LOGINCeline never thought her life would change overnight. Isang simpleng saleslady na kumakayod araw-araw para mabuhay, hanggang sa isang gabing malasing siya at magising na may iniwang marka, at isang misteryosong numero. Akala niya, tulad ng iba, lilipas lang iyon… pero hindi pala. When she finds herself pregnant and cornered by her own family, destiny pushes her to dial that number. Sa hindi inaasahang pagkakataon, bumalik sa kanyang buhay si Adrian Castillo, isang lalaking mayaman, makisig, ngunit malamig at misteryoso. Sa harap ng mayor mismo, napilitan silang magpakasal. Will their unexpected marriage bloom into love, or will it remain just a shadow of an arrangement?
View More"Wah-wah, lihat siapa gadis cantik yang sedang sendirian ini. Bukankah kamu membutuhkan teman untuk menghabiskan malammu, Nona?" celetuk lelaki yang memiliki tato ular di leher. Ternyata lelaki itu sudah mengawasi Dayana sejak masuk ke dalam kelab malam.
"Kamu siapa? Apa kamu mengenalku? Atau mungkin aku sudah mengenalmu tapi lupa?" racau Dayana yang berusaha mempertahankan kesadarannya. Dia menjawab pertanyaan lelaki bertato itu dengan mendorong badannya ke depan hingga membuat belahan dadanya terlihat jelas.
"Siapa aku itu tidak penting, Nona. Tapi yang jelas kita akan menghabiskan malam ini dengan penuh kenikmatan," jawab lelaki itu sambil menyeringai seram. Rasanya dia sudah tidak sabar ingin menyeret Dayana ke atas ranjang lalu mencicipi tubuhnya.
Lelaki kurang ajar itu menarik tangan Dayana dalam satu kali sentak dan berusaha mencium bibir gadis itu. Dayana yang masih sedikit sadar pun berusaha melepaskan diri dari cengkeraman lelaki itu.
"Sialan! Lepaskan aku berengsek! Kamu pikir aku wanita murahan yang mau mengangkang di depan sembarang pria!"
"Ayolah, Sayang. Aku tahu kamu sudah tidak tahan dengan sensasi panas yang ada di dalam tubuhmu ini, kan? Ayo kita percepat ini sebelum hal buruk terjadi padamu," ancam lelaki itu sambil mendekap tubuh Dayana dengan erat.
"Berengsek, aku tidak sudi! Lepaskan aku sialan! Bedebah kau!" Kesabaran Dayana sudah habis. Dia berusaha keras melepaskan diri dari dekapan lelaki bernama Alex itu. Namun, tenaganya tidak sebanding dengan Alex.
Di mata pengunjung kelab, Dayana dan Alex tampak seperti sepasang kekasih yang sedang memadu cinta. Saling mendekap, menyentuh, dan berbagi perasaan di bawah gemerlap lampu disko. Namun, yang terjadi sebenarnya ibarat harimau yang berusaha menangkap kelinci buruannya.
Dayana mulai tidak kuat melawan Alex karena pengaruh minuman beralkohol yang masuk ke dalam tubuhnya. Dia terlihat pasrah ketika Alex mengangkat tubuhnya dan membawanya pergi meninggalkan kelab.
Air mata itu jatuh begitu saja membasahi pipi Dayana. Dalam hati dia berharap semoga ada seseorang yang akan menyelamatkannya.
'Tuhan, selamatkan aku,' batin Dayana sebelum kegelapan merenggut kesadarannya.
***
Alex membawa Dayana yang sudah tidak sadarkan diri ke sebuah hotel eksklusif yang berada di lantai atas kelab. Di lorong yang minim cahaya diam-diam ada seseorang yang membuntuti mereka.
"Permisi, Tuan. Sepertinya Anda sedang terburu-buru," sergah seorang lelaki bertuxedo hitam dengan rambut yang disisir rapi ke samping.
"Ah, maaf. Kekasihku sedang mabuk dan membuat sedikit keributan, jadi aku ingin membawanya pulang."
"Apa benar begitu? Tapi arah keluar kelab malam ini berada di sebelah sana, Tuan. Kenapa Anda malah menuju ruangan eksklusif yang berada di lantai atas?"
Alex menggeram kesal karena lelaki yang berdiri di hadapannya sekarang mencoba untuk menghalanginya yang ingin menikmati tubuh Dayana. "Maaf, aku tidak tahu kalau pintu keluarnya di arah sana. Kalau begitu permisi."
Karena tidak ingin mengambil resiko, Alex pun memutuskan untuk mencari tempat lain. Dia memasukkan Dayana ke dalam mobil Civic hitam miliknya yang terparkir di basement lalu memacu kendaraan itu menuju hotel bintang lima yang berada di pusat kota. The Acacia Hotel namanya.
Di dalam kamar nomor 110, dia langsung mengempaskan tubuh Dayanan di atas tempat tidur dan memaksa gadis itu untuk menelan obat perangsang. Dia melihat setiap lekuk tubuh Dayana dengan penuh minat.
"Sempurna. Kamu benar-benar gadis yang sempurna, Dayana. Mari kita mulai malam yang panas ini bersama," ucapnya sambil meloloskan gaun merah yang Dayana kenakan.
"Erngh ...." Dayana mengerang tertahan karena merasa ada seseorang yang menyentuh tubuhnya. Kedua mata gadis itu sontak membelalak lebar, terkejut melihat lelaki yang dia temui di kelab malam tadi berada di atas tubuhnya dengan bertelanjang dada. Ternyata lelaki itu adalah Alex, mantan kekasih sahabat baiknya.
"Lepaskan aku, Alex!" Dayana mendorong Alex agar menyingkir dari atas tubuhnya. Namun, lelaki yang memiliki tato di leher itu tetap diam tak bergeming.
"Lepaskan aku!" sengit Dayana menatap Alex tajam. Dia benar-benar marah karena Alex mencoba mencari keuntungan saat dia tidak sadar.
"Tidak perlu takut, Dayana. Aku akan memberimu kenikmatan yang tidak pernah kamu rasakan sebelumnya. Percayalah, ini akan terasa nikmat, bahkan seperti di surga," bisik Alex terdengar menjijikkan di telinga Dayana. Dia mulai mencumbu leher Dayana sambil meraba tubuh gadis itu dengan penuh nafsu.
"Aku sangat membencimu, Alex! Lepaskan aku!" teriak Dayana sambil berusaha melepaskan diri.
Brak!
Tubuh Alex menegang karena pintu kamarnya tiba-tiba didobrak oleh seorang lelaki yang terlihat tidak asing di matanya. Alex yakin sekali pernah melihat wajah lelaki bertuxedo hitam itu sebelumnya.
"Ka-kamu?!" Dia menunjuk lelaki itu. "Bukankah kau pelayan tadi? Kenapa kau bisa ada di sini? Apa kau mengikutiku?"
"Aku sudah curiga ketika melihatmu mendekati gadis itu karena kalian tidak terlihat seperti sepasang kekasih. Kira-kira apa yang akan terjadi jika keluargamu tahu putra kesayangan mereka berusaha memperkosa seorang gadis, Tuan Alex Dirgantara?"
Tubuh Alex sontak menegang, wajahnya pun seketika berubah pucat. "Bagaimana kamu bisa tahu namaku. Jangan-jangan kamu—"
"Aku Sakhala, presdir Jordan Corps. Saingan terberat perusahaan keluargamu, Alex," ungkap laki-laki yang mendobrak pintu kamar hotel tadi.
Entah setan apa yang sudah merasuki Sakhala hingga membuatnya mengikuti Alex dan Dayana hingga ke Acacia Hotel. Padahal dia tidak pernah melakukan hal ini sebelumnya karena dia selalu acuh tak acuh pada orang asing.
"Sialan!" Alex menggeram kesal. "Apa yang kamu inginkan, Sakha? Bukankah Jordan Corps sudah memiliki segalanya?"
"Lepaskan gadis itu atau seluruh media akan tahu semua kebusukan yang sudah kamu lakukan dan keluargamu!" ancam Sakhala. Tidak ada keraguan yang tepancar dari kedua sorot matanya membuat nyali Alex seketika menciut.
Alex pun melepaskan Dayana dari kungkungannya dan cepat-cepat memakai kembali pakaiannya setelah itu pergi meninggalkan kamar. Dia tidak mau berurusan dengan keluarga Jordan karena mereka bukan tandingannya. Sebelum keluar, dia mendesis sinis kepada Sakhala.
"Lihat saja, Jordan. Gadis itu akan menjadi milikku!"
Sakhala memilih diam karena ancaman Alex hanya omong kosong bagi baginya. Lebih baik dia meminta Dayana untuk segera memakai kembali pakaiannya lalu mengantar gadis itu pulang.
"Sebaiknya cepat pakai bajumu sebelum hal buruk terjadi padamu, Nona." Sakhala ingin meninggalkan kamar, tapi Dayana tiba-tiba menarik tangannya dan mendaratkan sebuah kecupan manis di bibirnya.
Kedua mata Sakhala sontak membulat. Dia refleks mendorong Dayana hingga jatuh di atas tempat tidur. "Apa yang kamu lakukan, Nona?"
"Aku tidak tahu, tapi tubuhku rasanya aneh sekali," desah Dayana menahan perasaan aneh dalam dirinya. Entah kenapa dia mendadak bergairah dan begitu mendambakan sentuhan laki-laki.
Kening Sakhala berkerut dalam melihat Dayana yang tampak bergairah dan tersiksa di saat yang sama. Sakhala tidak munafik, sebagai lelaki normal dia merasa tergoda karena Dayana terlihat begitu seksi dan menggairahkan. Tidak heran jika Alex ingin menghabiskan malam dengan gadis itu.
"Tuan, tolong. Sentuh aku ...."
Halatang nanginginig sa kaba ang babaeng kasama ng ina ni Celine. Ramdam nito na baka totohanin ni Celine ang pagbabanta na tatawag siya ng security mula sa ibaba ng gusali.“May araw ka rin. Tandaan mo, babalik ako.”Mariin at mabigat na sambit ng kanyang ina, bago tuluyang lumabas ng bahay at ibagsak ang pinto na tila ba gumuhit ng pangako ng hinaharap na gulo.Huminga ng malalim si Celine, pinipilit pakalmahin ang dibdib na halos kumakawala sa tindi ng kaba. Sa wakas, nawala rin ang panganib sa loob ng kanyang tahanan. Ngunit hindi rin ganap na kapanatagan ang dumapo sa kanya. Isa lang ang sigurado—hindi pa rito nagtatapos ang bangungot.Hinaplos niya ang kanyang tiyan, bahagyang namimigat. Apat na buwan na rin ang sanggol na dinadala niya. Binalaan siya ng kanyang doktor na huwag masyadong ma-stress, huwag pagurin ang sarili, at manatili sanang payapa ang kanyang kapaligiran. Ngunit paano iyon mangyayari kung mismong dugo ng kanyang dugo ang siyang nagdadala ng unos sa kanyang buh
“Una, ako ang nagpalit ng damit mo. Huwag kang mag-alala, kung ano ang suot mong brief kahapon, iyon pa rin ang suot mo ngayon. Wala akong binago doon. At kung natatakot ka, huwag na—nakita ko na rin naman ang tinatago mong iyan, wala akong intensyon na mali.” Bahagya siyang ngumiti, pilit binabawas ang bigat ng sitwasyon.“Pangalawa, sobrang lasing ka kagabi. Hindi ka na makalakad, kaya may kasama kang naghatid sayo. Halos mabali ang katawan niya sa bigat mo, kaya ako na ang nag-asikaso sa iyo.”“Pangatlo. bakit ako nandito? Dahil ikaw mismo ang nagsabi kagabi… na dito na lang ako matulog sa tabi mo.”Tahimik ang sumunod na sandali. Nakayuko si Celine habang nagsasalita, tila ba iniisip kung paano tatanggapin ni Adrian ang kanyang paliwanag.Si Adrian nama’y napakunot ang noo, pilit inaalala ang mga nangyari. Ngunit kahit anong pilit, wala siyang maaninag na alaala ng nagdaang gabi—parang isang blangkong papel ang kanyang isip.“Talaga ba…?” mahina niyang tanong, halatang hindi makap
"Adrian," mariing wika ni Cinco habang minamaneho ang kotse, "isipin mo si Celine. Kung makita ka niya kanina... kung nalaman niya..." Napahinto ito, nag-igting ang panga. "Hindi niya deserve ang ganun."Hindi nakasagot si Adrian. Wala siyang lakas ni boses para ipagtanggol ang sarili. Ang tanging naroon sa kanyang dibdib ay guilt-matinding guilt na tila unti-unting lumulunod sa kanya, higit pa sa alak na kanyang ininom.Pagkarating nila sa gusali kung saan sila naninirahan, agad na pinindot ni Cinco ang pinakamataas na palapag ng elevator. Tahimik lang silang dalawa sa loob, tanging tunog ng umuugong na makina ang maririnig, habang hawak-hila niya si Adrian na halos matumba na sa bawat hakbang.Nang makarating sa pinakamataas na palapag, kinaladkad niya ito hanggang sa mismong pintuan. Halos hindi na makagalaw si Adrian, kaya pinaupo muna siya ni Cinco sa malamig na sahig, sabay pindot sa doorbell nang sunod-sunod.Lumipas ang mahigit limang minuto ng walang sagot, bago tuluyang bumu
Mahinahon ang tinig ng kanyang ina nang magsalita, pilit inaayos ang bigat ng sitwasyon. "Anak, kailangan mo munang ipakilala sa amin ang asawa mo." Dahan-dahan niyang hinaplos ang kamay ni Adrian, tila ba sinusubukang pakalmahin ang anak na matagal nang may dalang bigat sa dibdib.Ngunit ang sagot ni Adrian ay lalong nagpagulo sa kapaligiran. "Makikilala niyo rin siya... pero hindi pa ngayon. Busy siya—dahil... magkakaroon na kami ng anak." Mahina ang tono, ngunit malinaw at matalim sa pandinig ng kanyang ama, na agad namang sumiklab ang mga mata sa narinig."Congrats, Kuya," nakangiting bati ni Chloe, inosente at masaya para sa kanyang kapatid."Heh—Chloe, sa kwarto ka muna," maagap na sambit ng kanilang ina, marahang itinaboy ang anak palayo. Walang nagawa si Chloe kundi sumunod, bahagyang nagtataka sa bigat ng usapan.Nanatiling nakangiti si Adrian, ngunit iyon ay ngiting puno ng pait at galit, nakatuon sa reaksyon ng kanyang ama. Kitang-kita ang frustrasyon sa mukha nito, para ba






Maligayang pagdating sa aming mundo ng katha - Goodnovel. Kung gusto mo ang nobelang ito o ikaw ay isang idealista,nais tuklasin ang isang perpektong mundo, at gusto mo ring maging isang manunulat ng nobela online upang kumita, maaari kang sumali sa aming pamilya upang magbasa o lumikha ng iba't ibang uri ng mga libro, tulad ng romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel at iba pa. Kung ikaw ay isang mambabasa, ang mga magandang nobela ay maaaring mapili dito. Kung ikaw ay isang may-akda, maaari kang makakuha ng higit na inspirasyon mula sa iba para makalikha ng mas makikinang na mga gawa, at higit pa, ang iyong mga gawa sa aming platform ay mas maraming pansin at makakakuha ng higit na paghanga mula sa mga mambabasa.
reviews