تسجيل الدخولTina tidak mendengar. Pikirannya masih kacau. Bayangan Wandi di pagi hari, kemeja putih, celana jins hitam, wajah glowing, tubuh kekar, bercampur dengan bayangan BMW hitam, logo BMW, kursi sopir yang dia duduki. Bayangan Arini, blazer abu-abu, rok pensil hitam, rambut kuncir tinggi, bercampur dengan bayangan Noval, anak kecil lucu dengan tas merah, yang dia lihat tadi pagi, yang ternyata adalah teman Nila."Ma! Nila minta permen kapas!"Tina tersadar. "Eh? Iya, Nak. Maaf. Mama melamun.""Mama melamun apa?""Tidak apa-apa. Nila mau permen kapas?""Iya, Ma. Di depan sekolah ada. Warnanya pink."Tina menoleh ke arah pintu gerbang. Seorang pedagang permen kapas dengan gerobak dorong sudah berjajar di pinggir jalan, bersaing dengan pedagang cilok dan batagor. Aroma gula yang dibakar tercium hingga ke taman."Ayo, Mama belikan."Tina menggendong Nila berjalan ke arah pedagang permen kapas. Di tengah jalan, dia menoleh ke arah mobil BMW hitam yang masih terparkir di pinggir jalan. Wandi masi
Pintu kelas terbuka lebar. Anak-anak kelas A mulai keluar. Ada sekitar lima belas anak, laki-laki dan perempuan, dengan seragam putih abu-abu yang sedikit kusut setelah seharian beraktivitas. Beberapa masih memegang buku, beberapa memegang mainan, beberapa hanya memegang kotak bekal kosong.Noval keluar dengan langkah percaya diri. Tas sekolah merah di punggungnya tampak rapi, tidak berantakan seperti beberapa anak lain yang tasnya hampir terlepas dari bahu. Wajahnya berseri-seri, matanya berbinar, bibirnya tersenyum. Dia terlihat sangat bahagia.Di samping Noval, berjalan seorang anak perempuan kecil. Rambutnya yang hitam panjang sebahu diikat dua kuncir dengan pita merah. Wajahnya bulat, pipinya tembam, kulitnya cerah. Dia menggandeng tangan Noval, tetapi tidak erat, hanya sekadar berjalan berdampingan.Itu Nila.Wandi melihat Nila. Jantungnya berdegup lagi. Bukan karena dia masih merindukan Nila, tentu saja dia merindukan anak kandungnya, tetapi itu adalah rindu yang sudah dia teri
Jam di dashboard BMW hitam menunjukkan pukul sepuluh kurang lima menit. Wandi telah memarkir mobil di tempat yang sama seperti pagi tadi, di pinggir jalan, tidak terlalu jauh dari gerbang TK Bunda Mulia, cukup dekat untuk melihat anak-anak keluar, tetapi tidak menghalangi arus lalu lintas. Dia mematikan mesin, mengatur AC tetap menyala karena udara siang mulai terasa hangat, lalu menyandarkan kepalanya di sandaran kursi.Radio mobil dipasang di stasiun pemutar lagu-lagu lawas. Sebuah lagu dari Chrisye, Seperti yang Kau Minta, engalun lembut dari speaker-speaker tersembunyi di pintu mobil. Wandi menutup matanya sejenak, menikmati melodi yang mengalir seperti sungai di musim kemarau, lambat, tenang, penuh dengan kenangan."Namun selama... Aku bernyawa... Aku kan mencoba...."Wandi tersenyum kecil. Lagu itu dulu sering dia dengarkan ketika masih menjadi kurir. Waktu itu, dia belum kenal Arini. Belum punya kemampuan super. Belum punya uang. Hanya seorang pria biasa yang berjuang untuk ber
Nila yang mendengar percakapan itu, ikut berbicara. "Bu, Nila juga punya Ayah dan Mama. Ayah Andre baik. Mama Tina juga baik."Bu Indah tersenyum. "Iya, Nila. Nila juga beruntung."Setelah sesi menulis selesai, Bu Indah membagikan buku cerita bergambar untuk anak-anak. Masing-masing anak mendapat satu buku dengan tingkat kesulitan yang berbeda. Noval mendapat buku cerita tentang "Kancil dan Buaya". Nila mendapat buku cerita tentang "Kelinci dan Kura-kura"."Anak-anak, sekarang kalian baca buku cerita ini sendiri. Kalau ada yang tidak bisa, boleh bertanya pada Ibu atau pada teman," ucap Bu Indah.Noval membuka bukunya. Dia membaca dalam hati, jarinya yang mungil menunjuk setiap kata."Suatu hari, Kancil berjalan di hutan. Ia melihat pohon timun di seberang sungai. Banyak mentimun segar. Kancil ingin memetiknya, tetapi sungai dalam dan deras. Kancil pun berpikir..."Noval membaca dengan lancar, sesekali berhenti ketika menemukan kata yang agak sulit, seperti "mentimun" dan "deras". Tapi
Ibu Guru Indah yang dari tadi memperhatikan interaksi Noval dan Nila, tersenyum lebar. Dia berdiri di dekat rak buku, tetapi matanya tidak lepas dari kedua anak itu."Bagus. Nila yang tadinya menangis dan takut, kini sudah tersenyum. Dan Noval... anak yang sabar, baik hati, mau mengajak teman baru bermain. Ini yang namanya inklusi. Anak membantu anak."Bu Indah mendekati meja kuning, pura-pura merapikan mainan di rak, tetapi telinganya tetap mendengar percakapan mereka."Noval, besok kita main puzzle lagi, ya," ucap Nila."Boleh. Nanti kita coba puzzle yang lebih susah.""Apa yang lebih susah?""Puzzle istana. Banyak potongannya.""Wah, pasti susah.""Tapi seru.""Iya. Aku percaya sama Noval."Bu Indah tersenyum lagi. Dia mencatat di dalam hati, Noval, anak angkat dari Bapak Wandi dan Ibu Arini. Cerdas, sabar, mudah bergaul. Nila, anak dari Ibu Tina dan Bapak Andre. Pemalu, tetapi cepat beradaptasi dengan bantuan teman.Setelah waktu bermain selesai, Bu Indah mengajak anak-anak untuk
Kelas TK Bunda Mulia lantai satu itu berukuran sekitar enam kali delapan meter. Dindingnya dicat dengan warna-warna cerah, kuning lembut di bagian atas, hijau muda di bagian bawah, dengan hiasan gunung, awan, dan matahari yang tersenyum. Di sepanjang dinding, terpajang poster-poster bergambar huruf alfabet, angka, hewan, dan buah-buahan. Meja-meja kecil berwarna merah, biru, kuning, dan hijau ditata dalam empat kelompok, masing-masing dilengkapi dengan kursi-kursi mungil yang sesuai dengan tinggi badan anak usia empat hingga lima tahun. Lantainya dilapisi karpet busa berwarna-warni, empuk dan aman untuk anak-anak yang suka duduk atau berguling.Di sudut ruangan, terdapat rak-rak berisi mainan edukatif, balok susun, puzzle, kartu bergambar, dan buku cerita bergambar. Di sudut lain, ada panggung kecil untuk bermain peran, lengkap dengan kostum sederhana seperti topi polisi, kerudung dokter, dan stetoskop mainan. Di dekat jendela, ada area baca dengan karpet bundar dan bantal-bantal lucu







