تسجيل الدخولNisa sengaja pergi pagi-pagi sekali, karena dia enggan untuk melihat wajah Fajar.
"Nisa!" Panggil Buk Nella. Nisa menoleh, keningnya sedikit mengkerut saat melihat wajah serius dari kepala pelayan. "Ya, Buk?" Nisa mengeringkan tangannya yang basah. "Kamu di panggil oleh nyonya besar ke ruang kerjanya," ucap Buk Nela, membuat Nisa menahan napasnya. "Sekarang!" Titah Buk Nela dengan tatapan matanya yang tajam. Nisa mengangguk pelan, dia pun bergegas menuju ke ruang kerja Amelia. "Mau apa lagi wanita itu?" Batin Nisa penasaran. Sesampainya di ruang kerja Amelia, Nisa mengetuk pintu hingga terdengar suara dari dalam ruangan. Dia membuka pintu dan melihat sosok Amelia yang sedang duduk di kursi kerjanya. "Nyonya memanggil saya?" Tanya Nisa menahan rasa benci dan amarahnya. Amelia tersenyum miring. Senyuman yang seolah sedang mengejek Nisa saat ini. Melihat hal itu, Nisa pun refleks mengernyitkan keningnya. "Aku pikir kamu gak akan kembali ke tempat ini," ucap Amelia sinis. Merasa tahu ke mana pembahasan mereka, Nisa langsung merubah mimik wajahnya yang datar menjadi kesal. "Jika kamu punya harga diri, seharusnya kamu tidak kembali ke sini," sambung Amelia lagi. Nisa diam, tangannya terkepal erat menahan amarahnya. Jika tak mengingat dirinya yang membutuhkan uang, mungkin saat ini Nisa sudah menjambak rambut Amelia. "Jika kamu memang sangat membutuhkan uang, kenapa kamu tidak terima saja tawaranku?" Amelia tersenyum tipis. "Jadikan aku istri kedua Fajar." Tegas, tapi terdengar dingin. Nisa menarik napasnya secara perlahan. "Kenapa kamu ingin sekali menjadi maduku?" Nisa menatap tajam wanita yang ada dihadapannya saat ini. "Bukankah sudah aku katakan? Jika aku menginginkan kehangatan pada kasurku," sahut Amelia sambil tersenyum manis. "Fajar benar-benar bisa membuatku sampai ke puncak gairah. Aku ingin setiap malamku selalu bisa mencapai puncak---" "Bagaimana jika aku tak setuju?" Potong Nisa yang enggan mendengar kalimat yang diucapkan oleh Amelia. "Bukankah sudah jelas? Kamu bisa angkat kaki dari tempat ini." Amelia menjawab dengan tersenyum manis. Nisa memejamkan mata, tangannya terkepal erat hingga kukunya memutih. Hatinya sudah menyuruh pergi, tetapi pikirannya menahan untuk tetap tinggal. "Lagi pula, kamu tidak akan merasa rugi jika aku menjadi madumu," ucap Amelia, membuat Nisa membuka matanya. "Apa maksudmu?" Tanya Nisa penasaran. Amelia mengangkat tangan, seolah menunjuk semua yang ada disekitarnya. "Kemewahan," ucapnya sambil berbisik jelas. "Aku akan memberikan apapun yang kamu minta, asal Fajar bisa menjadi suamiku." Amelia benar-benar sudah terperangkap oleh pesona Fajar. Ya, bagaimana tidak. Semakin wanita itu mengetahui tentang Fajar, maka semakin dia menginginkan pria itu. "Apapun?" Tanya Nisa memastikan. "Hmm! Semua hutangmu akan lunas. Biaya pengobatan ibumu akan aku tanggung, dan kamu jika bisa memasukkan anakmu ke sekolah yang modern," ucap Amelia, membuat Nisa mengerjapkan matanya. Pikirannya sudah berbisik, untuk menerima tawaran Amelia. Akan tetapi, hatinya terasa remuk dan hancur, bagaikan tertimpa batu yang sangat besar. "Tidak hanya itu, aku akan memberikan modal usaha untukmu, serta apartemen yang layak dan jauh lebih nyaman dari tempat tinggalmu sekarang," sambung Amelia. "Bahkan, apapun yang kamu minta, akan aku berikan, tapi dengan syarat!" Nisa mengernyitkan kening, mencoba menebak syarat yang diberikan oleh Amelia. "Fajar harus tinggal bersamaku." Mata Nisa membulat. Bagaimana bisa dia membiarkan Fajar tinggal bersama Amelia, sedangkan putranya membutuhkan Fajar sebagai seorang ayah. "Hmm, aku rasa kamu tidak setuju dengan syaratku," ucap Amelia sambil mengangguk pelan. Amelia terlihat berpikir dengan bibir yang sedikit dimanyunkan. "Begini saja, bagaimana jika Fajar tinggal bersamaku selama empat hari, sedangkan bersamamuu tiga hari?" Tawarnya. "Cukup adilkan?" Nisa menghela napasnya panjang. Mulutnya terkunci, karena mendengar perdebatan antara hati dan pikirannya. "Aku rasa itu cukup adil. Kamu mendapatkan semua kemewahan yang tidak pernah kamu dapatkan. Anakmu bisa bersekolah di tempat yang bagus, ibumu mendapatkan pengobatan intensif, bahkan tidak hanya kemewahan yang aku berikan, tetapi juga modal usaha," ucap Amelia. "Kesempatan tidak datang dua kali. Aku beri kamu waktu hingga malam ini, jika tidak ada jawaban, maka tawarannya berakhir," sambung Amelia. "Sebaiknya kamu pergi, pikirkan apa yang aku katakan tadi." Nisa menggigit bibir bagian dalamnya, tangannya masih terkepal erat, menahan amarah dengan pikiran yang kacau. Haruskah dia menerima tawaran Amelia? Sesampainya di rumah, Nisa melihat Fajar yang sedang membenarkan pintu rumah mereka. "Pintunya lepas, Dek, jadi aku---" Nisa melewati Fajar begitu saja. Dirinya masih enggan untuk melihat wajah sang suami. Setiap melihat wajah Fajar, bayangan tentang pria itu dan Amelia pun terus saja berputar di kepala Nisa. "Dek!" Fajar menghampiri Nisa yang sudah berada di dalam kamar. Nisa menoleh dengan tatapannya yang tajam. "Tadi aku mencari pekerjaan, alhamdulillah aku sudah mendapatkan pekerjaan," ucap Fajar memberitahu. "Oh ya? Apakah pekerjaan kamu itu bisa melunasi semua hutang-hutang kita, Mas?" Tanya Nisa dingin. "Apakah gaji dari pekerjaan kamu itu bisa membawa kita hidup enak? Apakah dengan gaji kamu itu bisa membawa ibu untuk berobat?" Nisa mencecar Fajar dengan berbagai pertanyaan. "Dek, memang gaji aku tidak sebesar dari sebelumnya, tapi jika kita menci---" "Mau sampai kapan, Mas? Selama ini yang kita bayar ke renternir itu hanya bunganya saja. Mau sampai kapan kita membayar bunganya?" Pekik Nisa kesal. "Dek---" "Belum lagi untuk pengobatan ibuk," Nisa terisak dengan dada yang terasa bergemuruh. "Kamu pikir kamu mau tinggal di rumah ini, Mas?" Lirih Nisa penuh dengan rasa kecewa. "Mau sampai kapan kita tinggal di tempat seperti ini? Bahkan kandang kambing pun lebih baik dari ini." "Astaghfirullah, Dek. Ngucap, Dek, ngucap. Kamu gak boleh berkata seperti itu!" Nisa tertawa pelan. "Lalu aku harus berkata apa, Mas? Wah! Rumah ini sungguh sangat nyaman dan hangat untuk ditinggali seumur hidup?" Desisnya. "Dek, jika kita berusaha dan berdo---" "Cukup, Mas, cukup. Jangan ceramahi aku saat ini," potong Nisa. Fajar menghela napasnya pelan dan panjang. Nisa mengusap air mata yang sudah membanjiri kedua pipinya. "Begini saja, Mas. Jujur saja, aku benar-benar sudah muak dengan kehidupan seperti ini," ucap Nisa menatap tajam sang suami. Kening Fajar mengkerut, mencoba mencerna apa yang dimaksud oleh sang istri. "Aku ingin keluar dari kehidupan ini, Mas. Aku ingin enak, aku ingin tempat tinggal yang layak, aku ingin Nabil bersekolah disekolah yang bagus, dan aku juga ingin ibu mendapatkan pengobatan yang intensif, Mas. Aku ingin semua itu!" Nisa mengucapkannya dengan tegas. Fajar masih diam, mencoba mencerna apa yang diucapkan oleh Nisa. "Sebaiknya kamu terima tawaran wanita itu, sebelum renternir menjadikanku wanita murahan," desis Nisa tajam.Amelia menatap Fajar yang terlihat enggan untuk mencium dirinya. Walaupun begitu, tatapan matanya masih mengunci pria itu, memastikan sebesar apa cinta Fajar kepada Nisa. "Jika kamu tak mau, tidak masalah." Amelia masih menatap Fajar tanda berkedip sedikit pun. "Aku bisa memberikan uangnya besok. Tepat setelah akad nikah kita." Amelia menarik sudut bibirnya, saat melihat reaksi wajah Fajar yang berubah panik dengan kening mengkerut.Pria itu mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan, menatap kosong ke arah lain dengan pikiran yang berkecamuk. Apa yang harus dia lakukan saat ini. Apakah ini adalah akhir dari kesetiaannya?Amelia menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. Kedua tangannya diletakkan tepat di atas sandaran tangan di setiap sisinya. Dagunya terangkat sedikit ke atas, dengan tatapan mata yang masih tertuju kepada Fajar.Merasa tak ada reaksi apapun dari Fajar, Amelia pun berinisiatif untuk menghitung waktu. "Sepuluh ... Sembilan .
Fajar tak sanggup melihat air mata sang istri. Dia menangkup wajah Nisa dan menghapus setiap air mata yang keluar. "Maafkan aku, Dek. Maafkan aku yang tidak sempurna ini!" Braakk ... Nisa dan Fajar terkejut, saat seseorang menendang pintu kayu rumah mereka hingga roboh. Nisa menghapus air matanya, bergegas menuju teras rumah bersama Fajar untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi. "Ka-kalian---" Suara Nisa terdengar bergetar. Fajar memeluk sang istri yang tubuhnya sudah bergetar ketakutan. "Waah, apakah kalian berpelukan untuk salam perpisahan?" Yani tertawa jahat. Nisa mencengkram erat lengan Fajar, menandakan jika wanita itu sangat ketakutan. Kedatangan Yani kali ini tidak seperti biasa. Nisa merasa ada kesialan yang akan menimpanya saat ini. Akankah Yani akan menyeretnya kehadapan pria hidung belang? Karena tidak bisa membayar hutang-hutang mereka?
Fajar mengusap wajahnya kasar. Dia tidak menyangka jika sang istri tega memaksanya untuk menikah dengan Amelia. Walaupun Nisa telah mengancamnya, tetapi Fajar tetap enggan untuk menikah lagi."Bagaimana bisa aku mengkhianati pernikahan kita, Dek?" Lirih Fajar menatap sendu Nisa.Nisa berdesis pelan. "Bukankah kamu memang sudah mengkhianati pernikahan kita, Mas?" Fajar mengangkat kepalanya, menatap langit-langit kamar. Dia berusaha menarik napas, akan tetapi terasa sesak di dada."Jujur saja, aku sudah lelah hidup susah begini!" Suara Nisa terdengar jauh, padahal wanita itu berada di dekat Fajar."Tiga tahun kamu di penjara, Mas, aku banting tulang untuk menghidupi keluarga kita. Mengganti tugasmu sebagai seorang suami!"Air mata Nisa pun terjatuh. Jujur saja, sebenarnya dia enggan membahas perihal tentang kecelakaan yang dialami oleh Fajar tiga tahun lalu. Nisa ikhlas menjalani semuanya. Akan tetapi, rasa sakit yang ditorehkan o
Nisa sengaja pergi pagi-pagi sekali, karena dia enggan untuk melihat wajah Fajar. "Nisa!" Panggil Buk Nella.Nisa menoleh, keningnya sedikit mengkerut saat melihat wajah serius dari kepala pelayan."Ya, Buk?" Nisa mengeringkan tangannya yang basah."Kamu di panggil oleh nyonya besar ke ruang kerjanya," ucap Buk Nela, membuat Nisa menahan napasnya."Sekarang!" Titah Buk Nela dengan tatapan matanya yang tajam.Nisa mengangguk pelan, dia pun bergegas menuju ke ruang kerja Amelia."Mau apa lagi wanita itu?" Batin Nisa penasaran.Sesampainya di ruang kerja Amelia, Nisa mengetuk pintu hingga terdengar suara dari dalam ruangan. Dia membuka pintu dan melihat sosok Amelia yang sedang duduk di kursi kerjanya."Nyonya memanggil saya?" Tanya Nisa menahan rasa benci dan amarahnya. Amelia tersenyum miring. Senyuman yang seolah sedang mengejek Nisa saat ini. Melihat hal itu, Nisa pun refleks mengernyitkan keningnya."Aku pikir kamu gak akan kembali ke tempat ini," ucap Amelia sinis.Merasa tahu ke
Pandangan Nisa terlihat kosong. Dalam pikirannya saat ini hanyalah ribuan kalimat yang keluar dari mulut Amelia. Ya, wanita itu telah menceritakan apa yang telah terjadi antara mereka berdua. Nisa mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan. Tak percaya dengan apa yang telah dikatakan oleh Amelia. Namun, rekaman dari cctv yang ada di villa, menunjukkan jika apa yang dikatakan oleh Amelia adalah sebuah kebenaran. Ya, kebenaran pahit yang harus Nisa terima. Tapi, bagaimana mungkin semua itu bisa terjadi? Sang suami yang taat dalam beragama, bisa melakukan hal sehina itu?Nisa menghela napasnya dengan kasar. Dadanya terasa sesak, seolah ada batu yang menimpa dirinya. "Bagaimana semua itu bisa terjadi?" lirih Nisa dengan air mata yang mengalir membasahi pipi. "Sayang!"Suara berat dan merdu yang selalu membuat Nisa merasa rindu dan bahagia,, kali ini membuat dirinya merasa jijik. Bahkan, untuk menoleh saja, enggan dia lakukan. "Ada apa? Apa yang sedang terjadi?" Fajar mendekati Ni
Plaak ...Nisa tersungkur, saat mendapatkan tamparan keras dari Yani—renternir yang meminjamkan uang kepadanya untuk membayar kerugian korban kecelakaan."Sudah dua bulan kamu tidak membayar hutang! Kamu pikir saya ini gak butuh uang, apa?" Pekik Yani dengan suaranya yang menggelegar."I-iya, Mami, saya pasti akan membayar hutang-hutang saya," Nisa memohon keringanan sambil menahan rasa perih pada sudut bibirnya yang sudah mengeluarkan darah."Begini saja, bagaimana jika kamu---" Yani tersenyum licik sambil menggantung kalimatnya."Ba-bagaimana apa, Mam?" Nisa merinding melihat senyuman iblis yang keluar dari wajah wanita paruh baya yang ada dihadapannya saat ini.Yani menatap keseluruhan tubuh Nisa. Dia melangkahkan kaki dan mencengkram wajah Nisa dengan kasar. "Tubuh dan wajahmu tidak buruk, bagaimana jika kamu menjualnya saja?" Bisik Yani membuat Nisa menelan ludahnya dengan kasar."Sa-saya akan membayar hutang-hutang saya, saya janji," ucap Nisa sambil berjalan mundur menjauhi Ya







