ホーム / Romansa / Love Me, Like I Do / Bab 3 - Tugas Tambahan

共有

Bab 3 - Tugas Tambahan

last update 公開日: 2024-11-20 12:45:08

Lalu ingatan Aiko kembali pada kejadian dua hari yang lalu. Perasaannya jadi tidak enak, hal ini ada kaitannya dengan kejadian tersebut.

"Aku akan berusaha menyelesaikannya, semampuku. Permisi," Aiko mengumpulkan semua kertas yang ada di meja tersebut kemudian membawanya ke mejanya.

***

"Mic, maaf aku belum bisa pulang. Masih ada beberapa sketch lagi yang harus aku selesaikan. Iya, aku akan menceritakannya nanti. Bye," sambungan telepon Aiko dengan Mic mati, Aiko berusaha tidak membuat Mic khawatir, apalagi membuat wanita itu kembali datang ke kantor.

Aiko tetap berusaha menyelesaikan pekerjaan yang diminta oleh Steve. Mata Aiko sudah mulai lelah, Aiko juga sudah melewatkan jam makan malam. Pikiran Aiko berkecamuk, antara menyerah dan melanjutkannya. Tapi jika Aiko menyerah dan dipecat, pasti akan sulit mencari pekerjaan lagi.

"Tidak! Aku harus semangat, sisa sedikit lagi. Semangat Ai! Kau pasti bisa," Aiko berusaha menyemangati dirinya sendiri.

Karena malam sudah larut, Aiko memutuskan membawa sisa pekerjaannya ke rumah, setidaknya Aiko tidak kesepian karena ada Mic yang menemaninya.

Aiko keluar dari ruangan dengan membawa beberapa sketch yang belum selesai. Rasanya cukup ngeri menuju lantai bawah dengan suasana yang sepi seperti ini. Aiko seperti merasa ada yang mengawasinya. Namun tak ada seorangpun di sana.

Aiko mengabaikan rasa cemasnya, namun ketika sampai di lantai dasar menuju pintu keluar, Aiko berpapasan dengan Ivander.

Aiko memilih untuk tidak memedulikan sekitarnya, Aiko berjalan menuju taksi yang sedang terparkir di dekat kantor.

"Apa kau sudah menyelesaikan semua tugas yang Steve berikan?" Ivander berjalan mendekati Aiko.

Aiko berusaha tidak terlihat panik, takut atau apapun itu. Aiko mungkin tidak pandai berbohong, tapi Aiko tidak ingin pria ini kembali berlaku tidak baik padanya.

Aiko mendengus kasar, kemudian menoleh melihat pria tersebut.

"Aku akan melanjutkannya di rumah, masih sisa beberapa sketch saja. Besok pagi akan kuserahkan langsung di meja Pak Steve," Aiko kembali berjalan tanpa menunggu balasan dari Ivander.

Ivander mengeram, beberapa kata kata kasar kembali keluar dari mulutnya, dan Aiko berhasil membuatnya terlihat seperti pecundang.

***

Jam sudah menunjukkan pukul 08.15 AM dan Aiko sudah berada di kantor. Penampilan Aiko pagi ini cukup berantakan, karena Aiko baru menyelesaikan sisa sketch dari Steve pukul 4 pagi tadi. Jadi Aiko hanya tidur 4 jam saja.

Beberapa kali rekan kerja yang lain memerhatikan Aiko yang terus menguap.

"Apa kau tidak cukup tidur, Ai?" Ara asisten manager yang ramah tsb menghampiri Aiko.

Aiko buru buru berdiri dan berusaha sekuat mungkin untuk melebarkan matanya yang sebentar lagi akan terpejam.

"Ah tidak bu! Aku hanya sedikit lelah. Setelah meminum kopi aku pasti akan merasa segar kembali," Ara tersenyum mengangguk dan berjalan meninggalkan Aiko.

Bunyi dering telepon meja kembali menyadarkan Aiko sebelum benar benar memejamkan matanya.

"Aiko, tolong ke ruanganku sebentar yah," Aiko tidak sadar telah menekan tombol pengeras suara dan melihat ke ruangan Steve sebelum mematikan sambungan dua arah tsb.

Aiko berjalan bergegas dan tidak memperhatikan jika sejak tadi seseorang telah mengamatinya.

Tok tok tok

"Masuk!" terdengar suara dari dalam yang mempersihlakan Aiko masuk.

"Jam berapa kau menyelesaikan semua ini?? Apakah kau yakin kau cukup tidur??" Steve melihat Aiko dengan tatapan prihatin.

"Aku tetap harus menyelesaikannya walaupun kekurangan tidur Sir, bukankah akan terjadi masalah jika perintah dari Mr. Sempurna tidak sesuai keinginannya?" Aiko berusaha tersenyum walaupun sebenarnya Aiko justru sangat ingin tidur saat ini juga.

"Kau memang bisa diandalkan Ai. Terima kasih atas bantuanmu, kau pulanglah. Aku akan memberimu ijin sehari," raut wajah bahagia Aiko tak dapat disembunyikan.

"Anda sedang tidak bercanda kan? Aku benar benar bisa pulang dan beristirahat?" Aiko masih tidak percaya dengan apa yang baru saja dikatakan oleh Steve.

"Tidak! Aku tidak memberinya ijin, dia digaji untuk bekerja, bukan untuk bersantai," pintu ruangan Steve terbuka dan Ivander muncul di sana dengan tatapan tajamnya pada Aiko.

Aiko dan Ivander bagaikan tikus dan kucing, selalu saja ada hal yang membuat mereka berargumen, bertengkar.

Aiko mencelos, angan angan Aiko untuk tidur nyenyak jadi sirna. Steve dengan pandangan tidak biasa melihat ke arah COO sekaligus teman seangkatannya itu.

"Dia bisa sakit jika tidak istirahat. Apa kau akan bertanggung jawab jika Aiko sakit? Kau harus menghargai kerja kerasnya, pekerjaan untuk tiga orang kau berikan pada Aiko dan dia bisa mengerjakannya dalam waktu satu hari," Steve membuka lembaran demi lembaran sketch yang Aiko kerjakan, mencoba memperlihatkannya pada Ivander.

Ivander mendelik tidak suka pada perkataan Steve, kemudian mengalihkan pandangannya kembali pada Aiko. Aiko seketika menunduk, dan merutuki dirinya sendiri, kemana rasa percaya dirimu semalam Ai?

"Terserah kau saja, aku malas berdebat denganmu. Pastikan semua sketchnya tidak ada kekurangan!" Ivander berjalan keluar dari ruangan Steve tanpa menunggu jawaban temannya tersebut.

Setelah Ivander keluar dari ruangan Steve, Aiko juga segera pamit dan kembali ke tempatnya.

***

Aiko bisa pulang lebih cepat dan beristirahat karena kemuran hati Steve, Aiko tidak bisa membayangkan bagaimana kondisinya di kantor tadi jika Aiko tetap melanjutkan pekerjaan sementara mata dan tubuhnya meminta untuk diistirahatkan.

Aiko menghabiskan waktu istirahatnya dengan, menonton serial terbaru di N*****x, dan membaca pesan yang dikirimkan puluhan nomor yang tidak Aiko kenali.

Ddrrtt..ddrrtt..ddrrtt

Getaran handphone mengehentikan sejenak kegiatan Aiko. Tertera nama Mic di sana.

"Ai, aku butuh bantuanmu di kantor sekarang. Bisakah kau ke sini sebentar? Aku berjanji akan mentraktrimu makan malam mewah," Aiko melirik jam dinding di kamarnya. Masih jam tujuh malam dan Aiko rasa istirahat kali ini sudah lebih dari cukup.

"Baiklah, aku akan ke sana dalam sepuluh menit," Aiko bergegas merapikan rambut dan pakaiannya lalu bergegas turun dari apartment.

Setibanya di kantor, Aiko segera ke ruangan Mic yang tidak begitu jauh dari ruangannya.

Aiko melewati ruangan ruangan yang sudah gelap dan kosong.

Aiko mendengar suara suara aneh dari ruangan model di dekatnya, ruangan yang selalu Aiko lewati untuk menuju kantor Mic.

Awalnya Aiko ingin mengabaikan suara suara itu, tapi erangan pria dan wanita yang terdengar tak biasa membuatnya mendekati ruangan tersebut.

Aiko sontak menutup mulutnya saat melihat pemandangan tidak senonoh di depannya.

"Astaga, aku tahu dia brengsek dan kejam tapi kenapa aku harus melihatnya sekarang?!" Aiko membatin. Aiko berlari menuju tempat Mic dan bersembunyi. Mic heran karena melihat Aiko menangis dan kacau.

"Hei, apa yang terjadi?" Aiko menarik tangan Mic menuju toilet di ujung ruangannya, Aiko harus menjauh dari lokasi yang bisa membuat Ivander menemukan Aiko. Walau itu tidak akan pernah terjadi.

Aiko berusaha menahan tangisanya dan mengolah nafas agar bisa menceritakan kejadian tadi pada Mic.

"Aku melihatnya bersama seorang wanita di ruangan model, mereka 'make out' setengah telanjang dan aku tidak bisa Mic, aku masih belum bisa menghapusnya dari sini," Aiko menunjuk dadanya, hatinya sakit.

Mic segera memeluk dan menenangkan Aiko.

"Maaf Ai, aku tidak tahu kalau masih ada orang di kantor. Aku membutuhkan bantuanmu untuk melihat beberapa bahan yang akan digunakan untuk kebutuhan pameran musim dingin," Mic masih menenangkan Aiko, tapi Aiko masih belum bisa menghapus ingatan tentang Ivander dan entah siapa wanita itu.

この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード

最新チャプター

  • Love Me, Like I Do   Bab 69 - Pesta Ulang Tahun

    Taman belakang mansion Ivander dan Aiko telah disulap sedemikian rupa untuk pesta ulang tahun yang saat ini tengah berlangsung. Ivander hanya mengundang beberapa rekan kantor dan keluarga inti. Ada Ara, Steve, Samantha, Mic tentu saja, dan seorang yang selama ini hanya Aiko lihat beberapa kali dan pernah menolongnya, Tristan Aldan. Cass, Jay, Jade dan kedua orang tua Ivander juga hadir untuk memeriahkan pesta ulang tahun yang terakhir diadakan beberapa tahun yang lalu, karena Ivander saat itu menjadi pria yang bebas dan ingin melakukan apapun sesuka hatinya, termasuk tidak membuat pesta ulang tahun bersama keluarganya. Dan tahun ini, keluarga, dan rekan kerja Ivander berkumpul bersama. Aiko memiliki peran penting untuk acara malam ini. "Sayang, aku akan duduk di gazebo sana, jika butuh sesuatu panggil aku yah?" Aiko sudah bersiap melangkah meninggalkan Ivander, namun Ivander tidak membiarkannya pergi begitu saja. "Apa kau merasa tidak nyaman? Apa perutmu sakit?" Aiko mengge

  • Love Me, Like I Do   Bab 68 - Cemburu

    Ivander berusaha tidak tertidur setelah meminta maaf kepada Aiko, walaupun dirinya yakin Aiko tidak akan mendengar apapun yang dikatakannya tadi. Wajah tertidur Aiko adalah pemandangan yang menenangkan, tapi disudut lain hatinya, ada perasaan yang membuatnya tidak bisa membiarkan hal ini berlarut larut. Aiko menggeliat pelan saat sebuah tangan melingkari perutnya. Ivander? Di jam kantor? Ini pasti mimpi karena dirinya terlalu sedih tadi. Aiko mengelus lembut punggung tangan yang melingkari perutnya, rasanya hangat, dan seperti bukan mimpi. Aiko menikmati pelukan ini, rasanya ingin berlama lama merasakannya. Ivander hanya pura pura memejamkan matanya. Merasakan belaian lembut Aiko pada punggung tangannya. “Aku sangat sedih saat kau tidak percaya bahwa aku menghubungi Peter dan memintanya memesan hotel untuk ulang tahunmu nanti. Aku tidak tahu lagi, acara spesial yang apa yang harus aku siapkan untukmu. Kau sudah memiliki segalanya, kekayaan, barang bermerek, karir. Aku tidak

  • Love Me, Like I Do   Bab 67 - Pertengkaran Kecil

    Tiga hari lagi ulang tahun Ivander dan Aiko belum menyiapkan apa apa untuk sang suami. Beberapa ide membuatnya cukup kesulitan sendiri. Ivander telah berangkat ke kantor 1 jam lalu, dan selama 1 jam itu pula Aiko menghabiskan waktunya di gazebo taman belakang. Sudah tiga pekan dirinya dan Ivander tinggal di rumah orang tua Ivander. Rasanya Aiko cukup merindukan untuk kembali ke mansion-nya, Aiko merindukan kamarnya dan suasana di rumah itu. iPad yang menemaninya sambil mengulir halaman pencarian mengenai ide ide hadiah dan persembahan yang bisa menjadi salah satu hal yang bisa diwujudkannya. Ivander telah memiliki semuanya, kemewahan, status dan karier. Baru kali ini Aiko akan memberikan hadiah kepada Ivander. Dan untuk saat ini sama sekali tidak ada hal yang terlintas dibenaknya untuk diberikan kepada sang suami. Getaran handphone di saku cardigannya membuatnya sedikit teralihkan dari iPad yang ada dipangkuannya. 1 pesan dari Mic - dan ternyata Mic rindu padanya. Tanpa pikir

  • Love Me, Like I Do   Bab 66 - Tes DNA

    Ivander telah mengambil beberapa lembar rambut Aiko yang menempel di bantal, lalu memasukannya ke dalam plastik sampel. Saat ini Aiko sedang mandi, sehingga Ivander memanfaatkan kesempatan yang ada, karena sampel rambut Ibu Aldan sudah lebih dulu dikirim ke rumah sakit. Namun Ivander merasa, ini bukan hal yang benar, dirinya seperti pembohong, dan tidak ingin Aiko berpikir seperti itu tentang dirinya. Ivander lalu mengeluarkan kembali rambut tersebut dan menyimpan plastik sampelnya. Setelah ini, Ivander akan memberi tahunya pada Aiko. Ivander menyusul Aiko ke dalam kamar mandi, membantunya membersihkan badan. “Sayang, kau tidak ke kantor?” Aiko cukup terkejut karena setelah mandi, bukannya mengenakan setelan kantor, Ivander justru mengenakan pakaian santai. “Tidak, aku ada pertemuan siang nanti di Hotel Manhattan. Apa kau mau jalan jalan sore nanti? Aku sudah lama tidak mengajakmu keluar. Aku akan meminta ijin pada Cass terlebih dahulu.” Ivander membantu mengelap tubuh Aiko

  • Love Me, Like I Do   Bab 65 - Pertemuan Pribadi

    Ivander dengan telaten benar benar mengurus istrinya, mengambilkan makanan dan minumannya, membantunya ke toilet, membantunya memilih pakaian. Bukan karena Aiko tidak bisa melakukannya, namun karena itu merupakan bentuk tanggung jawab dan kasih sayang Ivander sehingga ingin Aiko benar benar bedrest. "Kau memperlakukanku seperti orang sakit. Padahal aku bisa melakukannya sendiri." Aiko memanyunkan bibirnya, dan dikecup singkat oleh Ivander. Ivander sengaja mengurus Aiko lebih cepat, karena pukul 6 nanti Ivander akan keluar - walaupun faktanya bukan untuk bekerja. "Jangan jauh jauh dari handphone-mu, aku juga sudah menyiapkan beberapa buku yang mungkin akan kau sukai. Jika ingin ke kamar mandi tekan bel ini, pelayan akan datang untuk membantumu. Aku berharap kau mendengar kata kataku, jangan melakukannya sendirian. Kau mengerti sayangku?" Ivander telah siap dengan pakaian semi formalnya, dan selalu terlihat menawan. Aiko mengangguk patuh mendengarkan kata kata Ivander, lalu membu

  • Love Me, Like I Do   Bab 64 - Pesan Anonim

    Setelah pemulihan 3 hari di rumah sakit, Aiko akhirnya diperbolehkan pulang. Dengan catatan tidak boleh melakukan pekerjaan rumah tangga, istirahat bercinta selama 2 pekan, tidak boleh stress berlebih. Ivander yang mendengar peringatan dari Cass, memilih untuk mengurungkan niatnya memberitahu Aiko mengenai proses pencarian keluarganya saat ini. Hal ini pasti pernah menjadi mimpi Aiko, walaupun Aiko tidak menyatakannya secara terang terangan. Namun, karena sebelumnya Ivander memberinya harapan akan mencari keberadaan ayahnya, sehingga Aiko berharap suatu hari nanti akan ada kabar mengenai siapa ayah kandungnya sebenarnya. Ivander dan Aiko tidak kembali ke rumahnya, melainkan ke rumah orang tuanya. Karena entah mengapa, untuk saat ini Ivander ingin Aiko lebih dekat dengan pemantauan Cass. Berhubung saat ini Cass tinggal di rumah orang tua Ivander, sehingga lebih mudah baginya jika ada hal yang ingin ditanyakan. Aiko kembali ke rumah disambut raut bahagia Hannah. Rasanya sangat senan

  • Love Me, Like I Do   Bab 7 - Jatuh Lebih Dalam

    Luar biasa! Meeting ini benar benar menguras energi. Meeting dimulai pukul sebelas dan baru selesai pukul enam sore. Yah tentu saja karena Aiko dan Ivander meeting dengan beberapa klien. Dan sejauh ini, para klien sangat puas dengan hasil kerja team mereka.Saat ini meeting telah selesai, tapi Ivand

  • Love Me, Like I Do   Bab 6 - Dinas Luar Kota

    Perjalanan Aiko dan Ivander diliputi keheningan, hanya sesekali Ivander bersenandung kecil mengikuti lagu yang diputar di radio. Karena bingung harus bagaimana, Aiko hanya bisa pura pura tidur untuk menikmati suara Ivander. Suaranya terdengar merdu, astaga maksudnya, suaranya tidak jelek.Aiko meras

  • Love Me, Like I Do   Bab 2 - Perubahan

    Masih hening. Aiko merenungkan apa yang dikatakan Mic barusan. "Kau juga masih muda, pasti banyak pria di luar sana yang akan tertarik padamu, jika kau sedikit saja mengubah penampilanmu. Aku pikir sudah seharusnya kau meninggalkan kacamata burung hantu itu. Bagaimana kalau kita sedikit berbelanja

  • Love Me, Like I Do   Bab 1 - Tidak Dianggap

    New York City 11.30 AMAiko memperhatikan seorang pria yang sedang berbincang bincang dengan beberapa temannya. Mata Aiko tidak sedikitpun bergeser dari pria tersebut. Pria dengan sejuta pesona, namun mampu mematahkan hati wanita sebanyak yang dia mau.Cleosa Nicolas Ivander, pria dengan perawakan

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status