LOGINBab Utama : 3/3 Selesai.
Nyawa Shu Jin terancam tapi ia tampak tenang.Pedang Dewa Ilahi diayunkan dengan santainya.“FIRE PHOENIX BLAST!”BOOOOOOM!!!Raungan api meledak dari pedang Shu Jin—liar, membabi buta, memakan udara di sekitarnya. Cahaya merah menyala menyilaukan mata, panasnya menghantam wajah seperti dinding yang tiba-tiba runtuh.Api itu… tidak sekadar menyala.Ia hidup.Dari pusaran kobaran itu, bentuk mulai tercipta—sayap membentang luas, bulu-bulu api bergetar, ekor panjang menyapu udara dengan percikan bara yang beterbangan.Seekor feniks.Jeritannya menggema—tinggi, tajam, menusuk hingga ke tulang. Suara itu merobek hiruk-pikuk medan perang, membuat banyak kepala menoleh tanpa sadar.Dan tanpa ragu—ia menerjang.Mempersempit jarak.Menuju Helian.SHRRRRAAAK!!!Benturan terjadi.Api dan bayangan bertabrakan seperti dua dunia yang saling menolak. Feniks itu mencabik dengan cakar berapi, sayapnya menghantam seperti badai panas, paruhnya menyambar dengan niat membakar habis segalanya.Api menjila
Di sisi lain medan perang—segala sesuatu berhenti.Bukan karena sunyi.Bukan karena damai.Melainkan karena… membeku.Angin yang semula berdesir kini terasa seperti dinding tak kasatmata—kaku, dingin, dan menusuk. Setiap hembusan berubah menjadi pisau tipis yang mengiris kulit. Butiran pasir yang beterbangan perlahan kehilangan bentuknya… lalu mengeras.Kristal.Satu per satu.Kilatan putih kebiruan memantul dari permukaannya, menciptakan pemandangan yang indah—dan mematikan.Napas menjadi berat.Setiap tarikan terasa seperti menghirup serpihan es.Dan di pusat semua itu—seorang wanita berdiri.Diam.Tak tergoyahkan.Rambut putihnya melayang perlahan, seolah tak terpengaruh hukum dunia. Helai-helainya berkilau samar di bawah cahaya redup, seperti untaian salju yang hidup. Kulitnya pucat tanpa cela.Namun, yang paling mencolokadalah matanya.Dingin dan kosong.Tanpa emosi.Seolah tak ada satu pun makhluk di dunia ini yang layak mendapat perhatian darinya.Nara Baixue.Iblis Wanita Ramb
Di tengah pusaran kekacauan yang meraung tanpa henti—jeritan, benturan logam, dan dentuman energi saling bertubrukan—Shu Jin berdiri tegak dengan tenang.Terlalu tenang untuk seseorang yang berada di pusat medan pembantaian.Matanya bergerak perlahan, tajam, membaca setiap pergerakan. Setiap desir angin. Setiap perubahan aliran Qi. Bahkan partikel pasir yang beterbangan pun seolah tak luput dari pengamatannya.Lalu—angin berubah.Terasa dingin.Bukan dingin biasa. Ini dingin yang merayap ke dalam tulang, membawa aura kegelapan yang menekan dada. Seolah dunia di sekitarnya… kehilangan warna.Bayangan Shu Jin memanjang di tanah.Namun, itu tidak lagi mengikuti tubuhnya.Ia bergerak sendiri.SWOOSH!!!Udara bergetar tipis—hampir tak terdengar.Sosok itu muncul begitu saja di belakangnya.Tanpa jejak.Tanpa niat yang bisa ditangkap.Hanya satu hal yang nyata—pedang hitam yang sudah meluncur, membelah udara, mengarah lurus ke leher Shu Jin.TRANG!!!Percikan api meledak.Shu Jin sudah berge
Langit merah di atas Gurun Gobi tidak lagi sunyi.Gemuruh di atas langit terdengar jelas.Bukan oleh kilat.Bukan oleh badai.Tapi oleh suara yang lebih purba—lebih tua dari perang itu sendiri.AWWWWOOOOO!!!Raungan panjang itu menggulung di atas pasir, merayap di antara bukit-bukit tandus, mengguncang tulang siapa pun yang mendengarnya. Udara seakan bergetar, membawa bau darah yang bahkan belum tumpah.Lalu—RAAAAAWWW!!!Auman balasan membelah langit.Lebih dalam dan berat.Seperti petir yang jatuh langsung ke jantung dunia.Itu adalah suara Byakko.Dan pada detik itu—tak ada lagi ruang untuk ragu.Tak ada lagi jalan untuk mundur.Neraka… benar-benar telah dibuka.***BOOOOOM!!!Benturan pertama tidak terdengar seperti suara biasa.Ia seperti dua dunia yang dipaksa bertabrakan.Gelombang hitam dan putih menghantam satu sama lain di tengah gurun—pasukan hewan iblis dari Dinasti Jin melawan kawanan hewan roh yang mengikuti Byakko.Pasir terangkat tinggi.Angin berputar liar.Langit yang
Para jenderal elit langsung berlutut di hadapan Kaisar Gaozhong.“Siap, Yang Mulia!”Langkah kaki menggema dengan cepat dan teratur.Namun, waktu berlalu.Beberapa jam kemudian.Aula yang sama.Namun kini lebih dingin.Lebih sunyi.Seorang jenderal berlutut di tengah ruangan.Kepalanya menunduk dalam.Wajahnya pucat.“Lapor… Yang Mulia…”Suaranya serak.“…kediaman Keluarga Wu…”Ia menelan ludah.“…telah kosong.”Hening.Tidak ada ledakan.Tidak ada kemarahan langsung.Dan justru—itulah yang membuat semua orang semakin takut.“Melarikan diri…” gumam Kaisar pelan.Tangannya mengepal.KRAK!Lengan singgasana retak di bawah genggamannya.“Jadi… mereka sudah bersiap sejak awal…”Ia menarik napas panjang.Perlahan dan dalam.Ketika ia membuka mata, amarahnya tidak hilang.Namun, telah berubah menjadi sesuatu yang lebih dingin dan mematikan.“Kalau begitu…”Ia berdiri tegak.Aura kekaisarannya kembali stabil.Namun, kini seperti es yang membeku ribuan tahun.“…kita akan memukul mundur pasukan
Malam di Istana Kekaisaran masih dipenuhi bayangan saat lima sosok wanita melangkah masuk ke aula utama tanpa diundang.SWOOOOSH!!!Begitu cepat… hingga mata biasa tak sempat menangkap gerakan mereka.Para penjaga bahkan belum sempat menghunus pedang.BRAK!Tubuh mereka sudah terpental, menghantam pilar dan lantai marmer. Beberapa terguling dengan napas tercekat… Dada mereka seperti ditekan gunung.Aura memenuhi udara.Dingin… beracun… mematikan.Seolah-olah seluruh aula berubah menjadi sarang kematian.Pintu utama aula terbuka paksa.BRAAAK!!!Daun pintu bergetar keras saat menghantam dinding.Di dalam—musik terhenti mendadak.Nada kecapi yang sempat berkumandang di udara mati begitu saja.Para menteri tersentak.Beberapa berdiri setengah dari kursinya. Sedangkan yang lain langsung pucat, napas mereka memburu.Semua mata… tertarik ke satu arah.Singgasana naga.Di sana, Kaisar Gaozhong berdiri perlahan.Jubah kekaisarannya bergesek pelan.Wajahnya yang biasanya tenang kini tampak tega
KRAAAAAKKK!!!Suara itu memecah udara seperti gunung retak. Tubuh Qing Jian melengkung tajam di atas ranjang batu giok—ototnya menegang, kulitnya berkilat pucat, sementara bunyi berderak seperti batang kayu patah bergema dari setiap inci tubuhnya.Yi Xue membeku, lalu menjerit, “Qing Jian! Apa yan
Angin sore Kota Lin’an berembus pelan, membawa aroma pasar, wangi rempah, dan suara riuh penduduk yang memenuhi jalanan. Di antara keramaian itu, Qing Jian berjalan tanpa suara, menyembunyikan aura kultivasinya serendah mungkin. Langkahnya mantap namun hatinya berat meninggalkan Gunung Yunhua dan ke
Suasana kamar rahasia yang tadinya penuh tekanan kini berubah aneh—sunyi, hangat, dan… memalukan.Qing Jian masih berbaring di ranjang batu giok, hanya ditutupi selimut tipis yang bahkan tidak mampu menyembunyikan otot dadanya yang naik-turun perlahan. Cahaya dari formasi merah muda memantul di tubu
Di kedalaman kamar rahasia Mawar Hitam, jauh dari cahaya bulan, Yi Xue berdiri terpaku seperti patung yang sedang dipaksa memilih antara takdir dan hatinya. Napasnya tercekat. Ujung jarinya gemetar.Ia tahu… satu keputusan malam ini akan menghancurkan seluruh hidupnya.“Aku tidak akan membiarkanmu m







