"Ayolah, Ya. Temani aku ke rumahnya Mas Fais. Kapan lagi aku bisa keroncongan sama temen-temen. Kalo Uti mu ndak kasih ijin, kita kabur aja!" usul Sari, Lia mendelik mendengar ide itu, selama ini mana pernah dia pergi tanpa memberi tahu Uti, apalagi sehabis kejadian ini. "Ngawur! Aku tak ijin dulu sama Uti, nanti Uti bingung kalau aku ndak ada di rumah." "Sekalian ganti baju, Ya! Tak tunggu di sini, tapi jangan lama-lama, aku takut ada setan," ucap Sari. "Setan lebih takut liat kamu, Sar," celetuk Lia. "Ngawur! Wes, cepetan!" omel Sari. "Keroncongan, nanti pasti di sana ada Mas Urip. Hihihi!" Lia memutuskan meminta ijin saja pada neneknya itu, lagipula ini cuma keroncongan, bukannya dia mau pergi menyusul Rudi dan mengiyakan ajakan ayahnya itu untuk tinggal di Jakarta. Uti pasti memberi ijin, pikir Lia. Ternyata betul, meski suasana hatinya sedang tak enak, Uti masih memberi ijin Lia untuk pergi bersama temannya. Uti senang Lia masih menghargainya sebagai orang tua
Terakhir Diperbarui : 2026-08-06 Baca selengkapnya