Beranda / Fantasi / Kurir Pemilik Sistem / Darah Daging Wandi (part 3)

Share

Darah Daging Wandi (part 3)

Penulis: BoardMarker
last update Tanggal publikasi: 2026-09-22 22:09:05

Wandi menatap spion tengah, melihat Nila dan Noval yang masih asyik berbincang. Gadis kecil itu sekarang tersenyum lebar, tidak lagi pucat dan sayu. Dia tertawa ketika Noval bercerita tentang mobil mainan Tamiya yang dia rakit bersama Wandi.

"Nil, nanti Noval pinjemin Tamiya buat Nila," ucap Noval.

"Benaran, Noval? Nila boleh?"

"Boleh. Noval ajarin Nila ngerakit. Tapi hati-hati, jangan sampai patah."

"Nila hati-hati, Noval. Nila janji."

Mereka berdua bertepuk tangan, gembira.

Arini menoleh ke W
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Kurir Pemilik Sistem   Bersyukur (part 2)

    Arini tersenyum. Senyum yang sama tulusnya."Wan, aku... aku nggak tau mau jawab apa. Aku cuma... sama sekali nggak ada rasa cemburu di antara kamu dan Tina. Kalian sudah resmi bercerai. Kalian sudah masing-masing punya kehidupan sendiri. Dan aku... sekarang aku menjadi istrimu yang sah."Wandi merasakan hangat di dadanya. Dia tidak bisa berkata-kata. Kata-kata Arini terlalu indah untuk dijawab dengan kata-kata biasa."Rin, kamu tidak pernah merasa... terancam? Dengan Tina yang masih ada di sekitar kita? Dengan Nila yang masih anakku?"Arini menggeleng. Kepalanya yang mungil bergerak tegas."Tidak, Wan. Aku tidak pernah merasa terancam. Aku percaya padamu. Aku percaya pada hubungan kita. Aku percaya bahwa cinta kita sudah cukup kuat untuk menghadapi apa pun."Wandi menarik napas panjang. Dadanya yang tadinya sesak, kini mulai lega."Dan Noval... anak kita yang sah sekarang," ucap Wandi, suararnya penuh dengan keyakinan.Arini tersenyum. "Iya. Noval adalah anak kita. Anak kita yang sah

  • Kurir Pemilik Sistem   Bersyukur (part 1)

    Malam itu, rumah Wandi dan Arini terasa lebih hangat dari biasanya. Lampu-lampu di ruang tamu masih menyala, memancarkan cahaya kuning temaram yang nyaman. Di luar, langit Jakarta gelap tanpa bintang, tetapi di dalam rumah, ada kehangatan yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Suara jangkrik dari halaman belakang dan sesekali suara knalpot motor dari jalan raya terdengar samar-samar, tetapi tidak mengganggu ketenangan malam.Di kamar Noval, lampu tidur kecil menyala, memancarkan cahaya lembut berwarna biru keunguan. Kamar itu sederhana, tidak terlalu besar, tidak terlalu kecil. Dindingnya dicat putih bersih dengan stiker-stiker karakter kartun yang ditempel di beberapa bagian. Di sudut ruangan, ada rak buku kecil berisi buku cerita bergambar dan mainan-mainan Tamiya yang sudah dirakit. Di tengah ruangan, ada kasur ukuran sedang dengan sprei bergambar Doraemon, sprei yang dulu dibelikan untuk Nila, tetapi tidak pernah dipakai karena Nila lebih suka sprei polos.Noval dan Nila ter

  • Kurir Pemilik Sistem   Aku Akan Bertahan (part 2)

    "Tina, aku menelepon untuk memberitahumu bahwa Nila tertidur di sini. Dia sangat lelah setelah bermain dengan Noval. Mereka makan bersama, bermain bersama, dan sekarang mereka tertidur bersama di kamar Noval."Tina diam. Pikirannya berkecamuk. Dia merasakan kelegaan karena Nila baik-baik saja, tetapi juga merasakan kesedihan karena Nila tidak ada di sampingnya. Rumah ini terasa begitu sepi tanpa kehadiran Nila."Arini, aku... aku senang Nila baik-baik saja. Tapi...""Tina, aku ingin meminta izin. Bolehkah Nila tidur di sini malam ini? Dia sangat lelah, dan aku tidak tega membangunkannya. Aku akan menjaganya dengan baik. Aku janji."Tina terdiam. Pikirannya terus berkelahi. Di satu sisi, dia merasa kesepian tanpa Nila di sampingnya. Nila adalah satu-satunya alasan dia bertahan. Nila adalah satu-satunya yang membuatnya tetap tegar. Nila adalah satu-satunya yang membuat rumah ini terasa hangat. Tanpa Nila, rumah ini terasa hampa dan dingin.Di sisi lain, dia tahu bahwa Nila aman bersama

  • Kurir Pemilik Sistem   Aku Akan Bertahan (part 1)

    Malam itu, rumah Tina terasa lebih sepi dari biasanya. Langit di luar jendela gelap tanpa bintang, awan tebal menutupi hampir seluruh langit, menciptakan kegelapan yang pekat. Lampu-lampu taman di halaman depan masih menyala, memancarkan cahaya kuning temaram yang nyaris tidak cukup untuk menembus kegelapan malam. Rumah-rumah tetangga sudah gelap, pemiliknya sudah terlelap, hanya sesekali suara anjing menggonggong dari kejauhan dan suara jangkrik yang bersahutan di halaman belakang. Rumah Tina yang biasanya terasa hangat dengan kehadiran Nila dan Andre, kini terasa hampa dan dingin. Tidak ada suara tawa Nila yang berlarian. Tidak ada suara Andre yang sedang berbicara di telepon. Tidak ada aroma masakan dari dapur. Hanya keheningan yang mencekik.Tina duduk di sofa ruang tamu, menyandarkan kepalanya di sandaran sofa yang empuk. Matanya yang merah dan sembab menatap kosong ke langit-langit. Air mata masih mengalir di pipinya, membasahi bantal sofa yang sudah basah karena tangisnya yang

  • Kurir Pemilik Sistem   Darah Daging Wandi (part 3)

    Wandi menatap spion tengah, melihat Nila dan Noval yang masih asyik berbincang. Gadis kecil itu sekarang tersenyum lebar, tidak lagi pucat dan sayu. Dia tertawa ketika Noval bercerita tentang mobil mainan Tamiya yang dia rakit bersama Wandi."Nil, nanti Noval pinjemin Tamiya buat Nila," ucap Noval."Benaran, Noval? Nila boleh?""Boleh. Noval ajarin Nila ngerakit. Tapi hati-hati, jangan sampai patah.""Nila hati-hati, Noval. Nila janji."Mereka berdua bertepuk tangan, gembira.Arini menoleh ke Wandi. "Wan, mereka bahagia.""Iya, Rin. Mereka bahagia.""Tina juga pasti bahagia kalau lihat Nila bahagia.""Iya. Tina pasti bahagia."Mereka berdua tersenyum.Wandi masih mengemudi, tetapi pikirannya melayang ke Tina. Tina yang berdiri di depan rumahnya, menangis. Tina yang kurus dan pucat. Tina yang berusaha bertahan demi Nila."Tina... dia telah berubah. Dia tidak lagi egois. Dia hanya ingin melindungi Nila. Dia hanya ingin bertahan hidup."Wandi teringat pada masa lalu, ketika Tina masih me

  • Kurir Pemilik Sistem   Darah Daging Wandi (part 2)

    Nila menatap Arini. Matanya yang polos menatap Arini dengan sedikit ragu."Nila boleh, Tante?""Boleh, Nak. Tante akan ajak Nila makan enak. Nanti Nila juga bisa main sama Noval."Nila menoleh ke Tina. "Ma, Nila boleh?"Tina mengangguk, air matanya masih mengalir. "Boleh, Nak. Ikut Tante Arini dan Om Wandi."Nila tersenyum. Senyum yang pertama kali muncul di wajahnya setelah sekian lama."Makasih, Tante."Arini menggendong Nila, mengangkatnya dengan lembut. Gadis kecil itu terasa ringan di pelukannya, terlalu ringan untuk anak seusianya."Rin, kamu kuat?" tanya Wandi."Aku kuat, Wan. Nila ringan."Mereka berjalan ke mobil. Arini membuka pintu belakang, memasukkan Nila ke kursi belakang, lalu duduk di sampingnya. Wandi masuk ke kursi sopir, menyalakan mesin.Noval yang sudah duduk di kursi belakang, langsung tersenyum ketika melihat Nila."Nil! Nila! Noval seneng!""Nila juga seneng, Noval!"Mereka berdua tersenyum, bahagia bisa bertemu lagi.---BMW hitam melaju perlahan meninggalkan

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status