LOGINWaktu sudah menunjukkan pukul 1 malam, dan Ivander masih berada di taman sambil menikmati wine kesukaannya. Cass, dan kedua orang tuanya sudah masuk ke dalam rumah untuk beristirahat, sedangkan Jade entah kemana. Dari kejauhan Jay mendekati Ivander yang terlihat melamun dan sudah cukup mabuk. "Masuklah, kau sudah mabuk." Jay menepuk pelan pundak Ivander, yang kemudian menengadahkan wajahnya untuk melihat siapa yang mendekatinya. "Wine-nya tidak senikmat tadi, apa kau punya sesuatu yang manis? Aku tidak ingin saat Aiko menciumku nanti, mulutku terasa pahit." Jay menggeleng mendengar kata kata Ivander, lalu merogoh sesuatu dari dalam kantong celananya. Sebelum ke mansion Ivander, Jay sempat bertemu dengan temannya di sebuah club dan memberinya sebuah coklat. Berhubung Jay bukan pecinta coklat, maka coklat tersebut diberikannya pada Ivander. "Ini, seorang teman memberikannya tadi. Setelah memakannya, masuk ke kamarmu. Jangan tidur di sini jika kau tidak ingin Aiko marah padamu. Aku
Taman belakang mansion Ivander dan Aiko telah disulap sedemikian rupa untuk pesta ulang tahun yang saat ini tengah berlangsung. Ivander hanya mengundang beberapa rekan kantor dan keluarga inti. Ada Ara, Steve, Samantha, Mic tentu saja, dan seorang yang selama ini hanya Aiko lihat beberapa kali dan pernah menolongnya, Tristan Aldan. Cass, Jay, Jade dan kedua orang tua Ivander juga hadir untuk memeriahkan pesta ulang tahun yang terakhir diadakan beberapa tahun yang lalu, karena Ivander saat itu menjadi pria yang bebas dan ingin melakukan apapun sesuka hatinya, termasuk tidak membuat pesta ulang tahun bersama keluarganya. Dan tahun ini, keluarga, dan rekan kerja Ivander berkumpul bersama. Aiko memiliki peran penting untuk acara malam ini. "Sayang, aku akan duduk di gazebo sana, jika butuh sesuatu panggil aku yah?" Aiko sudah bersiap melangkah meninggalkan Ivander, namun Ivander tidak membiarkannya pergi begitu saja. "Apa kau merasa tidak nyaman? Apa perutmu sakit?" Aiko mengge
Ivander berusaha tidak tertidur setelah meminta maaf kepada Aiko, walaupun dirinya yakin Aiko tidak akan mendengar apapun yang dikatakannya tadi. Wajah tertidur Aiko adalah pemandangan yang menenangkan, tapi disudut lain hatinya, ada perasaan yang membuatnya tidak bisa membiarkan hal ini berlarut larut. Aiko menggeliat pelan saat sebuah tangan melingkari perutnya. Ivander? Di jam kantor? Ini pasti mimpi karena dirinya terlalu sedih tadi. Aiko mengelus lembut punggung tangan yang melingkari perutnya, rasanya hangat, dan seperti bukan mimpi. Aiko menikmati pelukan ini, rasanya ingin berlama lama merasakannya. Ivander hanya pura pura memejamkan matanya. Merasakan belaian lembut Aiko pada punggung tangannya. “Aku sangat sedih saat kau tidak percaya bahwa aku menghubungi Peter dan memintanya memesan hotel untuk ulang tahunmu nanti. Aku tidak tahu lagi, acara spesial yang apa yang harus aku siapkan untukmu. Kau sudah memiliki segalanya, kekayaan, barang bermerek, karir. Aku tidak
Tiga hari lagi ulang tahun Ivander dan Aiko belum menyiapkan apa apa untuk sang suami. Beberapa ide membuatnya cukup kesulitan sendiri. Ivander telah berangkat ke kantor 1 jam lalu, dan selama 1 jam itu pula Aiko menghabiskan waktunya di gazebo taman belakang. Sudah tiga pekan dirinya dan Ivander tinggal di rumah orang tua Ivander. Rasanya Aiko cukup merindukan untuk kembali ke mansion-nya, Aiko merindukan kamarnya dan suasana di rumah itu. iPad yang menemaninya sambil mengulir halaman pencarian mengenai ide ide hadiah dan persembahan yang bisa menjadi salah satu hal yang bisa diwujudkannya. Ivander telah memiliki semuanya, kemewahan, status dan karier. Baru kali ini Aiko akan memberikan hadiah kepada Ivander. Dan untuk saat ini sama sekali tidak ada hal yang terlintas dibenaknya untuk diberikan kepada sang suami. Getaran handphone di saku cardigannya membuatnya sedikit teralihkan dari iPad yang ada dipangkuannya. 1 pesan dari Mic - dan ternyata Mic rindu padanya. Tanpa pikir
Ivander telah mengambil beberapa lembar rambut Aiko yang menempel di bantal, lalu memasukannya ke dalam plastik sampel. Saat ini Aiko sedang mandi, sehingga Ivander memanfaatkan kesempatan yang ada, karena sampel rambut Ibu Aldan sudah lebih dulu dikirim ke rumah sakit. Namun Ivander merasa, ini bukan hal yang benar, dirinya seperti pembohong, dan tidak ingin Aiko berpikir seperti itu tentang dirinya. Ivander lalu mengeluarkan kembali rambut tersebut dan menyimpan plastik sampelnya. Setelah ini, Ivander akan memberi tahunya pada Aiko. Ivander menyusul Aiko ke dalam kamar mandi, membantunya membersihkan badan. “Sayang, kau tidak ke kantor?” Aiko cukup terkejut karena setelah mandi, bukannya mengenakan setelan kantor, Ivander justru mengenakan pakaian santai. “Tidak, aku ada pertemuan siang nanti di Hotel Manhattan. Apa kau mau jalan jalan sore nanti? Aku sudah lama tidak mengajakmu keluar. Aku akan meminta ijin pada Cass terlebih dahulu.” Ivander membantu mengelap tubuh Aiko
Ivander dengan telaten benar benar mengurus istrinya, mengambilkan makanan dan minumannya, membantunya ke toilet, membantunya memilih pakaian. Bukan karena Aiko tidak bisa melakukannya, namun karena itu merupakan bentuk tanggung jawab dan kasih sayang Ivander sehingga ingin Aiko benar benar bedrest. "Kau memperlakukanku seperti orang sakit. Padahal aku bisa melakukannya sendiri." Aiko memanyunkan bibirnya, dan dikecup singkat oleh Ivander. Ivander sengaja mengurus Aiko lebih cepat, karena pukul 6 nanti Ivander akan keluar - walaupun faktanya bukan untuk bekerja. "Jangan jauh jauh dari handphone-mu, aku juga sudah menyiapkan beberapa buku yang mungkin akan kau sukai. Jika ingin ke kamar mandi tekan bel ini, pelayan akan datang untuk membantumu. Aku berharap kau mendengar kata kataku, jangan melakukannya sendirian. Kau mengerti sayangku?" Ivander telah siap dengan pakaian semi formalnya, dan selalu terlihat menawan. Aiko mengangguk patuh mendengarkan kata kata Ivander, lalu membu
Masih hening. Aiko merenungkan apa yang dikatakan Mic barusan. "Kau juga masih muda, pasti banyak pria di luar sana yang akan tertarik padamu, jika kau sedikit saja mengubah penampilanmu. Aku pikir sudah seharusnya kau meninggalkan kacamata burung hantu itu. Bagaimana kalau kita sedikit berbelanja
New York City 11.30 AMAiko memperhatikan seorang pria yang sedang berbincang bincang dengan beberapa temannya. Mata Aiko tidak sedikitpun bergeser dari pria tersebut. Pria dengan sejuta pesona, namun mampu mematahkan hati wanita sebanyak yang dia mau.Cleosa Nicolas Ivander, pria dengan perawakan
Perjalanan Aiko dan Ivander diliputi keheningan, hanya sesekali Ivander bersenandung kecil mengikuti lagu yang diputar di radio. Karena bingung harus bagaimana, Aiko hanya bisa pura pura tidur untuk menikmati suara Ivander. Suaranya terdengar merdu, astaga maksudnya, suaranya tidak jelek.Aiko meras
Dari sekian banyak SMS dan chat, Aiko tidak berniat membaca apalagi membalasnya. Aiko tidak jual mahal, Aiko hanya merasa ini adalah efek dari penampilan barunya. Mereka tidak benar benar serius pada Aiko. Aiko sudah menghapus 32 chat pagi ini, dan sepertinya hal ini akan menjadi rutinitas barunya s







