LOGINBadanku terasa segar setelah mandi, aku memakai bathrobe berwarna putih seperti milik hotel kebanyakan. Harumnya sabun, menyeruak dari kulitku yang terasa kenyal. Dinginnya AC kamar menyapa vaginaku ketika aku berbaring di tempat tidur, "Ah..." Spontan saja desahanku keluar.
Tok tok tok. Suara pintu kamar diketuk oleh seseorang. Dengan perasaan malas yang teramat sangat, aku beranjak untuk membukakan pintu.
"Bu Donna?" Seruku secara spontan ketika mel
“Non!” Dia nampak begitu terkejut dengan apa yang aku lakukan. Tanganku langsung masuk ke dalam sarung, kini aku tahu jawabannya. Aku menarik kain segitiga itu hingga terlepas dari kakinya. Kemudian kepalaku masuk ke dalam sarung. Menemukan benda panjang di pangkal pahanya, masih setengah berdiri. Aku meraih benda itu, mengurutnya dan mengulumnya. “Oh...non... Apa yang sedang kita lakukan? Oh...tidak boleh...” Katanya namun dengan jelas aku merasakan bagaimana tangannya mengelus kepalaku dari luar sarungnya. Aku yakin, dari luar sana ini adalah pemandangan yang indah. Seorang pria yang menggunakan sarung dan ada kepala yang bergerak aktif di dalamnya. Bergerak maju mundur dan sang pemilik menggeram nikmat. 
“Halo ma!” Sapaku pada mama di seberang telphone sana. Ini sudah seminggu lebih berjalan. Mama masih di Jerman mendampingi papa sekaligus menikmati bulan madubmereka yang entah keberapa. Aku tahu, mama sangat bahagia bisa menghabiskan waktu berdua bersama papa. “Kapan mama sama papa pulang?” Rengekku yang seperti anak kecil meminta permen. “Belum tahu sayang... Papa masih sibuk dan belum mengatakan apapun tentang pulang.” “Ayolah ma... Lusa Dilla sudah balik buat persiapan semester baru.” Kembali aku merengek kepada mama. “Apa kalian tidak akan pulang sebelum Dilla balik?&r
“Selamat tidur sayang.” Pak Parjo menyelimutiku setelah sesi ‘menghangatkan dinginnya malam’ di gazebo taman belakang. Aku tersenyum padanya. Senyum penuh makna terimakasih atas kehangatan yang telah ia berikan kepadaku. Aku memandangnya yang mematikan lampu hingga menutup pintu. Punggung terbuka dengan area bawah yang di tutupi sarung. Senyum sumringah masih terpatri di bibirku. Sensasi nikmat masih melekat dalam tubuh. Ketika mataku ingin terpejam, suara dering smartphoneku berbunyi. “Mama?” Gumanku saat menemukan nama mama sebagai penelepon tengah malam. “Halo ma ada apa?”
Entah kenapa ibu kota provinsi yang yang biasanya panas, kini terasa begitu dingin. Sangat dingin lebih tepatnya. Salah alam atau salah manusia yang tidak merawat bumi yang telah baik kepada manusia? Aku mencoba mencari minyak gosok di kamarku. Namun, aku tak menemukannya. “Dimana aku menaruhnya?” Gerutuku pada diriku sendiri. Dengan gaun tidurku yang longgar dan berwarna putih, aku turun menuju dapur. Mungkin ada di sana. Aku mencari-cari di dapur, dan akhirnya menemukan botol minyak gosok di buffet diatas kitchen set. Mencoba mengambilnya namun tak sampai. Sepertinya butuh pijakan. “Siapa sih yang menaruh di sana?” “Nyari apa non?” “Astaga!” Aku terkejut dengan Pak Parjo yang tiba-tiba muncul dibelakangku. “Bikin Dilla terkejut aja pak.” Protesku yang masih dengan jantung berdetak dengan cepat karena terkejut. “Maaf non.” Ucapnya. “Tadi saya sudah mau tidur, tapi saya mendengar ada suara di dapur jadi saya cek.” Yah, memang
Rumah terasa begitu sunyi, papa telah berangkat ke Jerman dua hari yang lalu. Yang ku lakukan hanya menonton tv dengan lesu. Bahkan mama yang biasanya sangat antusias dengan acara gosippun, kini hanya lunglai di sebalahku. “Mama badmood?” Tanyaku yang mamandang mama yang terlihat begitu suram. “Bagaimana nggak badmood? Papa pulang, waktunya hanya buat kamu. Mama dianggurin.” Kata mama yang menghela nafas. Membuatku sedikit bersalah karena memonopoli waktu papa. “Halo.” Mama mengangkat smartphonenya yang berdering. “Beneran pa?” Tanya mama girang, sepertinya itu adalah telphone dari papa. “Baiklah besok mama berangkat pa.” Kata mama yang langsung menutup telphonenya dengan wajah sumringah. “Kok bahagia banget ma? Emang mama mau berangkat ke mana?” Tanyaku pada mama. “Nyusul papa dong. Ternyata papa juga kangen sama mama.” “Dilla ikut dong ma.” Rengekku dengan muka memelas. “Tidak bisa. Kalau kamu ikut, n
Liburan semester telah menanti di depan mata, semua barang di kos telah ku kemasi. Anak baru itu terlihat sangat membutuhkan tempat ini untuk berlindung. Ia benar-benar membutuhkan om Brham. Gadis manis yang sayangnya takdirnya ‘tak semanis wajahnya. Ku harap dia menemukan harapan baru untuk berada di kos itu, dengna bimbingan om Brahm pastinya. So, aku menyerahkan kamarku dengna sukarela setelah merasakan berteduh di tempat yang penuh dengan hal menyenangkan itu. Barangku seharusnya saat ini telah masuk mobil box dan diantar ke appartementku. “Huft” Aku menghela nafas. Karena sekali lagi tidak bisa bertemu dengan dosen yang seharusnya menjadi dosen pembimbingku. Beliau memberitahukan melalui pesan singkat, bahwa judul yang aku ajukan, tinggalkan saja di meja yang berada di ruangannya. Apakah aku akan baik-baik saja dengan dosen yang sesibuk ini? Setelah meletakkan judul skripsi yang kuinginkan beserta referensi yang menjadi peganganku, aku meninggalkan ruangan itu dengan l
Aku terbangun, sudah siang ternyata. Ku renggangkan otot tubuhku, aku tersenyum kala mendengar gemericik air dari kamar mandi. Itu pasti Leon, seperti rencana di awal kami menginap di hotel dari Jumat malam hingga saat ini. Senyumku yang merekah karena mengingat kegiatan kami semalam langsung lun
"Selamat memasuki dunia dewasa sayang..."Ucapan mama terngiang di telingaku, pemandangan di luar sana terasa begitu... Entahlah, sebenarnya pemandangannya biasa. Hanya saja mungkin suasana hatiku yang berbeda. Berdebar-debar menikmati waktu berjalan menuju malam, sedang ini masih sore. Malam ini ak
"Babe, kok ngelamun? Nggak suka sama makanannya?" Suara Leon menarikku kembali dari kenangan masa lalu."Ah apa?" Tanyaku."Kamu kok ngalamun? Kenapa? Nggak suka makanannya? Atau tempatnya?" Tanyanya sekali lagi dengan penuh perhatian, satu hal yang mudah
"Babe, kok ngelamun? Nggak suka sama makanannya?" Suara Leon menarikku kembali dari kenangan masa lalu."Ah apa?" Tanyaku."Kamu kok ngalamun? Kenapa? Nggak suka makanannya? Atau tempatnya?" Tanyanya sekali lagi dengan penuh perhatian, satu hal yang mudah







