LOGINLouane Marcoy aime Richard Reid depuis son enfance. Lorsque l’entreprise de sa famille est au bord de la faillite, son père décide d’unir sa fille à Richard, l’héritier des Reid devenu handicapé après un terrible accident. Jennifer, la sœur de Louane, refuse ce mariage. Elle ne veut pas sacrifier sa vie pour un homme qu’elle considère comme incapable de vivre normalement et connu pour sa froideur envers les autres Louane accepte à sa place, persuadée que son amour finira par toucher Richard et qu’ils seront heureux. Mais leur mariage devient rapidement un enfer, Richard est plus cruel qu’elle le pensait. Richard lui en veut d’avoir profité de sa vulnérabilité pour abuser de lui, Dès lors, il continue à la maltraiter et en profitant lui aussi d’elle lorsque l’occasion s’en présentait tout lui rappelant à chaque fois que c’est elle qui avait commencé. Entre rancœur, humiliations, secrets et désir de vengeance, leur mariage se transforme en une guerre silencieuse. Puis Richard commence à retrouver l’usage de ses jambes. À mesure qu’il récupère son indépendance, il découvre une vérité qui le bouleverse : la femme qu’il pensait détester est devenue celle qu’il ne peut plus imaginer perdre. Mais Louane, après avoir tant souffert et donner un enfant à Richard , commence enfin à se détacher de lui et s’enfuit. Richard l’aura-t-il compris trop tard ?
View More“Mama, Papa!”
Sore hari di teras rumah besar bergaya Victoria. Tuan dan nyonya Santoso menunggu putri kesayangan mereka pulang liburan musim panas. Begitu mendengar suaranya, mereka menoleh sambil tersenyum sumringah. “Lita, kamu udah pulang, nak? Gimana liburannya? Seru, nggak?” Nyonya Gita berdiri merentangkan kedua tangan, bersiap memeluk putrinya. Tuan Rian juga berdiri sambil tertawa bahagia. Erlita berlari ke pelukan Nyonya Gita, bermanja-manja. “Iya, seru. Aku senang banget, Ma.” Awalnya, wajah tuan dan nyonya Santoso menunjukkan rasa tidak senang. Namun kedatangan Erlita langsung membuat mereka bahagia. Nyonya Gita mengusap rambut panjang Erlita. “Baguslah.” “Andre, ayo duduk dulu,” ajak Tuan Rian. “Kamu pasti capek jagain Lita selama liburan.” “Ah! Biasa aja kok, Pa,” sahut Andre. Andre Malik adalah tunangan Erlita. Hubungan mereka baru berjalan beberapa bulan dan sudah pergi liburan bersama. Tuan dan Nyonya Santoso benar-benar memanjakan anaknya! Ketika Erlita hendak duduk, ujung matanya menangkap sosok wanita paruh baya lusuh yang berdiri menatapnya. Erlita langsung memasang ekspresi jijik. “Dia… pembantu baru?” tanya Erlita. Srek! Tepat saat Gita ingin menjawab, gadis kurus kering datang menyeret koper besar milik Erlita dengan susah payah. “Pa, Ma, aku… pulang,” kata gadis itu. “Aku bawa oleh-oleh buatー” Baru setengah bicara, Gita memotongnya. “Cuih!” Gita membuang ludah. “Siapa yang sudi jadi Mama dan Papamu?! Udah kubilang berkali-kali, panggil kami Nyonya dan Tuan.” “Ah! Maーmaaf, Nyonya. Aku lupa. Aku…” Dia adalah Liora Santoso, Putri Palsu keluarga Santoso. Teguran Gita membuatnya gugup sesaat sehingga dia tidak bisa menyelesaikan kata-katanya. Liora telah menjadi putri kesayangan keluarga Santoso selama 16 tahun. Di hari ulang tahunnya yang ke-17, seorang perempuan yang sebaya dengannya datang dan mengaku sebagai putri kandung keluarga Santoso. Perempuan itu bernama Erlita. Demi membuktikan identitas Erlita, Tuan Rian dan nyonya Gita melakukan tes DNA. Hasilnya terbukti cocok. Sejak itu, hari-hari damai Liora telah berakhir. “Sayang, ayo duduk,” ajak Gita. Gita merangkul Erlita. Mereka duduk di kursi kayu mahoni berukiran indah. “Lio, jadi orang jangan nggak tau diri,” ujar Erlita sambil menyilangkan kaki. Erlita berujar lagi, “Lo udah rebut identitas gue dan menikmati kekayaan keluarga Santoso selama belasan tahun yang seharusnya milik gue. Sekarang, waktunya lo balikin semuanya dan balas budi.” Sejak Erlita kembali, semua perhatian tertuju padanya. Liora pun terabaikan. Mereka menganggap Liora adalah Putri Palsu Pembawa Sial dan Erlita Putri Sah keluarga Santoso Pembawa Bintang Keberuntungan. Bahkan, keluarga Santoso mengadakan pesta mewah untuk menyambut Erlita sekaligus mengumumkan identitasnya di depan circle keluarga kalangan atas. Akibatnya, semua orang kelas atas di Kota Poseidon memandang Liora hina. Wanita lusuh gregetan. ‘Hmm, mereka semua bener-bener kurang ajar!’ Wanita itu mengepalkan tangan erat-erat, tidak terima Liora dihina-hina. Namun sekarang dia tidak bisa melakukan apa-apa, selain membawa Liora pergi dari kediaman keluarga Santoso. Karena tidak ingin Liora semakin menderita, dia bergegas mendekatinya. Dia meraih tangan Liora. “Liora, saya… Ella Anggara, ibu kandungmu. Ayo pulang sama Ibu, Nak.” Suara Ella halus dan lembut. Ketika memandang Liora, tatapan Ella penuh kehangatan dan cinta seorang ibu. Alis mata Liora berkedut. “Ha? Iーibu?” Tatapan mereka beradu. Tidak ada kemiripan diantara keduanya. Namun, Liora merasakan hatinya menghangat dan tersentuh. Ella mengangguk sambil menahan tangis. “Ini… hasil tes DNA kita berdua.” Dengan tangan gemetar, Liora memegangi secarik kertas hasil tes DNA. Mata Liora berkaca-kaca ketika dia membaca keterangan yang menunjukkan adanya kecocokan diantara mereka. Liora kembali menatap wajah Ella yang tampak kelelahan. “Iーibu…” “Iya, Nak. Ini ibu. Boleh Ibu memelukmu sekarang?” Tatapan Ella tidak berubah. Namun kini, sinar di matanya berkilat penuh harap. Mereka berpelukan. Suasana berubah menjadi haru. Beberapa pelayan yang mengintip dari kejauhan sibuk mengusap air mata mereka karena terbawa suasana. Erlita membelalak. “Ma, Pa, ada apa ini? Wanita jelek itu beneran Ibu kandung Lio?” Rian dan Gita mengangguk berbarengan. “Dia berasal dari desa di lereng Gunung Persik Kota Avalon,” kata Gita. Rian menambahkan, “Papa dan Mama udah lihat hasil tes DNA Liora, cocok.” Erlita menjadi semakin sombong usai mengetahui identitas asli Liora. Dia semakin berani menginjak-injak harga diri Liora. Erlita dan Andre berdiri, bertepuk tangan dengan meriah. “Lio, pantesan aja sikap lo kampungan begini. Ternyata nyokap lo orang desa, ya? Gue maklum, kok. Hahahaha,” cibir Erlita. Andre menambahkan, “Lio, untung aja keluarga gue batalin tunangan kita. Kalo nggak, reputasi keluarga Malik bakalan hancur dan jadi bahan tertawaan di seluruh Kota Poseidon.” Liora dan Andre tumbuh bersama. Mereka menjalin hubungan pertunangan sejak kecil sesuai dengan ketetapan para tetua kedua keluarga. Namun ketika Erlita kembali, Andre memutuskan hubungan pertunangan secara sepihak. Alasannya karena keluarga Malik beranggapan bahwa yang pantas menjadi tunangan adalah Putri Asli keluarga Santoso, bukan Putri Palsu. Mata Liora menyipit. “Andre, nggak masalah kalo lo batalin tunangan. Tapi, jangan pernah lo hina nyokap gue.” Lalu, tatapan Liora beralih pada Erlita. Dia maju beberapa langkah, mendekatkan mulutnya ke telinga Erlita. “Lo juga, Ta. Jangan disangka gue nggak berani ngelawan cuma karena lo anak sah keluarga Santoso.” Ella tercengang, tidak menyangka Liora seberani ini! Dia mengira, Liora adalah gadis yang terlampau cuek dan mudah ditindas. Erlita sempat terdiam beberapa detik sebelum akhirnya keberanian dia kembali muncul. “Halah! Lo cuma berani gertak doang,” sahut Erlita. Andre tertawa. “Hahahaha…” “Udah miskin begini, masih bisa sombong, ya? Lio, lo harus terima takdir kalo sebenernya udah miskin dari dalam kandungan. Lo nggak pantes sejajar sama Lita. Jangan mimpi bisa jadi Putri Sah!” Kata-kata Andre sangat kejam! “Andre, lo beneran kurang ajar. Loー” Liora ingin membalas, tetapi Ella buru-buru menahannya. “Nak, kita nggak bisa ngelawan orang kaya. Mereka punya kuasa dan uang. Tapi kita?” Diam-diam, Ella menatap Erlita. Erlita begitu cantik. Kulitnya putih dan terawat. Rambut panjang hitamnya lurus dan berkilau. Pakaiannya mewah. Jelas, itu adalah merk Prada edisi musim panas tahun ini. Belum lagi sling bag yang dia pakai adalah merk Louis Vuitton seharga Rp 44 juta. Begitu hidung Ella mencium wangi sesuatu… Uh! Sudah dipastikan harum tubuh Erlita berasal dari parfum mahal kelas dunia. Ella menghela napas. “Ehmm …” Kemudian, bola mata Ella bergulir menatap Liora. Hatinya langsung terasa sakit. Liora tinggi dan kurus. Kulitnya putih pucat seperti kekurangan darah. Lingkaran di bawah matanya menghitam dan kulit bibirnya kering terkelupas. Jelas sekali wajahnya menunjukkan kelelahan yang tidak wajar. Pakaiannya? Ella menggeleng saat melihat pakaian Liora. ‘Bahkan pakaian pemulung lebih baik daripada Nona Liora,’ batin Ella. ‘Lihat aja! Keluarga Santoso bakalan menuai karma 100 kali lipat daripada ini!’ Oh! Mengapa Ella memanggil Liora dengan sebutan Nona? Ini sangat janggal.Richard était toujours installé derrière son bureau lorsque Elisabeth décida de le rejoindre, après avoir constaté qu’il s’était enfermé depuis plusieurs minutes. Elle connaissait suffisamment son caractère pour comprendre qu’il n’appréciait pas d’être confronté à ses propres erreurs, et le résultat du test de paternité avait manifestement bouleversé ses certitudes concernant Louane.Elle poussa doucement la porte et entra sans attendre qu’il l’y invite.— Richard…Il releva à peine la tête.— Qu’est-ce que tu veux ?Elisabeth s’approcha de lui avec un sourire discret, puis posa ses mains sur ses épaules avant de commencer à les masser doucement.— Tu es tellement tendu, murmura-t-elle. Tu devrais arrêter de te torturer l’esprit avec cette histoire.Richard ne répondit pas, Elle poursuivit ses gestes quelques instants, espérant qu’il finirait par se détendre, puis se pencha légèrement vers lui.— Tu sais, tu n’as pas besoin de te sentir coupable pour ce qui s’est passé. Louane aurait
L’attente avait finalement pris fin quelques jours plus tard, lorsque Gabriel rapporta à Richard une enveloppe provenant du laboratoire, qu’il déposa soigneusement sur la table basse du salon avant de se retirer discrètement. Depuis le matin, Richard avait été particulièrement silencieux, jetant régulièrement des regards vers le courrier sans toutefois se décider à l’ouvrir, tandis que Louane, installée à l’autre extrémité du canapé, s’efforçait de conserver une expression calme malgré l’appréhension qui lui nouait l’estomac.Les parents de Richard étaient également présents, car sa mère avait insisté pour venir prendre des nouvelles de cette affaire qui, depuis le dîner précédent, avait profondément affecté l’atmosphère familiale. Nathaniel se tenait près de la fenêtre, les mains dans les poches, et Elisabeth, assise dans un fauteuil, observait la scène avec une discrétion presque excessive.— Tu comptes attendre encore longtemps avant d’ouvrir cette enveloppe ? demanda finalement
Louane avait passé une bonne partie de la nuit à réfléchir à la manière dont elle pourrait poursuivre ses investigations sans attirer davantage l’attention de Nathaniel, car elle avait parfaitement compris que le moindre soupçon de sa part risquait de compromettre les preuves qu’elle avait déjà réunies. Elle ne pouvait pas se permettre de commettre une erreur, pas alors qu’elle venait enfin de découvrir une partie des manœuvres qui menaçaient l’entreprise de Richard, et surtout pas après avoir constaté à quel point son mari était devenu incapable de remettre en question les paroles de son prétendu meilleur ami.Elle avait donc pris une décision.Puisqu’on lui reprochait constamment d’être une épouse désagréable, de chercher les conflits et de s’immiscer dans des affaires qui ne la concernaient pas, elle allait désormais se comporter exactement comme on l’attendait d’elle, quitte à dissimuler ses véritables intentions derrière une apparence de douceur et de docilité.Elle ne comptai
De retour à la maison après leur passage au laboratoire, Louane avait immédiatement regagné sa chambre, Son mari semblait particulièrement satisfait d’avoir enfin entrepris cette démarche, comme si le simple fait d’avoir demandé un test de paternité suffisait à confirmer ses soupçons, et cette attitude lui avait laissé une amertume qu’elle peinait à dissimuler.Elle avait pourtant d’autres préoccupations désormais.Depuis plusieurs jours, les conversations qu’elle avait surprises entre Nathaniel et Elisabeth, les étranges appels téléphoniques de son prétendu ami ainsi que les difficultés financières dont Richard avait parlé lui revenaient constamment à l’esprit. Elle ne pouvait pas prétendre comprendre tous les mécanismes d’une entreprise aussi importante que celle des Reid, mais elle savait reconnaître une anomalie lorsqu’elle en voyait une, et quelque chose lui disait que les problèmes rencontrés par son mari n’étaient pas simplement dus à des erreurs de calcul.Nathaniel avait t


















Bienvenue dans Goodnovel monde de fiction. Si vous aimez ce roman, ou si vous êtes un idéaliste espérant explorer un monde parfait, et que vous souhaitez également devenir un auteur de roman original en ligne pour augmenter vos revenus, vous pouvez rejoindre notre famille pour lire ou créer différents types de livres, tels que le roman d'amour, la lecture épique, le roman de loup-garou, le roman fantastique, le roman historique et ainsi de suite. Si vous êtes un lecteur, vous pouvez choisir des romans de haute qualité ici. Si vous êtes un auteur, vous pouvez obtenir plus d'inspiration des autres pour créer des œuvres plus brillantes. De plus, vos œuvres sur notre plateforme attireront plus d'attention et gagneront plus d'adimiration des lecteurs.