LOGIN"Noval, ini enak banget," ucap Nila sambil memegang roti bakar."Iya, Nil. Papa dan Mama pasti sudah menyiapkan ini sejak pagi."Mereka berdua tersenyum."Nil, sebelum makan, kita berdoa dulu, ya," ucap Noval."Iya, Noval. Nila juga mau berdoa."Mereka berdua menunduk, menutup mata, dan berdoa bersama."Ya Allah, terima kasih atas makanan yang Engkau berikan kepada kami. Semoga makanan ini memberi kami kekuatan untuk beraktivitas," ucap Noval dengan suara lantang."Dan semoga Mama Nila cepat sembuh," tambah Nila dengan suara pelan."Amin," jawab mereka bersamaan.Noval membuka mata, menatap Nila yang masih menunduk. Dia melihat ada air mata yang mengalir di pipi Nila."Nila, kenapa kamu nangis?" tanya Noval cemas.Nila mengangkat wajah. Matanya yang bulat basah oleh air mata."Noval, Nila sedih. Nila kangen Mama. Nila takut Mama tidak sembuh."Noval meraih tangan Nila. "Nil, Mama Nila pasti sembuh. Papa dan Mama sudah pergi ke rumah sakit. Mereka pasti menjaga Mama Nila.""Tapi Noval,
Matahari pagi mulai meninggi ketika Noval membuka matanya. Cahaya keemasan yang lembut masuk melalui celah-celah tirai kamar, menciptakan garis-garis tipis di lantai kayu yang mengkilap. Burung-burung pipit sudah mulai berkicau riang di pohon mangga halaman depan, bersahutan dengan suara ayam tetangga yang sesekali berkokok. Suasana pagi yang tenang, tetapi terasa berbeda. Rumah itu sunyi. Tidak ada suara langkah kaki di dapur. Tidak ada suara televisi dari ruang tamu. Tidak ada suara Papa dan Mama yang sedang berbicara.Noval mengerjap. Matanya yang masih sayu menatap langit-langit kamar yang putih bersih. Dia menoleh ke samping, melihat Nila yang masih tertidur pulas di sampingnya. Wajah Nila yang bulat dan polos terlihat tenang, rambutnya yang hitam panjang terurai di atas bantal, tangannya yang kecil memegang erat ujung selimut. Sesekali bibirnya bergerak seperti sedang bicara dalam mimpi."Nil... Nila, bangun," bisik Noval sambil menggoyang-goyangkan bahu Nila dengan lembut.Nila
Mereka berjalan ke kamar, menatap Noval dan Nila yang masih tertidur. Arini mengecup kening Noval, Wandi mengecup kening Nila."Selamat pagi, Nak," bisik Arini."Ibu Nila akan baik-baik saja," bisik Wandi.Mereka berjalan keluar rumah, menutup pintu dengan perlahan, lalu masuk ke mobil. Wandi menyalakan mesin, dan BMW hitam melaju meninggalkan rumah.Di dalam mobil, suasana hening. Wandi mengemudi dengan hati-hati, tidak terburu-buru. Arini duduk di kursi penumpang, sesekali menatap ke luar jendela, sesekali menatap Wandi."Wan, aku takut," ucap Arini pelan."Takut apa, Rin?""Aku takut... Tina akan mencoba lagi. Aku takut dia akan melakukan hal yang sama. Aku takut... Nila akan kehilangan ibunya."Wandi meraih tangan Arini, menggenggamnya erat. "Tina tidak akan mencoba lagi, Rin. Aku akan memastikannya. Aku akan membantunya. Kita akan membantunya.""Bagaimana caranya, Wan?""Kita akan bicara dengannya. Kita akan meyakinkannya bahwa dia tidak sendiri. Kita akan meyakinkannya bahwa ada
Matahari pagi mulai muncul di ufuk timur ketika Wandi membuka matanya. Cahaya keemasan yang lembut masuk melalui celah-celah tirai kamar, menciptakan garis-garis tipis di lantai kayu yang mengkilap. Burung-burung pipit mulai berkicau di pohon mangga halaman depan, bersahutan dengan suara ayam tetangga yang sesekali berkokok. Suasana pagi yang tenang, penuh dengan harapan dan kedamaian.Wandi berbaring di kasur, menatap langit-langit kamar yang putih bersih. Di samping kanannya, Arini masih tertidur pulas, wajahnya tenang, rambutnya terurai di atas bantal. Di samping kirinya, ada kasur kecil yang ditempatkan khusus untuk Noval dan Nila. Kedua anak itu masih tertidur pulas, dengan posisi yang lucu dan menggemaskan.Noval tidur dengan posisi miring ke kanan, tangan kanannya memeluk boneka kecil peninggalan ibunya, tangan kirinya terulur ke arah Nila seolah mencari kehangatan. Wajahnya yang mungil terlihat damai, sesekali bibirnya bergerak seperti sedang bicara dalam mimpi. Di sampingnya,
Wandi kembali ke jendela, menatap ke dalam ruang UGD. Angka di atas kepala Tina masih merah, masih terus turun.00:04:1200:03:5800:03:4500:03:31Wandi mengepalkan tangannya. Dia tidak bisa hanya diam. Dia harus melakukan sesuatu."Tuhan... aku tidak pernah meminta banyak. Aku tidak pernah meminta kekayaan. Aku tidak pernah meminta kekuasaan. Tapi kali ini... aku meminta. Selamatkan Tina. Dia ibu dari anakku. Dia masih punya masa depan. Dia masih punya Nila. Dia masih punya kesempatan untuk memperbaiki hidupnya."Wandi menutup matanya, berdoa dengan sepenuh hati."Aku tahu aku tidak sempurna. Aku tahu aku pernah gagal. Aku tahu aku pernah berbuat salah. Tapi aku mohon... beri Tina kesempatan kedua. Seperti Engkau memberi aku kesempatan kedua."Wandi membuka matanya. Angka di atas kepala Tina masih turun.00:02:1000:01:4500:01:1200:00:45"Ya Allah... selamatkan Tina... amin..."Arini masih memangku Nila, mengelus rambutnya, dan sesekali mencium keningnya. Nila yang tadinya menangi
Ruang tunggu UGD Rumah Sakit Pertamina terasa dingin dan sunyi. Dindingnya dicat putih bersih, lantainya dari keramik putih mengkilap yang memantulkan lampu-lampu neon di langit-langit. Beberapa kursi plastik berwarna biru tua berjejer rapi di sepanjang dinding, sebagian besar kosong, hanya beberapa yang terisi oleh keluarga pasien lain yang juga menunggu dengan wajah cemas. Di sudut ruangan, ada sebuah televisi kecil yang menyala tanpa suara, menayangkan acara pagi yang tidak ada yang memperhatikan. Suara AC yang berdengung pelan dan sesekali suara langkah kaki perawat yang berlalu-lalang menjadi satu-satunya suara yang terdengar.Wandi berdiri di dekat jendela kaca besar yang menghadap ke ruang UGD. Dari sini, dia bisa melihat dokter dan perawat yang sibuk menangani Tina. Tina terbaring di atas bed, dengan selang infus di lengannya, monitor detak jantung yang berkedip-kedip, dan masker oksigen di wajahnya. Beberapa perawat berlarian, membawa peralatan medis, sementara dokter memerik







