공유

Bab 6 

작가: Anonima
Setelah membawa abu Luna kembali dari pemakaman, Nadine meletakkan guci abu itu di aula leluhur Keluarga Jurika. Kemudian, dia pergi mengajukan penukaran tanah kepada pengelola pemakaman. Melihat guci kecil itu, hatinya terasa sakit lagi dan dia ingin menangis.

Ketika akhirnya kembali setelah menyelesaikan prosedur pemindahan guci abu, pemandangan yang dilihatnya langsung membuatnya ngeri.

"Di mana anakku?"

Nadine mencari di seluruh aula leluhur, tetapi tidak dapat menemukan guci abu Luna di mana pun.

"Kak Nadine, apa yang kamu cari?"

Nadine berbalik dan darahnya langsung mendidih. "Yessy, apa yang kamu lakukan?"

Yessy berpura-pura polos. Dia memegang guci yang abunya sudah dibuang ke selokan dan menggunakannya sebagai pot bunga.

"Kak Nadine, lihat guci baruku. Cantik, 'kan?" Yessy benar-benar bersikap sangat polos dan seperti tidak tahu apa-apa. Dia bahkan menunjukkan bunga-bunga di guci itu kepada Nadine.

"Di mana isi guci?" tanya Nadine sambil mencengkeram bahu Yessy dengan erat.

Yessy pun menjerit kesakitan, "Kak Nadine, kamu menyakitiku! Aku nggak tahu apa yang kamu bicarakan, aku cuma merasa guci ini cantik ...."

Nadine benar-benar hampir gila. Dia sudah kehilangan anaknya. Kenapa dia bahkan tidak bisa menyimpan kenangan terakhir anaknya?

"Kutanya kamu untuk yang terakhir kalinya. Di mana isi guci ini?"

Seolah-olah merasa takut pada Nadine yang memancarkan aura membunuh, Yessy menjawab dengan lemah, "Aku ... membuangnya ke selokan ...."

"Plak!"

Nadine menampar Yessy dengan cepat dan tegas. "Beraninya kamu berbuat begitu!"

Suara tamparan yang nyaring itu bergema di seluruh aula leluhur. Ketika Ferrick tiba, Yessy sedang duduk menangis di lantai.

"Yessy! Nadine, apa-apaan kamu?" Ferrick berdiri mengadang di depan Yessy dan berujar dengan mata sedingin es, "Memangnya kamu nggak bisa bicara baik-baik? Kenapa harus mukul wanita hamil?"

Nadine menjawab dengan suara yang gemetar karena marah, "Dia membuang abu Luna! Aku bahkan nggak punya lagi kenangan anakku!"

Yessy terisak dan berkata, "Aku nggak tahu itu abu .... Kupikir itu cuma guci cantik berisi sampah ...."

Nadine hampir pingsan. Dia mengangkat tangannya untuk menampar Yessy lagi, tetapi Ferrick menghentikannya.

"Cukup! Dia juga nggak sengaja, buat apa kamu salahkan dia? Anakmu sendiri yang nggak bisa bertahan hidup, apa kamu mau celakai anak orang lain juga?"

Nadine tidak percaya pada apa yang didengarnya. Dia tidak percaya pria di hadapannya begitu berpihak pada Yessy.

"Ferrick, Luna juga anakmu!"

Seruan pilu Nadine membungkam pria itu untuk sesaat.

"Sudahlah, aku akan menghukumnya nanti. Gimanapun, Yessy nggak sengaja. Pada akhirnya, itu salahmu sendiri karena nggak menyimpannya dengan benar."

Namun, ini jelas-jelas adalah aula leluhur ....

Pria itu menggendong gadis itu dan pergi tanpa menoleh.

Hanya tersisa Nadine yang memeluk guci itu. Setelah sekian lama, air matanya tetap tidak mengalir.

'Luna, maaf. Mama bahkan nggak mampu lindungi abumu. Mama memang nggak berguna,' ucap Nadine dalam hati.

Ferrick dan Yessy keluar hingga malam. Tepat sebelum tidur, Nadine menerima foto dari Yessy. Itu adalah foto yang merekam jejak gairah mereka. Dia berdiri di depan cermin dan mengambil foto pantulannya bersama Ferrick. Kata-katanya juga penuh provokasi.

[ Lihat, meski aku hamil, Ferrick masih nggak bisa menahan diri dan menginginkanku. ]

[ Kasihan sekali kamu. Setelah kehilangan anakmu, kamu masih mau celakai anakku. ]

[ Luna apanya? Itu cuma tumpukan daging busuk yang dibakar menjadi abu. Jangan terlalu terobsesi jadi seorang ibu, ya. ]

Membaca kata-kata kejam itu, Nadine merasa hatinya seperti ditusuk-tusuk oleh pisau. Dia bangkit dan menghubungi nomor Nayla.

"Kamu sudah tidur? Ada yang mau kukatakan padamu."
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요

최신 챕터

  • Lagu Duka di Musim Dingin   Bab 21

    "Ferrick!"Pada saat kritis, Ferrick mengadang di depan Nadine dan menggantikan Nadine menerima tusukan itu.Kemunculan Ferrick yang tiba-tiba mengejutkan pria itu. Nyalinya langsung hilang dan dia berbalik untuk kabur. Namun, dia segera ditangkap oleh polisi yang datang.Nadine berkata dengan suara gemetar, "Bukannya aku sudah suruh kamu pergi ...."Ferrick ambruk dalam pelukan wanita itu. Wajahnya terlihat pucat karena kehilangan banyak darah. "Aku mengkhawatirkanmu ... jadi ... aku mengikutimu ....""Jangan tidur, Ferrick!"Melihat Ferrick hendak memejamkan mata, Nadine pun menangis putus asa. Meskipun tidak lagi mencintai pria ini, dia tidak ingin melihat Ferrick mati dalam pelukannya."Kamu masih punya perasaan untukku ... 'kan?" Pria itu tersenyum lemah dan berujar, "Bisa nggak kamu jadi ... pemeran utama wanitaku .... Hanya untukku ...."Nadine sudah tidak mampu berbicara lagi. Dia hanya memeluk Ferrick sambil menangis.Tak lama kemudian, ambulans tiba. Ferrick dilarikan ke rum

  • Lagu Duka di Musim Dingin   Bab 20

    Tidak lama lagi, tur dalam negeri Rombongan Opera White Swan akan segera berakhir.Selama beberapa hari terakhir, Nadine telah melakukan perjalanan intensif antar kota-kota besar di seluruh negeri. Dia menampilkan pertunjukan demi pertunjukan di bawah tekanan fisik yang luar biasa besar. Meskipun kelelahan, tepuk tangan meriah dari penonton membuat semuanya terasa berharga. Inilah makna sejati hidupnya.Namun, ada hal yang mengejutkan semua orang. Ke kota mana pun Nadine terbang, Ferrick selalu membeli tiket penerbangan yang sama supaya bisa mendarat bersama Nadine. Dia dengan penuh perhatian menyiapkan kamar dan perlengkapan untuk seluruh rombongan opera Nadine. Dia bukan hanya memesan kamar hotel terbaik, tetapi juga menanggung semua biaya perjalanan.Ferrick terlihat seperti seorang pemuda yang sedang jatuh cinta dan mengikuti Nadine tanpa lelah. Dalam menghadapi pendekatan Ferrick yang berlebihan, Nadine merasa sangat tertekan. Dia berulang kali menghitung mundur waktu dan berhara

  • Lagu Duka di Musim Dingin   Bab 19

    Ferrick merasa seperti ada orang yang menghantam kepalanya. Suaranya dipenuhi ketidakpercayaan saat berujar, "Apa katamu? Kita sudah saling kenal selama sepuluh tahun dan menikah selama lima tahun. Memangnya kamu bisa berhenti mencintai semudah itu?"Ferrick melanjutkan dengan sangat sedih, "Aku tahu aku salah. Aku sudah coba segala cara untuk menebus kesalahanku. Aku cuma mau kamu maafkan aku. Kenapa kita nggak bisa memulai dari awal?"Nadine tak ingin membuang-buang waktu berbicara dengannya lagi. "Aku sudah berhenti mencintaimu sejak kamu lebih memilih untuk memihak pada Yessy. Jangan ganggu aku di waktu kerjaku. Aku nggak mau ketemu sama kamu lagi." Ketika teringat anak yang dikandung Nadine selama tujuh bulan meninggal dalam kandungan karena rasa iba sesaatnya, Ferrick dipenuhi penyesalan yang mendalam. Itu adalah anak yang dia dan Nadine dambakan. Namun, dia bahkan tidak sempat melihat anak itu untuk yang terakhir kalinya.Melihat Nadine yang bersinar terang di atas panggung, r

  • Lagu Duka di Musim Dingin   Bab 18 

    Ferrick tidak pernah membayangkan bahwa usahanya untuk bersikap baik kepada Nadine justru akan mendorong Nadine makin jauh. Malam itu, dia pergi ke ruang bawah tanah untuk menemui Yessy.Pada saat ini, gadis itu terlihat pucat pasi. Akibat kekurangan sinar matahari yang berkepanjangan, tubuhnya menjadi seputih dan serapuh kertas. Darahnya juga diambil setiap minggu. Dokter yang dipekerjakan Ferrick tetap memperhatikan tanda-tanda vital Yessy sehingga dia tetap hidup, tetapi tidak benar-benar hidup."Berapa banyak ... darah yang mau kamu ambil sampai kamu puas?" tanya Yessy.Ferrick melempar pisau terbang ke arah Yessy. Lehernya pun langsung berdarah."Masih belum cukup. Kamu nggak akan bisa lunasi utangmu ke Nadine seumur hidupmu."Yessy ingin memaki Ferrick, tetapi dia bahkan tidak memiliki kekuatan untuk bergerak. Entah kenapa, melihat Yessy seperti ini tidak memberi Ferrick rasa puas atas balas dendamnya. Bahkan saat menyaksikan Yessy menderita, wajahnya juga tidak menunjukkan sedi

  • Lagu Duka di Musim Dingin   Bab 17

    "Kamu pikir dengan membelikanku hadiah, atau duduk di sini untuk ganggu dan pengaruhi pekerjaanku, aku akan berubah pikiran tentangmu?" tanya Nadine.Suara Ferrick terdengar agak panik, "Mengganggu? Aku cuma nggak tahan lihat kamu dekat-dekat sama pria-pria itu! Kamu istriku. Aku nggak akan biarkan kamu memeluk atau bermesraan dengan mereka seperti itu!""Ini karierku, pekerjaanku!" Nadine meninggikan suaranya. Kedinginan dan kekecewaan di matanya langsung menusuk hati pria itu. "Apa membunuh anakku masih belum cukup? Kamu harus hancurkan karierku juga? Berapa banyak lagi barang yang mau kamu renggut dariku sebelum kamu merasa puas?" Ferrick mencoba mengatakan sesuatu, tetapi rentetan ucapan tajam Nadine membuatnya tidak bisa berkata-kata."Kenapa? Kamu bisa tidur dengan wanita lain, tapi aku bahkan nggak bisa punya karierku sendiri? Aku nggak mencintaimu lagi. Apa surat kesepakatan cerai itu belum sampai ke tanganmu?" Kata-kata Nadine menusuk hati pria itu seperti duri. Penyesalan d

  • Lagu Duka di Musim Dingin   Bab 16

    Rambut Ferrick sedikit acak-acakan. Dia memegang buket bunga besar di satu tangan dan menjinjing tas berisi hadiah di tangan lainnya."Permisi, apa ada seorang wanita bernama Nadine di sini? Dia istriku!" Ferrick dengan cemas mencari sosok Nadine di ruang istirahat. Namun, Nadine sudah pergi melalui pintu samping yang khusus dipakai para aktor. Nadine belum tahu harus bagaimana menghadapi Ferrick. Dia juga tidak ingin mendengar sepatah kata cinta pun dari mulut pria itu. Itu akan mengingatkannya pada Luna dan Nayla yang telah meninggal."Maaf, Pak. Nggak ada orang yang namanya Nadine di sini." Jade dengan santai memegang sebatang rokok di antara jari-jarinya. Matanya yang dingin terlihat samar dalam asap tipis. "Tolong jangan ganggu pertunjukan kami, terima kasih.""Mana mungkin? Pemeran utama wanita di atas panggung barusan adalah Nadine!"Ferrick buru-buru mengeluarkan ponselnya untuk menunjukkan foto Nadine kepada Jade. "Aku suaminya. Aku sudah mencarinya begitu lama!"Setelah mel

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status