Share

Bab. 5 - Syarat

Penulis: Rira Syaqila
last update Tanggal publikasi: 2025-10-11 13:02:38

Nisa sengaja pergi pagi-pagi sekali, karena dia enggan untuk melihat wajah Fajar.

"Nisa!" Panggil Buk Nella.

Nisa menoleh, keningnya sedikit mengkerut saat melihat wajah serius dari kepala pelayan.

"Ya, Buk?" Nisa mengeringkan tangannya yang basah.

"Kamu di panggil oleh nyonya besar ke ruang kerjanya," ucap Buk Nela, membuat Nisa menahan napasnya.

"Sekarang!" Titah Buk Nela dengan tatapan matanya yang tajam.

Nisa mengangguk pelan, dia pun bergegas menuju ke ruang kerja Amelia.

"Mau apa lagi wanita itu?" Batin Nisa penasaran.

Sesampainya di ruang kerja Amelia, Nisa mengetuk pintu hingga terdengar suara dari dalam ruangan. Dia membuka pintu dan melihat sosok Amelia yang sedang duduk di kursi kerjanya.

"Nyonya memanggil saya?" Tanya Nisa menahan rasa benci dan amarahnya.

Amelia tersenyum miring. Senyuman yang seolah sedang mengejek Nisa saat ini. Melihat hal itu, Nisa pun refleks mengernyitkan keningnya.

"Aku pikir kamu gak akan kembali ke tempat ini," ucap Amelia sinis.

Merasa tahu ke mana pembahasan mereka, Nisa langsung merubah mimik wajahnya yang datar menjadi kesal.

"Jika kamu punya harga diri, seharusnya kamu tidak kembali ke sini," sambung Amelia lagi.

Nisa diam, tangannya terkepal erat menahan amarahnya. Jika tak mengingat dirinya yang membutuhkan uang, mungkin saat ini Nisa sudah menjambak rambut Amelia.

"Jika kamu memang sangat membutuhkan uang, kenapa kamu tidak terima saja tawaranku?" Amelia tersenyum tipis.

"Jadikan aku istri kedua Fajar." Tegas, tapi terdengar dingin.

Nisa menarik napasnya secara perlahan. "Kenapa kamu ingin sekali menjadi maduku?" Nisa menatap tajam wanita yang ada dihadapannya saat ini.

"Bukankah sudah aku katakan? Jika aku menginginkan kehangatan pada kasurku," sahut Amelia sambil tersenyum manis. "Fajar benar-benar bisa membuatku sampai ke puncak gairah. Aku ingin setiap malamku selalu bisa mencapai puncak---"

"Bagaimana jika aku tak setuju?" Potong Nisa yang enggan mendengar kalimat yang diucapkan oleh Amelia.

"Bukankah sudah jelas? Kamu bisa angkat kaki dari tempat ini." Amelia menjawab dengan tersenyum manis.

Nisa memejamkan mata, tangannya terkepal erat hingga kukunya memutih. Hatinya sudah menyuruh pergi, tetapi pikirannya menahan untuk tetap tinggal.

"Lagi pula, kamu tidak akan merasa rugi jika aku menjadi madumu," ucap Amelia, membuat Nisa membuka matanya.

"Apa maksudmu?" Tanya Nisa penasaran.

Amelia mengangkat tangan, seolah menunjuk semua yang ada disekitarnya. "Kemewahan," ucapnya sambil berbisik jelas.

"Aku akan memberikan apapun yang kamu minta, asal Fajar bisa menjadi suamiku."

Amelia benar-benar sudah terperangkap oleh pesona Fajar. Ya, bagaimana tidak. Semakin wanita itu mengetahui tentang Fajar, maka semakin dia menginginkan pria itu.

"Apapun?" Tanya Nisa memastikan.

"Hmm! Semua hutangmu akan lunas. Biaya pengobatan ibumu akan aku tanggung, dan kamu jika bisa memasukkan anakmu ke sekolah yang modern," ucap Amelia, membuat Nisa mengerjapkan matanya.

Pikirannya sudah berbisik, untuk menerima tawaran Amelia. Akan tetapi, hatinya terasa remuk dan hancur, bagaikan tertimpa batu yang sangat besar.

"Tidak hanya itu, aku akan memberikan modal usaha untukmu, serta apartemen yang layak dan jauh lebih nyaman dari tempat tinggalmu sekarang," sambung Amelia. "Bahkan, apapun yang kamu minta, akan aku berikan, tapi dengan syarat!"

Nisa mengernyitkan kening, mencoba menebak syarat yang diberikan oleh Amelia.

"Fajar harus tinggal bersamaku."

Mata Nisa membulat. Bagaimana bisa dia membiarkan Fajar tinggal bersama Amelia, sedangkan putranya membutuhkan Fajar sebagai seorang ayah.

"Hmm, aku rasa kamu tidak setuju dengan syaratku," ucap Amelia sambil mengangguk pelan.

Amelia terlihat berpikir dengan bibir yang sedikit dimanyunkan. "Begini saja, bagaimana jika Fajar tinggal bersamaku selama empat hari, sedangkan bersamamuu tiga hari?" Tawarnya. "Cukup adilkan?"

Nisa menghela napasnya panjang. Mulutnya terkunci, karena mendengar perdebatan antara hati dan pikirannya.

"Aku rasa itu cukup adil. Kamu mendapatkan semua kemewahan yang tidak pernah kamu dapatkan. Anakmu bisa bersekolah di tempat yang bagus, ibumu mendapatkan pengobatan intensif, bahkan tidak hanya kemewahan yang aku berikan, tetapi juga modal usaha," ucap Amelia. "Kesempatan tidak datang dua kali. Aku beri kamu waktu hingga malam ini, jika tidak ada jawaban, maka tawarannya berakhir," sambung Amelia.

"Sebaiknya kamu pergi, pikirkan apa yang aku katakan tadi."

Nisa menggigit bibir bagian dalamnya, tangannya masih terkepal erat, menahan amarah dengan pikiran yang kacau. Haruskah dia menerima tawaran Amelia?

Sesampainya di rumah, Nisa melihat Fajar yang sedang membenarkan pintu rumah mereka.

"Pintunya lepas, Dek, jadi aku---"

Nisa melewati Fajar begitu saja. Dirinya masih enggan untuk melihat wajah sang suami. Setiap melihat wajah Fajar, bayangan tentang pria itu dan Amelia pun terus saja berputar di kepala Nisa.

"Dek!" Fajar menghampiri Nisa yang sudah berada di dalam kamar.

Nisa menoleh dengan tatapannya yang tajam.

"Tadi aku mencari pekerjaan, alhamdulillah aku sudah mendapatkan pekerjaan," ucap Fajar memberitahu.

"Oh ya? Apakah pekerjaan kamu itu bisa melunasi semua hutang-hutang kita, Mas?" Tanya Nisa dingin. "Apakah gaji dari pekerjaan kamu itu bisa membawa kita hidup enak? Apakah dengan gaji kamu itu bisa membawa ibu untuk berobat?" Nisa mencecar Fajar dengan berbagai pertanyaan.

"Dek, memang gaji aku tidak sebesar dari sebelumnya, tapi jika kita menci---"

"Mau sampai kapan, Mas? Selama ini yang kita bayar ke renternir itu hanya bunganya saja. Mau sampai kapan kita membayar bunganya?" Pekik Nisa kesal.

"Dek---"

"Belum lagi untuk pengobatan ibuk," Nisa terisak dengan dada yang terasa bergemuruh.

"Kamu pikir kamu mau tinggal di rumah ini, Mas?" Lirih Nisa penuh dengan rasa kecewa. "Mau sampai kapan kita tinggal di tempat seperti ini? Bahkan kandang kambing pun lebih baik dari ini."

"Astaghfirullah, Dek. Ngucap, Dek, ngucap. Kamu gak boleh berkata seperti itu!"

Nisa tertawa pelan. "Lalu aku harus berkata apa, Mas? Wah! Rumah ini sungguh sangat nyaman dan hangat untuk ditinggali seumur hidup?" Desisnya.

"Dek, jika kita berusaha dan berdo---"

"Cukup, Mas, cukup. Jangan ceramahi aku saat ini," potong Nisa.

Fajar menghela napasnya pelan dan panjang. Nisa mengusap air mata yang sudah membanjiri kedua pipinya.

"Begini saja, Mas. Jujur saja, aku benar-benar sudah muak dengan kehidupan seperti ini," ucap Nisa menatap tajam sang suami.

Kening Fajar mengkerut, mencoba mencerna apa yang dimaksud oleh sang istri.

"Aku ingin keluar dari kehidupan ini, Mas. Aku ingin enak, aku ingin tempat tinggal yang layak, aku ingin Nabil bersekolah disekolah yang bagus, dan aku juga ingin ibu mendapatkan pengobatan yang intensif, Mas. Aku ingin semua itu!" Nisa mengucapkannya dengan tegas.

Fajar masih diam, mencoba mencerna apa yang diucapkan oleh Nisa.

"Sebaiknya kamu terima tawaran wanita itu, sebelum renternir menjadikanku wanita murahan," desis Nisa tajam.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Kupaksa suamiku menikah lagi   Bab. 32 - Tanda merah

    Buk Inem melihat rambut Nisa yang masih basah dan tergerai. Sudut bibirnya pun tertarik untuk membentuk sebuah senyuman. "Kenapa Ibuk senyum-senyum?" Tanya Fajar saat menuju ke dapur."Oh, enggak kok, gak papa," jawab Buk Inem masih dengan senyuman yang mengulum di bibir. Fajar mengernyitkan kening, melirik ke arah sang istri yang tengah sibuk menyiapkan sarapan pagi."Ibu ke depan dulu, ya!" Pamit Buk Inem masih dengan senyum yang terkulum di bibir."Iya, Buk." Fajar mengangguk pelan, membalas senyuman buk Inem dengan bingung.Namun, beberapa detik selanjutnya, Fajar paham kenapa buk Inem tersenyum penuh arti kepadanya saat melihat Nisa. Ya, rambut Nisa yang basah terurai, sudah menandakan jika telah terjadi sesuatu di antara mereka berdua. Di tambah lagi, tanda cinta yang Fajar ciptakan mengintip malu dari sela-sela rambut yang hitam terurai. Fajar pun ikut tersenyum saat menyadari hal itu semua."Kenapa, Mas?" Tanya Nisa yang memang tidak menyadari apa yang telah terjadi beberap

  • Kupaksa suamiku menikah lagi   Bab. 31 - Segelas Susu

    Amelia mengepalkan tangannya erat, saat mendapatkan informasi tentang Fajar, di mana pria itu sudah bertemu dengan Nisa."Brengsek!" Amelia menggebrak meja dengan kepalan tangannya. Dia benar-benar geram mendengar jika Nisa telah membawa Fajar pulang.Cling ...Amelia melirik ke arah ponselnya yang berbunyi. Dia bergegas mengambil benda datar yang seukuran telapak tangan, saat melihat notifikasi atas nama Fajar. Dengan dada yang bergemuruh, Amelia membuka isi pesan tersebut."Maaf, malam ini aku tidak bisa pulang. Aku akan menginap bersama Nisa dan anakku."Ya, satu kalimat pemberitahuan yang dikirimkan oleh Fajar, berhasil membuat Amelia memendam amarahnya."Akkhhh ...." Pekik Amelia, sambil melempar ponsel yang ada ditangannya.Desi yang melihat kondisi ponsel Amelia saat ini hanya bisa menghela napasnya secara perlahan dan panjang. Melihat bagaimana wanita itu marah, Desi bisa menduga, jika Amelia terobsesi kepada Fajar. "Bagaimana mereka bisa bertemu?" Geram Amelia sambil memuku

  • Kupaksa suamiku menikah lagi   Bab. 30 - Menemukanmu

    Sudah seminggu berlalu, Fajar terus mencari keberadaan Nisa. Akan tetapi, wanita yang sudah bertahun-tahun menemaninya di saat suka dan duka masih belum juga dia temukan keberadaannya. "Kemana lagi aku harus mencari kamu, Nisa?" Gumam Fajar sambil mengusap wajahnya yang terasa lengket dan berminyak.Seharian berkeliling mengendarai motor, demi mencari keberadaan sang istri. Bahkan, untuk mengisi perutnya dengan sepotong kue saja, Fajar tak mampu. Uang yang saat ini ada ditangannya, hanya cukup untuk mengisi bensin saja. Ya, Fajar harus berhemat, karena saat ini dia tidak memiliki pekerjaan tetap untuk menghasilkan uang.Fajar menghela napasnya secara perlahan. Perutnya semakin terasa perih dan terus berbunyi, bahkan tenggorokannya juga mulai terasa kering. Seharian mencari keberadaan Nisa, tanpa meneguk setetes air dan sesuap nasi, membuat tubuh pria itu melemas. "Apakah aku harus meminta tolong kepada Amelia? Untuk mencari keberadaan mereka?" Gumam Fajar. Tapi, mengingat jika Ame

  • Kupaksa suamiku menikah lagi   Bab. 29 - Mencarimu

    Fajar menghela napasnya secara pelan. Dia hentikan motor dipinggir jalan. Matanya menatap kosong ke arah kendaraan yang berlalu lalang. "Di mana kamu, Dek?" Lirih Fajar, mencoba mencari sosok Nisa. Fajar mencoba mengingat siapa saja kerabat dekat mereka. Akan tetapi, semua hubungan telah putus, saat Nisa mencoba meminjam sejumlah uang dengan nominal yang besar karena dirinya. Ya, semenjak kejadian itu, Nisa dan ibunya seolah hidup tanpa saudara. "Gak! Gak mungkin Nisa pergi ke rumah mereka," gumam Fajar dan kembali mengusap wajahnya dengan kasar. "Ke mana kamu, Dek? Kenapa tidak ada kabar?" Fajar memutuskan untuk berkeliling, mencari keberadaan Nisa. Pria itu berpikir, jika Nisa pergi dari rumah, karena tidak sanggup membayar uang sewa. Tapi, di mana mereka saat ini? Ke mana Nisa membawa putra dan ibunya untuk berteduh? Angin mulai berhembus, langit pun perlahan mulai menghitam. Udara sejuk pun mulai menyentuh kulit Fajar dan membuat tubuhnya terasa dingin. Semua tanda

  • Kupaksa suamiku menikah lagi   Bab. 28 - Nomor Ponsel

    Nisa menatap toko bunga yang ada dihadapannya saat ini. Dia benar-benar tidak menyangka, jika Amelia juga memberikan sebuah toko untuk dirinya membuka usaha. Apa ini artinya jika dirinya tidak boleh mengharap nafkah dari Fajar lagi? "Bagaimana? Anda suka?" Tanya Desi sambil tersenyum kecil. Nisa menoleh ke arah sumber suara. "I-ini beneran untuk saya?" Nisa rasanya gak percaya dengan apa yang dia lihat. Desi tersenyum kecil sambil menganggukkan kepalanya. "Iya, toko bunga ini untuk Anda!" Nisa menutup mulutnya yang terbuka. Dia benar-benar tidak menyangka, jika mimpinya untuk memiliki sebuah toko bunga bisa terwujud. "Tap-tapi---" "Syaratnya masih sama," potong Desi membuat Nisa mengernyitkan kening. "Jangan membuat masalah dengan Buk Amelia," sambung Desi. "Jangan ulangi kesalahan seperti tadi!" Desi memperingatkan. "Kesalahan yang mana?" Nisa merasa tidak memiliki kesalahan. Kalau soal mengabaikan Fajar, sudah sewajarnya 'kan dia mengabaikan sang suami? Karen

  • Kupaksa suamiku menikah lagi   Bab. 27 - Gerai Ponsel

    Nisa mengernyitkan kening saat Desi membawanya ke sebuah toko handphone. Bukankah tadi Desi mengatakan jika mereka ingin pergi ke suatu tempat? Tapi kenapa malah pergi ke toko ponsel?"Berikan handphone keluaran yang terbaru," ucap Desi kepada si penjaga ponsel. Nisa diam berdiri memperhatikan di samping Desi. Wanita itu sedikit pun tidak pernah berpikir jika ponsel yang dibeli oleh Desi adalah untuknya. Jangankan berpikir, berharap pun Nisa tidak!"Apa Anda suka dengan model ini, Nona?" Tanya Desi membuat Nisa mengernyitkan kening sambil menatap handphone yang ada di atas meja. "Saya tidak punya uang untuk---""Ponsel ini juga pemberian Buk Direktur Amelia," ucap Desi memotong kalimat Nisa. Nisa diam, dia hanya menatap datar ponsel yang ada di tangan Desi saat ini. "Apa ada merk atau model ponsel lain yang Nona inginkan?" Tanya Desi mengambil perhatian Nisa lagi. "Hmm? Tidak ada," jawab Nisa sambil menggeleng pelan. Ya, dia tidak terlalu paham tentang handphone keluaran terbaru

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status