MasukNamun hari ini, sebuah disonansi mengganggu harmoninya. Dua titik kehidupan yang kecil dan rapuh memasuki jangkauan kesadarannya. Kehadiran mereka seperti dua nada sumbang dalam sebuah simfoni yang sempurna. Aura mereka dipenuhi keputusasaan—aroma khas makhluk fana yang berada di ambang kematian. Serangga, pikirnya, tanpa membuka mata. Selalu saja ada serangga yang tersesat.
Biasanya, ia akan membiarkan mereka berlalu, membiarkan takdir mereka terungkap tanpa campur tangannya. Keterikatan adalah sumber dari segala penderitaan, dan ia sudah muak dengan penderitaan. Namun, saat ia hendak menarik kembali kesadarannya, ia merasakan sesuatu yang lain dalam aura mereka. Kemurnian. Terutama pada aura yang lebih tua, yang sedikit lebih kuat. Tidak ada jejak kebencian, keserakahan, atau niat jahat. Hanya ada tekad murni untuk melindungi aura yang lebih kecil dan lebih lemah di sampingnya. Ini… tidak biasa. Kemurnian seperti itu adalah hal langka di dunia yang sudah tercemar ini. Riak kekesalan yang halus mengganggu ketenangan batinnya. Ia tidak suka gangguan, sekecil apa pun itu. Dengan helaan napas yang tak terdengar, ia membuka matanya. Pupil matanya yang gelap tampak seperti jurang tak berdasar, memantulkan cahaya biru dari kristal di sekelilingnya. Mereka sudah terlalu dekat. Ia harus mengusir mereka sebelum mereka mengotori pintu masuknya dengan aura kematian mereka. Dalam sekejap mata, tubuhnya menghilang dari Lempeng Giok Es dan muncul kembali di mulut gua, berdiri tepat di balik tirai air terjun. Jubah putihnya yang terbuat dari sutra es spiritual tetap kering dan bersih, kontras dengan dunia yang basah dan kotor di luar. Di sana, ia melihat mereka. Dua anak kecil yang tubuhnya lebih banyak lumpur daripada kain, gemetar hebat, menatap ke arahnya dengan mata yang dipenuhi campuran rasa takut yang luar biasa dan secercah harapan yang menyedihkan. Pria itu muncul entah dari mana, seolah ia adalah hantu yang terlahir dari kabut. Ling Yue tersentak mundur, secara refleks menarik Ling Er ke belakang punggungnya. Jantungnya terasa seperti akan melompat keluar dari dadanya. Pria di hadapannya begitu sempurna hingga tampak tidak nyata. Wajahnya tampan tanpa cela, tetapi ekspresinya kosong, dan matanya… matanya sedingin musim dingin yang abadi. Gelombang kekuatan yang tak terlihat memancar darinya, menekan Ling Yue hingga lututnya terasa lemas. “Kembali ke tempat asal kalian.” suara pria itu memecah kesunyian. Suaranya rendah, tanpa emosi, tetapi setiap katanya membawa bobot yang menghancurkan. Keputusasaan adalah pendorong yang lebih kuat dari rasa takut. Ling Yue tahu ini adalah kesempatan terakhir mereka. Ia menjatuhkan dirinya ke lumpur yang membeku, menarik Ling Er bersamanya. Ia menundukkan kepalanya hingga dahinya menyentuh tanah yang dingin. “Tuan, kami mohon,” katanya, suaranya bergetar tak terkendali. “Kami tidak punya tempat tujuan. Desa kami luluh lantak oleh monster. Kami hanya… kami hanya butuh tempat berlindung untuk satu malam saja. Kami tidak akan bersuara.” Pria itu tidak menjawab. Keheningannya terasa lebih menakutkan daripada amarah mana pun. Ling Yue bisa merasakan tatapan dingin itu menguliti setiap lapisan keberaniannya. “Dunia ini luas,” pria itu akhirnya berkata, suaranya sedatar padang es. “Kematian adalah hal yang biasa. Cari tempat lain.” Kata-kata itu menghantam Ling Yue seperti cambuk. Tidak ada belas kasihan, tidak ada simpati. Hanya kenyataan yang brutal. Tapi kemudian ia merasakan getaran tubuh Ling Er yang semakin lemah di sampingnya. Kemarahan yang lahir dari cinta pelindung meledak di dalam dirinya, memberinya kekuatan untuk menentang. “Tapi kami tidak bisa berjalan lagi!” seru Ling Yue, mengangkat wajahnya yang berlumuran lumpur untuk menatap pria itu. Air mata panas bercampur dengan air hujan dingin di pipinya. “Adikku akan mati jika kami tetap di sini! Kami sudah tidak makan selama berhari-hari. Kami tidak meminta makanan Anda, Tuan! Kami tidak meminta apa pun selain sepotong tempat kering untuk melewati malam ini!” Wang Yue menatap mata pemuda itu. Ia melihat api di sana. Bukan api kebencian yang merusak, melainkan api perlindungan yang murni. Dan kemudian, tatapannya beralih ke gadis kecil di sampingnya. Wajahnya pucat membiru, matanya yang besar tergenang air mata ketakutan, napasnya dangkal. Sebuah bayangan dari masa lalu yang sangat jauh melintas di benaknya. Wajah lain, di tengah salju, menatapnya dengan permohonan yang sama. Sebuah janji yang ia buat. Sebuah kegagalan yang menghantuinya selama berabad-abad. Jangan ikut campur, sebuah suara dingin di dalam dirinya memperingatkan. Ini akan berakhir dengan rasa sakit, seperti sebelumnya. Tapi membiarkan mereka mati di depan pintu rumahnya… bukankah itu juga sebuah kegagalan? Aura kematian mereka akan meresap ke dalam lembah, menjadi pengingat konstan. Sangat merepotkan, pikirnya, mencoba menutupi secercah emosi yang tak diinginkan itu dengan alasan pragmatis. Tanpa mengubah ekspresi wajahnya, ia berbalik. Tindakan itu terasa seperti sebuah penolakan final bagi Ling Yue. Namun, saat Wang Yue melangkah, sesuatu yang mustahil terjadi. Air terjun di hadapannya berhenti total. Setiap tetes air membeku di udara, menciptakan koridor hening yang berkilauan di bawah cahaya biru gua. Ling Yue menatap dengan tak percaya, mulutnya terbuka lebar. “Cepat,” suara Wang Yue terdengar dari dalam, masih dingin dan tanpa emosi. “Sebelum tirai air kembali. Aku tidak akan mengulanginya.” Kalimat itu menyentak Ling Yue dari keterpanaan. Tanpa berpikir lagi, ia menarik Ling Er yang sama terkejutnya dan berlari sekuat tenaga melewati koridor air yang membeku itu. Begitu kaki mereka menginjak tanah kering di dalam gua, suara gemuruh kembali terdengar saat air terjun itu kembali hidup, menutup mereka dari dunia luar. Mereka selamat. Untuk saat ini. Mereka berada di dalam sarang seorang makhluk yang kekuatannya tak terbayangkan, tetapi mereka hangat dan aman dari dingin yang mematikan. Ling Yue menatap ke dalam gua yang misterius itu, jantungnya berdebar antara rasa takut dan secercah harapan yang baru saja lahir.“Jia Long, mulai sekarang kamu akan menjadi Kepala Pertahanan dan Pelatihan, bertanggung jawab atas keamanan Lembah. An-Mei, kamu akan menjadi Kepala Komunitas, kamu akan bertanggung jawab atas penyembuhan seluruh Lembah.” Kedua rekan itu, yang kini memiliki rasa hormat yang mendalam satu sama lain, membungkuk. Tim Penjaga Fajar kini menjadi doktrin resmi Lembah. Lin Feng kemudian melangkah maju, memegang ukiran Kayu Hati Giok milik Wang Yue. Ia menyerahkannya kepada Ming Hua. “Ini akan menjadi sebuah pengingat, Ming Hua,” kata Lin Feng. “Ini adalah bukti bahwa kejahatan lahir dari ambisi yang salah tempat. Keseimbanganmu haruslah melindungi Lembah dari musuh di luar dan juga musuh yang tumbuh di dalam. Sekarang kamu adalah Penjaga yang Bijaksana dan pewaris yang sejati.” Ming Hua menerima ukiran itu, memegangnya dengan rasa hormat yang mendalam. Ia telah mewarisi trauma dan penebusan para pendahulu.
Tiga hari setelah Feng Xiao diusir dari lembah, Lembah Awan Berkabut kini terasa lebih sunyi. Bukan lagi sunyi karena ketakutan, melainkan sunyi karena penyembuhan yang mendalam. Xiao Li menghabiskan waktu berjam-jam di alun-alun utama, menyalurkan Qi Penyembuhnya secara terus-menerus. Ia merawat bukan hanya luka Jia Long dan murid-murid lain, tetapi juga trauma mental untuk para pengungsi di lembah. Qi Penyembuhnya bertindak seperti penghangat alami, mengusir aura dari dinginnya ketakutan dan membakar residu dari Qi Racun milik Feng Xiao yang masih tersisa di lembah. Lalu ia merawat Lin Feng terakhir. Di kediaman mereka, Lin Feng bermeditasi di atas tikar meditasi, menyerap Qi ke dalam tubuhnya. Qi-nya hampir sepenuhnya terkuras saat pertarungannya dengan Feng Xiao beberapa hari yang lalu. Ia membiarkan Xiao Li membatu mengisi Qi-nya dan memurnikan Qi iblis yang tersisa di dalam dentiannya.
Saat itulah, Xiao Li bergerak. Xiao Li tidak maju dengan pedang. Ia maju dengan Cahaya dari Qi di telapak tangannya. Xiao Li menyentuh punggung Lin Feng, mengabaikan bahaya Qi Racun Feng Xiao. Ia menutup matanya dan menyalurkan aliran Qi yang Murni, kepada Lin Feng. Ia tidak menyerang Feng Xiao. Ia menyerang Racun dari Feng Xiao. Qi Xiao Li mengalir deras ke dalam tubuh Lin Feng, mencari dan memurnikan setiap residu Qi Iblis yang ditekan Lin Feng selama bertahun-tahun. Ini adalah tindakan pemurnian spiritual yang berisiko, tetapi dengan haail yang maksimal jika berhasil.. Lin Feng tersentak, merasakan sakit yang luar biasa saat Qi lamanya dipaksa keluar. Tetapi kemudian, muncul Keseimbangan yang luar biasa. Qi-nya, yang tadinya tegang dan rapuh, menjadi stabil, murni, dan kuat. Ia tidak lagi tertekan oleh kegelapan. Ia bisa bertarung dengan seluruh kekuatannya, tanpa rasa takut a
Fajar pecah. Namun, bukan cahaya yang menyambut Lembah, melainkan getaran mengerikan yang merobek langit. Getaran itu begitu kuat hingga air di kolam meditasi beriak seolah mendidih. “Dia datang,” kata Lin Feng, suaranya datar, tetapi Qi-nya memancar ke seluruh tubuh, siap untuk pertempuran yang akan datang. Ia berlari ke luar dan berdiri di tengah lapangan utama bersama Xiao Li. Di belakang mereka, Ming Hua berdiri bersama Jia Long, berdiri tegak bersama tim keamanan, sementara An-Mei memimpin tim penyembuh dan mengevakuasi para pengungsi untuk peegi ke bunker perlindungan. Tiba-tiba, perisai pertahanan Lembah bersinar merah padam. Ledakan sonik mengikutinya. Di atas Lembah, melayang sesosok pria. Dia adalah Feng Xiao. Ia tampak agung sekaligus menjijikkan. Jubahnya yang dahulu putih kini bernoda hitam dan merah, dan ia memancarkan aura Qi yang begitu padat hingga tampak seperti kabut beracun. Wajahn
An-Mei mengepalkan tangannya. “Guru Lin hanya melihat ancaman. Dia tidak melihat jiwa. Aku mengerti kewaspadaan, tapi dia kembali menjadi penakluk yang kejam! Apakah kita harus mengorbankan kemanusiaan kita untuk keamanan?” Ming Hua kini benar-benar terjebak di tengah dua api yang menyala: Api kewaspadaan Jia Long yang membakar jiwa, dan Api kebaikan An-Mei yang terancam padam oleh ketakutan. Ia menyadari bahwa ia tidak boleh lagi menjadi "jembatan" pasif. Ia harus menjadi pengintegrasi aktif. Ia memanggil Jia Long dan An-Mei ke sebuah paviliun kecil, di luar jangkauan suara Lin Feng. “Aku tahu kalian berdua lelah dan marah,” kata Ming Hua, suaranya tenang namun kuat. “Jia Long, kamu bangga dengan kekuatanmu, dan kamu memandang rendah kebaikan An-Mei. An-Mei, kamu bangga dengan belas kasihmu, dan kamu takut dengan kekejaman Guru Lin.” “Aku katakan ini. Kalian berdua setengah ben
Pagi setelah pengungkapan terasa dingin dan sunyi. Sinar matahari pagi gagal menghilangkan bayangan kewaspadaan yang kini menyelimuti setiap sudut Lembah. Ming Hua menghadap Xiao Li dan Lin Feng di Aula Pertemuan utama. Kedua Grandmaster itu duduk berdampingan, namun atmosfer di sekitar mereka sesikit tegang dengan antisipasi. Ini adalah pertama kalinya Ming Hua melihat kedua gurunya ini akan melawan ancaman eksternal bersama. “Ming Hua,” Lin Feng membuka suara, nadanya tajam, tidak menyisakan ruang untuk pertanyaan. “Kami telah mengambil keputusan. Ancaman Feng Xiao ini adalah ancaman yang nyata dan mendalam. Dia pasti akan menyerang Lembah ini melalui kelemahan spiritual dan moral kita.” Lin Feng kemudian meletakkan gulungan di atas meja. “Aku akan bertanggung jawab atas pertahanan keras yang akan kita lakukan.” Ia menatap Ming Hua. “Dan kamu akan menjadi pengawasnya. Latihanku ini akan brutal dan







