แชร์

Langkah Terakhir Grand Duchess
Langkah Terakhir Grand Duchess
ผู้แต่ง: Leachaa1

Bab 1

ผู้เขียน: Leachaa1
last update วันที่เผยแพร่: 2026-04-17 22:21:38

Aroma amonia yang menyengat adalah hal pertama yang menyambut indra penciuman Celina. Kepalanya terasa seolah dihantam oleh palu godam, berdenyut mengikuti detak jantungnya yang tidak beraturan. Pandangannya kabur, hanya menangkap siluet langit-langit tinggi dengan lukisan fresco bergaya Renaisans yang rumit.

"Dia sudah bangun! Cepat panggilkan tabib!" sebuah suara melengking penuh kecemasan terdengar di dekat telinganya.

Celina Camilla, seorang CEO wanita yang baru saja memenangkan tender triliunan rupiah sebelum mobilnya dihantam truk kontainer, mencoba menggerakkan jemarinya. Dingin. Kulitnya terasa seperti porselen yang membeku.

"Nyonya? Nyonya Vivianne? Anda bisa mendengar saya?"

Vivianne? Celina membatin bingung. Nama belakangnya adalah Camilla. Siapa itu Vivianne?

Saat matanya berhasil fokus, ia tidak menemukan ruang ICU rumah sakit yang serba putih. Sebaliknya, ia berada di sebuah kamar megah yang luasnya hampir setara dengan penthouse-nya di Jakarta. Tirai beludru merah marun menjuntai dari jendela-jendela besar, dan furnitur kayu ek berukir emas menghiasi setiap sudut.

Pintu besar kamar itu terbanting terbuka. Dentuman itu membuat semua pelayan di ruangan itu menunduk ketakutan, tubuh mereka gemetar.

Langkah kaki sepatu bot yang berat bergema di lantai marmer. Seorang pria melangkah masuk. Ia mengenakan seragam militer hitam dengan lencana emas berbentuk serigala di bahunya. Tubuhnya tinggi tegap, wajahnya seolah dipahat dari batu marmer yang paling sempurna namun paling dingin. Matanya sebiru es, tajam, dan saat ini, penuh dengan rasa muak.

Itu adalah Lucien Ashford De Valois. Grand Duke yang dikenal sebagai "Iblis Medan Perang".

"Cukup, Celina," suara Lucien berat dan rendah, membawa aura intimidasi yang menyesakkan napas. "Sandiwara bunuh diri ini adalah tindakan paling menjijikkan yang pernah kau lakukan hanya untuk mendapatkan perhatianku."

Celina Camilla mengerutkan kening. Ia mencoba duduk, dibantu oleh seorang pelayan muda yang terisak. Ingatan asing tiba-tiba menghantam otaknya seperti arus listrik.

Celina Vivianne Valois. Putri manja dari keluarga Duke Cavendish. Wanita yang terobsesi pada suaminya sendiri hingga rela meminum racun dosis rendah hanya agar suaminya pulang dari perbatasan. Wanita yang dibenci oleh seluruh pelayan karena sifatnya yang arogan dan temperamental.

"Sandiwara?" Celina Camilla mengulang kata itu dengan suara serak. Ia menatap telapak tangannya yang pucat. Jadi benar, dia sudah mati dan sekarang terjebak di tubuh wanita menyedihkan ini.

Lucien mendengus kasar. Ia berdiri di ujung tempat tidur, menatap istrinya seolah wanita itu adalah kotoran yang menempel di sepatunya. "Kau pikir dengan hampir mati, aku akan merasa bersalah? Kau yang memaksa pernikahan ini terjadi dengan bantuan ayahmu. Jangan harap aku akan memberikan setitik pun rasa kasihan padamu."

Celina tidak bergeming. Alih-alih gemetar, dia justru meregangkan otot lehernya yang kaku. Jiwa Camilla di dalam tubuh itu sedang mengalkulasi situasi. Dari memori samar pemilik tubuh asli, pria di depannya ini adalah mesin pembunuh berdarah dingin yang dihormati kekaisaran, sekaligus suami yang tidak pernah menyentuh istrinya sendiri selama dua tahun pernikahan.

'Dua tahun menyia-nyiakan aset secantik ini dan wilayah sekaya Cavendish? Pria ini pasti punya masalah di otaknya,' pikir Celina sinis.

Ia menatap balik mata biru Lucien. Tidak ada lagi binar cinta yang memuja atau tangis memohon yang biasanya ditunjukkan oleh Celina yang asli. Matanya kini tenang, jernih, dan penuh perhitungan.

"Grand Duke Lucien," ucap Celina dengan nada datar namun tegas. Lucien sedikit tersentak mendengar istrinya memanggilnya dengan gelar formal, bukan dengan rengekan "Suamiku" yang biasa.

"Pertama, aku tidak butuh rasa kasihanmu. Kedua, jika kau menganggap ini sandiwara, maka anggaplah ini pertunjukan terakhirku," lanjut Celina. Ia menyingkap selimut sutranya dan mencoba turun dari tempat tidur meski kakinya masih lemas.

"Apa yang kau lakukan?" tanya Lucien, alisnya bertaut.

Celina berdiri tegak, meski kepalanya masih berputar. Ia menatap langsung ke arah Lucien, tinggi mereka terpaut jauh, tapi aura dominasi Celina tidak kalah. "Aku lapar. Aku hampir mati, dan hal terakhir yang ingin kudengar adalah ocehanmu yang tidak berguna. Jika kau tidak punya hal penting selain menghinaku, silakan keluar. Pintunya ada di sana."

Lucien menyipitkan mata, tangannya mengepal di sisi tubuhnya. "Kau... berani mengusirku dari rumahku sendiri?"

"Rumah ini milik keluarga Valois, dan secara hukum, aku adalah Grand Duchess Valois. Artinya, ini juga rumahku," jawab Celina tenang. Ia beralih pada pelayan muda di sampingnya. "Siapa namamu?"

"Ma-Mary, Nyonya," jawab gadis itu gagap.

"Mary, bawakan saya menu sarapan terbaik yang bisa disajikan koki kastel ini. Steak daging tenderloin dengan tingkat kematangan medium rare, sup jamur truffle, dan sebotol anggur merah terbaik tahun ini. Kepalaku pening, aku butuh kalori," perintah Celina mutlak.

Mary melirik Lucien dengan ketakutan, namun Celina menjentikkan jarinya di depan wajah Mary. "Aku yang memerintahmu. Pergi."

Setelah Mary berlari keluar, Celina kembali menatap Lucien yang masih mematung karena terkejut. "Masih di sini, Yang Mulia? Atau Anda ingin bergabung sarapan denganku?"

Lucien mendesis, kemarahan berkilat di matanya. "Aku tidak tahu permainan apa lagi yang sedang kau mainkan, Celina. Tapi jangan pikir perubahan sikapmu ini akan mengubah fakta bahwa aku membencimu."

"Baguslah," sahut Celina santai sambil berjalan menuju meja rias. "Kebencianmu adalah hal yang paling konsisten dalam pernikahan ini. Aku menghargai kejujuranmu. Sekarang, tolong tutup pintunya dari luar. Suara sepatumu membuat kepalaku makin sakit."

Lucien berbalik dengan amarah yang meluap, jubah militernya berkibar saat ia melangkah keluar dengan kasar. Cedric menyusul di belakangnya, namun sebelum pergi, pengawal itu sempat melirik Celina sekali lagi dengan tatapan penuh rasa ingin tahu.

Begitu pintu tertutup, Celina Camilla mengembuskan napas lega. Ia duduk di depan cermin besar dan menatap wajah barunya.

Wajah ini luar biasa cantik. Rambut hitam yang halus, dan fitur wajah yang aristokrat. Sayangnya, wajah ini sebelumnya dimiliki oleh wanita yang tidak punya harga diri.

"Baiklah, Celina Vivianne," gumamnya pada pantulan di cermin. "Kau mungkin menyerah pada hidupmu karena pria dingin itu. Tapi aku? Aku tidak akan membiarkan hidup mewah ini sia-sia. Jika dia ingin perang dingin, aku akan memberinya musim dingin abadi. Tapi sebelum itu... aku butuh uang dan surat cerai."

Celina tersenyum miring. Di dunia asalnya, dia adalah pemangsa di dunia bisnis. Di dunia kerajaan ini, dia hanya perlu menyesuaikan beberapa strategi.

Tak lama kemudian, Mary kembali membawa nampan berisi makanan. Aroma daging panggang memenuhi ruangan. Celina mulai makan dengan elegan namun rakus. Sambil mengunyah, otaknya bekerja cepat. Ia perlu tahu posisi keuangan keluarga Cavendish, kekuasaan suaminya, dan siapa saja musuhnya di istana ini.

"Mary," panggil Celina sambil menyesap anggur merahnya.

"Ya, Nyonya?"

"Bawakan seluruh buku kas dan laporan keuangan kediaman ini ke mejaku sebelum jam dua siang."

Mary tampak bingung. "Tapi Nyonya, biasanya Anda hanya peduli pada anggaran gaun dan perhiasan..."

Celina meletakkan gelas anggurnya dengan dentingan pelan yang berwibawa. "Itu kemarin. Mulai hari ini, aku peduli pada segalanya. Dan Mary?"

"Ya, Nyonya?"

"Jangan pernah panggil aku dengan suara gemetar lagi. Aku tidak memakan pelayanku. Aku hanya memakan orang-orang yang tidak berguna. Pastikan kau termasuk kategori yang berguna."

Mary menelan ludah dan membungkuk dalam. "Baik, Nyonya! Saya akan segera menyiapkannya!"

Di lorong luar kamar, Lucien berhenti melangkah. Ia masih bisa mendengar suara tegas istrinya dari balik pintu. Ada sesuatu yang berbeda. Nada bicara, tatapan mata, bahkan cara wanita itu bernapas terasa asing.

"Cedric," panggil Lucien tanpa menoleh.

"Ya, Yang Mulia?"

"Awasi dia. Jika dia mulai melakukan hal gila lagi atau mencoba menghubungi ayahnya untuk mengadu, laporkan padaku segera."

"Baik, Yang Mulia. Namun..." Cedric ragu sejenak. "Tidakkah Anda merasa sang Grand Duchess tampak... sangat berbeda? Beliau tidak menangis saat Anda menghinanya tadi."

Lucien terdiam. Biasanya, Celina akan berlutut, memegang ujung jubahnya, dan menangis tersedu-sedu meminta ampun. Tapi tadi? Wanita itu bahkan tidak berkedip.

"Mungkin itu taktik baru agar aku penasaran," gumam Lucien sinis, meski ada sedikit rasa tidak nyaman di hatinya. "Lihat saja berapa lama dia bisa bertahan berpura-pura menjadi orang lain."

Lucien melangkah pergi, tidak menyadari bahwa wanita di dalam kamar itu benar-benar bukan lagi wanita yang ia kenal. Dan itu adalah awal dari runtuhnya tembok es yang selama ini ia bangun.

***

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Langkah Terakhir Grand Duchess   Bab 98

    Di luar kapal induk, cincin ketiga The Origin mulai meledak dari dalam, mengeluarkan api biru dan emas yang bergejolak. "Kapal induk mereka mengalami malfungsi total!" teriak Julian di jembatan komando. "Semua sistem pertahanan mereka mati! Lucien, sekarang saatnya!" Lucien mengangkat pedangnya tinggi-tinggi. "Semua kapal, tembakkan meriam utama ke arah inti merah! Hancurkan pusat kesadaran mereka!" Penutup Bab: Detik-Detik Penentuan Bab 74 berakhir di titik tertinggi ketegangan. Ratusan berkas cahaya dari armada aliansi Aethelgard dan The Awakened menyatu menjadi satu meriam energi raksasa yang menghantam tepat di pusat mata merah The Origin. Di dalam Mainframe, Arthurian memeluk Lyra erat-erat saat dunia digital di sekeliling mereka mulai runtuh menjadi pecahan-pecahan cahaya. Mereka bisa mendengar jeritan terakhir dari entitas kuno yang telah meneror galaksi selama ribuan tahun itu saat ia perlahan-lahan padam. Namun, di tengah runtuhnya kapal induk yang bergaya benua i

  • Langkah Terakhir Grand Duchess   Bab 97

    Gemuruh mesin kuantum dari ratusan kapal perang Aethelgard menciptakan getaran konstan yang merambat hingga ke tulang. Di jembatan komando The Aethelgard's Pride, atmosfer terasa begitu tegang hingga setiap tarikan napas terasa berat. Di hadapan mereka, ruang hampa udara tidak lagi kosong. Dimensi di depan mereka meliuk dan terdistorsi, menampakkan wujud asli dari kapal induk The Origin.Ukuran makhluk mekanis itu mengerikan. Itu bukan lagi sebuah kapal, melainkan sebuah struktur seukuran benua yang berbentuk seperti jalinan cincin obsidian raksasa yang berputar mengelilingi inti merah menyala. Inti itu adalah mata The Origin, sebuah superkomputer organik yang telah menelan ribuan peradaban sebelum ini."Pola pertahanan mereka aktif!" seru Julian dari konsol taktis. "Ribuan unit pencegat Drone keluar dari cincin luar. Mereka membentuk formasi dinding!""Jangan biarkan formasi mereka mengunci kita!" Lucien memberi komando, suaranya menggelegar melewati sistem komunikasi antarkapal. "Kl

  • Langkah Terakhir Grand Duchess   BAB 96

    Setibanya di Oakhaven, kapal Arthurian mendarat darurat di alun-alun istana. Rakyat yang tadinya panik karena propaganda Varek kini terdiam melihat Ratu mereka keluar dari kapal yang hancur, didampingi oleh Pangeran yang terluka parah. Belum sempat mereka bernapas, kapal-kapal dari klan-klan besar mendarat mengepung istana. Lord Varek, yang berhasil mendaratkan kapalnya meski dengan sistem manual, keluar dengan wajah penuh amarah. "Rakyat Aethelgard! Lihatlah!" Varek menunjuk ke arah bulan yang masih berpendar emas. "Mereka menggunakan sihir terlarang untuk berkomunikasi dengan musuh! Mereka mengorbankan menantu kita untuk eksperimen Bumi mereka! Keluarga Valois adalah ancaman bagi keberadaan kita!" Namun, sebelum Varek bisa melanjutkan narasinya, sebuah transmisi raksasa memotong seluruh layar publik di planet tersebut. Itu bukan transmisi dari istana, melainkan dari sisa-sisa armada Arsitek yang telah "sadar".

  • Langkah Terakhir Grand Duchess   Bab 95

    Pemandangan di bulan mati itu sungguh mengerikan. Permukaannya tertutup oleh bangkai-bangkai mesin tua yang telah ditinggalkan. Di tengah sebuah kawah raksasa, berdiri tiga sosok yang menyerupai para Arsitek, namun cahaya mereka tidak merah tajam, melainkan putih lembut yang bergetar. Saat Celina melangkah keluar dari kapal, salah satu entitas itu membungkuk—sebuah gerakan yang sangat manusiawi bagi makhluk logika. "Prime Seed... kami telah menanti," suara itu terdengar seperti harmoni musik yang sedih. "Kami adalah mereka yang mulai 'mengingat' melalui sisa-sisa jiwa bangsamu. Kami tidak lagi ingin menghancurkan." "Lalu apa yang kalian inginkan?" tanya Celina dengan berani. "Kami ingin membelot. Kami ingin memberikan koordinat pusat pemrosesan The Origin. Namun, sebagai gantinya, kami membutuhkan 'Kunci' yang ada pada subjek itu," entitas itu menunjuk ke arah Lyra. "Bukan untuk kami kuasai, tapi untuk ditanamkan ke dalam i

  • Langkah Terakhir Grand Duchess   Bab 94

    Keheningan yang menyelimuti aula pengobatan istana Oakhaven terasa sangat berat, seolah-olah oksigen di ruangan itu telah digantikan oleh muatan listrik yang statis. Lyra terbaring di atas ranjang kristal, namun ia tidak lagi tampak seperti wanita yang sama yang meninggalkan dermaga beberapa hari lalu. Di balik kulit leher dan lengannya, garis-garis cahaya keemasan berpendar redup, membentuk pola fraktal yang terus bergerak mengikuti irama napasnya. Arthurian duduk di sampingnya, menggenggam tangan Lyra yang terasa panas—bukan panas karena demam, melainkan panas seperti mesin yang bekerja terlalu keras. Di ujung ruangan, Celina dan Lucien berbicara dengan nada rendah bersama Elias Thorne dan Elena. "Dia bukan lagi sekadar manusia, tapi dia juga bukan Android," bisik Elias sambil menatap layar pemantau yang menampilkan aktivitas otak Lyra yang luar biasa tinggi. "Jiwa-jiwa di Ruang Antara itu... mereka menyuntikkan seluruh arsip memori kolektif manusia ke dalam kesadarannya. Lyra se

  • Langkah Terakhir Grand Duchess   Bab 93

    Di Oakhaven, suasana tidak kalah mencekam. Arthurian tidak tidur sejak ledakan itu. Ia berdiri di depan meja peta holografik, menatap titik frekuensi yang ditemukan Elena. Titik itu berkedip lemah, seperti lilin yang tertiup angin di tengah badai."Kita tidak bisa hanya melompat ke sana, Arthur," peringat Elian. "Ruang Antara adalah zona anomali. Tanpa jangkar energi yang kuat, kapal kita akan terurai menjadi partikel atom sebelum sampai ke koordinat Lyra.""Kita punya jangkarnya," sahut Elena. Ia melangkah maju, wajahnya tampak lebih dewasa meski baru beberapa hari sejak kebangkitannya. "Aku bisa menggunakan resonansi genetik Ratu Celina untuk mengunci posisi Lyra. Tapi aku butuh bantuan Kak Callista untuk menstabilkan struktur ruangnya."Callista mengangguk. "Aku akan menggunakan kekuatan akar Aether untuk menenun jalur dimensi. Tapi Arthur, ini akan menguras seluruh cadangan kristal energi istana. Jika kita gagal, Oakhaven akan lumpuh total tanpa pertah

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status