Home / Rumah Tangga / PERGI UNTUK KEMBALI / Bab 32 - Sebuah Pesan Khusus

Share

Bab 32 - Sebuah Pesan Khusus

last update publish date: 2026-01-27 21:32:59

“Boleh, kan, Bun?” Rengekan Zein terdengar lagi dari arah dapur. “Aku janji bisa sendiri.”

“Kalau Zein mau ke toilet malam-malam gimana?” Kali ini Amara kembali mendebat. “Nggak mungkin nanti Ustadzah bisa mengurus semuanya.”

“Kan, ada Farouq.” Zein menyebut nama teman sekelas yang selalu ia ceritakan. “Aku bisa ke toilet bareng Farouq.”

“Nanti sahurnya gimana? Siapa yang akan bangunkan Zein?”

Aku mendengarkan perdebatan kecil di dapur itu dengan bingung dari ruang tengah. Ingin sekali rasanya
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • PERGI UNTUK KEMBALI   Bab 45 - Pergi Untuk Kembali

    Jika ada yang bertanya kapan saatnya kamu berada di titik hidup terbaik, bisa dikatakan itulah yang aku rasakan sekarang. Bahkan saat aku mengira bahwa kemarin adalah masa terbaikku, tetapi terbantahkan saat menjalani hari ini. Apalagi yang harus kuingkari saat semua bahagia sudah aku dapat dalam genggaman. Istri yang cantik, anak yang cerdas, karir yang bagus, juga rumah tangga yang hangat yang membuatku rindu untuk selalu pulang. Duri-duri kecil pasti ada saja datang menghampiri. Namun, sekarang hanya terasa menggelitik karena aku dan Amara sudah berhasil meyintas luka tusukannya. Kecuali satu, rasa cemburuku pada lelaki yang Amara sebut sahabat. Meski sosoknya berhasil merawat Zein dengan baik pasca kecelakaan yang lalu, tetapi aku masih harus waspada akan sepak terjangnya. Aku tidak ingin lelaki itu mencari celah untuk merebut Amara. “Zein mau dibelikan rasa apa? Ayah sedang di toko es krim?” Hampir setiap hari saat pulang bekerja, kusempatkan untuk membelikan Zein makanan. A

  • PERGI UNTUK KEMBALI   Bab 44 - Ada yang Cemburu

    Benar apa yang dikatakan orang-orang. Air mata haru tidak dapat tertahan ketka tiba di Masjidil Haram dan melihat langsung Baitullah. Air mataku bercampur senyuman saat Radit menatapku dengan binaran yang sama. Kubiarkan ia membanggakan pencapaiannya, bahwa ia telah berhasil memenuhi janjinya.“Walau tidak haus, tetap harus minum.” Radit menyodorkan botol air minum yang sudah ia isi ulang dengan air zam-zam.Aku dan Radit baru saja menyelesaikan tawaf. Radit menarikku ke pinggir agar dapat duduk sejenak untuk mengumpulkan tenaga karena setelah ini kami akan melanjutkan rukun sa’i.“Kamu berkeringat.” Radit mengusap ujung hidungku yang dihinggapi bulir-bulir peluh. “Kalau lelah istirahat dulu.”Suhu udara di masjidil haram hampir mencapai 45 derajat celcius. Meski matahari terasa seperti tepat di atas kepala, tetapi kelembaban udara terukur rendah. Normalnya, berjalan kaki mengitari ka’bah tidak akan mengeluarkan keringat. Mungkin efek obat yang kuminum untuk menghilangkan rasa meriang

  • PERGI UNTUK KEMBALI   Bab 43 - Lugas Katakan Cinta

    “Kamu berangkat berdua Radit saja, Nduk. Biar Ibu nunggu tahun depan. Jangan sungkan, itu rezeki kalian. Radit sudah membiayai ongkos haji Ibu. Sudah lebih dari cukup buat Ibu. Terima kasih sudah mau menerima Radit kembali, Nduk. Maafkan kesalahan-kesalahan Radit terdahulu. Maafkan Ibu juga yang kurang mampu mendidik Radit. Ibu selalu mendoakan kalian agar rukun dan makmur sampai hari tua.”Kuputar ulang rekaman suara Ibu yang dikirimkan Mbak Arum lewat pesan. Aku masih berusaha agar Ibu ikut serta dalam perjalanan umrohku beserta Radit. Namun, sesuai yang telah disampaikan Radit sebelumnya, Ibubmemang menolak.Semua sudah dipersiapkan. Zein sudah bersedia ditinggal dalam pengasuhan Alia selama aku dan Radit tidak ada. Bude Asih akan diperbantukan untuk menyediakan keperluan Zein selama menginap di rumah Papa.Meski semua persiapan sudah lengkap, ada satu hal yang sejak kemarin menghadirkan gundah di hatiku. Cincin pernikahan yang memang sengaja aku lepas setiap akan pergi mandi, mend

  • PERGI UNTUK KEMBALI   Bab 42 - Kado Terindah

    Perjalanan pulang kembali ke kota didominasi celoteh Zein tentang serunya bermain bersama anak-anak desa. Seminggu berada di kampung halaman Radit rupanya memberi pengalaman baru bagi Zein. Bocah kecil itu menitikkan air mata sedikit saat berpamitan dengan sang nenek. Baru setuju untuk diajak pulang setelah ayahnya menjanjikan akan ada liburan susulan ke desa setelah kenaikan kelas.Radit sudah memindahkan barang-barang pribadinya ke rumahku minggu lalu. Setelah melalui diskusi panjang, akhirnya Radit mengalah. Kami akan menetap di rumahku sampai Zein menamatkan sekolah dasar. Pertemanan Zein di lingkungan tetangga menurutku pantas untuk dipertimbangkan. Jarak menuju sekolah Zein juga akan semakin jauh jika harus ditempuh dari rumah ayahnya. Sesuai kesepakatan bersama, rumah pribadi Radit selama lima tahun ke depan akan disewakan pada salah satu instansi yang sedang membutuhkan rumah dinas.Seminggu ini juga aku bingung memikirkan kado apa yang akan aku berikan sebagai hadiah ulang ta

  • PERGI UNTUK KEMBALI   Bab 41 - Mengulang Kenangan Berdua

    Tempat ternyaman selain rumah Ibu, adalah berada di samping Amara di mana pun aku berada. Dulu, semasa kuliah, duduk di dekatnya saja sudah mampu menghilangkan permasalahan hidupku hari itu. Setelah menikah, mencium dan memeluknya menjadi tempat pelampiasan gundah terindah bagiku. Menyatu dengannya ibarat mendapatkan energi terbarukan yang membuatku siap untuk melakukan apa saja setelahnya.Pasti Amara menganggapku gila atas apa yang baru saja kulakukan padanya. Aku tahu ia kewalahan, tetapi aku juga yakin ia menikmatinya setara denganku. Keadaan yang terang benderang mungkin membuat gairahku lebih menyala. Aku bisa melihat indahnya Amara tanpa terhalang apa pun.“Radit, ayo bangun.” Jemari Amara kembali mengusikku. “Sudah hampir pukul setengah lima sore.”Sejak tadi sebenarnya aku tidak tidur. Aku mengatur napas setenang mungkin agar Amara mengira demikian. Jika Amara tahu bahwa aku hanya pura-pura, pasti wajah perempuan itu akan merona merah seketika. Amara menciumi wajahku, dahiku,

  • PERGI UNTUK KEMBALI   Bab 40 - Balada Burung Dalam Sangkar

    Terhitung tiga hari berlalu sejak kami tiba di kampung halaman Radit, pagi ini Mbak Arum tetap dengan ramahnya menyiapkan sarapan untuk kami sekeluarga. Saat kuutarakan rasa sungkanku, perempuan itu tersenyum lebar sampai memunculkan lesung pipinya yang samar-samar.“Rumah ini sudah seperti rumahku. Setiap hari, dua atau tigakali aku kemari untuk nengokin Ibu,” ujarnya. “Apa yang dimasak di rumah, pasti setiap hari aku antar buat Ibu.”“Terima kasih, Mbak,” ucapku mewakili Radit.“Selama di sini kamu nggak usah repot-repot masak, nyuci baju, nyuci piring, biar aku yang kerjakan,” larangnya persis seperti kemarin saat aku kedapatan mencuci tumpukan gelas setelah tamu lebaran pulang.“Aku nggak enak ngelihat Mbak Arum capek beres-beres sendirian.”“Gantian,” ujarnya. “Nanti kalau ada rezeki, aku, Mas Cipto dan anak-anak bisa mampir ke rumah Radit, aku juga nggak mau kerjain apa-apa di sana.”“Oh, baik, Mbak,” sahutku seraya meringis kecil.“Guyon aku,” ucapnya sambil tertawa. “Maksudnya

  • PERGI UNTUK KEMBALI   Bab 7 - Sulit Menolak

    Entah bagaimana caranya untuk tetap disiplin waktu setiap berbelanja ke toko bahan kue langgananku. Mataku seperti berwisata di antara pernak-pernik dan beragam perkakas memasak yang ditawarkan sang pemilik toko. Beberapa obrolan beliau juga sangat menarik, hingga akhirnya aku lupa waktu bahwa haru

  • PERGI UNTUK KEMBALI   Bab 3 - Permohonan Maaf

    Zein langsung menyelinap di kursi depan saat aku masih berdiri ragu di depan pintu mobil yang dibukakan Radit. Dengan percaya diri bocah kecil itu memasang sabuk pengaman dan segera berbincang akrab layaknya kerabat yang sudah saling mengenal. Syukurlah, paling tidak untuk kali ini Zein telah menye

  • PERGI UNTUK KEMBALI   Bab 2 - Kutemukan Dirinya

    Jantung ini bagai tersengat ribuan volt tegangan listrik saat pandangannya beradu dengan tatapanku. Langkahku terayun setengah sadar mendekat ke arahnya. Paras yang sama, sorot mata yang sama, dengan kemasannya yang berbeda. Rambut panjangnya yang indah sekarang sudah tertutup hijab panjang. Lekuk

  • PERGI UNTUK KEMBALI   Bab 1 - Dia Kembali

    Siang ini adalah yang paling terik di separuh bulan menuju akhir April. Antrian di depan gerbang sekolah terlihat mengular. Penjemput yang biasa menggunakan sepeda motor, hari ini memilih mengendarai roda empat mereka untuk menghindari intensitas sinar matahari yang terasa menggigit.Kulirik sekila

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status