Masuk
Setiap tarikan napas adalah perjuangan melawan udara dingin yang terasa seperti ribuan jarum es menusuk paru-paru Ling Yue. Kabut tebal yang memeluk Lembah Awan Berkabut bukanlah selimut yang menenangkan, melainkan kain kafan lembab yang merampas sisa-sisa kehangatan dari tubuhnya. Di sampingnya, Ling Er, adiknya, tidak lagi hanya menggigil; tubuh mungilnya bergetar dalam kejang-kejang kecil yang tak terkendali, sebuah pertanda mengerikan bahwa api kehidupannya hampir padam.
“Dingin… Kakak… sangat dingin…” Bibir Ling Er yang membiru nyaris tak bergerak saat ia berbisik, matanya yang besar dan biasanya lincah kini setengah terpejam, kusam karena kelelahan dan demam ringan yang mulai menyerangnya. Hati Ling Yue terasa seperti sebongkah es di dalam dadanya. Ia menarik jubahnya yang basah dan compang-camping lebih erat ke tubuh adiknya, sebuah tindakan sia-sia yang lebih merupakan doa daripada solusi. “Aku tahu, Xiao Er. Bertahanlah,” jawabnya, suaranya serak dan pecah. “Kita akan segera menemukan tempat yang hangat. Kakak janji.” Janji. Kata itu terasa pahit di lidahnya. Janji apa yang bisa ia berikan? Ia telah berjanji untuk melindungi desa mereka. Ia telah berjanji pada ayah dan ibunya di saat-saat terakhir mereka untuk menjaga Ling Er. Dan ia telah gagal. Bayangan malam yang mengerikan itu kembali menghantuinya, raungan monster-monster berkulit manusia, jeritan tetangganya yang tercabik-cabik, dan bau darah yang menyengat bercampur dengan bau hangus rumah-rumah kayu. Mereka adalah satu-satunya yang selamat, dan kini kelangsungan hidup itu terasa lebih seperti kutukan daripada berkah. Ia merangkak maju, lutut dan telapak tangannya mati rasa karena menekan tanah yang membeku. Ia harus terus bergerak. Berhenti berarti mati. Di dunia yang baru dan kejam ini, hanya ada satu aturan: teruslah bergerak. Tiba-tiba, sebuah suara menembus desau angin dan gemerisik daun yang monoton. Suara gemuruh yang konstan dan ritmis. Bukan suara monster, bukan pula suara badai. Itu adalah suara air, banyak air yang jatuh dari ketinggian. Penasaran dan didorong oleh sisa-sisa harapan terakhir, Ling Yue mengangkat kepalanya. Pandangannya yang kabur karena kelaparan mencoba fokus. Di kejauhan, menembus selubung kabut, ia melihatnya. Sebuah dinding batu raksasa yang menjulang tinggi, dan dari celahnya, sebuah air terjun mengalir deras seperti surai perak raksasa. Pemandangan itu sendiri sudah cukup menakjubkan, tetapi bukan itu yang membuat jantung Ling Yue berhenti berdetak. Di balik tirai air yang tebal itu, ada secercah cahaya biru lembut yang berdenyut-denyut, dan yang lebih penting, ia bisa merasakan bahkan dari jarak ini, gelombang kehangatan yang samar namun nyata. Sebuah gua. Nalurinya berteriak untuk berlari ke sana. Kehangatan. Perlindungan. Keselamatan. Tapi kewaspadaan yang lahir dari trauma menahannya. Gua di hutan belantara adalah tempat tinggal bagi binatang buas yang kuat atau, lebih buruk lagi, ahli penyendiri yang mungkin tidak akan menyambut dua pengemis kecil yang kotor. Keajaiban sering kali adalah jebakan yang paling indah. Tapi apa pilihan kita? Pikirnya getir, melirik Ling Er yang napasnya semakin dangkal. Mati di sini dalam kedinginan adalah kepastian. Mati di dalam sana setidaknya adalah sebuah kemungkinan. “Kakak…” panggil Ling Er lagi, menarik lengan bajunya dengan sisa tenaga terakhir. Keputusan telah dibuat. “Aku melihat sesuatu, Xiao Er,” bisiknya, mencoba menyuntikkan semangat pada suaranya. “Sebuah gua. Mungkin hangat di dalam. Ayo, kita coba.” Mengumpulkan seluruh kekuatannya, ia membantu adiknya berdiri dan mereka berjalan tertatih-tatih menuju air terjun. Semakin dekat mereka, semakin kuat aura yang mereka rasakan. Bukan hanya kehangatan fisik, tetapi juga tekanan energi spiritual yang begitu murni dan padat hingga membuat Ling Yue merasa pusing. Ini bukan sarang binatang. Ini adalah tempat tinggal seorang ahli yang sangat kuat. Rasa takut kembali mencengkeram hatinya, tetapi sudah terlambat untuk mundur. Di dalam keheningan absolut guanya, Wang Yue melayang setengah meter di atas Lempeng Giok Es Abadi. Meditasinya dalam dan tak terganggu. Selama tiga ratus tahun, ia telah mengasingkan diri di sini, membangun sebuah benteng kedamaian yang terbuat dari Qi murni dan kesendirian yang dingin. Dunia luar, dengan segala kekacauan, ambisi, dan pengkhianatannya, hanyalah gema samar dari kehidupan yang telah lama ia tinggalkan.“Jia Long, mulai sekarang kamu akan menjadi Kepala Pertahanan dan Pelatihan, bertanggung jawab atas keamanan Lembah. An-Mei, kamu akan menjadi Kepala Komunitas, kamu akan bertanggung jawab atas penyembuhan seluruh Lembah.” Kedua rekan itu, yang kini memiliki rasa hormat yang mendalam satu sama lain, membungkuk. Tim Penjaga Fajar kini menjadi doktrin resmi Lembah. Lin Feng kemudian melangkah maju, memegang ukiran Kayu Hati Giok milik Wang Yue. Ia menyerahkannya kepada Ming Hua. “Ini akan menjadi sebuah pengingat, Ming Hua,” kata Lin Feng. “Ini adalah bukti bahwa kejahatan lahir dari ambisi yang salah tempat. Keseimbanganmu haruslah melindungi Lembah dari musuh di luar dan juga musuh yang tumbuh di dalam. Sekarang kamu adalah Penjaga yang Bijaksana dan pewaris yang sejati.” Ming Hua menerima ukiran itu, memegangnya dengan rasa hormat yang mendalam. Ia telah mewarisi trauma dan penebusan para pendahulu.
Tiga hari setelah Feng Xiao diusir dari lembah, Lembah Awan Berkabut kini terasa lebih sunyi. Bukan lagi sunyi karena ketakutan, melainkan sunyi karena penyembuhan yang mendalam. Xiao Li menghabiskan waktu berjam-jam di alun-alun utama, menyalurkan Qi Penyembuhnya secara terus-menerus. Ia merawat bukan hanya luka Jia Long dan murid-murid lain, tetapi juga trauma mental untuk para pengungsi di lembah. Qi Penyembuhnya bertindak seperti penghangat alami, mengusir aura dari dinginnya ketakutan dan membakar residu dari Qi Racun milik Feng Xiao yang masih tersisa di lembah. Lalu ia merawat Lin Feng terakhir. Di kediaman mereka, Lin Feng bermeditasi di atas tikar meditasi, menyerap Qi ke dalam tubuhnya. Qi-nya hampir sepenuhnya terkuras saat pertarungannya dengan Feng Xiao beberapa hari yang lalu. Ia membiarkan Xiao Li membatu mengisi Qi-nya dan memurnikan Qi iblis yang tersisa di dalam dentiannya.
Saat itulah, Xiao Li bergerak. Xiao Li tidak maju dengan pedang. Ia maju dengan Cahaya dari Qi di telapak tangannya. Xiao Li menyentuh punggung Lin Feng, mengabaikan bahaya Qi Racun Feng Xiao. Ia menutup matanya dan menyalurkan aliran Qi yang Murni, kepada Lin Feng. Ia tidak menyerang Feng Xiao. Ia menyerang Racun dari Feng Xiao. Qi Xiao Li mengalir deras ke dalam tubuh Lin Feng, mencari dan memurnikan setiap residu Qi Iblis yang ditekan Lin Feng selama bertahun-tahun. Ini adalah tindakan pemurnian spiritual yang berisiko, tetapi dengan haail yang maksimal jika berhasil.. Lin Feng tersentak, merasakan sakit yang luar biasa saat Qi lamanya dipaksa keluar. Tetapi kemudian, muncul Keseimbangan yang luar biasa. Qi-nya, yang tadinya tegang dan rapuh, menjadi stabil, murni, dan kuat. Ia tidak lagi tertekan oleh kegelapan. Ia bisa bertarung dengan seluruh kekuatannya, tanpa rasa takut a
Fajar pecah. Namun, bukan cahaya yang menyambut Lembah, melainkan getaran mengerikan yang merobek langit. Getaran itu begitu kuat hingga air di kolam meditasi beriak seolah mendidih. “Dia datang,” kata Lin Feng, suaranya datar, tetapi Qi-nya memancar ke seluruh tubuh, siap untuk pertempuran yang akan datang. Ia berlari ke luar dan berdiri di tengah lapangan utama bersama Xiao Li. Di belakang mereka, Ming Hua berdiri bersama Jia Long, berdiri tegak bersama tim keamanan, sementara An-Mei memimpin tim penyembuh dan mengevakuasi para pengungsi untuk peegi ke bunker perlindungan. Tiba-tiba, perisai pertahanan Lembah bersinar merah padam. Ledakan sonik mengikutinya. Di atas Lembah, melayang sesosok pria. Dia adalah Feng Xiao. Ia tampak agung sekaligus menjijikkan. Jubahnya yang dahulu putih kini bernoda hitam dan merah, dan ia memancarkan aura Qi yang begitu padat hingga tampak seperti kabut beracun. Wajahn
An-Mei mengepalkan tangannya. “Guru Lin hanya melihat ancaman. Dia tidak melihat jiwa. Aku mengerti kewaspadaan, tapi dia kembali menjadi penakluk yang kejam! Apakah kita harus mengorbankan kemanusiaan kita untuk keamanan?” Ming Hua kini benar-benar terjebak di tengah dua api yang menyala: Api kewaspadaan Jia Long yang membakar jiwa, dan Api kebaikan An-Mei yang terancam padam oleh ketakutan. Ia menyadari bahwa ia tidak boleh lagi menjadi "jembatan" pasif. Ia harus menjadi pengintegrasi aktif. Ia memanggil Jia Long dan An-Mei ke sebuah paviliun kecil, di luar jangkauan suara Lin Feng. “Aku tahu kalian berdua lelah dan marah,” kata Ming Hua, suaranya tenang namun kuat. “Jia Long, kamu bangga dengan kekuatanmu, dan kamu memandang rendah kebaikan An-Mei. An-Mei, kamu bangga dengan belas kasihmu, dan kamu takut dengan kekejaman Guru Lin.” “Aku katakan ini. Kalian berdua setengah ben
Pagi setelah pengungkapan terasa dingin dan sunyi. Sinar matahari pagi gagal menghilangkan bayangan kewaspadaan yang kini menyelimuti setiap sudut Lembah. Ming Hua menghadap Xiao Li dan Lin Feng di Aula Pertemuan utama. Kedua Grandmaster itu duduk berdampingan, namun atmosfer di sekitar mereka sesikit tegang dengan antisipasi. Ini adalah pertama kalinya Ming Hua melihat kedua gurunya ini akan melawan ancaman eksternal bersama. “Ming Hua,” Lin Feng membuka suara, nadanya tajam, tidak menyisakan ruang untuk pertanyaan. “Kami telah mengambil keputusan. Ancaman Feng Xiao ini adalah ancaman yang nyata dan mendalam. Dia pasti akan menyerang Lembah ini melalui kelemahan spiritual dan moral kita.” Lin Feng kemudian meletakkan gulungan di atas meja. “Aku akan bertanggung jawab atas pertahanan keras yang akan kita lakukan.” Ia menatap Ming Hua. “Dan kamu akan menjadi pengawasnya. Latihanku ini akan brutal dan







