Mag-log inAnto tiba di rumah, dia melihat Narti masih terlelap di atas ranjang dengan tubuh berbalut selimut. Terkadang dia merasa iba dengan istrinya tersebut. Dia tahu Narti sangat mencintai Devan sampai-sampai rela melepaskan keperawanan untuk sanga putra majikan! Tapi apa yang dia dapatkan dari perngorbanan sebanyak itu? Devan membuang dan meninggalkannya begitu saja. Anto menyaksikan semuanya di depan matanya. Dia sudah bekerja di kediaman Darto menjadi supir dalam waktu cukup lama, dulunya dia ha
Devan mendapati Yuyun sedang membantu Anto bangun dari atas lantai. Devan mendekati mereka berdua lalu menatap Yuyun yang sibuk memegang lengan Anto sementara Anto menatap wajah Devan tanpa rasa bersalah. "Kenapa ini?" Tanya Devan pada mereka berdua. Darto dan Amina hanya berdiri di ambang pintu ruang makan melihat Yuyun, Devan, dan Anto. Yuyun menoleh ke arah Devan. "Anto tergelincir pas mau kembali ke beranda," jawab Yuyun seraya melepaskan genggaman tangan kanannya dari lengan Anto. Devan melihat hidung Anto mengeluarkan darah, Anto hanya mengusapnya menggunakan punggung lengan kanannya tanpa mengatakan apa-apa pada Devan. Mana mungkin Anto menunjukkan kekagumannya pada Yuyun di depan Devan, bisa-bisa Devan marah dan langsung memukulinya. "Parah?" Tanya Devan sambil berkacak pinggang menatap darah di lubang hidung Anto. Yuyun hanya mengangkat bahu lalu berjalan ke dapur. "Nggak papa Den, nanti jug
Tidak ada tanda-tanda Darto dan Amina akan menyudahi permainan panas yang terus berlanjut. Yuyun sampai selesai menyantap makan malamnya terdengar suara langkah kaki dua orang dari arah ruang depan. Ternyata Anto dan Sarinten sedang berjalan menuju ke belakang."Permisi Neng, saya mau numpang ke kamar mandi sebentar," sapa Anto pada Yuyun. Yuyun sedang berdiri di dekat jendela dapur sambil menggenggam cangkir di tangan kanannya, dia hanya mengangguk tanpa menjawab sapaan Anto. Anto masuk ke dalam kamar mandi yang ada di dalam dapur. Sarinten membereskan piring kotor yang tadi dipakai Yuyun lalu melihat makanan masih banyak yang belum disentuh. Ketika mencuci piring di dapur Sarinten menoleh ke arah Yuyun yang kini berdiri memunggungi menghadap ke luar jendela dapur. Sarinten ingin mengobrol dengan Yuyun menanyakan tentang Amina dan Darto apa mereka berdua sudah makan malam tapi niat tersebut segera dia urungkan lantaran merasa kondisi dan situasi saat ini sa
"Aku belum ingin melakukannya, Pak," balas Amina sembari berusaha untuk menghindar dari serangan Darto. Darto sudah berhasil menekan ujung batang miliknya ke dalam dan juga meremasi kedua bukit kembar Amina. Sesekali Darto memilin-milin kedua puting Amina yang kencang. Darto melihat kedua kaki Amina mulai gemetaran, bibir Amina juga tampak sedang menahan desahan akibat ulahnya. "Eemhh, engh, mmh," desah Amina lirih seraya meremas handuk yang tadi digunakan untuk mengeringkan rambutnya yang basah. Kedua tangan Amina memegangi sisi meja rias di depannya. "Basah Bu," bisik Darto sambil menatap reaksi Amina dari pantulan cermin di depan mereka berdua. Darto terus mendorong kejantanannya memasuki liang intim Amina, bokong Amina dipaksa menungging olehnya hingga seluruh tongkatnya bisa masuk ke dalam. "Akhh, Pak, ah, awh, aku belum ingin," tolak Amina lagi pada Darto. Amina yang tadinya menanggapi Darto dengan sikap dingin mulai mendesah nikmat.Darto tidak menyahu
"Pak, sudah ya?" Pinta Yuyun pada Darto. Tenaga Yuyun sudah terkuras sejak Darto melumat area intim Yuyun, Yuyun sudah mengeluarkan cairan kepuasan lebih dari sekali. Mendengar menantu cantiknya merengek sambil meremas-remas tengkuknya, Darto malah merasa senang dan mengukir senyum penuh gairah. "Baru juga sebentar Yun, masa mau udahan," sahutnya seraya menyibak bibir area intim Yuyun lalu menjilati dan melumatnya kembali. "Engh, awh, engggh, Pak, ooohhh, ohhh, sshhhh, aku nggak kuat, ooohh, nggghhhh," desah Yuyun sambil menggigit bibir bawahnya, kedua mata Yuyun yang sayu menatap ke bawah. Di sana Darto tidak mau berhenti menjilati area intim Yuyun yang sudah basah dan lumer karena terus dimainkan oleh bibir dan lidah Darto. "Sebentar, sluurpp, Yun cairanmu keluar lagi, kamu cantik sekali pas mengerang seperti ini," puji Darto sambil menelan cairan Yuyun yang masih meleleh turun dari area intim Yuyun. Setelah puas menghisap Darto
*** Samsudin sedang berjalan sambil membawa gerobaknya menuju ke kandang lain, dari arah belakang Narti baru datang dengan kereta tabung susu kosong untuk diantarkan pada Susanti. Melihat punggung Samsudin pergi meninggalkan lokasi kandang di mana Susanti bekerja, Narti hanya mengernyitkan keningnya. "Apa mungkin Samsudin dan Susanti ada hubungan khusus? Kenapa Samsudin dari arah kandang jatah kerja Susanti?" Gumam Narti seraya mendorong keretanya menepi dari jalan setapak. "Kok sepi? Susanti ke mana? Kereta susunya masih di sini, itu juga gerobak pakan, apa ada pekerja lain?" Tanya Narti dalam hati. Sekitar beberapa menit kemudian terdengar suara langkah kaki dari celah-celah bangunan kandang menuju ke arah Narti. Narti sengaja menunggu di sana karena ingin tahu Susanti pergi bersama siapa. "Mbak Narti?" Panggil Susanti pada Narti. "Ini aku sudah ambilkan tabung kosong untuk kamu, yang ada isinya aku bawa ke
Samsudin sudah selesai dari kandang area yang menjadi jatahnya untuk dikerjakan hari ini, dan ketika hendak mengambil gerobak untuk mengangkut kotoran sapi dia kebetulan melihat kandang bagian Nardi belum diselesaikan. "Nardi edan, masa gerobak pakan malah ditinggal di sini," omel Samsudin seraya menoleh kesana-kemari untuk menemukan Nardi. "Ke mana sih perginya itu orang!" Omelnya lagi. Saat hendak meninggalkan area tersebut Samsudin mendengar erangan wanita entah dari mana datangnya. "Ooh, Mas Nar, oohh, oowhh, ookhh, awh, aahh, aahhh, sshhh, ooohhh, terus Mas, oohh, oohh," Samsudin mengusap tengkuknya sendiri yang mulai meremang. "Nardi lagi genjotan? Suara siapa itu? Tukang jamu? Kayaknya bukan, tapi masa si Lindar? Apa kepalanya pengen dipalu sama suaminya si Lindar," gumam Samsudin sambil geleng-geleng kepala sendiri. Tepat saat berjalan melewati gang di celah-celah antara bangunan kandang Samsudin mel
Pagi-pagi sekali Sarinten menyiapkan sarapan untuk keluarga Darto. Janda berusia tiga puluh dua tahun beranak satu tersebut sudah enam bulan bekerja di kediaman Darto sejak diceraikan oleh suaminya.Darto memiliki istri sambung bernama Amina, wanita berusia empat puluh tahun pengelola empat toko pe
Brak! Saking terburu-buru sampai terdengar gebrakan keras di pintu. Sarinten bersembunyi di belakang punggung Devan, wanita itu malah merangkul pinggang Devan.Yuyun mendengar suara pintu terbuka dan tertutup kembali langsung berbalik dan mengetuk pintu kamar mandi. “Mas! Mas Devan di dalam? Burua
Tak lama kemudian, Darto dan Amina berjalan bersama-sama menuju ke ruang makan. Seperti biasa Amina mengenakan baju terusan ketat sepanjang lutut. Kedua bahu jenjangnya tampil mulus karena baju yang dikenakan Amina hanya sampai sebatas dada.Anto hampir memuntahkan kopinya menatap kedua bola yang h
Yuyun sebenarnya merasa lelah karena belakangan ini dia sering bercinta dengan Darto. Tidak ada waktu untuk memikirkan Rangga karena tubuhnya sudah tidak mampu menerima sentuhan intim dari Rangga. Yuyun sampai melamun dalam pelukan Rangga."Kamu kenapa? Ada yang mengganggu pikiran kamu, Yun?"







