LOGINRudi termenung dengan beribu pertanyaan di perjalanan pulangnya dari rumah sakit. Ia pernah melihat kalung itu, kalung yang dikenakan Lia di lehernya. Persis seperti,
"Kalung Ayu," gumam laki-laki itu. "Apa dia ? Ah, mana mungkin. Mereka pindah ke luar pulau, kata orang-orang di sana dulu. Tapi, dia memang mirip Ayu waktu muda."
Sudah dua puluh satu tahun berlalu, tapi rasa itu tak pernah hilang meski mata Rudi tak pernah lagi melihat wanita bernama Ayu itu. Berkali-kali Rudi mencoba kembali ke desa, berkali-kali juga kegagalan yang menemuinya.
"Siapa Lia ini?" gumam Rudi.
Ia tak mau berlarut-larut begini. Rasa penasarannya tak bisa dicegah. Rudi lantas menepikan mobilnya, meraih ponsel yang sejak tadi ada di saku celana.
Rudi kembali menghubungi Elang untuk membuktikan siapa Lia sebetulnya. Tapi, kebetulan itu terlalu aneh karena kalung yang dipakai Lia hanya ada satu, khusus dibuatkan Rudi untuk Ayu.
["Halo, Elang? Om bisa minta tolong kirimkan alamat gadis yang tadi? Segera, ya."]
Beberapa saat kemudian, datang sebuah pesan masuk ke ponselnya dari Elang. Rudi lemas bukan main. Alamat yang dikirimkan Elang memang sama persis dengan alamat lama rumah Ayu.
"Apa ini betul?" gumam Rudi.
Elang jadi sasaran tatapan gadis yang sedang terbaring sakit di tempat tidurnya karena permintaan Rudi tadi.
"Ehem! Bisa saya minta nomor keluarga kamu? Supaya mereka bisa mengetahui kabarmu."
"Jangan! Jangan kasih tahu Uti, Pak!" ucap Lia mencegah Elang.
Pak? Elang dipanggil Bapak? Wah. Rasanya dia kesal sedikit. Kalau di kantor memang biasa dia dipanggil Bapak karena dia bosnya. Tapi ini lain, Lia bukan pegawainya.
"Kenapa keluarga kamu nggak boleh tahu?" tanya Elang, sekaligus masih sebal dengan Lia.
"Uti saya cuma sendirian di rumah. Kalau dia tahu saya di rumah sakit, pasti dia cemas, Pak. Uti punya penyakit jantung," jelas Lia.
Wajahnya lebih pucat saat membahas soal neneknya itu dibanding saat tersadar sedang berada di rumah sakit dan diinfus.
"Boleh saya tanya sesuatu lagi?" ucap Elang.
"Tanya apa, Pak?" sahut Lia.
"Bisa jangan panggil saya Bapak? Saya masih dua puluh delapan tahun," jelas Elang.
"Oh, dua puluh delapan. Habisnya Bapak, eh, Mas pakai jas sama dasi. Kalau di desa saya kan ada kebun perusahaan, nah orang perusahaan itu yang sering pakai jas ya bosnya. Kebanyakan sudah bapak-bapak. Perutnya buncit-buncit, terus cincinnya besar-besar. Teman-teman saya bilang cincinnya ada isi jin. Hiii!"
Lia berceloteh seakan Elang itu temannya, mereka sudah kenal lama, dan Elang tak masalah mendengar semua cerita gadis itu. Ia lupa kalau Elang itu orang asing yang baru dikenalnya beberapa jam. Tiba-tiba, satu pertanyaan lagi dari Elang membuat Lia terdiam seribu bahasa, dari yang awalnya berceloteh tentang desanya.
"Kenapa kamu ke Jakarta? Apa mau mencari pekerjaan?" tanya Elang.
Bagaimana Lia mau menjawab hal itu? Apa dia mau bilang saja kalau dia habis ditipu calon suaminya yang ternyata suami orang?
Karena Elang membahas pekerjaan, sekalian saja Lia mengiyakan hal itu.
"Iya, Mas. Tapi habis ini saya ndak jadi melamar kerja di sini. Saya mau pulang aja," ucap Lia. "Kira-kira kapan ya saya bisa keluar dari rumah sakit? Saya mau pulang ke desa aja."
"Nanti. Saya masih harus konsultasi sama dokter. Kamu istirahat aja, saya mau keluar sebentar," jelas Elang. "Hais! Kenapa mulutnya enteng menyebut orang semuda ini 'Bapak'?" gerutu pemuda itu di luar.
Elang tak sadar sejak tadi menjadi pusat perhatian banyak orang. Sementara itu, di dalam kamar yang sunyi, Lia termenung memikirkan nasibnya.
Beberapa hari pun berlalu. Uti sibuk membuka warungnya dengan bantuan Pakde Yanto karena Lia masih di Jakarta. Dua hari setelah gadis itu pergi, dia baru menghubungi Uti dan bilang akan segera pulang secepat mungkin. Waktu ditanya alasannya, Lia hanya bilang kalau dia akan menjelaskan nanti.
"Uti!" sapa seorang pegawai perusahaan perkebunan. "Waduh, lama nggak buka warung, kangen saya sama nasi uduknya."
"Kangen nasi uduknya apa mau godain Mbak Yu-ku, Le? Hahaha!" kekeh Pakde Yanto setelah meletakkan termos berisi nasi uduk di atas meja.
"Kangen dua-duanya, Pakde. Kok hari ini yang bantu Pakde? Memang Lia ke mana?"
"Lia ... Lia ke rumah budenya. Diminta nginep jagain rumah sebentar," jelas Uti.
Tak lama berselang, datang lagi segerombolan pegawai perusahaan, lengkap dengan tenaga kerja mereka. Katanya mau makan siang di warung Uti setelah berhari-hari tutup.
"Ah, gila. Istrinya Arga ngaduin dia ke bos? Teriak-teriak di kantor pusat?" ucap salah seorang pegawai.
Uti dan Pakde Yanto saling melempar pandangan begitu nama Arga disebut. "Istri?" Apa ini maksudnya Arga yang lain?
"Asli. Lagi rame nih di pusat, gue dapet info katanya Arga kena peringatan. Nggak tahu deh bakalan dipecat atau enggak. Yang jelas bininya ngelapor kalau Arga main gila sama cewek di kantor kita juga."
"Arga siapa, Le, yang dimaksud itu?" tanya Uti.
"Arga yang di sini, Ti. Masa Uti lupa? Yang lagi ditarik ke pusat itu, Ti. Nggak tahu deh apa balik lagi ke sini atau enggak."
Lemas kaki Uti mendengar cerita itu. Yang dimaksud mereka pastilah Arga, calon suami Lia. Wanita yang kini sudah setengah beruban itu mendadak terjatuh ke lantai dan membuat panik orang-orang di sana.
"Mbak! Mbak, sadar!" seru Pakde Yanto.
Uti dibawa pulang dengan bantuan mobil seorang pegawai kebun perusahaan. Sepanjang jalan, hatinya tak tenang memikirkan cucu semata wayangnya itu.
Tepat saat mobil sampai di rumah, Pakde Yanto dan Uti kebingungan karena sebuah mobil sedan mewah terparkir di depan rumah. Tiga orang, termasuk Lia, sedang duduk di teras.
"Lia! Lia!" seru Uti terburu-buru, sampai hampir terjatuh ketika keluar dari mobil.
"Uti! Lia pulang, Ti!" seru Lia. Isak tangis mengiringi pertemuan dua orang yang baru berpisah selama beberapa hari itu.
"Uti !" rengek Lia.
"Kamu ndak diapa-apain, to, sama Arga, Nduk?! Bilang Uti, biar tak pateni dia!" seru Uti menggebu-gebu.
"Uti bilang apa barusan?"
Gadis itu terkejut mendengar ucapan Utinya barusan soal Arga.
"Arga itu sudah punya istri, to?! Kamu ndak diapa-apain, kan? Syukur kamu pulang, Nduk," seru Uti.
"Selamat siang, Bu."
Uti menolehkan wajahnya ke seorang laki-laki. Laki-laki yang pasti tak akan pernah ia lupakan seumur hidupnya.
"Pantas saja! Sampeyan!" seru Pakde Yanto. Elang juga berada di sana, sementara Lia menatap dengan kebingungan.
"Rudi," ucap Uti.
"Ya, saya Rudi, Bu. Apa kabar?" ucap laki-laki dengan mata berkaca-kaca itu.
*** "Ahahaha! Seru ya, Papi. Kita jadi ada Kakak Lia lagi. Apa kita langsung pulang ke rumah ya, Papi? Enggak main sama Kakak?" tanya Adel, bocah kecil itu duduknya saja memepet ke arah Lia. Dia benar-benar fans Lia garis keras. Katanya kalau sudah besar, mau secantik Kakak Lia yang punya rambut panjang. Padahal Lia sendiri saja minder karena dia tidak seperti gadis kota yang berpenampilan menarik. "Iya, Lang? Kamu masih sibuk hari ini?" tanya Anita. "Enggak sih, Ma. Semua kerjaan bisa dihandle Ari," jelas Elang. "Bagus kalau gitu," sahut Anita. "Rud, gimana kalau kita pergi belanja? Boleh aku bawa Lia pergi belanja?" Rudi jelas setuju, hitung-hitung supaya putrinya itu tau kota Jakarta. Karena sebentar lagi dia akan resmi jadi penduduk tetap. "Belanja, Tante?" tanya Lia. "Uangku dari Uti kalo dibelanjain di Jakarta dapet apa, ya?" batinnya, yang malah memikirkan uang. "Tapi sepertinya aku gak bisa ikut, Kak. Harus ada yang aku selesaikan," jawab Rudi. "Kamu nan
***Makan siang bersama antara keluarga Franco dan Hartono membuat Adel sangat senang. Kali ini dia mau duduk antara Papi Elang dan Kakak Lia. Katanya itu dua orang favoritnya sekarang. "Kakak suka ikan, ya? Adel sukanya ayam," ucap Adel seraya makan ayam goreng yang sudah dipisah-pisah Elang. Mulutnya sekarang penuh dengan nasi. "Suka buanget. Ikan itu nanyak gizinya. Adel ndak ma'em ikan?" tanya Lia. "Ahaha. Kakak lucu deh bicaranya. Buanget, sama ma'em," kekeh bocah yang sekarang duduk sambil menyenderkan tubuh di kursi. Celotehannya jadi hiburan makan siang para orang dewasa hari ini. "Hahaha. Lucu, ya? Dah biasa ngomongnya begitu, nanti tak belajar ngomongnya kayak orang Jakarta ya. Adel mau ngajarin, ndak?" tanya Lia. "Mau. Adel bisa kok, Kakak. Itu ikannya enak, ya?" "Mau coba, ndak?" tanya Lia. "Biar nanti Adel saya pesankan yang lain, kamu makan aja," timpal Elang yang sejak tadi itu hanya diam saja mendengarkan obrolan dua manusia yang m
"Kamu jangan sok mahal gitu dong, Cia. Nanti malam pergi sama aku bisa?" tanya Aksa, laki-laki yang getol sekali mendekati Cia, karena gadis itu anak orang terpandang. "Terimakasih banyak atas tawarannya ya, Buaya Buntung. Alicia malam ini mau pergi sama Papanya." Terang saja Aksa yang kaget dengan kedatangan Aldo, langsung mengalihkan pandangannya dari Cia. Wajahnya kelihatan muak. "Hai," sapa Aldo. Senyum tengil khas putra bungsu keluarga Franco itu muncul lagi. "Lo lagi!" sentak Aksa. "Ya emang gue lagi. Lo berharap siapa yang dateng? Malaikat? Hiii! Serem! Takutnya Lo digeret ke neraka, karena tampang Lo kayak setan. Minggat dari meja ini!" "Gue masih sabar sama Lo, ya!" sentak Aksa, sampai bangkit dari kursinya dan menatap tajam ke arah adik Elang Franco itu, tapi respon Aldo justru sangat santai. Mata pemuda itu memutar, pertanda dia menganggap remeh lawan di depannya. "Kak Aldo. Jangan," ucap Cia. "Jangan apa? Maksudnya jangan nonjok dia, Cia? Begini?"
*** "Omaa!" seru seorang bocah yang baru saja keluar dari sekolah, diantar wali kelasnya. Adelia Franco, memang tak pernah gagal membuat sekitarnya ikut tertawa melihat tingkah gemas bocah satu itu. "Halo, Bu Anita. Adel hari ini pintar sekali membuat gambarnya. Katanya mau diberikan ke Kakak Lia," ucap Miss Dian, wali kelas Adel di taman kanak-kanak. "Ahaha. Oh ya, Adel? Mau dikasih kek Kakak Lia?" sahut Anita, wanita dengan tas mahalnya itu langsung mendapat pelukan dari sang cucu. "Adel malu," kekehnya. "Makasi ya, Miss Dian. Sampai jumpa besok," ucap Anita mewakili cucunya. "Salim dulu sama Miss, Sayang." "Dadah, Miss," ucap Adel. "Dah, Adel!" Sepasang nenek dan cucu itu lalu berjalan bersama sambil melempar senyum satu sama lain, Adelia rupanya sudah tak sabar ingin pulang dan menunjukkan gambar miliknya ke Papi Elang dan Kakak Lia nya. "Oma, ayo kita ketemu Papi Elang, Oma. Papi Elang sudah di rumah sama Kakak?" tanya Adel, sambil la
Sejak Rudi dan putrinya pergi meninggalkan kediaman Franco, gadis manis yang duduk di sebelah sang ayah yang sedang menyetir itu beberapa kali ketahuan tersenyum sendiri. Rudi jelas menebak sesuatu. Apakah mungkin ini karena tadi pagi Elang memberinya bunga? "Kenapa, Lia? Mukanya cerah sekali," tanya Rudi Hartono, ayah gadis berusia dua puluh satu tahun itu. "Mosok to, Pak?" sahut Lia malu-malu. "Rumah sakitnya masih jauh to, Pak?" "Sebentar lagi sampai. Lia nanti kalau mau beli apa-apa bilang sama Papa ya. Kita sekalian mampir," ucap Rudi. Lia hanya mengangguk, tapi mana mungkin dia meminta sesuatu pada orang selain Uti nya. Hasil tes DNA pasti tidak akan keluar secepat itu, makanya Lia tak mau merepotkan Rudi sampai semuanya terbukti, bahwa dia adalah putri kandung Rudi Hartono. Di saat bersamaan, ponsel gadis itu berbunyi. Lia cepat-cepat merogoh tas kecil yang ia selempang kan di leher. Rupanya satu panggilan masuk dari sang nenek. Wajahnya kembali berubah sumr
Beni melewati teman-temannya saat jam istirahat tiba, desas-desus kabar kedengaran di telinga Ariel soal hubungan rumah tangga ibu dan ayahnya sejak kejadian terbongkarnya perselingkuhan sang ayah. "Katanya nyokap gue, Bokapnya Beni selingkuh sama cewek lain. Itu dibongkar sama temen arisan nyokap gue. Seru banget katanya, nyokap nya Beni sampe pingsan," cerita seorang teman sekelas keduanya, Asila. "Beneran Lo, Sil? Kasian amat si Beni. Padahal Bokap nyokap nya kalau nganterin dia ke sekolah romantis banget," sahut yang lain lagi. Ariel mendengar semuanya, tapi dia tak berani tiba-tiba bertanya pada Beni apakah diam nya dia hari ini karena masalah perselingkuhan sang ayah. Remaja empat belas tahun itu memutuskan pergi dan membeli beberapa cemilan di kantin, alih-alih ikut makan menu spesial hari ini bersama teman-teman nya yang lain. Matanya melayang ke seluruh bagian sekolah, mencari di mana Beni di setiap gerombolan murid, atau bangku-bangku taman. Tapi tak kunjun







