Masuk“Nar, aku nggak bisa, maafkan aku..” Narti melepas paksa lengan Nardi dari pinggangnya. Dan saat berjalan melewati punggung Nardi, Narti melihat Susanti sudah berdiri di sana.
“Santi?” Narti kembali menoleh ke belakang, ke arah Nardi. Rupanya gadis cantik di depannya itu sedang menatap ke arah Nardi dengan penuh amarah.Nardi sangat kaget sekali, pria itu buru-buru berjalan mendekat ke arah Susanti. “San, mau pulang? Aku antar ya? Aku bawa motor balap baru. Kamu mau kan?” Rayunya padaNarti terus memikirkannya, sebenarnya siapa yang sudah jatuh cinta pada Anto? Setelah bertengkar dengan Anto, Narti memutuskan langsung pergi ke peternakan. Di rumah Anto, pria tersebut masih tiduran di sofa. Dia juga sedang memikirkan perkataan Narti tadi. Narti benar-benar terlihat marah dan kesal padanya. "Narti benar-benar marah sama aku? Apa jangan-jangan dia cemas kalau aku mutusin cerai? Kayaknya nggak gitu, malahan dia bilang terserah aku mau ngapain," gumam Anto pada dirinya sendiri. *** Narti sejak tadi sedang dalam perjalanan menuju ke peternakan. Setibanya di peternakan, dari posisinya berdiri sekarang dia melihat Susanti berjalan di dekat gudang peralatan sudah mendorong peralatan menuju ke kandang untuk memerah susu. Narti baru saja melewati gerbang pintu masuk. Dia berjalan perlahan menuju ke ruang ganti untuk berganti dengan baju pegawai. Narti mendengar suara motor dari belakang punggungnya. Motor tersebut
Anto tiba di rumah, Narti sudah sejak semalaman menunggunya. Ketika mendengar suara motor masuk ke halaman depan, Narti segera membuka pintu dan keluar untuk melihat."Mas, baru pulang?" Tanyanya seraya berdiri di tengah ambang pintu.Anto menatap wajah istrinya sebentar, Narti tidak terlihat marah atau ingin mengamuk. Sudah beberapa malam ini hubungan antara mereka berdua mulai merenggang. Dan Anto juga jarang menjamahnya malah lebih sering duduk di pos untuk mengobrol bersama Wawan penjual nasi goreng."Iya, aku baru pulang, Nar. Kamu nunggu aku?" Tanyanya pada Narti.Jarak hubungan antara mereka berdua terlihat sangat jelas sekali, mereka tinggal bersama di bawah atap yang sama hanya sebatas mengisi kekosongan di hati masing-masing. Hubungan tanpa perasaan mendalam, hubungan pernikahan tanpa perasaan saling mencintai."Iya, aku nunggu kamu Mas, aku kira Mas Anto diculik kuntilanak di bawah pohon besar ujung jalan sana!" Usai berkata demikian, Narti langsu
Anto berpacu cepat hingga berjam-jam lamanya, sampai Wati mendapatkan kepuasan hingga berulang kali berturut-turut. Melihat tubuh gadis perawan yang mengejang nikmat berkali-kali membuat Anto bersemangat untuk terus menyetubuhinya sampai pagi."Ah, ah, ah, ah, Wati, ooouhhhh, pepek kamu merah merekah sayang, oohhh, bulu pada selangkanganmu basah semua, ah, ah ah, aku senang sekali bisa genjot kamu dari malam sampai pagi begini," ujar Anto sambil menahan paha Wati di atas kedua lengannya sambil mendorong kejantanannya keluar-masuk dari liang intim Wati.Wati merengek-rengek nikmat sambil memeluk punggung Anto."Eemhhh, iya, Mas Anto, oouhhhhh, aku sangat puas sekali, pahaku sampai ngilu, liangku sangat enak Mas genjot sampai pagi begini," ujarnya pada Anto.Anto menelan ludahnya sendiri lalu melumat bibir Wati sambil terus menyodok-nyodok liang intim Wati hingga cairan kental mereka berdua kembali keluar untuk ke sekian kalinya.Wati tidur sambil memeluk erat
Ketika langkah mereka tiba di koridor ruang tengah yang menghubungkan ke ruang televisi. Mereka berdua langsung melihat Amina sedang duduk di atas pangkuan Darto di sofa panjang tanpa sandaran. Bokong Amina yang bulat dan bahenol itu terlihat bergerak liar dan kacau. Sementara bokong Darto tampak naik memukuli dan menusuk-nusuk lubang area intim Amina dengan super cepat. Amina terlihat sangat menikmatinya sampai lendirnya terus keluar dari liangnya dan memenuhi batang kejantanan Darto yang besar itu dengan lumuran lendir putih. "Emh, emh, akhh, ouhhh, sshhh, Pak, aku keluar, ooohh, crot, lagi, aaaakhh, emh, enak sekali Pak, batangmu besar dan mendorong pepekku sampai ke dalam, oohhhh, Pak, oohhh," ujar Amina di sela desahan nikmatnya.Amina diam-diam melirik ke arah bayangan dua orang pria yang kini sedang mengintip di pintu koridor. Amina sengaja menunjukkan tubuh telanjang dan gerakan pinggulnya yang membuat Darto mabuk kepayang, hingga memuji-muji liang basah milik Amina
Yuyun merasa kesal, sebelumnya dia sudah ingin memukul pipi Anto lantaran perkataannya sudah sangat kelewatan. Yuyun tidak menyangka Wati akan muncul tepat waktu ketika dia sudah mengangkat tangannya.Wati berjalan ke arah ruang makan. Di sana Wati menarik kursi dan duduk untuk menikmati makan malam. Anto baru saja berlalu pergi dari dapur menuju ke beranda."Mbak Yun? Kenapa?" Tegur Wati lantaran Yuyun sejak tadi tetap berdiri dan tidak duduk di kursi."Bukan apa-apa!" Ketus Yuyun pada Wati lalu melanjutkan makan malamnya.***Dari arah beranda, Darto sedang berjalan ke ruang makan karena sebelumnya dia melihat Wati dan Devan sudah pulang. Devan memilih duduk di kursi beranda, saat ini Devan masih berbincang-bincang dengan Anto.Sementara Darto memutuskan menuju ke ruang makan.Darto melihat Amina duduk seorang diri di depan layar televisi, Darto menatap gaun baru yang membalut tubuh wanita berkulit putih itu. Amina terlihat persis seperti oran
Darto sangat senang karena Yuyun tidak hanya seksi tapi juga terlihat sangat panas dan berkelas! Darto belum pernah menikmati tubuh mahal seperti milik Yuyun. Erangan Amina juga terlalu polos dan tidak bisa menggeliat seperti tubuh telanjang Yuyun yang terlihat mahal juga selalu mengundang dirinya untuk mendekati lalu menikmatinya. "Ooohhhhh, emhh, Pak, aahhhh, aahhhh, sshhh, ouhhhh, Bapak, eemhhh, ouuuhh, aahhh, aku juga keluar, aahhh, sshhhh, ookhh, enak sekali digenjot sama Bapak, aku puas sekali Pak, ookhhh," erang Yuyun entah kali ini dia mendapatkan kepuasan yang ke berapa. Yuyun sudah tidak ingat lagi. "Puas kamu sayang? Besok aku kasih jatah belanja kamu di dalam jok motor, kamu beli baju yang seksi ya? Yang kelihatan putingmu dan pepekmu dari luar, pasti kamu sangat cantik memakainya." Ucap Darto sambil mencubit mesra ujung hidung menantunya itu. Yuyun tidak menyahut tapi hanya memeluk tengkuk Darto sambil sesekali mengangkat kepala untuk melum
Yuyun sebenarnya merasa lelah karena belakangan ini dia sering bercinta dengan Darto. Tidak ada waktu untuk memikirkan Rangga karena tubuhnya sudah tidak mampu menerima sentuhan intim dari Rangga. Yuyun sampai melamun dalam pelukan Rangga."Kamu kenapa? Ada yang mengganggu pikiran kamu, Yun?"
Tak lama kemudian, Darto dan Amina berjalan bersama-sama menuju ke ruang makan. Seperti biasa Amina mengenakan baju terusan ketat sepanjang lutut. Kedua bahu jenjangnya tampil mulus karena baju yang dikenakan Amina hanya sampai sebatas dada.Anto hampir memuntahkan kopinya menatap kedua bola yang h
Brak! Saking terburu-buru sampai terdengar gebrakan keras di pintu. Sarinten bersembunyi di belakang punggung Devan, wanita itu malah merangkul pinggang Devan.Yuyun mendengar suara pintu terbuka dan tertutup kembali langsung berbalik dan mengetuk pintu kamar mandi. “Mas! Mas Devan di dalam? Burua
Pagi-pagi sekali Sarinten menyiapkan sarapan untuk keluarga Darto. Janda berusia tiga puluh dua tahun beranak satu tersebut sudah enam bulan bekerja di kediaman Darto sejak diceraikan oleh suaminya.Darto memiliki istri sambung bernama Amina, wanita berusia empat puluh tahun pengelola empat toko pe







