LOGINFajar mengusap wajahnya kasar. Dia tidak menyangka jika sang istri tega memaksanya untuk menikah dengan Amelia. Walaupun Nisa telah mengancamnya, tetapi Fajar tetap enggan untuk menikah lagi.
"Bagaimana bisa aku mengkhianati pernikahan kita, Dek?" Lirih Fajar menatap sendu Nisa. Nisa berdesis pelan. "Bukankah kamu memang sudah mengkhianati pernikahan kita, Mas?" Fajar mengangkat kepalanya, menatap langit-langit kamar. Dia berusaha menarik napas, akan tetapi terasa sesak di dada. "Jujur saja, aku sudah lelah hidup susah begini!" Suara Nisa terdengar jauh, padahal wanita itu berada di dekat Fajar. "Tiga tahun kamu di penjara, Mas, aku banting tulang untuk menghidupi keluarga kita. Mengganti tugasmu sebagai seorang suami!" Air mata Nisa pun terjatuh. Jujur saja, sebenarnya dia enggan membahas perihal tentang kecelakaan yang dialami oleh Fajar tiga tahun lalu. Nisa ikhlas menjalani semuanya. Akan tetapi, rasa sakit yang ditorehkan oleh Fajar, membuat Nisa ingin mengungkit dan meluapkan semua isi hati dan lelah yang dia derita selama ini. Ya, selama tiga tahun ini, Nisa berjuang sendiri untuk melunasi hutang mereka pada renternir. Dia juga harus mencari uang untuk membawa sang ibu berobat, juga harus memenuhi keperluan rumah tangga, bahkan harus membayar uang sewa rumah, di mana rumah itu sebenarnya sudah tak layak huni lagi. Tapi, mau bagaimana lagi? Nisa terpaksa menyewa rumah itu demi menekan pengeluaran, karena hanya dirinya yang mencari nafkah untuk saat ini. Hati Nisa sudah terlanjur hancur, permintaan Amelia seolah bukan masalah besar baginya, apalagi wanita itu telah menawarkan kehidupan yang lebih layak. Rasanya, untuk apa mempertahankan keharmonisan pernikahan yang telah ternoda, bukankah suatu saat nanti bisa saja kekhilafan itu akan terulang kembali? Nisa tertawa pelan, saat mengingat hatinya yang telah hancur oleh perbuatan orang yang dia cintai. "Lagi pula kamu sudah berdosa, Mas, jadi untuk apa berpura-pura suci?" Nisa kembali tertawa pelan, menutupi rasa kecewanya kepada sang suami. "Mau sebanyak apapun uang yang Amelia berikan kepadaku, itu semua tidak akan pernah bisa membuatku lupa atas dosa yang telah kalian perbuat. Sebanyak apapun kemewahan yang akan dia berikan, tidak akan pernah membuat hatiku yang hancur kembali utuh," desis Nisa. "Tapi, karena pernikahan ini sudah terlanjur kotor, untuk apa aku harus mempertahankan keharmonisan rumah tangga kita, Mas?" Nisa menatap tajam Fajar. "Jika kamu tak mampu berikan kehidupan yang layak, biarkan wanita itu yang memberikannya." Fajar memejam mata, menahan amarah yang membakar hatinya saat ini. "Kamu keberatan, Mas?" Nisa bertanya lirih. "Bukankah kamu juga menikmati malam panas itu---" "Cukup, Dek! Cukup!" Pekik Fajar. Nisa sedikit terkejut, tapi dia menutupi rasa terkejutnya itu dengan menatap tajam Fajar. "Kenapa kamu marah, Mas? Bukankah apa yang aku katakan itu benar?" "Dek---" "Apa?" Fajar menarik napas dan menghelanya secara perlahan. "Apa tak ada maaf untukku, Dek? Sehingga kamu memperlakukan aku seperti ini?" Lirih Fajar menatap sendu Nisa. "Apakah tidak ada kesempatan bagiku untuk memperbaiki keharmonisan pernikahan kita?" Nisa tertawa pelan. "Aku butuh waktu memaafkanmu, Mas. Tapi waktuku tidak banyak untuk menunggu hingga semua hutang-hutang kita lunas," desis Nisa. "Untuk itu, menikahlah dengan wanita itu, bebaskan aku dari kemiskinan ini!" * Fajar membiarkan angin malam yang dingin menyentuh kulitnya. Setiap kata yang keluar dari mulut Nisa, terus berputar dalam ingatannya. "Bebaskan aku dari kemiskinan ini." Ya, Kehidupan yang mereka jalani saat ini memang sangat memprihartinkan. Andai saja Fajar bisa mengulang waktu, mungkin dia bisa memilih untuk beristirahat dan tidak mengemudi dalam keadaan mengantuk, sehingga kecelakaan itu pun tidak akan pernah terjadi. Tapi, semuanya telah terjadi. Kehidupan ini bukan dalam drama cina yang bisa kembali ke kehidupan lampaunya. Mau bagaimana pun, Fajar harus tetap menjalani hari-harinya ke depan. Tanpa terasa, Fajar pun tertidur dengan dingin yang menyelimuti. Di dalam kamar. Nisa merasa khawatir, karena jam sudah menunjukkan pukul dua malam, akan tetapi Fajar belum juga masuk ke dalam rumah. Walaupun saat ini dia masih marah dengan sang suami, tapi hatinya tak tega melihat Fajar kedinginan diluar rumah mereka. Nisa menghampiri Fajar yang berada di teras rumah. Dia melihat sang suami yang sudah tertidur pulas dengan tangan yang memeluk tubuh. Malam ini, udaranya memang terasa sangat dingin, seakan menandakan jika hujan akan segera turun. Nisa kembali ke dalam kamar, mengambil sebuah selimut tebal untuk menyelimuti Fajar. Ya, dia enggan membangunkan sang suami, karena egonya masih menguasai diri. * Fajar terbangun, mengernyitkan kening saat ada sebuah selimut yang menghangatkan tubuhnya. "Apakah Nisa yang memakaikan selimut ini?" Batin Fajar dan tersenyum kecil. Mengingat sang istri yang telah memberikan perhatian kecil kepadanya, Fajar pun bergegas masuk ke dalam rumah. "Kamu sudah bangun?" Tegur Buk Inem—mertua Fajar. "Iya, Buk." "Maaf ya, tadi malam Ibuk gak bangunin kamu dan suruh masuk ke dalam rumah," ujar Buk Inem, membuat Fajar mengernyitkan kening. "Kamu terlihat pulas dan kelelahan, jadi Ibuk selimutin saja tubuh kamu biar gak kedinginan," sambung Buk Inem membuat dada Fajar turun. "Iya, Buk, gak papa. Terima kasih," ucap Fajar sambil tersenyum kecil. "Jadi bukan Nisa yang menyelimutiku?" Sambungnya dalam hati. Sudut mata Fajar menatap siluet sang istri yang baru saja masuk ke dalam kamar. Dia pun bergegas untuk menghampiri Nisa. "Dek!" Nisa melirik sekilas, kemudian bergegas mengambil mukena untuk melaksanakan solat subuh. Fajar menghela napasnya pelan, dia pun memilih untuk keluar kamar dan membersihkan diri. Jam sudah menunjukkan pukul delapan lewat sepuluh. Buk Inem masih belum pulang dari mengantar Nabil ke sekolah. Lagi pula, wanita paruh baya itu sengaja ingin memberikan waktu kepada Nisa dan Fajar yang sedang memiliki masalah dalam rumah tangganya, untuk menyelesaikan masalah mereka. "Kamu masih marah, Dek, sama aku?" Fajar ingin memastikan. "Apakah kamu setuju untuk menikah dengan wanita itu?" Nisa balik bertanya, tanpa menjawab pertanyaan Fajar. "Dek, mungkin aku memang pernah melakukan 'hal itu' dengan dia, tapi aku tidak bisa menikahinya, Dek. Aku tidak bisa menoreh lagi luka dalam hatimu!" Tatapan Fajar terlihat sendu dan memohon kepada Nisa. "Aku tahu kamu, Dek. Jika aku menikah dengan dia, hati kamu akan terluka. Aku tidak ingin membuat hatimu terluka kembali, Dek. Hukum aku dengan cara lain, jangan hukum aku dengan meminta untuk menikahinya!" Mohon Fajar yang sudah berlutut dihadapan Nisa yang duduk di kursi. "Dek---" "Apakah perasaan aku saat ini penting, Mas?" Tanya Nisa menatap dalam ke mata sang suami. "Saat ini yang lebih penting bukanlah perasaan aku, Mas. Tapi keadaan kita. Nabil butuh kehidupan yang layak. Ibuk butuh pengobatan yang intensif, Mas, aku butuh hal yang bisa mengeluarkan aku dari jeratan renternir sialan itu!" Air mata Nisa menetes, dadanya terasa sesak, mengabaikan perasaannya yang sebenarnya tidak rela jika Fajar menikah lagi. Tapi, Nisa harus realistis. Cinta tidak bisa membeli kemewahan. Setia tidak bisa membuatnya bahagia. Kepercayaan tak akan pernah lagi ada jika sudah ternodai. Ya, Nisa harus mementingkan finansialnya dari pada perasaannya saat ini. "Aku mohon, Mas, hiks ... menikahlah dengan Amelia," pinta Nisa dengan air mata yang bercucuran.Amelia menatap Fajar yang terlihat enggan untuk mencium dirinya. Walaupun begitu, tatapan matanya masih mengunci pria itu, memastikan sebesar apa cinta Fajar kepada Nisa. "Jika kamu tak mau, tidak masalah." Amelia masih menatap Fajar tanda berkedip sedikit pun. "Aku bisa memberikan uangnya besok. Tepat setelah akad nikah kita." Amelia menarik sudut bibirnya, saat melihat reaksi wajah Fajar yang berubah panik dengan kening mengkerut.Pria itu mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan, menatap kosong ke arah lain dengan pikiran yang berkecamuk. Apa yang harus dia lakukan saat ini. Apakah ini adalah akhir dari kesetiaannya?Amelia menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. Kedua tangannya diletakkan tepat di atas sandaran tangan di setiap sisinya. Dagunya terangkat sedikit ke atas, dengan tatapan mata yang masih tertuju kepada Fajar.Merasa tak ada reaksi apapun dari Fajar, Amelia pun berinisiatif untuk menghitung waktu. "Sepuluh ... Sembilan .
Fajar tak sanggup melihat air mata sang istri. Dia menangkup wajah Nisa dan menghapus setiap air mata yang keluar. "Maafkan aku, Dek. Maafkan aku yang tidak sempurna ini!" Braakk ... Nisa dan Fajar terkejut, saat seseorang menendang pintu kayu rumah mereka hingga roboh. Nisa menghapus air matanya, bergegas menuju teras rumah bersama Fajar untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi. "Ka-kalian---" Suara Nisa terdengar bergetar. Fajar memeluk sang istri yang tubuhnya sudah bergetar ketakutan. "Waah, apakah kalian berpelukan untuk salam perpisahan?" Yani tertawa jahat. Nisa mencengkram erat lengan Fajar, menandakan jika wanita itu sangat ketakutan. Kedatangan Yani kali ini tidak seperti biasa. Nisa merasa ada kesialan yang akan menimpanya saat ini. Akankah Yani akan menyeretnya kehadapan pria hidung belang? Karena tidak bisa membayar hutang-hutang mereka?
Fajar mengusap wajahnya kasar. Dia tidak menyangka jika sang istri tega memaksanya untuk menikah dengan Amelia. Walaupun Nisa telah mengancamnya, tetapi Fajar tetap enggan untuk menikah lagi."Bagaimana bisa aku mengkhianati pernikahan kita, Dek?" Lirih Fajar menatap sendu Nisa.Nisa berdesis pelan. "Bukankah kamu memang sudah mengkhianati pernikahan kita, Mas?" Fajar mengangkat kepalanya, menatap langit-langit kamar. Dia berusaha menarik napas, akan tetapi terasa sesak di dada."Jujur saja, aku sudah lelah hidup susah begini!" Suara Nisa terdengar jauh, padahal wanita itu berada di dekat Fajar."Tiga tahun kamu di penjara, Mas, aku banting tulang untuk menghidupi keluarga kita. Mengganti tugasmu sebagai seorang suami!"Air mata Nisa pun terjatuh. Jujur saja, sebenarnya dia enggan membahas perihal tentang kecelakaan yang dialami oleh Fajar tiga tahun lalu. Nisa ikhlas menjalani semuanya. Akan tetapi, rasa sakit yang ditorehkan o
Nisa sengaja pergi pagi-pagi sekali, karena dia enggan untuk melihat wajah Fajar. "Nisa!" Panggil Buk Nella.Nisa menoleh, keningnya sedikit mengkerut saat melihat wajah serius dari kepala pelayan."Ya, Buk?" Nisa mengeringkan tangannya yang basah."Kamu di panggil oleh nyonya besar ke ruang kerjanya," ucap Buk Nela, membuat Nisa menahan napasnya."Sekarang!" Titah Buk Nela dengan tatapan matanya yang tajam.Nisa mengangguk pelan, dia pun bergegas menuju ke ruang kerja Amelia."Mau apa lagi wanita itu?" Batin Nisa penasaran.Sesampainya di ruang kerja Amelia, Nisa mengetuk pintu hingga terdengar suara dari dalam ruangan. Dia membuka pintu dan melihat sosok Amelia yang sedang duduk di kursi kerjanya."Nyonya memanggil saya?" Tanya Nisa menahan rasa benci dan amarahnya. Amelia tersenyum miring. Senyuman yang seolah sedang mengejek Nisa saat ini. Melihat hal itu, Nisa pun refleks mengernyitkan keningnya."Aku pikir kamu gak akan kembali ke tempat ini," ucap Amelia sinis.Merasa tahu ke
Pandangan Nisa terlihat kosong. Dalam pikirannya saat ini hanyalah ribuan kalimat yang keluar dari mulut Amelia. Ya, wanita itu telah menceritakan apa yang telah terjadi antara mereka berdua. Nisa mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan. Tak percaya dengan apa yang telah dikatakan oleh Amelia. Namun, rekaman dari cctv yang ada di villa, menunjukkan jika apa yang dikatakan oleh Amelia adalah sebuah kebenaran. Ya, kebenaran pahit yang harus Nisa terima. Tapi, bagaimana mungkin semua itu bisa terjadi? Sang suami yang taat dalam beragama, bisa melakukan hal sehina itu?Nisa menghela napasnya dengan kasar. Dadanya terasa sesak, seolah ada batu yang menimpa dirinya. "Bagaimana semua itu bisa terjadi?" lirih Nisa dengan air mata yang mengalir membasahi pipi. "Sayang!"Suara berat dan merdu yang selalu membuat Nisa merasa rindu dan bahagia,, kali ini membuat dirinya merasa jijik. Bahkan, untuk menoleh saja, enggan dia lakukan. "Ada apa? Apa yang sedang terjadi?" Fajar mendekati Ni
Plaak ...Nisa tersungkur, saat mendapatkan tamparan keras dari Yani—renternir yang meminjamkan uang kepadanya untuk membayar kerugian korban kecelakaan."Sudah dua bulan kamu tidak membayar hutang! Kamu pikir saya ini gak butuh uang, apa?" Pekik Yani dengan suaranya yang menggelegar."I-iya, Mami, saya pasti akan membayar hutang-hutang saya," Nisa memohon keringanan sambil menahan rasa perih pada sudut bibirnya yang sudah mengeluarkan darah."Begini saja, bagaimana jika kamu---" Yani tersenyum licik sambil menggantung kalimatnya."Ba-bagaimana apa, Mam?" Nisa merinding melihat senyuman iblis yang keluar dari wajah wanita paruh baya yang ada dihadapannya saat ini.Yani menatap keseluruhan tubuh Nisa. Dia melangkahkan kaki dan mencengkram wajah Nisa dengan kasar. "Tubuh dan wajahmu tidak buruk, bagaimana jika kamu menjualnya saja?" Bisik Yani membuat Nisa menelan ludahnya dengan kasar."Sa-saya akan membayar hutang-hutang saya, saya janji," ucap Nisa sambil berjalan mundur menjauhi Ya







