan tangan, ingin menghapus air mata yang membasahi pipi sang istri, akan tetapi Nisa menepis tangannya.

Fajar mengernyitkan kening, saat melihat tatapan penuh rasa benci dan kecewa terpancar dari mata indah sang istri.

"Ada apa, sayang? Kenapa kamu menatapku begitu?" Fajar merasa bersalah, karena sudah membuat Nisa harus menanggung tanggung jawabnya saat ini.

Andai saja dirinya tidak dipecat, mungkit Fajar bisa mencoba mencari pinjaman dan akan membayar semua tunggakan hutang mereka. Tapi, saat ini Fajar tidak memiliki pekerjaan atau pun uang. Dari mana dia bisa membayar hutang-hutang mereka yang sudah menunggak?

"Aku benar-benar kecewa sama kamu, Mas," lirih Nisa dengan geram penuh amarah.

"Mas tahu, Dek, Mas salah. Mas janji, Mas akan mencari pinjaman untuk---"

"Cih ...." Nisa berdecih dengan tatapan marahnya.

"Ini bukan soal hutang, Mas," ucap Nisa, membuat Fajar mengernyitkan keningnya.

"Sebaiknya kamu katakan dengan jujur, Mas, dosa apa yang sudah kamu perbuat dibelakang aku?"

Fajar mengernyitkan kening, merasa tak paham dengan apa yang dimaksud oleh Nisa. Namun, seketika dia teringat akan dosa yang telah dia perbuat saat di Villa. Dosa sekaligus pengkhianatan dalam rumah tangganya.

"Kamu sudah ingat? Dosa dan pengkhianatan yang kamu berikan kepadaku?" Desis Nisa menatap tajam Fajar.

"A-apa yang kamu maksud, Dek? Pengkhianatan apa?" Fajar berpura-pura tidak tahu.

Ya, bukankah kejadian malam itu hanya dirinya dan Amelia saja yang tahu? Bahkan, Amelia sudah berjanji untuk tidak menceritakan kejadian pada malam itu dengan siapapun. Dan juga, Amelia tidak mengetahui siapa istrinya.

Jadi, tidak mungkin Nisa bisa tahu tentang kejadian pada malam itu 'kan?

"Jangan berpura-pura kamu, Mas. Aku sudah tahu semuanya!" Geram Nisa yang sudah mengepalkan tangannya erat.

"Kamu telah berkhianat dibelakangku. Kamu telah mendustai pernikahan kita. Kamu telah berselingkuh dengan wanita itu! Iya 'kan?" Pekik Nisa memukul dada bidang Fajar, membuat pria itu terkejut.

"Dek, tenangkan diri kamu. Anak-anak sedang tidur," mohon Fajar.

Nisa tersenyum dengan bibir yang bergetar. "Kamu menyuruh aku tenang? Di saat kamu menikmati tubuh orang lain?" Desis Nisa sambil tertawa perih.

Seolah tersambar petir, Fajar hanya diam mematung di tempatnya. Menatap Nisa penuh rasa bersalah. Namun, dari mana istrinya bisa tahu tentang pengkhianatan yang telah dia lakukan? Apakah Amelia yang mengatakannya? Tapi, dari mana Amelia tahu jika Nisa adalah istrinya?

"Di hari anniversary kita, kamu malah bersetubuh dengan wanita lain. Kamu malah bermain dengan wanita lain. Kamu telah menodai pernikahan kita, Mas. Kamu telah mengkhianati kepercayaan aku dan pernikahan kita, Mas!" Pekik Nisa penuh amarah.

Fajar benar-benar merasa bersalah kepada Nisa. Ya, dia memang telah menodai pernikahan mereka. Tapi, semua itu bukan dilakukan dengan sengaja. Fajar juga tidak tahu, bagaimana semua itu bisa terjadi. Namun, hal itu tidak menutupi kemungkinan jika dirinya telah menodai pernikahan mereka.

"D-dek, Mas minta maaf. Mas salah, mas berdosa, Dek. Mas mohon, dengarkan alasan, Mas," pinta Fajar membujuk Nisa.

Nisa menepis tangan Fajar yang hendak menyentuhnya.

"Jangan sentuh aku, aku benar-benar jijik disentuh olehmu," desis Nisa penuh rasa marah dan kecewa.

"Dek, kamu berhak marah kepada Mas. Tapi tolong, dengarkan penjelasan Mas dulu," mohon Fajar lagi yang tidak mau menyerah untuk mendapatkan maaf dari sang istri.

Fajar harus menebus semua dosa-dosanya terhadap Nisa.

"Alasan apa yang mau kamu katakan, Mas? Alasan apa? Alasan jika kamu terpaksa? Alasan jika kamu diancam oleh wanita itu? Atau alasan jika memang belalai kamu itu merasa kedinginan butuh kehangatan? Hah? Alasan apa yang ingin kamu katakan?" Cecar Nisa dengan geram.

"Dek, bukan itu. Bukan semua itu," jelas Fajar. "Mas mohon, kamu dengarkan alasan Mas yang sebenarnya."

Nisa berdecih pelan. "Baiklah, alasan apa yang ingin kamu katakan, Mas?"

Fajar menarik napas dan menghelanya secara perlahan. Dari mana dia harus memulainya?

"Malam itu---" Fajar menceritakan apa yang sebenarnya terjadi, menurut versi dirinya.

Fajar menjelaskan dengan detail, jika dia benar-benar tidak menyadari hal tersebut. Dalam ingatan Fajar, jika dirinya sedang bercumbu dengan Nisa. Ya, dalam pandangan Fajar, jika wanita pada malam itu adalah sang istri.

"Mas berani bersumpah, Dek. Mas benar-benar tidak ingat tentang kejadian malam itu. Kepala Mas terasa pusing, dalam dalam ingatan Mas saat itu adalah kamu. Mas berani bersumpah."

Jika Fajar sudah bersumpah, maka apa yang diucapkan oleh pria itu kemungkinan benar.

"Bersumpah demi apa kamu, Mas?" Tanya Nisa ingin memastikan.

"Mas berani bersumpah di atas kitab suci,, jika kejadian pada malam itu benar-benar di luar kendali, Mas."

Nisa menarik napas dan menghelanya secara perlahan. "Apa Mas Fajar sebenarnya telah dijebak?" Pikir Nisa.

Nisa mengingat kembali, bagaimana Amelia memperlakukan Fajar. Bagaimana cara mereka dipertemukan, hingga Fajar bisa menjadi pengawal pribadi wanita itu. Dan juga, mengingat wajah Amelia yang sepertinya terpesona oleh Fajar, saat wanita itu meminta suaminya.

Ya, bisa saja jika Fajar telah dijebak oleh Amelia. Nisa percaya, jika sang suami tidak akan mungkin melakukan hal tersebut, karena dia memiliki ketaatan dalam beragama dan setia.

"Maafin, Mas, Dek, maafin Mas yang sudah bersalah kepada kamu. Tapi percayalah, jika Mas tidak sadar akan kejadian pada malam itu," ucap Fajar memohon.

Nisa kembali menghela napasnya secara kasar dan panjang. Dia menatap sang suami dan ingin memaafkan, akan tetapi bayangan video di mana Fajar mencium Amelia dan mengangkat tubuh wanita itu ke atas meja, serta melakukan----

Nisa memejamkan mata, berusaha menghapus ingatannya itu.

"Kamu tau, Mas? Wanita itu memberi syarat atas pinjaman yang aku minta," ucap Nisa melirik tajam Fajar.

"Sya-syarat apa, Dek?"

"Dia meminta kamu, Mas. Dia meminta kamu menjadi suaminya," jawab Nisa dengan mata yang memerah dan basah.

"Sebenarnya sudah sampai sejauh mana hubungan kalian?" Nisa mengusap wajahnya dengan putus asa.

"Mas berani sumpah, Dek, kalau Mas tidak memiliki hubungan apapun dengan nyo---"

"Cukup, Mas! Aku tidak ingin mendengar pembelaan kamu!" Pekik Nisa.

Fajar menatap sendu sang istri. Dia bisa merasakan, bagaimana sakitnya perasaan Nisa saat ini.

"Sebaiknya kamu fikirkan, menerima tawaran itu atau tidak." Nisa menatap Fajar dengan hati yang tertusuk ribuan pisau.

"Dek---"

"Aku tidak ingin melihat kamu, Mas. Jadi, sebaiknya kamu jaga jarak denganku, hingga amarahku benar-benar mereda dan bisa memaafkan kamu." Nisa berlalu melewati Fajar, tanpa menoleh sedikit pun ke arah pria itu.

"Gunakan waktumu untuk berpikir, Mas. Menerima tawaran tersebut atau menolaknya."

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Kupaksa suamiku menikah lagi   Bab. 32 - Tanda merah

    Buk Inem melihat rambut Nisa yang masih basah dan tergerai. Sudut bibirnya pun tertarik untuk membentuk sebuah senyuman. "Kenapa Ibuk senyum-senyum?" Tanya Fajar saat menuju ke dapur."Oh, enggak kok, gak papa," jawab Buk Inem masih dengan senyuman yang mengulum di bibir. Fajar mengernyitkan kening, melirik ke arah sang istri yang tengah sibuk menyiapkan sarapan pagi."Ibu ke depan dulu, ya!" Pamit Buk Inem masih dengan senyum yang terkulum di bibir."Iya, Buk." Fajar mengangguk pelan, membalas senyuman buk Inem dengan bingung.Namun, beberapa detik selanjutnya, Fajar paham kenapa buk Inem tersenyum penuh arti kepadanya saat melihat Nisa. Ya, rambut Nisa yang basah terurai, sudah menandakan jika telah terjadi sesuatu di antara mereka berdua. Di tambah lagi, tanda cinta yang Fajar ciptakan mengintip malu dari sela-sela rambut yang hitam terurai. Fajar pun ikut tersenyum saat menyadari hal itu semua."Kenapa, Mas?" Tanya Nisa yang memang tidak menyadari apa yang telah terjadi beberap

  • Kupaksa suamiku menikah lagi   Bab. 31 - Segelas Susu

    Amelia mengepalkan tangannya erat, saat mendapatkan informasi tentang Fajar, di mana pria itu sudah bertemu dengan Nisa."Brengsek!" Amelia menggebrak meja dengan kepalan tangannya. Dia benar-benar geram mendengar jika Nisa telah membawa Fajar pulang.Cling ...Amelia melirik ke arah ponselnya yang berbunyi. Dia bergegas mengambil benda datar yang seukuran telapak tangan, saat melihat notifikasi atas nama Fajar. Dengan dada yang bergemuruh, Amelia membuka isi pesan tersebut."Maaf, malam ini aku tidak bisa pulang. Aku akan menginap bersama Nisa dan anakku."Ya, satu kalimat pemberitahuan yang dikirimkan oleh Fajar, berhasil membuat Amelia memendam amarahnya."Akkhhh ...." Pekik Amelia, sambil melempar ponsel yang ada ditangannya.Desi yang melihat kondisi ponsel Amelia saat ini hanya bisa menghela napasnya secara perlahan dan panjang. Melihat bagaimana wanita itu marah, Desi bisa menduga, jika Amelia terobsesi kepada Fajar. "Bagaimana mereka bisa bertemu?" Geram Amelia sambil memuku

  • Kupaksa suamiku menikah lagi   Bab. 30 - Menemukanmu

    Sudah seminggu berlalu, Fajar terus mencari keberadaan Nisa. Akan tetapi, wanita yang sudah bertahun-tahun menemaninya di saat suka dan duka masih belum juga dia temukan keberadaannya. "Kemana lagi aku harus mencari kamu, Nisa?" Gumam Fajar sambil mengusap wajahnya yang terasa lengket dan berminyak.Seharian berkeliling mengendarai motor, demi mencari keberadaan sang istri. Bahkan, untuk mengisi perutnya dengan sepotong kue saja, Fajar tak mampu. Uang yang saat ini ada ditangannya, hanya cukup untuk mengisi bensin saja. Ya, Fajar harus berhemat, karena saat ini dia tidak memiliki pekerjaan tetap untuk menghasilkan uang.Fajar menghela napasnya secara perlahan. Perutnya semakin terasa perih dan terus berbunyi, bahkan tenggorokannya juga mulai terasa kering. Seharian mencari keberadaan Nisa, tanpa meneguk setetes air dan sesuap nasi, membuat tubuh pria itu melemas. "Apakah aku harus meminta tolong kepada Amelia? Untuk mencari keberadaan mereka?" Gumam Fajar. Tapi, mengingat jika Ame

  • Kupaksa suamiku menikah lagi   Bab. 29 - Mencarimu

    Fajar menghela napasnya secara pelan. Dia hentikan motor dipinggir jalan. Matanya menatap kosong ke arah kendaraan yang berlalu lalang. "Di mana kamu, Dek?" Lirih Fajar, mencoba mencari sosok Nisa. Fajar mencoba mengingat siapa saja kerabat dekat mereka. Akan tetapi, semua hubungan telah putus, saat Nisa mencoba meminjam sejumlah uang dengan nominal yang besar karena dirinya. Ya, semenjak kejadian itu, Nisa dan ibunya seolah hidup tanpa saudara. "Gak! Gak mungkin Nisa pergi ke rumah mereka," gumam Fajar dan kembali mengusap wajahnya dengan kasar. "Ke mana kamu, Dek? Kenapa tidak ada kabar?" Fajar memutuskan untuk berkeliling, mencari keberadaan Nisa. Pria itu berpikir, jika Nisa pergi dari rumah, karena tidak sanggup membayar uang sewa. Tapi, di mana mereka saat ini? Ke mana Nisa membawa putra dan ibunya untuk berteduh? Angin mulai berhembus, langit pun perlahan mulai menghitam. Udara sejuk pun mulai menyentuh kulit Fajar dan membuat tubuhnya terasa dingin. Semua tanda

  • Kupaksa suamiku menikah lagi   Bab. 28 - Nomor Ponsel

    Nisa menatap toko bunga yang ada dihadapannya saat ini. Dia benar-benar tidak menyangka, jika Amelia juga memberikan sebuah toko untuk dirinya membuka usaha. Apa ini artinya jika dirinya tidak boleh mengharap nafkah dari Fajar lagi? "Bagaimana? Anda suka?" Tanya Desi sambil tersenyum kecil. Nisa menoleh ke arah sumber suara. "I-ini beneran untuk saya?" Nisa rasanya gak percaya dengan apa yang dia lihat. Desi tersenyum kecil sambil menganggukkan kepalanya. "Iya, toko bunga ini untuk Anda!" Nisa menutup mulutnya yang terbuka. Dia benar-benar tidak menyangka, jika mimpinya untuk memiliki sebuah toko bunga bisa terwujud. "Tap-tapi---" "Syaratnya masih sama," potong Desi membuat Nisa mengernyitkan kening. "Jangan membuat masalah dengan Buk Amelia," sambung Desi. "Jangan ulangi kesalahan seperti tadi!" Desi memperingatkan. "Kesalahan yang mana?" Nisa merasa tidak memiliki kesalahan. Kalau soal mengabaikan Fajar, sudah sewajarnya 'kan dia mengabaikan sang suami? Karen

  • Kupaksa suamiku menikah lagi   Bab. 27 - Gerai Ponsel

    Nisa mengernyitkan kening saat Desi membawanya ke sebuah toko handphone. Bukankah tadi Desi mengatakan jika mereka ingin pergi ke suatu tempat? Tapi kenapa malah pergi ke toko ponsel?"Berikan handphone keluaran yang terbaru," ucap Desi kepada si penjaga ponsel. Nisa diam berdiri memperhatikan di samping Desi. Wanita itu sedikit pun tidak pernah berpikir jika ponsel yang dibeli oleh Desi adalah untuknya. Jangankan berpikir, berharap pun Nisa tidak!"Apa Anda suka dengan model ini, Nona?" Tanya Desi membuat Nisa mengernyitkan kening sambil menatap handphone yang ada di atas meja. "Saya tidak punya uang untuk---""Ponsel ini juga pemberian Buk Direktur Amelia," ucap Desi memotong kalimat Nisa. Nisa diam, dia hanya menatap datar ponsel yang ada di tangan Desi saat ini. "Apa ada merk atau model ponsel lain yang Nona inginkan?" Tanya Desi mengambil perhatian Nisa lagi. "Hmm? Tidak ada," jawab Nisa sambil menggeleng pelan. Ya, dia tidak terlalu paham tentang handphone keluaran terbaru

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status