เข้าสู่ระบบDarto menggoyangkan pinggulnya, genjotan pria itu semakin lama semakin cepat. Ranjang Amina ikut bergerak-gerak karena genjotan Darto.
Di ruang tengah, Wati baru pulang. Gadis itu duduk di kursi meja makan untuk meneguk segelas air.Erangan serta teriakan Amina terdengar sampai ke telinga Wati.“Ouhhh, Pak, ouhh, terus, eeehhmm, aahh, enak, terus Pak, puaskan aku, ouhhh Pak!”Wati hanya menghela napas panjang sambil meneguk air dari dalam gelasnya. Sarinten berjalan dari arah"Ya sudah kalau begitu, Rinten nggak akan ikut campur lagi," jawab Sarinten seraya melenggang pergi. Kini Yuyun sendirian di ruang makan.Yuyun meneguk air dingin dari dalam gelasnya. Yuyun malas mengurus pekerjaan di kantor Rangga, bahkan besok dia juga tidak memiliki rencana untuk pergi mencari klien seperti hari ini. "Baguslah, kalau Mita datang ke rumah, artinya dia berusaha keras sampai mati-matian untuk mendapatkan apa yang dia mau, dengan begitu aku juga nggak perlu repot-repot nyari penyelesaian tentang proyek di kantor." ***Di ruangan utama, Devan terus menolak permintaan Mita untuk menceraikan Yuyun."Mas Dev, aku kurang apa sih? Kalau Mas butuh uang atau semua hal tetek bengek yang Mas butuh, aku bisa kasih!" Ujarnya pada Devan dengan blak-blakan.Devan mengernyitkan keningnya."Maaf Mit, aku bersedia berteman sama kami bukanya butuh apa-apa sama kamu. Keluargaku juga bukan keluarga yang miskin-miskin banget, Ibu sambung aku punya tujuh
Hardi mengukir senyumnya."Ya, saya memang sibuk hari ini, tapi tidak masalah jika saya ingin melihat kerjasama seperti apa yang Bu Yuyun tawarkan?" Tanyanya dengan sungguh-sungguh.Yuyun segera memberikan proposal yang dia bawa pada Hardi.Pria tersebut tampak memperhatikan isinya dengan seksama."Kemarin saya sebenarnya sudah mendapatkan klien, tapi tiba-tiba klien menarik kembali lalu membatalkan perjanjian secara sepihak, klien tidak memberikan alasan apapun. Saya sangat bingung proyek ini harus tetap dikerjakan karena semuanya sudah disiapkan untuk diluncurkan minggu depan," jelasnya.Hardi terlihat seperti mengetahui sesuatu, dia segera bertanya pada Yuyun."Kalau boleh tahu siapa klien yang sebelumnya bersedia mengerjakan proyek ini?" Tanyanya."Pak Mohan, beliau dari perusahaan Surabaya, Pak. Saat itu kami bertemu dalam acara seminar di Yogyakarta." Hardi manggut-manggut. Lima hari yang lalu Hardi tanpa sengaja bertemu dengan Mohan, pria yang
Samsudin memonyongkan bibirnya, dia kesal sekali. Ingin sekali rasanya dia memukuli orang yang ikut menyahut dalam percakapan antara dirinya dan Narti."Ngapain ikutan nimbrung!" Dumelnya."Kamu duda sekarang? Pantesan dari berangkat tadi muka kamu asem banget!" Celetuk Nardi sambil cengar-cengir menertawai sikap Samsudin."Ngapain kamu ke sini? Sana kerja!" Usir Samsudin pada Nardi."Narti nolak kamu, Sam?" Lanjut Nardi dengan ekspresi wajah menahan tawa."Aku nggak ngajak Narti nikah, aku cuma mau dia cerita tentang masalahnya biar lega, tapi kalau nggak mau ya sudah. Keputusan Narti juga terserah Narti, masa aku mau maksa-maksa," ujar Samsudin."Memangnya dia ngomong sama kamu kalau dia ada masalah? Jangan-jangan kamu besar kepala, terus pas dia cemberut kamu pikir dia ada masalah dan nebak-nebak seenak jidat kamu?" Samsudin termenung sesaat lalu menggaruk keningnya sendiri."Iya juga sih, ya pokoknya begitu! Dah sana! Pergi kamu! Bikin perasaank
Narti terus memikirkannya, sebenarnya siapa yang sudah jatuh cinta pada Anto? Setelah bertengkar dengan Anto, Narti memutuskan langsung pergi ke peternakan. Di rumah Anto, pria tersebut masih tiduran di sofa. Dia juga sedang memikirkan perkataan Narti tadi. Narti benar-benar terlihat marah dan kesal padanya. "Narti benar-benar marah sama aku? Apa jangan-jangan dia cemas kalau aku mutusin cerai? Kayaknya nggak gitu, malahan dia bilang terserah aku mau ngapain," gumam Anto pada dirinya sendiri. *** Narti sejak tadi sedang dalam perjalanan menuju ke peternakan. Setibanya di peternakan, dari posisinya berdiri sekarang dia melihat Susanti berjalan di dekat gudang peralatan sudah mendorong peralatan menuju ke kandang untuk memerah susu. Narti baru saja melewati gerbang pintu masuk. Dia berjalan perlahan menuju ke ruang ganti untuk berganti dengan baju pegawai. Narti mendengar suara motor dari belakang punggungnya. Motor tersebut
Anto tiba di rumah, Narti sudah sejak semalaman menunggunya. Ketika mendengar suara motor masuk ke halaman depan, Narti segera membuka pintu dan keluar untuk melihat."Mas, baru pulang?" Tanyanya seraya berdiri di tengah ambang pintu.Anto menatap wajah istrinya sebentar, Narti tidak terlihat marah atau ingin mengamuk. Sudah beberapa malam ini hubungan antara mereka berdua mulai merenggang. Dan Anto juga jarang menjamahnya malah lebih sering duduk di pos untuk mengobrol bersama Wawan penjual nasi goreng."Iya, aku baru pulang, Nar. Kamu nunggu aku?" Tanyanya pada Narti.Jarak hubungan antara mereka berdua terlihat sangat jelas sekali, mereka tinggal bersama di bawah atap yang sama hanya sebatas mengisi kekosongan di hati masing-masing. Hubungan tanpa perasaan mendalam, hubungan pernikahan tanpa perasaan saling mencintai."Iya, aku nunggu kamu Mas, aku kira Mas Anto diculik kuntilanak di bawah pohon besar ujung jalan sana!" Usai berkata demikian, Narti langsu
Anto berpacu cepat hingga berjam-jam lamanya, sampai Wati mendapatkan kepuasan hingga berulang kali berturut-turut. Melihat tubuh gadis perawan yang mengejang nikmat berkali-kali membuat Anto bersemangat untuk terus menyetubuhinya sampai pagi."Ah, ah, ah, ah, Wati, ooouhhhh, pepek kamu merah merekah sayang, oohhh, bulu pada selangkanganmu basah semua, ah, ah ah, aku senang sekali bisa genjot kamu dari malam sampai pagi begini," ujar Anto sambil menahan paha Wati di atas kedua lengannya sambil mendorong kejantanannya keluar-masuk dari liang intim Wati.Wati merengek-rengek nikmat sambil memeluk punggung Anto."Eemhhh, iya, Mas Anto, oouhhhhh, aku sangat puas sekali, pahaku sampai ngilu, liangku sangat enak Mas genjot sampai pagi begini," ujarnya pada Anto.Anto menelan ludahnya sendiri lalu melumat bibir Wati sambil terus menyodok-nyodok liang intim Wati hingga cairan kental mereka berdua kembali keluar untuk ke sekian kalinya.Wati tidur sambil memeluk erat
Yuyun sebenarnya merasa lelah karena belakangan ini dia sering bercinta dengan Darto. Tidak ada waktu untuk memikirkan Rangga karena tubuhnya sudah tidak mampu menerima sentuhan intim dari Rangga. Yuyun sampai melamun dalam pelukan Rangga."Kamu kenapa? Ada yang mengganggu pikiran kamu, Yun?"
Tak lama kemudian, Darto dan Amina berjalan bersama-sama menuju ke ruang makan. Seperti biasa Amina mengenakan baju terusan ketat sepanjang lutut. Kedua bahu jenjangnya tampil mulus karena baju yang dikenakan Amina hanya sampai sebatas dada.Anto hampir memuntahkan kopinya menatap kedua bola yang h
Brak! Saking terburu-buru sampai terdengar gebrakan keras di pintu. Sarinten bersembunyi di belakang punggung Devan, wanita itu malah merangkul pinggang Devan.Yuyun mendengar suara pintu terbuka dan tertutup kembali langsung berbalik dan mengetuk pintu kamar mandi. “Mas! Mas Devan di dalam? Burua
Pagi-pagi sekali Sarinten menyiapkan sarapan untuk keluarga Darto. Janda berusia tiga puluh dua tahun beranak satu tersebut sudah enam bulan bekerja di kediaman Darto sejak diceraikan oleh suaminya.Darto memiliki istri sambung bernama Amina, wanita berusia empat puluh tahun pengelola empat toko pe







