FAZER LOGINMamah Eneng mengangguk. "Iya, Wan. Makasih."Wandi mengantar Mamah Eneng kembali ke tempat di mana dia berdiri tadi, dekat zebra cross, di pinggir jalan. Perjalanan dari pasar ke sana hanya memakan waktu lima menit. Wandi memarkir mobil di pinggir jalan, mematikan mesin, dan turun."Mah, saya antar Mamah sampai rumah, ya. Biar aman.""Enggak usah, Wan. Rumah saya dekat sini. Saya bisa jalan sendiri.""Tapi....""Sudahlah. Saya sudah biasa jalan kaki."Wandi tidak memaksa. Dia hanya mengangguk. "Baik, Mah. Hati-hati di jalan."Mamah Eneng berjalan ke arah zebra cross. Tapi tiba-tiba dia berhenti. Matanya menatap sesuatu di depannya. Wandi juga menatap.Di trotoar di mana Mamah Eneng berdiri tadi, tepat di tempat yang sama, sebuah truk pasir besar tergeletak miring. Ban depannya pecah. Kemudi bengkok. Kaca depan retak berbentuk sarang laba-laba. Rem blong, mungkin. Sopir truk itu berdiri di samping, wajahnya pucat pasi, tangannya gemetar memegang ponsel.Mamah Eneng membeku. Wajahnya pu
Mamah Eneng hampir tersedak. "Satu setengah miliar? kamu punya uang satu setengah miliar?""Iya, Mah. Saya punya."Mamah Eneng terdiam. Dia menatap Wandi dengan mata yang berbeda. Tidak lagi sinis. Tidak lagi meremehkan. Sekarang ada sedikit rasa hormat. Ada sedikit rasa kagum. Mungkin juga ada sedikit penyesalan."Kamu... kamu benar-benar berubah, Wan. Saya nggak nyangka."Wandi membuka pintu penumpang. "Mamah, naik, yuk. Nanti kita ke pasar. Saya belikan Mamah apa saja yang Mamah mau."Mamah Eneng ragu sejenak. Lalu dia naik ke mobil. Jok kulit yang empuk membuatnya terkesima. AC yang dingin membuatnya menggigil, mungkin karena kaget, mungkin karena tidak terbiasa.Wandi menutup pintu, berjalan ke sisi sopir, dan masuk ke dalam. Dia menyalakan mesin, memutar setir, dan melaju perlahan menuju pasar.Pasar itu tidak jauh. Hanya sekitar lima menit berkendara. Wandi memarkir mobil di area parkir pasar, mematikan mesin, dan membuka pintu untuk Mamah Eneng.Mamah Eneng turun dengan susah
"Tidak masalah. Biarpun dia marah, biarpun dia menghina, aku harus menolongnya. Itu tugasku. Itu kemampuanku. Itu alasan aku diberi kemampuan ini."Wandi membuka mata. Dia berjalan mendekati Mamah Eneng dengan langkah pelan, berusaha tidak mengejutkan."Bu... Mamah..." panggil Wandi dengan suara yang sedikit ragu.Mamah Eneng menoleh. Matanya yang tajam menyipit, mencoba mengenali wajah di depannya. Wajah Wandi yang sekarang berbeda, lebih bersih, lebih terawat, tidak kusam seperti dulu. Tapi tetap saja, garis-garis wajahnya masih sama. Hidungnya yang pesek. Bibirnya yang tebal. Lesung pipit di pipi kirinya.Mamah Eneng mengerjap. "Wandi? Kamu... Wandi, kan?"Wandi tersenyum canggung. "Iya, Mah. Saya Wandi."Mamah Eneng terdiam. Matanya mengamati Wandi dari ujung rambut sampai ujung kaki. Kemeja putih yang rapi. Celana chino hitam. Sepatu kets putih. Jaket jeans yang dikenakan di luar. Rambut yang disisir rapi. Badan yang sekarang kekar, tidak kurus kerempeng seperti dulu."Kamu... be
Matahari mulai condong ke barat ketika Wandi melaju di jalanan menuju kantor Arini. Jam menunjukkan pukul setengah lima sore. Langit Jakarta berwarna jingga keemasan, dengan awan-awan tipis yang terlihat seperti kapas terbakar di ufuk barat. Lampu-lampu jalan mulai menyala satu per satu, meskipun matahari belum sepenuhnya tenggelam. Suasana sore Jakarta yang biasa, macet di mana-mana, klakson bersahutan, pedagang kaki lima mulai berjajar di pinggir jalan, dan asap kendaraan mengepul ke langit yang mulai gelap.Wandi mengemudi dengan santai, tangan kanan memegang setir, tangan kiri bertumpu di sandaran tengah. AC mobil menyala dengan suhu 22 derajat, membuat kabin terasa sejuk dan nyaman. Radio memutar lagu lama dari Chrisye, "Seperti yang Kau Minta" Yang mengalun lembut di antara suara mesin yang halus.Dia tersenyum sendiri. Hari ini adalah hari yang baik. Mobil BMW hitam itu sudah resmi menjadi miliknya. Arini sudah menerima cintanya. Dan dia telah menyelamatkan satu nyawa di stasiu
Wandi memarkir mobil di area parkir Pasar Senen. Dia turun, mengunci pintu, dan berjalan ke arah pasar. Tas selempang kecil berisi dompet dan ponsel dia kenakan. Kacamata hitam, bukan untuk gaya, tapi untuk menyembunyikan arah matanya yang terus memindai angka di atas kepala manusia, dia letakkan di atas hidung.Pasar Senen siang itu ramai. Wandi harus menyusuri lorong-lorong sempit, sesekali menunduk untuk menghindari tenda-tenda yang menjulur, sesekali menyapa pedagang yang menyapanya.Matanya bergerak cepat. Hijau. Hijau. Biru. Hijau. Hijau. Hijau. Hijau. Biru. Hijau. Hijau. Merah?Wandi berhenti. Tidak, bukan merah. Hanya merah muda, mungkin karena pantulan cahaya matahari dari payung pedagang. Wandi melanjutkan langkah.Dia berjalan ke arah barat, menuju stasiun Senen. Di stasiun, angka merah sering muncul. Orang-orang terburu-buru mengejar kereta, tidak melihat lubang di peron, tidak melihat kereta dari arah lain, tidak melihat tas mereka yang terbuka.Wandi masuk ke area stasiu
Wandi dan Arini melepaskan pelukan. Di luar kaca, seorang satpam Samsat berdiri dengan wajah tidak sabar."Pak, Bu, maaf mengganggu. Mobilya nanti diparkir di pinggir, ya. Di sini area keluar masuk."Wandi tersenyum malu. "Baik, Pak. Maaf."Satpam itu pergi, menggeleng-geleng. Mungkin dia mengira Wandi dan Arini sedang pacaran di tempat yang tidak semestinya.Arini tertawa kecil. "Kita ketahuan, Wan.""Ya, ketahuan. Malu-maluin.""Enggak apa-apa. Yang penting kita sudah resmi."Wandi menyalakan mesin, memasukkan gigi, dan melaju perlahan meninggalkan Samsat.Perjalanan dari Samsat ke kantor Arini memakan waktu sekitar setengah jam. Wandi mengemudi dengan hati-hati, sesekali menoleh ke Arini yang duduk di sampingnya. Arini masih tersenyum, wajahnya masih sedikit merah karena menangis tadi."Rin, kamu yakin nggak mau istirahat dulu di rumah? Kamu capek, kan?""Enggak, Wan. Aku harus ke kantor. Ada meeting dengan tim produk jam 2.""Jam setengah 2 sekarang. Kamu bisa sampai tepat waktu."







