แชร์

Sudah Boleh Pulang

ผู้เขียน: BoardMarker
last update วันที่เผยแพร่: 2026-10-02 18:56:35

Matahari pagi bersinar cerah di atas Jakarta ketika Wandi menyelesaikan urusan administrasi di meja resepsionis rumah sakit. Lantai marmer putih mengkilap memantulkan cahaya matahari yang masuk melalui jendela-jendela besar di lobi. Suasana rumah sakit yang biasanya terasa dingin dan steril, pagi itu terasa lebih hangat, lebih hidup, seperti ada kegembiraan yang tersembunyi di balik setiap sudut. Para perawat berjalan dengan langkah lebih ringan, pasien-pasien yang mulai pulang tersenyum, dan d
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Kurir Pemilik Sistem   Sudah Boleh Pulang

    Matahari pagi bersinar cerah di atas Jakarta ketika Wandi menyelesaikan urusan administrasi di meja resepsionis rumah sakit. Lantai marmer putih mengkilap memantulkan cahaya matahari yang masuk melalui jendela-jendela besar di lobi. Suasana rumah sakit yang biasanya terasa dingin dan steril, pagi itu terasa lebih hangat, lebih hidup, seperti ada kegembiraan yang tersembunyi di balik setiap sudut. Para perawat berjalan dengan langkah lebih ringan, pasien-pasien yang mulai pulang tersenyum, dan di ruang perawatan Tina, ada sebuah kebahagiaan yang tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.Wandi mengenakan kemeja putih lengan panjang yang rapi, celana chino hitam, dan sepatu kets putih. Rambutnya disisir rapi, wajahnya berseri-seri. Dia telah menghabiskan pagi ini untuk mengurus semua dokumen yang diperlukan, surat keterangan sehat, surat pulang dari rumah sakit, dan semua administrasi yang dibutuhkan agar Tina bisa pulang dengan tenang. Di tangannya, dia memegang map berisi dokumen-dokumen

  • Kurir Pemilik Sistem   Penyesalan Tina (part 2)

    Tina menutup wajahnya dengan tangannya yang bebas. Bahunya naik turun, tangisnya semakin menjadi-jadi."Aku bodoh. Aku sangat bodoh. Aku hampir meninggalkan Nila. Aku hampir membuatnya kehilangan ibunya. Aku hampir... menghancurkan hidupnya."Dia teringat pada Noval. Noval yang memberikan wejangan kepadanya. Noval yang berkata, "Tante Tina, jangan sampai Tante meninggalkan Nila sendirian. Noval pernah merasakan kehilangan orang tua. Noval ditinggal sendirian di gubuk reyot pinggir rel kereta. Noval lapar. Noval takut. Noval tidak tahu harus ke mana.""Noval... anak kecil itu telah merasakan penderitaan yang tidak seharusnya dia rasakan. Dia kehilangan ibunya. Dia ditinggal sendirian. Dia harus berjuang untuk bertahan hidup. Dan aku... aku hampir membuat Nila merasakan hal yang sama."Tina menangis lebih keras."Aku bodoh. Aku sangat bodoh. Aku tidak pernah memikirkan akibatnya. Aku hanya memikirkan diriku sendiri. Aku hanya memikirkan ketakutanku. Aku hanya memikirkan penderitaanku. A

  • Kurir Pemilik Sistem   Penyesalan Tina (part 1)

    Pintu ruang perawatan tertutup perlahan di belakang Wandi, Arini, Noval, dan Nila. Suara langkah kaki mereka yang perlahan menjauh di koridor, semakin lama semakin redup, hingga akhirnya menghilang. Suara tawa Noval dan Nila yang masih terdengar samar-samar, kini benar-benar padam. Hanya ada keheningan. Keheningan yang mencekik, yang memenuhi setiap sudut ruangan, yang membuat Tina merasa seperti terperangkap di dalam kubus kaca yang dingin.Ruangan itu kembali sunyi. Tina sendiri. Sendirian dengan pikirannya. Sendirian dengan penyesalannya. Sendirian dengan ketakutannya.Tina masih terbaring di tempat tidur, menatap langit-langit yang putih bersih. Lampu neon di langit-langit menyala terang, memancarkan cahaya putih yang dingin dan steril. Di samping tempat tidurnya, monitor detak jantung masih berkedip-kedip pelan, menampilkan irama yang stabil, tanda bahwa tubuhnya mulai pulih. Namun hatinya, hatinya masih hancur.Tangannya yang satu, yang tidak terhubung dengan infus, tergeletak d

  • Kurir Pemilik Sistem   Wejangan Dari Noval (part 2)

    Tina menunduk, tidak berani menatap Noval. Tangannya yang memegang tangan Nila, gemetar."Noval... Tante... Tante minta maaf..."Noval menggeleng. "Tante Tina tidak perlu minta maaf pada Noval. Tante Tina harus minta maaf pada Nila. Dan Tante Tina harus berjanji, tidak akan pernah meninggalkan Nila sendirian. Karena Nila... Nila masih kecil. Nila butuh Tante."Tina mengangkat wajah. Matanya yang merah dan basah menatap Noval."Noval, Tante... Tante berjanji. Tante tidak akan pernah meninggalkan Nila. Tante tidak akan pernah melakukan hal bodoh lagi."Noval tersenyum. "Noval percaya, Tante Tina. Noval percaya."Tina menatap Noval dengan perasaan campur aduk, malu, bersalah, dan juga kagum. Anak sekecil Noval telah memberikan wejangan yang begitu dalam, yang bahkan orang dewasa pun sulit mengatakannya."Noval, Tante... Tante malu," bisik Tina. "Tante seharusnya tidak melakukan itu. Tante seharusnya tidak menenggak obat nyamuk. Tante seharusnya tidak mencoba bunuh diri. Tante... Tante eg

  • Kurir Pemilik Sistem   Wejangan Dari Noval (part 1)

    Matahari pagi bersinar cerah di atas Jakarta ketika Wandi, Arini, Noval, dan Nila bersiap berangkat ke rumah sakit. Langit biru tanpa awan, sinar matahari yang hangat mulai menembus jendela-jendela mobil, menciptakan pola-pola cahaya di jok kulit yang empuk. Burung-burung pipit mulai berkicau di pohon-pohon di pinggir jalan, bersahutan dengan suara kendaraan yang mulai ramai. Suasana pagi yang penuh harapan, berbeda dengan pagi-pagi sebelumnya yang penuh dengan ketakutan.Noval dan Nila duduk di kursi belakang, saling berbincang dengan penuh semangat. Nila sudah tidak sabar untuk bertemu dengan ibunya, untuk memeluknya, untuk memastikan bahwa ibunya benar-benar sembuh. Noval juga bersemangat, karena dia akan bertemu dengan Mama Nila dan memberikan dukungan untuknya."Nil, kamu senang bertemu Mama?" tanya Noval."Senang, Noval! Nila kangen Mama.""Mama Nila pasti sudah sembuh. Noval yakin.""Nila juga yakin."Mereka berdua tersenyum.Wandi yang mengemudi, menatap spion tengah dan terse

  • Kurir Pemilik Sistem   Dua Anak Terbangun (part 2)

    "Noval, ini enak banget," ucap Nila sambil memegang roti bakar."Iya, Nil. Papa dan Mama pasti sudah menyiapkan ini sejak pagi."Mereka berdua tersenyum."Nil, sebelum makan, kita berdoa dulu, ya," ucap Noval."Iya, Noval. Nila juga mau berdoa."Mereka berdua menunduk, menutup mata, dan berdoa bersama."Ya Allah, terima kasih atas makanan yang Engkau berikan kepada kami. Semoga makanan ini memberi kami kekuatan untuk beraktivitas," ucap Noval dengan suara lantang."Dan semoga Mama Nila cepat sembuh," tambah Nila dengan suara pelan."Amin," jawab mereka bersamaan.Noval membuka mata, menatap Nila yang masih menunduk. Dia melihat ada air mata yang mengalir di pipi Nila."Nila, kenapa kamu nangis?" tanya Noval cemas.Nila mengangkat wajah. Matanya yang bulat basah oleh air mata."Noval, Nila sedih. Nila kangen Mama. Nila takut Mama tidak sembuh."Noval meraih tangan Nila. "Nil, Mama Nila pasti sembuh. Papa dan Mama sudah pergi ke rumah sakit. Mereka pasti menjaga Mama Nila.""Tapi Noval,

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status