LOGIN
Uhuk! Uhuk!
Paru-paru Emma terasa terbakar saat ia memuntahkan sisa air yang menyumbat tenggorokannya. Begitu matanya terbuka, ia tidak menemukan kegelapan gang sempit atau kepungan rentenir yang mengejarnya. Ia justru terbaring di atas ranjang sutra yang terlalu empuk. “Sudah bangun? Sandiwara yang luar biasa, Lady Madeleine.” Suara itu berat dan sedingin es. Emma menoleh ke arah pintu. Di sana, seorang pria berdiri tegap dengan jubah kebesaran khas bangsawan membalut tubuhnya. Wajahnya tampan, seperti pahatan dewa Yunani, namun tatapannya menghujam tajam ke arah Emma. “Kakak, kau selalu seperti ini,” suara ketus lain menyambar. Di samping pria itu, berdiri seorang gadis berambut pirang dengan mahkota kristal yang berkilau—Rocella. “Apa kau harus menceburkan diri ke danau hanya agar ibu menghukumku lagi?” Emma tidak menjawab. Ia justru terpaku menatap kedua tangannya sendiri. Kulit itu justru bersih dan halus, tanpa bekas luka parut akibat kerja kasar bertahun-tahun di rumah susun. Ingatannya berputar liar. Detik-detik saat ia dikejar rentenir di gang sempit, silau lampu mobil yang membutakan, hingga sensasi dingin saat ia terlempar ke danau seharusnya menjadi akhir hidupnya. Namun, alih-alih mati, ia justru terbangun di tubuh asing yang terasa familiar di ingatannya. “Lady Madeleine?” Lucas melangkah mendekat. Auranya terasa mengintimidasi. “Kenapa diam? Biasanya kau sudah berteriak histeris, menuduh pelayan sengaja mendorongmu.” Madeleine, nama itu bergema di kepalanya. “Ada apa, Kak? Apa tenggorokanmu masih sakit?” Rocella—adik tirinya— melangkah mendekat dengan gurat khawatir yang dipaksakan. “Atau mungkin Kakak terlalu banyak minum air danau?” ejeknya lagi, masih dengan nada polos yang dibuat-buat. Saat melihat wajah polos tak bersalah itu, kilasan memori mengerikan menghantam kepala Emma. Suara tembakan di tengah hutan, tawa licik sang adik di tepi jurang, hingga darah yang merembes di gaun putihnya. Lalu, rasa dingin air yang mematikan menusuk hingga ke paru-paru. Ingatan itu membuat dadanya sesak seketika. Tanpa sadar, Emma meremas gaunnya yang lembut hingga berkerut, mencoba menghalau rasa sakit yang terasa begitu nyata. Ini bukan mimpi. Ini adalah masa lalu—ingatan sang pemilik tubuh sebelum ia mati mengenaskan. Kesadaran pahit itu menghantamnya. Ia terjebak di tubuh Madeleine Moore, istri Putra Mahkota yang dibenci semua orang. Wanita licik yang haus cinta, yang rela melakukan apa pun demi menyingkirkan siapa saja yang mendekati suaminya. Saat Rocella mengulurkan tangan dengan wajah penuh simpati palsu, Emma tidak bisa menahan diri lagi. Plak! Ia menepis kasar tangan itu. “Jangan sentuh aku!” Napasnya memburu, dadanya naik-turun menahan gejolak amarah. Rocella tersentak, sementara Lucas menyipitkan mata. Mereka belum pernah melihat Madeleine menatap mereka dengan ketakutan dan kebencian yang begitu nyata. “Aku … aku tidak mau ke hutan itu!” gumam Emma sambil memeluk dirinya sendiri. Tubuhnya gemetar hebat. “Aku tidak mau mati di sana!” racaunya lagi. “Hutan apa? Kau hanya jatuh ke danau istana, Madeleine. Berhenti bertingkah gila.” Emma tidak menghiraukan suara di sekitarnya. Pikirannya terlempar jauh, tenggelam dalam alur komik fantasi kerajaan yang pernah ia baca berulang kali sebelum kematiannya. Ia masih ingat panel-panelnya dengan jelas. Madeleine—sang antagonis—sengaja menjatuhkan diri ke danau istana. Adegan itu digambarkan dramatis: gaun basah menempel di tubuhnya, wajah pucat, air mata bercampur air danau. Semua itu bukan karena keputusasaan, melainkan demi menarik perhatian suaminya. Dan ketika rencananya gagal, Madeleine memfitnah pelayan pribadinya sendiri, menuduh wanita malang itu mendorongnya ke danau. Panel berikutnya, sang pelayan diseret pergi, wajahnya pucat ketakutan, sementara Madeleine berdiri di balik selimut dengan tatapan puas. Kejadian ini adalah titik balik. Tepat dua bulan sebelum ia kehilangan dukungan terakhir dari Kaisar. Emma tersadar, itu bukan sekadar sandiwara bodoh untuk mencari perhatian suaminya. Itu jauh lebih berbahaya. Skenario yang direncanakan oleh wanita licik di depannya—sebuah langkah awal yang akan menyeretnya menuju akhir hidup yang mengenaskan. ‘Aku tahu bagaimana kisah ini berakhir,’ batin Emma pahit. Dua bulan lagi, ayah dan adiknya sendiri akan menjebaknya atas kejahatan besar. lalu mengeksekusinya demi menutupi perbuatan mereka. Emma mendongak, menatap Lucas, pria ini adalah suaminya—pria yang tidak pernah mencintainya, dan kelak akan membiarkannya mati di tangan keluarganya sendiri tanpa sedikit pun rasa kasihan. “Keluar!” usir Emma. Lucas mengernyit. “Apa katamu?” Ia tak percaya mendengar kalimat itu. Biasanya, istrinya akan merengek atau menangis histeris hanya untuk mendapatkan satu detik perhatiannya. “Aku bilang keluar dari kamarku. Apa kau tuli?” ulang Emma lebih tegas. Ia menatap Lucas dan Rocella bergantian. “Aku sedang tidak ingin melihat wajah kalian.” Para pelayan yang berdiri di sana tercengang. Ini kejadian yang tidak pernah terjadi—pertama kalinya Putri Mahkota mengusir suaminya dengan begitu kasar. “Kak?” Rocella masih berusaha mendekat dengan wajah prihatin yang dibuat-buat. Emma menatapnya jijik. Sikap polos itu hanyalah tameng untuk menutupi kebusukan hatinya. “Kubilang pergi!” Lucas menoleh ke arah pelayan yang menunduk takut di sudut ruangan. “Panggil dokter kembali! Suruh dia perkisa otak perempuan ini dengan benar.” “Tidak perlu!” potong Emma cepat. Ia menegakkan punggung menatap suaminya tanpa gentar. “Aku baik-baik saja. Kalian semua silahkan keluar.” Rocella gelisah. Ini di luar rencana. Biasanya, melihat kakaknya merengek memohon cinta lalu diusir dengan kasar oleh Lucas adalah hiburan baginya. Namun sekarang, ia justru menghadapi sikap dingin yang sama sekali tidak bisa ia baca. Madeleine menunduk, menyembunyikan gemetar di jarinya. Jika ini memang titik awal ceritanya, maka waktunya sudah hampir habis. Ia menatap adik tirinya yang berdiri tak jauh darinya, lalu melirik suaminya yang menatapnya seolah sedang menilai barang rusak. ‘Di cerita asli, aku mati setelah ini.’ **“Erin, kirim seseorang ke rumah ibuku. Katakan padanya aku akan datang menemuinya,” ujar Madeleine dengan nada tenang.“Baik, Yang Mulia,” jawab Erin singkat sebelum segera pergi melaksanakan perintah itu.Pesan itu dikirim malam itu juga. Keesokan harinya Madeleine berangkat ke rumah keluarga Moore di distrik bangsawan lama ibu kota. Bangunan batu itu tampak tenang dari luar dan dikelilingi taman yang terawat rapi.Begitu memasuki aula depan, Madeleine langsung berpapasan dengan Rocella.Wanita itu berdiri di dekat tangga utama dan menatap Madeleine dengan ekspresi kesal yang sama seperti terakhir kali mereka bertemu. Jelas ia masih menyimpan kemarahan tentang pembicaraan perjodohan yang sempat terjadi sebelumnya.“Kau datang untuk membicarakan calon suamiku lagi bersama ibumu?” tanya Rocella dengan nada tajam.Madeleine menatapnya sekilas, ekspresinya tetap datar seolah pertanyaan itu tidak berarti apa-apa baginya. “Tidak,” jawabnya tenang. “Lagipula urusan pernikahanmu bukan hal ya
“Tapi, Yang Mulia, bisakah Anda memastikan bahwa ibu saya tidak akan ikut terseret dalam rencana ini?” tanya Madeleine dengan tenang.Kaisar Philip tidak langsung menjawab. Ia memandang Madeleine beberapa saat sebelum akhirnya berkata dengan nada tegas, “Keselamatan ibumu adalah tanggung jawabmu. Pastikan itu dengan caramu sendiri.”Madeleine mengangguk pelan. “Menurut Yang Mulia, apa yang seharusnya saya lakukan agar ibu saya benar-benar aman?”“Pindahkan dia ke tempat yang tidak bisa dijangkau oleh rencana ini,” jawab kaisar singkat, tanpa keraguan.Madeleine terdiam, menimbang kemungkinan yang ada. Setelah beberapa saat, ia berkata hati-hati, “Maksud Yang Mulia … membawanya kembali ke keluarganya?”“Calveris hampir tidak bisa disentuh oleh siapa pun,” kata Kaisar Philip dengan nada datar namun pasti. “Mereka adalah bangsawan tua yang dihormati oleh seluruh kaum bangsawan. Banyak orang memilih untuk tidak mengusik mereka, karena semua orang tahu bagaimana keluarga itu berdiri dan ap
“Pasti ada sesuatu yang penting sampai kau datang menemuiku,” ujar Kaisar Phillip.Ia duduk di balik meja kerjanya yang besar, sorot matanya tajam memperhatikan Madeleine yang berdiri di hadapannya. Sang Kaisar tidak terburu-buru berbicara lagi, seolah memberi waktu agar wanita itu menjelaskan sendiri maksud kedatangannya.Madeleine maju selangkah dan meletakkan sebuah kotak kecil di atas meja.“Saya membawa wewangian dari tanah kelahiran ibu saya,” katanya tenang. “Beliau berkunjung beberapa hari lalu dan menitipkannya untuk Anda. Katanya aroma ini baik untuk kesehatan.”Kaisar Phillip tidak langsung menyentuh kotak itu. Ia justru menatap Madeleine dengan lebih dalam.“Aku tahu ibumu datang,” katanya datar. “Dan aku juga tahu Duke Alaric beberapa kali terlihat bersamamu.”Ruangan itu mendadak terasa lebih sunyi.“Kalian tampaknya mulai cukup dekat setelah rapat dewan terakhir.”Kaisar Phillip memperhatikan setiap perubahan kecil pada wajah Madeleine, seolah menilai reaksinya. Namun
“Saya akan segera memesankannya untuk Anda. Namun pengiriman dari luar Auvreliss biasanya membutuhkan waktu yang cukup lama—”“Dua minggu,” potong Madeleine tenang. “Saya membutuhkan semua perhiasan itu dua minggu dari sekarang, Duchess.”Duchess Rowan sedikit menaikkan alisnya. “Itu waktu yang sangat singkat, Yang Mulia,” ujarnya jujur. Perhiasan dari luar kekaisaran biasanya harus melewati pedagang perantara dan perjalanan panjang sebelum tiba di istana.Namun ketika ia melihat tatapan Madeleine yang tegas, Duchess Rowan akhirnya mengangguk pelan.“Baiklah. Saya akan mengusahakannya. Dua minggu dari sekarang perhiasan itu akan tiba di istana.” Ia berhenti sejenak, lalu tersenyum sopan. “Namun sebelum itu, kita perlu membicarakan harganya.”Madeleine tidak tampak ragu sedikit pun. “Berapa pun harganya akan saya bayar.”Ia melirik ke arah Erin. “Siapkan surat pembayaran sekarang.”Erin segera menunduk hormat sebelum bergerak menyiapkan dokumen yang diminta oleh Madeleine.Setelah doku
“Saya akan membawa jawaban yang Anda inginkan.”Ucapan Alaric itu masih terngiang di kepala Madeleine bahkan setelah pria itu pergi. Ia sudah memberinya tiga informasi penting, namun tampaknya itu masih belum cukup untuk membuat sang duke benar-benar percaya. Pria itu jauh lebih berhati-hati daripada yang ia duga.Madeleine berjalan perlahan menyusuri jalur taman istana, sementara Erin mengikutinya beberapa langkah di belakang.“Harga yang cukup mahal untuk mendapatkan kepercayaan seseorang, bukan begitu, Erin?” katanya akhirnya.Erin mengangguk kecil. “Ya, Yang Mulia. Kepercayaan memang jarang datang tanpa harga.”Madeleine berhenti melangkah. Ia menengadah, memandang langit yang perlahan menggelap di atas halaman istana. Awan tebal mulai berkumpul, tanda hujan akan segera turun.Pikirannya kembali berputar pada kemungkinan lain. Rocella kemungkinan besar sudah menceritakan pada ayah mereka bahwa ia beberapa kali bertemu dengan Duke Alaric. Jika itu benar, ayahnya pasti mulai mencuri
Rocella mengepalkan tangannya erat. Dari sudut matanya ia menyadari para dayang dan pelayan di sekitar mereka diam-diam memperhatikan, meskipun berpura-pura tetap sibuk dengan pekerjaan masing-masing. Madeleine tahu Rocella berada dalam posisi yang sulit. Jika wanita itu bereaksi terlalu keras, orang-orang yang mendengar bisa saja menilai bahwa ia memang menyukai pria yang sudah beristri. Tapi jika ia menyangkalnya, Madeleine justru memiliki alasan untuk segera menanyakan siapa pria yang dimaksud dan menentukan waktu pernikahan mereka.“Jadi bagaimana, Lady?” tanya Madeleine dengan nada tenang. “Siapa pria yang kau maksud? Apa aku mengenalnya?”Mata Rocella memerah menahan rasa malu yang tiba-tiba menyeruak, namun ia tetap mengangkat dagunya dengan keras kepala. “Yang Mulia, tetap saja kau tidak bisa memaksaku menikah dengan pria pilihanmu!” balasnya.Madeleine tidak terpancing oleh nada itu. Ia hanya menatap Rocella dengan tenang sebelum berkata, “Kalau begitu katakan saja siapa or







