MasukStefano memeluk Gea lebih erat untuk menenangkan wanita itu. Melihat istrinya masih menyimpan rasa takut membuat hatinya terasa tidak tega."Lebih baik kamu istirahat sekarang, sudah malam.""Temani aku," kata Gea dengan sedikit manja.Stefano hanya mengangguk."Iya, aku temani."Mendengar jawaban itu, Gea langsung tersenyum kecil. Tangannya masih menggenggam tangan Stefano, seolah tidak ingin pria itu pergi lagi.Mereka berdua akhirnya berjalan menuju kamar.Sesampainya di dalam, Gea langsung duduk di atas ranjang. Stefano kemudian mengambil selimut dan merapikannya."Kamu mau tidur sekarang?" tanyanya.Gea mengangguk pelan."Iya. Tapi kamu jangan pergi."Stefano menatapnya beberapa saat."Aku tidak akan pergi."Dia kemudian duduk di sisi ranjang.Gea berbaring perlahan, tetapi tangannya masih menggenggam tangan Stefano.Stefano tersenyum tipis melihat tingkah istrinya."Kamu benar-benar takut, ya?"Gea mengangguk."Aku tidak tahu kenapa, tapi kejadian tadi terus terbayang di pikiran
Stefano sudah berusaha mencari orang tersebut bersama dengan para anak buahnya. Tetapi mereka tidak menemukan jejak orang itu sama sekali. Hal itu membuat dirinya sedikit geram sekarang. "Kita kehilangan jejaknya.""Cari orang itu sampe ketemu!" paksa Stefano karena dia yakin kalau orang itu mengincar Gea. "Kami sudah berusaha mencarinya.""Kalian periksa CCTV dan semuanya dengan baik, temukan hal yang janggal!" kata Stefano dengan nada yang sedikit tinggi. Dia harus menemukan semuanya dengan baik. Stefano tidak mau kehilangan jajak orang yang sudah berusaha untuk mencelakai Gea sekarang. Sampai ponselnya berdering tanda ada yang menghubunginya, dia melihat kearah layar yang rupanya itu adalah Gea. Stefano menghela napas panjang. Dia benar-benar tidak mau kehilangan jejak orang yang sudah berusaha mencelakai Gea.Namun, belum sempat dia kembali ke dalam gedung, ponselnya tiba-tiba berdering.Raut wajah Stefano berubah ketika melihat nama yang muncul di layar.Gea.Dia segera meng
Acara pertunangan antara Fadlan dan Andin sudah hampir selesai, mereka berdua sudah bersalaman dengan para tamu undangan. Begitu pun dengan para tamu undangan yang sudah mulai berpamitan. Hendra menghampiri anaknya. "Bagaimana dengan orang itu?" "Stefano sudah mencarinya, semoga akan segara ketemu," kata Fadlan. "Iya ayah. Lebih baik sekarang ayah beristirahat saja, kasian sampe kelelahan juga menyambut para tamu tadi," jelas Andin pada ayahnya. "Kamu benar Andin. Yaudah kalau begitu kalian urus semuanya. Aku akan istirahat.""Sepertinya para tamu undangan juga sudah pergi, ayo kita juga pergi juga," goda Fadlan pada Andin. Andin tidak langsung mengiyakan perkataan dari Fadlan, dia masih penasaran dengan pelakunya. "Aku masih penasaran, siapa pelakunya.""Sudah, nanti juga Stefano menemukan orangnya, apalagi dia juga punya banyak bodyguard yang pasti akan mudah menemukan orang itu, paling lambat juga seminggu.""Bagaimana dengan Gea, apa dia akan baik-baik saja?" tanya Andin ya
Stefano mendatangi tempat dapur para pelayan yang ada di belakang, dia ingin memastikan sendiri orang yang sudah mencoba untuk memberikan sesuatu pada Gea tadi. "Mana pelayan yang memberikan minum tadi?" tanya Stefano kepada kepala koki yang ada di sana. "Tadi ke arah sana.""Panggilkan dia sekarang!""Baik."Stefano yakin kalau orang itu pasti berniat jahat dan ingin mencelakai istrinya. Dia tidak akan membiarkan hal itu terjadi dengan begitu saja. Fadlan yang penasaran dengan orang tersebut pun akhirnya memutuskan untuk menghampiri Stefano. "Bagaimana?""Aku sudah menyuruh koki memanggil orang itu."Fadlan hanya mengangguk saja sambil tersenyum tipis, sebelum akhirnya seorang koki kembali datang menghampiri mereka. "Di mana dia?" tanya Stefano dengan nada yang tidak sabar. Koki itu menunduk ketakutan ketika hendak akan menjawab semuanya. Dia akhirnya memutuskan untuk mengatakan semuanya. "Mohon maaf Tuan. Dia tidak ada, sepertinya dia sudah pergi."Stefano mengepalkan tangann
Pesta pertunangan Fadlan dan Andin masih berlangsung meriah. Musik kembali terdengar, para tamu mulai berbincang satu sama lain, sementara Stefano masih berdiri di dekat Gea dengan tangannya yang sesekali menggenggam tangan istrinya.Namun, tidak jauh dari sana, wanita yang menyamar sebagai pelayan itu masih memperhatikan mereka.Senyum licik menghiasi wajahnya.Ia membawa sebuah nampan berisi beberapa gelas minuman, lalu berjalan perlahan mendekati meja tempat Gea dan Stefano berada."Permisi, Tuan. Minumannya," ucapnya sopan.Stefano yang sedang berbicara dengan salah satu rekan bisnisnya hanya mengangguk."Letakkan saja."Wanita itu menaruh beberapa gelas di atas meja.Namun, sebelum pergi, matanya sempat melirik ke arah Gea.Gea yang sejak tadi merasa ada seseorang memperhatikannya tiba-tiba menoleh.Tatapan mereka bertemu.Wanita itu langsung menundukkan wajahnya dan berpura-pura sibuk merapikan gelas.Gea mengernyitkan dahi."Kenapa?" tanya Stefano yang menyadari perubahan ekspr
Pesta pertunangan antara Fadlan dengan Andin dilangsungkan secara meriah, banyak sekali tamu undangan yang hadir di sana. Andin ditemani oleh Gea kini tengah berjalan menuju kearah para tamu undangan yang datang, banyak sekali sorot mata yang tertuju pada mereka. Gea membisikan sesuatu pada telinga Andin. "Kamu benar-benar jadi pusat perhatian sekarang."Dia sudah membisikan dengan lembut, tidak menyangka kalau semuanya akan jadi seperti ini. Sampai dia teringat akan sesuatu, bahkan dia tidak yakin semuanya. "Bukannya malah kamu yah yang menjadi pusat perhatian, lihat banyak sekali yang berbisik menanyakan siapa kamu," ujar Andin. Gea hanya tersenyum sekilas saja, sampai tak lama kemudian Stefano datang menghampiri Gea dan Andin. Banyak yang terkagum ketika melihat kedatangan dari Stefano. Sampai mata mereka semuanya tertuju kearah langkah pria itu. "Selamat yah, senang melihat kamu," kata Stefano. "Biasanya juga jarang muji," ledek Andin karena sudah tahu karakter dari kakakny
Gea langsung panik ketika melihat satpam itu memergoki dirinya dengan Stefano, bahkan dengan posisi mereka sekarang yang sulit sekali untuk diartikan. "Pak Stefano, anda dengan mahasiswa itu! Astaga."Satpam itu langsung pergi dengan begitu saja setelah melihat Gea dan Stefano dengan posisi Stefa
Perpustakaan Gea berada di sebuah perpustakaan dan mencari buku tentang sistem digital. Kebetulan sekali dia adalah seorang mahasiswa tehnik elektro. Dia mencari di tumpukan buku. "Mana sih, gak ada," umpat Gea dengan kesal. Dia tidak menemukan buku yang dia cari, padahal ini sudah hampir larut
"Itu sangat memalukan!"Gea sudah berada di sebuah kafe dan dia tengah menyusun gelas dengan benar. Dia terus saja memikirkan dosen barunya itu. Bisa-bisanya tadi dia malah asal masuk ke dalam mobil orang dan ternyata adalah mobil dosennya sendiri. "Memalukan. Kenapa malah masuk mobil dia pula?"G
Gea di depan pintu ruangan pribadi milik Stefano. Ada rasa perasaan gelisah ketika dia handak akan masuk ke dalam ruangan tersebut. Akhirnya dia memutuskan untuk mengetuk pintu dengan pelan. Tok tok tok..."Masuk."Mendengar suara maskulin itu membuat Gea sedikit ragu, sampai akhirnya dia memberan







