LOGINBeberapa waktu sebelumnya saat Maris mengucapkan salam perpisahan dengan Nerion. Nerion terus berenang menjauh dari pesisir tanpa sekali pun menoleh ke belakang. Semakin jauh ia mengayunkan ekornya, semakin samar garis pantai yang tadi masih terlihat di permukaan laut.Namun ada sesuatu yang masih tertinggal di pikirannya. Suara Maris terus memenuhi benaknya."Terima kasih... sudah datang menemuiku."Kalimat sederhana itu terus terngiang di dalam kepalanya. Nerion memejamkan mata sejenak.Ia telah mengucapkan selamat tinggal. Bahkan ia telah mengatakan semua yang perlu dikatakan. Tidak ada lagi alasan untuk kembali.Seharusnya begitu.Namun entah mengapa, dadanya justru terasa semakin berat setiap kali ia mengingat wajah Maris yang tersenyum tenang setelah mengetahui dirinya telah kehilangan seluruh dunia yang pernah dimilikinya."..."Tidak ada kebencian dan kemarahan yang dilupakan oleh Maris. Bahkan tidak ada pertanyaan mengapa semua itu harus terjadi padanya. Justru itulah yang pa
Kabut perlahan menutup jalan masuk Teluk Mati hingga laut di belakang Maris menghilang seluruhnya. Tidak ada lagi garis cakrawala yang membatasi langit dan laut. Yang tersisa hanyalah hamparan kabut kelabu yang menggantung rendah di atas permukaan air.Maris berhenti berenang sejenak. Ia menoleh ke belakang, tetapi tak lagi dapat melihat pantai tempat Lycander berdiri tadi. Bahkan suara ombak dari luar pun perlahan menghilang, seolah kabut itu menelan seluruh dunia di baliknya."..."Ia kembali mengayunkan ekornya perlahan. Riak kecil menyebar di permukaan air yang nyaris tak bergerak. Berbeda dengan laut yang pernah ia kenal, air di tempat itu terasa begitu tenang hingga hampir menyerupai danau.Semakin jauh ia berenang, suasana di sekelilingnya semakin sunyi. Tidak terdengar suara burung laut, tidak ada kawanan ikan kecil yang biasanya berenang menghindari ekornya. Bahkan rumput laut yang bergoyang mengikuti arus pun tampak jauh lebih sedikit.“Tak ada apapun di sini,” pikirnya. Ma
“Apa yang sebenarnya terjadi?” tanya Robert.Lycander menghentikan langkahnya. Ia memandang Robert beberapa saat sebelum akhirnya menarik napas panjang.Angin sore berhembus pelan di antara pepohonan. Kabut Teluk Mati masih tampak samar di kejauhan."..."Untuk beberapa saat, tak satu pun dari mereka berbicara. Robert memperhatikan wajah Lycander dengan saksama. Mata emas itu masih memerah. Bekas air mata belum sepenuhnya mengering."Aku belum pernah melihatmu seperti ini," ucap Robert pelan.Lycander tersenyum hambar."Aku juga berharap tidak pernah mengalaminya."Robert mengerutkan dahinya."Lalu?"Lycander menoleh ke arah Teluk Mati."Maris...""...telah menjadi makhluk buangan."Kalimat itu membuat Robert membeku. Tatapannya perlahan beralih menuju teluk yang diselimuti kabut."...jadi itu sebabnya tadi kau keluar dari sana."Lycander mengangkat alis, "apa kau tahu tentang makhluk buangan?"Robert mengangguk pelan."Hanya sedikit. Mereka adalah anak laut yang telah dilepaskan ole
Langit mulai berubah jingga ketika Lycander dan Maris meninggalkan pantai tempat mereka biasa bertemu. Lycander berjalan mengikuti garis pantai, sementara Maris berenang perlahan tidak jauh dari tepian. Untuk pertama kalinya sejak sekian lama, mereka berjalan menuju tempat yang belum pernah mereka datangi bersama.Deburan ombak menjadi irama yang menemani langkah mereka. Tidak ada lagi tangisan ataupun permintaan maaf. Hanya keheningan yang terasa jauh lebih nyaman daripada sebelumnya."Capek juga ya menjadi manusia," celetuk Maris tiba-tiba.Lycander menoleh sambil mengangkat sebelah alisnya."Kenapa tiba-tiba bilang begitu?"Maris tersenyum kecil, “kau sudah berjalan sejauh ini. Sedangkan aku cukup berenang saja.”Lycander terkekeh pelan, “kalau aku punya ekor sepertimu, mungkin aku juga memilih berenang."Maris ikut tertawa kecil, “tapi kalau begitu... kau tidak akan bisa berubah menjadi serigala.""Itu juga benar,” ucap Lycander setuju.Keheningan kembali menyelimuti mereka. Kali
"Kalau suatu hari nanti dunia ini berhenti menjadi rumahmu… biarlah aku yang menjadi tempatmu pulang,” ucap Lycander. Maris terdiam cukup lama. Bukan karena terharu berlebihan, tetapi karena benar-benar mencerna ucapan itu.Lalu ia berkata pelan, “aku tidak begitu mengerti semua yang kau katakan… tapi aku senang kau masih mau berada di sampingku."Kalimat sederhana itu sudah cukup membuat Lycander kembali hampir mengeluarkan air mata.Maris memandang Lycander cukup lama. Tatapan pria itu masih dipenuhi kesedihan yang belum sepenuhnya hilang."Aku masih membuatmu khawatir ya?" tanyanya pelan.Lycander menggeleng."Bukan. Lebih tepatnya... aku terlambat mengetahui apa yang sebenarnya terjadi."Maris tersenyum tipis."Semua sudah berlalu. Dan aku masih di sini."Lycander menundukkan kepala sebentar."Ya. Syukurlah..."Untuk sesaat, tak ada lagi yang berbicara. Deburan ombak bergantian menyapu pasir di antara mereka. Maris memandang laut yang membentang luas.Angin sore meniup rambut hit
Maris memandangnya dengan bingung. Lalu berkata sangat pelan, "hari ini… kenapa aku terus mendengar banyak permintaan maaf padaku?"Ia menatap Lycander. "Apa… yang membuatmu juga mengatakan maaf, Lycander?”Lycander masih berlutut di atas pasir. Napasnya bergetar. Air mata terus jatuh tanpa mampu ia hentikan.Beberapa saat berlalu sebelum akhirnya ia mengangkat wajahnya perlahan. Tatapannya bertemu dengan mata hitam Maris yang masih sama seperti dulu.Namun… tatapan itu tidak lagi menyimpan laut, rumah ataupun dunia tempat Maris berasal.Maris memperhatikannya cukup lama. Lalu ia bertanya pelan."Apa… kau tadi mendengar pembicaraanku dengan duyung tadi?"Lycander terdiam. Ia tak mampu berbohong. Perlahan ia menganggukkan kepala.Maris menghela napas kecil, “kalau begitu… kau sudah tahu semuanya."Keheningan kembali menyelimuti pantai. Deburan ombak terdengar begitu pelan. Maris memandang laut yang terbentang luas di hadapannya."Aneh ya…”“Sekarang saat aku melihat laut… rasanya seper
Saat Maris sudah masuk ke dalam rumah, suasana di dalam rumah tetap tenang dan sunyi. Tidak ada yang tampak berbeda dari luar. Ia kembali ke kamarnya dengan gerakan yang sudah semakin terbiasa. “…tidak ada yang tahu,” bisiknya pelan.Maris menarik napas panjang, mencoba menenangkan detak jantungny
“Maris, bisakah kita bicara sebentar?” tanya ayahnya.Suara ayahnya terdengar tenang, namun ada sesuatu yang berbeda. Lebih berat dari biasanya. Maris yang masih berdiri di ambang pintu hanya mengangguk pelan.Ia berenang mendekat perlahan. Tatapan ayahnya tak lepas darinya, tajam dan penuh penilai
Maris mendorong pintu rumahnya pelan. Ia masuk tanpa menoleh ke belakang.“Ibu… aku pulang.”Suara itu keluar pelan. Hampir seperti bisikan. Ibunya yang berada tak jauh dari pintu langsung menoleh.“Maris…” Ibunya berenang mendekat.“Ibu kira kau masi
Malam turun perlahan, membawa sunyi yang berbeda dari biasanya. Maris terbaring di tempat tidurnya, menatap langit-langit tanpa benar-benar melihat. Pikirannya tak pernah benar-benar diam sejak sore tadi.Jantungnya berdegup lebih cepat.“Kalau aku tidak pergi sekarang…” bisiknya pelan, “…aku tidak







