Home / Fantasi / Lady Madeleine, Yang Mulia Tak Ingin Melepaskanmu! / Bab 1. Terjebak di tubuh Villainess

Share

Lady Madeleine, Yang Mulia Tak Ingin Melepaskanmu!
Lady Madeleine, Yang Mulia Tak Ingin Melepaskanmu!
Author: Ralonya

Bab 1. Terjebak di tubuh Villainess

Author: Ralonya
last update Last Updated: 2026-01-28 16:07:09

Uhuk! Uhuk!

Paru-paru Emma terasa terbakar saat ia memuntahkan sisa air yang menyumbat tenggorokannya. Begitu matanya terbuka, ia tidak menemukan kegelapan gang sempit atau kepungan rentenir yang mengejarnya. Ia justru terbaring di atas ranjang sutra yang terlalu empuk.

“Sudah bangun? Sandiwara yang luar biasa, Lady Madeleine.”

Suara itu berat dan sedingin es. Emma menoleh ke arah pintu. Di sana, seorang pria berdiri tegap dengan jubah kebesaran khas bangsawan membalut tubuhnya. Wajahnya tampan, seperti pahatan dewa Yunani, namun tatapannya menghujam tajam ke arah Emma.

“Kakak, kau selalu seperti ini,” suara ketus lain menyambar. Di samping pria itu, berdiri seorang gadis berambut pirang dengan mahkota kristal yang berkilau—Rocella. “Apa kau harus menceburkan diri ke danau hanya agar ibu menghukumku lagi?”

Emma tidak menjawab. Ia justru terpaku menatap kedua tangannya sendiri. Kulit itu justru bersih dan halus, tanpa bekas luka parut akibat kerja kasar bertahun-tahun di rumah susun.

Ingatannya berputar liar. Detik-detik saat ia dikejar rentenir di gang sempit, silau lampu mobil yang membutakan, hingga sensasi dingin saat ia terlempar ke danau seharusnya menjadi akhir hidupnya. Namun, alih-alih mati, ia justru terbangun di tubuh asing yang terasa familiar di ingatannya.

“Lady Madeleine?” Lucas melangkah mendekat. Auranya terasa mengintimidasi. “Kenapa diam? Biasanya kau sudah berteriak histeris, menuduh pelayan sengaja mendorongmu.”

Madeleine, nama itu bergema di kepalanya.

“Ada apa, Kak? Apa tenggorokanmu masih sakit?” Rocella—adik tirinya— melangkah mendekat dengan gurat khawatir yang dipaksakan. “Atau mungkin Kakak terlalu banyak minum air danau?” ejeknya lagi, masih dengan nada polos yang dibuat-buat.

Saat melihat wajah polos tak bersalah itu, kilasan memori mengerikan menghantam kepala Emma. Suara tembakan di tengah hutan, tawa licik sang adik di tepi jurang, hingga darah yang merembes di gaun putihnya.

Lalu, rasa dingin air yang mematikan menusuk hingga ke paru-paru. Ingatan itu membuat dadanya sesak seketika. Tanpa sadar, Emma meremas gaunnya yang lembut hingga berkerut, mencoba menghalau rasa sakit yang terasa begitu nyata.

Ini bukan mimpi. Ini adalah masa lalu—ingatan sang pemilik tubuh sebelum ia mati mengenaskan.

Kesadaran pahit itu menghantamnya. Ia terjebak di tubuh Madeleine Moore, istri Putra Mahkota yang dibenci semua orang. Wanita licik yang haus cinta, yang rela melakukan apa pun demi menyingkirkan siapa saja yang mendekati suaminya.

Saat Rocella mengulurkan tangan dengan wajah penuh simpati palsu, Emma tidak bisa menahan diri lagi.

​Plak!

Ia menepis kasar tangan itu. “Jangan sentuh aku!” Napasnya memburu, dadanya naik-turun menahan gejolak amarah.

Rocella tersentak, sementara Lucas menyipitkan mata. Mereka belum pernah melihat Madeleine menatap mereka dengan ketakutan dan kebencian yang begitu nyata.

“Aku … aku tidak mau ke hutan itu!” gumam Emma sambil memeluk dirinya sendiri. Tubuhnya gemetar hebat. “Aku tidak mau mati di sana!” racaunya lagi.

“Hutan apa? Kau hanya jatuh ke danau istana, Madeleine. Berhenti bertingkah gila.”

Emma tidak menghiraukan suara di sekitarnya. Pikirannya terlempar jauh, tenggelam dalam alur komik fantasi kerajaan yang pernah ia baca berulang kali sebelum kematiannya.

Ia masih ingat panel-panelnya dengan jelas. Madeleine—sang antagonis—sengaja menjatuhkan diri ke danau istana. Adegan itu digambarkan dramatis: gaun basah menempel di tubuhnya, wajah pucat, air mata bercampur air danau. Semua itu bukan karena keputusasaan, melainkan demi menarik perhatian suaminya.

Dan ketika rencananya gagal, Madeleine memfitnah pelayan pribadinya sendiri, menuduh wanita malang itu mendorongnya ke danau. Panel berikutnya, sang pelayan diseret pergi, wajahnya pucat ketakutan, sementara Madeleine berdiri di balik selimut dengan tatapan puas.

Kejadian ini adalah titik balik. Tepat dua bulan sebelum ia kehilangan dukungan terakhir dari Kaisar.

Emma tersadar, itu bukan sekadar sandiwara bodoh untuk mencari perhatian suaminya. Itu jauh lebih berbahaya. Skenario yang direncanakan oleh wanita licik di depannya—sebuah langkah awal yang akan menyeretnya menuju akhir hidup yang mengenaskan.

‘Aku tahu bagaimana kisah ini berakhir,’ batin Emma pahit. Dua bulan lagi, ayah dan adiknya sendiri akan menjebaknya atas kejahatan besar. lalu mengeksekusinya demi menutupi perbuatan mereka.

Emma mendongak, menatap Lucas, pria ini adalah suaminya—pria yang tidak pernah mencintainya, dan kelak akan membiarkannya mati di tangan keluarganya sendiri tanpa sedikit pun rasa kasihan.

“Keluar!” usir Emma.

Lucas mengernyit. “Apa katamu?”

Ia tak percaya mendengar kalimat itu. Biasanya, istrinya akan merengek atau menangis histeris hanya untuk mendapatkan satu detik perhatiannya.

“Aku bilang keluar dari kamarku. Apa kau tuli?” ulang Emma lebih tegas. Ia menatap Lucas dan Rocella bergantian. “Aku sedang tidak ingin melihat wajah kalian.”

Para pelayan yang berdiri di sana tercengang. Ini kejadian yang tidak pernah terjadi—pertama kalinya Putri Mahkota mengusir suaminya dengan begitu kasar.

“Kak?” Rocella masih berusaha mendekat dengan wajah prihatin yang dibuat-buat.

Emma menatapnya jijik. Sikap polos itu hanyalah tameng untuk menutupi kebusukan hatinya.

“Kubilang pergi!”

Lucas menoleh ke arah pelayan yang menunduk takut di sudut ruangan. “Panggil dokter kembali! Suruh dia perkisa otak perempuan ini dengan benar.”

“Tidak perlu!” potong Emma cepat. Ia menegakkan punggung menatap suaminya tanpa gentar. “Aku baik-baik saja. Kalian semua silahkan keluar.”

Rocella gelisah. Ini di luar rencana. Biasanya, melihat kakaknya merengek memohon cinta lalu diusir dengan kasar oleh Lucas adalah hiburan baginya. Namun sekarang, ia justru menghadapi sikap dingin yang sama sekali tidak bisa ia baca.

Madeleine menunduk, menyembunyikan gemetar di jarinya. Jika ini memang titik awal ceritanya, maka waktunya sudah hampir habis.

Ia menatap adik tirinya yang berdiri tak jauh darinya, lalu melirik suaminya yang menatapnya seolah sedang menilai barang rusak.

‘Di cerita asli, aku mati setelah ini.’

**

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Lady Madeleine, Yang Mulia Tak Ingin Melepaskanmu!   Bab 6. Apa apa dengan Lucas?

    “Apakah itu berarti Yang Mulia mulai merindukan perhatianku yang menjijikkan itu?” tanya Madeleine telak. ​Lucas tersentak. Untuk sesaat, ekspresi dingin di wajahnya retak. Ia tidak langsung menjawab, hanya menatap Madeleine dengan tatapan yang sulit diartikan. ​“Aku tidak punya maksud apa-apa dengan berhenti berharap padamu, Yang Mulia,” lanjut Madeleine datar. “Aku berhenti mencintaimu karena aku sadar kehadiranku selama ini hanya mengganggumu. Kau sangat muak padaku, bukan? Jadi aku memilih berhenti. Seharusnya kau senang.” ​Lucas masih bungkam. Namun, Madeleine bisa melihat rahang pria itu mengeras dan jemarinya yang menggantung di sisi tubuh mengepal kuat hingga buku jarinya memutih. ​Madeleine tidak menunggu balasan. Ia hanya menatap Lucas sekilas, lalu berbalik menjauh tanpa beban. Meninggalkan Lucas yang terpaku menatap punggung istrinya. – Seminggu berlalu sejak insiden di taman belakang Istsna. Madeleine memutuskan untuk menjaga jarak, namun sikap Lucas justru me

  • Lady Madeleine, Yang Mulia Tak Ingin Melepaskanmu!   Bab 5. Ketenanganku mengganggunya

    Rocella membeku. Perubahan drastis kakaknya terasa seperti tamparan yang sulit ia cerna. Semuanya terjadi terlalu mendadak—sikap tenang itu, tatapan tajam itu, seolah-olah Madeleine yang selama ini bisa ia kendalikan telah lenyap. ​Dari sudut matanya, Rocella melihat para pelayan yang biasanya bersikap santai kini berdehem gugup. Mereka segera membetulkan posisi berdiri, lalu membungkuk sangat dalam saat Madeleine melintas di depan mereka. Sebuah rasa hormat yang murni karena wibawa, bukan karena takut akan amarah. ​Rocella mengepalkan tangannya hingga kuku-kukunya memutih. Amarah dan kegelisahan bercampur di dadanya melihat pengakuan yang baru saja didapatkan kakaknya dari para pelayan. ​Tanpa sepatah kata pun, Rocella berbalik dan pergi dari sana dengan langkah terburu-buru. Ia perlu menyusun ulang rencananya. Madeleine yang tenang ternyata jauh lebih berbahaya daripada Madeleine yang gila. – Sejak kejadian di taman, Lucas gelisah. Sosok Madeleine terus menghantui pikirann

  • Lady Madeleine, Yang Mulia Tak Ingin Melepaskanmu!   Bab 4. Panggil dengan benar

    Sore itu, Madeleine menyusuri taman belakang Istana. Pepohonan yang dahan-dahannya melengkung karena berat buah yang ranum menciptakan ketenangan tersendiri. Di tempat ini, hiruk-pikuk istana yang menyesakkan terasa begitu jauh. Madeleine menghirup udara dalam-dalam, merasa seolah beban di pundaknya sedikit terangkat. ​"Taman ini dibangun sendiri oleh mendiang Ratu terdahulu," jelas Erin, dayang istana yang melangkah tenang di belakang Madeleine. ​Madeleine menyentuh permukaan halus sebutir buah yang menggantung rendah. "Pasti beliau sangat mencintai tempat ini," gumamnya. ​Ia mengamati barisan pohon yang tertata rapi namun tetap terlihat alami. Di dunia aslinya, taman seperti ini hanya bisa ia lihat melalui layar ponsel atau buku sejarah. Merasakan tekstur daun dan mencium aroma manis buah yang matang secara langsung memberikan sensasi yang belum pernah ia bayangkan sebelumnya. ​"Beliau menghabiskan sebagian besar waktunya di sini saat merindukan kampung halamannya," tambah E

  • Lady Madeleine, Yang Mulia Tak Ingin Melepaskanmu!   Bab 3. Menghentikan pemantauan

    ​Pagi di Istana Auvrellis dimulai dengan keheningan yang kaku. ​Di paviliun timur, Emma berdiri mematung di depan jendela tinggi. Nama Madeleine masih muncul tanpa diundang—sebuah identitas dari kehidupan yang telah berakhir. Ia menarik napas pelan, mencoba menyingkirkan bayang-bayang masa lalunya. Sekarang ia bukan lagi Emma, melainkan Madeleine, sang Putri Mahkota yang ditakdirkan mati. Dan ia tidak akan membiarkan nasib itu terulang. Saat para pelayan masuk dengan langkah nyaris tak bersuara, Madeleine membiarkan mereka bekerja. Jemari mereka bergerak cekatan merapikan gaun dan menyisir rambutnya dengan sangat hati-hati. Ada ketegangan yang jelas dari para pelayan itu; mereka bekerja seolah sedang menghindari kesalahan fatal. ​Emma merasakan kecanggungan yang nyata. ​Di kehidupannya yang lama, ia adalah pihak yang menunduk dan menerima perintah. Ia terbiasa bekerja kasar untuk bertahan hidup, bukan duduk diam sementara orang lain mengurusi setiap detail tubuhnya. Kini, sa

  • Lady Madeleine, Yang Mulia Tak Ingin Melepaskanmu!   Bab 2. Menolak takdir

    "Semuanya keluar!" perintah Lucas akhirnya. "Jika tidak, dia akan mulai berteriak dan menuduh siapa pun yang dia inginkan." Suaranya dingin menusuk. ​"Baik, Yang Mulia," jawab para pelayan serempak sebelum bergegas meninggalkan ruangan. ​Rocella masih berdiri di sisi pria itu. Ia melirik, berharap mendapatkan pembelaan, namun Lucas bicara bahkan tanpa menoleh ke arahnya. ​"Kau juga keluar. Tinggalkan aku bersama istriku!" Rocella tersentak, rasa kesal kilat melintas di wajahnya. "Baik, Yang Mulia," sahutnya sambil mengangguk sopan. Namun, sebelum berbalik pergi, Emma sempat menangkap sorot kebencian yang tajam dari matanya. Setelah sang adik pergi, keheningan yang menyesakkan menyelimuti ruangan. Lucas melangkah mendekat, matanya menyipit penuh selidik. ​"Apa yang sedang kau mainkan, Maddie?" ​Maddie. ​Nama itu terdengar akrab sekaligus merendahkan di telinga Emma. Ia mengerutkan kening, merasakan debaran tidak nyaman di dadanya. ​"Lady Madeleine! Kau mendengarku?"

  • Lady Madeleine, Yang Mulia Tak Ingin Melepaskanmu!   Bab 1. Terjebak di tubuh Villainess

    Uhuk! Uhuk! Paru-paru Emma terasa terbakar saat ia memuntahkan sisa air yang menyumbat tenggorokannya. Begitu matanya terbuka, ia tidak menemukan kegelapan gang sempit atau kepungan rentenir yang mengejarnya. Ia justru terbaring di atas ranjang sutra yang terlalu empuk. “Sudah bangun? Sandiwara yang luar biasa, Lady Madeleine.” Suara itu berat dan sedingin es. Emma menoleh ke arah pintu. Di sana, seorang pria berdiri tegap dengan jubah kebesaran khas bangsawan membalut tubuhnya. Wajahnya tampan, seperti pahatan dewa Yunani, namun tatapannya menghujam tajam ke arah Emma. “Kakak, kau selalu seperti ini,” suara ketus lain menyambar. Di samping pria itu, berdiri seorang gadis berambut pirang dengan mahkota kristal yang berkilau—Rocella. “Apa kau harus menceburkan diri ke danau hanya agar ibu menghukumku lagi?” Emma tidak menjawab. Ia justru terpaku menatap kedua tangannya sendiri. Kulit itu justru bersih dan halus, tanpa bekas luka parut akibat kerja kasar bertahun-tahun di

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status