LOGINSamira Aka n’a plus foi dans les contes de fées. Divorcée, meurtrie par un mariage toxique et marginalisée au sein de la banque où elle travaille, elle ne rêve plus d’amour… mais de revanche. Son plan ? Conquérir l’homme le plus insaisissable d’Abidjan pour sécuriser sa place au sommet : Abel-Malick Touré, animateur vedette, héritier du puissant empire bancaire BSA… et connu pour ne jamais fréquenter la même femme plus de trois fois. Mais Samira ne compte pas être une femme parmi tant d’autres. Elle lui fait une proposition inédite : pendant trois mois, elle incarnera trois femmes différentes, trois facettes d’elle-même, trois défis émotionnels. À lui de décider, au terme de ce "jeu", s’il accepte de l’épouser… ou de la laisser partir. Ce qu’elle n’a pas prévu ? Les règles vont basculer. Car derrière son masque de séducteur blasé, Malick cache une faille profonde : une peur de l’amour nourrie par un passé douloureux, et une grand-mère gravement malade qui veut le voir heureux avant de s’éteindre. Entre défis sentimentaux, enjeux professionnels, secrets de famille, et rivales silencieuses, ce duel entre deux êtres blessés deviendra bien plus qu’un pari. Et si, au lieu de maîtriser le jeu, Samira se laissait prendre à son propre piège ?
View MoreKAMU YANG KUCINTAI
Part 1 Ikut denganmu? "Mas, boleh aku ikut denganmu?" tanya Kimmy sambil memandang pria berjaket kulit yang duduk di hadapannya. Tatapan gadis itu penuh harapan. "Kamu nggak akan aman bersamaku. Hidupku belum jelas. Aku juga memiliki banyak musuh, Kim." Pria itu menghembuskan asap rokok ke udara. Yang akhirnya buyar tersapu angin malam dari balkon kafe. Kimmy tidak berkedip. Matanya yang bulat tampak berkaca-kaca, memantulkan cahaya lampu kota. "Aku lebih bahaya lagi jika tetap tinggal bareng Mama di rumah itu. Mama lebih mendengar dan lebih mempercayai suami dan anak-anak tirinya. Menjaga perasaan mereka dengan baik, seolah aku yang anak kandungnya ini nggak punya perasaan. Memang hidup kami bergantung padanya, sih. Mama sudah terlalu bangga dengan gelar nyonya besar di rumah itu." "Papa tirimu jahat?" tanya Langit dengan tatapan menyelidik. "Bukan beliau yang jahat. Tapi aku takut dengan anak-anaknya." Kimmy menunduk sambil memperhatikan gelas es teh yang digenggam dengan kedua tangannya. Wajah itu terlihat begitu resah. Kakak tirinya itu tidak pernah bicara kasar. Tapi matanya selalu mengikutinya. Di meja makan, di lorong rumah, bahkan dia seperti berdiri di depan pintu kamarnya saat malam sudah larut. Kimmy pernah cerita pada sang mama. Tapi wanita itu bilang, Kimmy terlalu berlebihan. Padahal Arsel itu sopan dan pendiam. Bagi Kimmy, pria seperti itu bisa saja menjadi predator yang bersembunyi di balik wajah tampan, kemeja rapi, dan senyum sopannya. "Mereka keluargamu. Lebih aman bersama keluarga daripada dengan orang asing, Kim. Belum tentu aku terus baik seperti sangkaanmu." "Kita bukan orang asing, kan? Kita sudah berteman sejak kecil lagi. Sejauh ini aku aman bersamamu." Hening. Kimmy memandang Langit. Tapi pria itu mengalihkan perhatian pada suasana jalanan di bawah kafe sana. Kemacetan di tengah kota Surabaya tampak seperti aliran lava merah yang membara. Rahangnya yang tegas tampak menengang. Langit ingin lari dari sangkar emas. Ia muak dengan intrik bisnis ibu tirinya, muak dengan kekuasaan yang dibangun di atas air mata orang lain. Baginya pergi dari rumah adalah kematian baginya, tapi membawa Kimmy pergi adalah perjudian nyawa. Keluarga Fardhan tidak akan tinggal diam. Mereka akan mencari Kimmy hingga ke lubang semut sekali pun. Ia seperti halnya Kimmy. Papanya menikah lagi dengan rekan bisnisnya. Dan wanita itu penuh ambisi untuk menguasai semuanya. "Mas Langit, hendak pergi ke mana?" Pertanyaan Kimmy memecah lamunan berat lelaki itu. "Jauh dari sini," jawab Langit terdengar parau menahan sebak dalam dada. Dia tidak ingin pergi. Tapi memang tidak punya pilihan selain menjauh. Ia ingin merengkuh Kimmy, memberinya perlindungan, tapi hidupnya sendiri entah bagaimana setelah pergi dari keluarga. "Di mana?" Kimmy mendesak. "Ke tempat di mana aku nggak dikenali, Kim. Ke tempat di mana aku cuma Langit, bukan pewaris apa pun." Kimmy menggeser duduknya, merapat ke meja. "Kalau begitu bawa aku ke sana. Aku bisa masak, aku bisa bersih-bersih, aku nggak akan merepotkan. Nanti aku juga akan bekerja, jadi nggak bergantung hidup padamu. Selain Mama, kamu yang kupunya." Langit memandang Kimmy. "Aku juga nggak akan menjadi penghalangmu jika suatu saat nanti Mas Langit menemukan gadis yang tepat yang ingin kamu nikahi. Bil-bilang saja aku adikmu." Suara Kimmy bergetar dan dadanya terasa sesak. Ada sesuatu yang tidak bisa ia ucapkan. Kimmy menarik napas sejenak. "Aku nggak tahan di rumah itu, Mas. Salsa juga terus-terusan menyindirku. Dia bilang aku dan Mama hanya benalu yang mau merebut harta papanya." "Harta ini benda mati yang bisa membuat manusia menjadi iblis, Kim." "Tapi aku dan mamaku bukan iblis, Mas." "Maaf, aku tidak mengataimu begitu. Aku bicara tentang wanita lain." "Iya. Aku ngerti." "Kamu harus menyelesaikan kuliahmu. Aku pergi dan nggak tahu bagaimana nasibku nanti. Bisa jadi aku mungkin akan tidur di pom bensin, atau di emperan toko." Mendengar itu Kimmy tersenyum tipis. Tidak mungkin seorang Langit tak punya uang. Sekalipun dia bilang pergi dari rumah tanpa membawa apapun. Ia lebih baik tidur di aspal bersama Langit daripada tidur di kasur empuk tapi harus mengunci pintu karena takut Arsel masuk. Namun ia sadar, tidak bisa memaksakan diri karena Langit mungkin juga ribet kalau dirinya ikut. Apalagi dia hanya teman bagi pria itu. Teman yang suka merepotkannya. "Bertahanlah, selesaikan dulu kuliahmu. Tinggal setahun lagi, kan?" ujar Langit yang akhirnya membuat Kimmy mengangguk lemah. Ia menyerah. 🖤LS🖤 "Baru pulang berkencan, ya? Jam segini baru nongol. Wangi asap jalanan banget sih, nggak cocok sama parfum ruangan di sini," ejek Salsa. Saat Kimmy masuk lewat pintu samping rumah. Gadis itu duduk bersedekap di sofa kulit impor. Kakinya disilangkan dengan angkuh. Matanya yang dipulas eyeliner tajam memindai penampilan Kimmy dari ujung kepala hingga ujung kaki, seolah sedang memeriksa perempuan jalanan yang salah masuk ke rumah mewah. Kimmy memilih membisu. Ia menunduk sambil merapatkan jaketnya dan terus melangkah melewati ruang tengah secepat mungkin. Namun langkah Salsa lebih gesit. Ia berdiri, menghalangi jalur menuju tangga. "Ditanya itu dijawab, Kim. Mamamu nggak pernah ngajarin sopan santun kalau masuk rumah orang?" desis Salsa. "Belagu banget. Numpang di sini tapi nggak mau jawab saat ditanya tuan rumah. Harusnya kamu sadar posisi, dong. Kamu dan Mamamu itu cuma tamu yang kebetulan dapet 'tiket gratis masuk ke sini' karena Papa merasa kasihan." Kata-kata itu menghujam ulu hati Kimmy, tapi ia hanya mengeratkan pegangan pada tas ranselnya. Tidak ingin memicu keributan yang akan membuat sang mama menasehatinya panjang lebar. Dengan gerakan menghindar, Kimmy memutar tubuh dan menaiki anak tangga satu per satu. "Jangan pikir karena Papa baik, kamu bisa seenaknya di sini!" teriak Salsa dari bawah. "Kamu itu nggak lebih dari benalu, Kimmy!" Kimmy menarik napas panjang untuk melonggarkan dada yang sesak nyaris meledak. Kalau ada orang tua mereka, Salsa tidak akan berkata demikian. Pasti bersikap sok manis. Makanya sang mama tidak percaya dengan cerita Kimmy. Dan sudah dua hari ini, sang mama ikut suaminya ke luar kota. Kimmy benar-benar sendirian di rumah itu. Lantai dua terasa lebih sunyi, tapi suasananya jauh lebih mencekam. Kamar untuk anak-anak ada di lantai dua semua. Kimmy ingin pindah ke bawah, tapi tidak diperbolehkan oleh Pak Fardhan. Papa tirinya. Untuk mencapai kamarnya, Kimmy harus melewati balkon ruang tamu atas. Dan di sana, di bawah temaram lampu gantung, sosok tinggi tegap itu berdiri. Arsel menoleh dan memandangnya sekilas. Namun tatapan itu tajam. "Dari mana kamu?" Next ....Il était vêtu d'un costume sombre impeccablement taillée. Il ôte sa veste, se déboutonne un peu,plié les manches de sa chemise blanche en coton. Samira lui tend une casquette et une paire de lunettes. Il est surpris et amusé: - Tu veux que je me camoufle? J'espère que tu ne m'envoies pas prendre un bain de foule - Non, détrompe toi. Fais moi confiance. Elle conduit pendant quelques minutes. Ils arrivent à Adjamé, et garent devant un épique kiosque dénommé " chez Diallo l'aboki" Malick sourit en reconnaissant l'endroit. Il n'y était pas retourné depuis plus d'une décennie. Ils s'asseyent sur un vieux banc qui a connu mille et une conversation. Samira commande pour eux deux plats spaghettis et deux sodas. La petite télévision du kiosque diffuse une émission de Musique de Malick. Il baisse la tête ne voulant pas être reconnu. En attendant leur plat, Malick entame la conversation : - Merci Samira, ta surprise me fait vraiment plaisir - Je t'en prie, j'avais vraiment e
"Ce soir, 20h30. L’adresse t’attendra au dernier moment — fais-moi confiance. Il ne s’agira pas d’un dîner ordinaire. Ni d’une revanche. Ni d’une reddition. Considère-le plutôt comme une réponse silencieuse à la question que tu n’as pas osé me poser. Habille-toi comme pour une négociation importante. Mais viens l’esprit libre, avec un grand appétit; le met sera de taille! S." Tel était le message que Samira avait transmis deux jours plutôt à Malick. Il devait le reconnaître, elle mettait du coeur à la tâche. Une heure avant le rendez-vous il reçut un message,sur son portable : c'était l'adresse d'un célèbre restaurant asiatique. Le restaurant était désert, baigné d’une lumière dorée. Les murs semblaient absorber le silence, comme s’ils savaient que cette soirée ne ressemblerait à aucune autre. Malick jeta un coup d’œil autour de lui, intrigué. Tout était raffiné : la vaisselle japonaise, la senteur de gingembre, la lueur douce des bougies. Mais surtout, l’absence du moindr
Après un weekend si mouvementé, Samira se sentait rassuré derrière son ordinateur à la BSA. "Il ne faut pas mettre tous ses oeufs dans le même panier". Pour briser le plafond de verre au dessous de sa tête elle avait décidé de proposer un projet majeur à la direction générale. Elle comptait sortir des sentiers battus et ainsi les convaincre de ses aptitudes à occuper un poste de direction. Il s'agissait d'accroître les ressources en intégrant le secteur informel dans la bancarisation. C'était risqué, mais elles avaient faits des simulations, et cela en valait la peine. Pour avoir la validation du comité exécutif, son projet doit d'abord avoir l'accord de sa supérieure hiérarchique directe, Inès Kpan, et elle appréhendait sa réaction. Samira relut une dernière fois son mail, attacha le document du projet en pièce jointe, puis l'envoya. Il fallait qu'elle en discute avec Inès afin de la convaincre du bien fondé de son projet. Elle inspira longuement et se leva de son fauteuil.
De retour chez lui Malick retrouva le calme légendaire de son appartement. Il soupira en refermant la porte, jeta un regard à sa chienne qui était à ses pieds. Elle tourna en rond, jappa légèrement, et renifla le tapis en soie comme si elle s’apprêtait à y marquer son territoire. — Tu n’as pas intérêt à bousiller ce tapis, murmura-t-il. Il coûte plus cher que ta gamelle pour l’année. Elle répondit par un jappement joyeux, remuant la queue. Malick roula des yeux. Il s’accroupit, l’observa un instant. Son poil était soyeux, ses yeux d’un noir brillant, pleins d’espièglerie. — Bon… il te faut un nom. Il hésita un moment, avant de murmurer : — euh Toupie. Ouais. Toupie, ça te va bien. Vu comme tu gigote dans tous les sens Elle jappa, ravie de son baptême. Il esquissa un sourire. Pendant qu’il allait chercher une vieille couverture pour lui faire un coin dans le salon, l'interphone sonna. Le concierge lui annonça une visite surprise. Il fronça les sourcils. Personne ne venait che






Bienvenue dans Goodnovel monde de fiction. Si vous aimez ce roman, ou si vous êtes un idéaliste espérant explorer un monde parfait, et que vous souhaitez également devenir un auteur de roman original en ligne pour augmenter vos revenus, vous pouvez rejoindre notre famille pour lire ou créer différents types de livres, tels que le roman d'amour, la lecture épique, le roman de loup-garou, le roman fantastique, le roman historique et ainsi de suite. Si vous êtes un lecteur, vous pouvez choisir des romans de haute qualité ici. Si vous êtes un auteur, vous pouvez obtenir plus d'inspiration des autres pour créer des œuvres plus brillantes. De plus, vos œuvres sur notre plateforme attireront plus d'attention et gagneront plus d'adimiration des lecteurs.