Home / Fantasi / Kurir Pemilik Sistem / Kenyataan Pahit (part 4)

Share

Kenyataan Pahit (part 4)

Author: BoardMarker
last update publish date: 2026-07-16 01:24:27

Wandi tidak tahu berapa lama dia duduk di atas motor itu. Yang dia tahu, langit mulai gelap. Jalanan desa yang tadinya jingga keemasan, kini berubah menjadi biru kelam. Lampu-lampu rumah mulai menyala satu per satu. Suara jangkrik dan kodok mulai terdengar bersahutan.

Dia sadar kalau dia sudah menangis.

Air mata mengalir di pipinya tanpa suara. Tidak ada isakan. Tidak ada ledakan emosi. Hanya air mata yang jatuh, membasahi kemeja biru mudanya, membasahi setang motor yang masih dia pegang.

"Tina
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Kurir Pemilik Sistem   Penyesalan Tina (part 2)

    Tina menutup wajahnya dengan tangannya yang bebas. Bahunya naik turun, tangisnya semakin menjadi-jadi."Aku bodoh. Aku sangat bodoh. Aku hampir meninggalkan Nila. Aku hampir membuatnya kehilangan ibunya. Aku hampir... menghancurkan hidupnya."Dia teringat pada Noval. Noval yang memberikan wejangan kepadanya. Noval yang berkata, "Tante Tina, jangan sampai Tante meninggalkan Nila sendirian. Noval pernah merasakan kehilangan orang tua. Noval ditinggal sendirian di gubuk reyot pinggir rel kereta. Noval lapar. Noval takut. Noval tidak tahu harus ke mana.""Noval... anak kecil itu telah merasakan penderitaan yang tidak seharusnya dia rasakan. Dia kehilangan ibunya. Dia ditinggal sendirian. Dia harus berjuang untuk bertahan hidup. Dan aku... aku hampir membuat Nila merasakan hal yang sama."Tina menangis lebih keras."Aku bodoh. Aku sangat bodoh. Aku tidak pernah memikirkan akibatnya. Aku hanya memikirkan diriku sendiri. Aku hanya memikirkan ketakutanku. Aku hanya memikirkan penderitaanku. A

  • Kurir Pemilik Sistem   Penyesalan Tina (part 1)

    Pintu ruang perawatan tertutup perlahan di belakang Wandi, Arini, Noval, dan Nila. Suara langkah kaki mereka yang perlahan menjauh di koridor, semakin lama semakin redup, hingga akhirnya menghilang. Suara tawa Noval dan Nila yang masih terdengar samar-samar, kini benar-benar padam. Hanya ada keheningan. Keheningan yang mencekik, yang memenuhi setiap sudut ruangan, yang membuat Tina merasa seperti terperangkap di dalam kubus kaca yang dingin.Ruangan itu kembali sunyi. Tina sendiri. Sendirian dengan pikirannya. Sendirian dengan penyesalannya. Sendirian dengan ketakutannya.Tina masih terbaring di tempat tidur, menatap langit-langit yang putih bersih. Lampu neon di langit-langit menyala terang, memancarkan cahaya putih yang dingin dan steril. Di samping tempat tidurnya, monitor detak jantung masih berkedip-kedip pelan, menampilkan irama yang stabil, tanda bahwa tubuhnya mulai pulih. Namun hatinya, hatinya masih hancur.Tangannya yang satu, yang tidak terhubung dengan infus, tergeletak d

  • Kurir Pemilik Sistem   Wejangan Dari Noval (part 2)

    Tina menunduk, tidak berani menatap Noval. Tangannya yang memegang tangan Nila, gemetar."Noval... Tante... Tante minta maaf..."Noval menggeleng. "Tante Tina tidak perlu minta maaf pada Noval. Tante Tina harus minta maaf pada Nila. Dan Tante Tina harus berjanji, tidak akan pernah meninggalkan Nila sendirian. Karena Nila... Nila masih kecil. Nila butuh Tante."Tina mengangkat wajah. Matanya yang merah dan basah menatap Noval."Noval, Tante... Tante berjanji. Tante tidak akan pernah meninggalkan Nila. Tante tidak akan pernah melakukan hal bodoh lagi."Noval tersenyum. "Noval percaya, Tante Tina. Noval percaya."Tina menatap Noval dengan perasaan campur aduk, malu, bersalah, dan juga kagum. Anak sekecil Noval telah memberikan wejangan yang begitu dalam, yang bahkan orang dewasa pun sulit mengatakannya."Noval, Tante... Tante malu," bisik Tina. "Tante seharusnya tidak melakukan itu. Tante seharusnya tidak menenggak obat nyamuk. Tante seharusnya tidak mencoba bunuh diri. Tante... Tante eg

  • Kurir Pemilik Sistem   Wejangan Dari Noval (part 1)

    Matahari pagi bersinar cerah di atas Jakarta ketika Wandi, Arini, Noval, dan Nila bersiap berangkat ke rumah sakit. Langit biru tanpa awan, sinar matahari yang hangat mulai menembus jendela-jendela mobil, menciptakan pola-pola cahaya di jok kulit yang empuk. Burung-burung pipit mulai berkicau di pohon-pohon di pinggir jalan, bersahutan dengan suara kendaraan yang mulai ramai. Suasana pagi yang penuh harapan, berbeda dengan pagi-pagi sebelumnya yang penuh dengan ketakutan.Noval dan Nila duduk di kursi belakang, saling berbincang dengan penuh semangat. Nila sudah tidak sabar untuk bertemu dengan ibunya, untuk memeluknya, untuk memastikan bahwa ibunya benar-benar sembuh. Noval juga bersemangat, karena dia akan bertemu dengan Mama Nila dan memberikan dukungan untuknya."Nil, kamu senang bertemu Mama?" tanya Noval."Senang, Noval! Nila kangen Mama.""Mama Nila pasti sudah sembuh. Noval yakin.""Nila juga yakin."Mereka berdua tersenyum.Wandi yang mengemudi, menatap spion tengah dan terse

  • Kurir Pemilik Sistem   Dua Anak Terbangun (part 2)

    "Noval, ini enak banget," ucap Nila sambil memegang roti bakar."Iya, Nil. Papa dan Mama pasti sudah menyiapkan ini sejak pagi."Mereka berdua tersenyum."Nil, sebelum makan, kita berdoa dulu, ya," ucap Noval."Iya, Noval. Nila juga mau berdoa."Mereka berdua menunduk, menutup mata, dan berdoa bersama."Ya Allah, terima kasih atas makanan yang Engkau berikan kepada kami. Semoga makanan ini memberi kami kekuatan untuk beraktivitas," ucap Noval dengan suara lantang."Dan semoga Mama Nila cepat sembuh," tambah Nila dengan suara pelan."Amin," jawab mereka bersamaan.Noval membuka mata, menatap Nila yang masih menunduk. Dia melihat ada air mata yang mengalir di pipi Nila."Nila, kenapa kamu nangis?" tanya Noval cemas.Nila mengangkat wajah. Matanya yang bulat basah oleh air mata."Noval, Nila sedih. Nila kangen Mama. Nila takut Mama tidak sembuh."Noval meraih tangan Nila. "Nil, Mama Nila pasti sembuh. Papa dan Mama sudah pergi ke rumah sakit. Mereka pasti menjaga Mama Nila.""Tapi Noval,

  • Kurir Pemilik Sistem   Dua Anak Terbangun (part 1)

    Matahari pagi mulai meninggi ketika Noval membuka matanya. Cahaya keemasan yang lembut masuk melalui celah-celah tirai kamar, menciptakan garis-garis tipis di lantai kayu yang mengkilap. Burung-burung pipit sudah mulai berkicau riang di pohon mangga halaman depan, bersahutan dengan suara ayam tetangga yang sesekali berkokok. Suasana pagi yang tenang, tetapi terasa berbeda. Rumah itu sunyi. Tidak ada suara langkah kaki di dapur. Tidak ada suara televisi dari ruang tamu. Tidak ada suara Papa dan Mama yang sedang berbicara.Noval mengerjap. Matanya yang masih sayu menatap langit-langit kamar yang putih bersih. Dia menoleh ke samping, melihat Nila yang masih tertidur pulas di sampingnya. Wajah Nila yang bulat dan polos terlihat tenang, rambutnya yang hitam panjang terurai di atas bantal, tangannya yang kecil memegang erat ujung selimut. Sesekali bibirnya bergerak seperti sedang bicara dalam mimpi."Nil... Nila, bangun," bisik Noval sambil menggoyang-goyangkan bahu Nila dengan lembut.Nila

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status