LOGIN"Uti katanya kenal sama Pak Rudi, ya?" tanya Lia dengan polos.
"Kamu ngomong apa, Lia! Uti nggak kenal! Kalian pergi!" sentak Uti. Wanita yang sudah berusia lebih dari setengah abad itu memalingkan wajahnya dari hadapan Rudi.
"Saya Rudi, Bu." Tiba-tiba saja Rudi maju dan berusaha meraih tangan Uti, tapi wanita itu malah menghempasnya begitu saja. Senyum tetap mengembang di wajah laki-laki yang sama sekali tak mendapat respons baik dari Uti itu.
"Lia, masuk rumah. Istirahat!" ucap Uti. "Yanto! Aku ndak jadi jualan, tutup saja warungnya!"
"Iya, Mbak," sahut Pakde Yanto.
"Uti, tapi Mas Elang sama Pak Rudi capek loh, Ti. Kasian mereka kan dari Jakarta, perjalanan jauh. Biar minum teh anget dulu, ya, Ti?"
Uti memang tak bisa menolak permintaan cucu satu-satunya itu.
Setelah menikmati habis secangkir teh dan suguhan ubi rebus buatan Lia, Elang dan Rudi merasa tubuh mereka segar kembali. Bayangkan saja, perjalanan begitu jauh untuk sampai ke desanya Lia. Apalagi Rudi memutuskan mereka berangkat subuh supaya tak terlalu panas di jalan.
"Maaf, Nek. Apa saya boleh permisi ke toilet?" tanya Elang.
"Di belakang," sahut Uti yang masih belum mau menerima kedua orang itu di rumahnya.
"Saya anterin aja, Mas."
"Mau ngapain kamu, Lia! Nggak pantes anak gadis nemenin laki-laki ke kamar mandi!" omel Uti.
"Cuma nunjukin cara nimba air saja kok, Ti. Apa Uti sudah beli pompa air, ya? Atau Pakde Yanto yang ngisi gentong air hari ini?" tanya gadis itu.
"Yo wes. Tapi habis itu kembali lagi ke sini!" perintah wanita yang sudah beruban sepenuhnya itu.
Lia mengangguk paham, lalu mengajak Elang pergi ke belakang. Tiba-tiba saja gadis itu terkekeh sendiri.
"Kenapa?" tanya Elang. "Ada yang lucu?"
"Mas apa sakit perut karena makan makanan desa, ya?" tanya Lia, lalu keduanya menghilang di balik tembok sekat antara dapur dan ruang tamu.
Kini yang tertinggal hanya Uti dan Rudi. Suasana hening menemani keduanya. Tak ada yang membuka obrolan, atau bisa jadi Uti pun tak mau menyahuti apa pun yang dibicarakan Rudi.
"Saya baru tahu kalau Ayu sudah meninggal, Bu. Apa boleh saya pergi ke kuburan Ayu?" ucap Rudi.
Sontak raut wajah Uti berubah, bertambah sinis dari yang awalnya saja sudah menunjukkan ketidaksukaan pada Rudi.
"Bukan urusanmu! Jangan pernah datang ke makam anakku!"
Berbeda dengan Uti dan Rudi yang terlibat pertarungan sengit, Elang dan Lia justru saling menatap. Elang tak percaya masih ada yang belum punya pompa air di zaman sekarang, sedangkan Lia kaget karena ada anak laki-laki yang tak kuat menarik timba air.
"Ini berat," ucap Elang kewalahan setelah satu ember air diangkutnya dari sumur.
"Berat apanya, Mas? Ini memang begini kalau di desa," jelas Lia. "Kalau di kota kan enak, tinggal tekan-tekan sudah nyedot sendiri airnya. Kayak di rumahnya Pak Kades itu, loh. Saya juga mau ngasih hadiah Uti pompa air. Kira-kira mahal ndak, Mas?" tanya Lia.
Pemuda itu tak menjawab. Mana dia tahu harga pompa air? Selama ini yang mengurus rumah ada pekerjanya.
Daripada meladeni Lia yang kepalanya selalu penuh dengan pertanyaan, Elang lebih baik menimba lagi, lalu cepat-cepat masuk ke dalam kamar mandi.
"Jangan lama-lama ya, Mas!" seru Lia.
"Kalau saya lama memangnya kenapa? Kamu cerewet banget."
"Huuu!" gerutu Lia.
Gadis itu menyingkir dari sana sesuai dengan perintah Uti tadi. Niatnya mau masak sekalian supaya Rudi dan Elang bisa makan di sini, tapi tiba-tiba Uti memekik dari ruang tamu.
Suaranya menggelegar sampai ke dapur, meski memang rumah mereka tak terlalu luas.
"Pergi kamu! Pergi!" pekik Uti.
Lia segera berlari mendapati Uti-nya itu. Rudi didorong-dorong sampai hampir jatuh di depan pintu rumah mereka. Sontak Lia berlari dan melerai keduanya.
"Uti! Uti kenapa?" tanya Lia.
Wajahnya panik mendapati Uti-nya menangis sesegukan.
"Dia anakku, kan, Bu? Lia anakku!" seru Rudi.
Seketika Lia melotot kaget. Siang harinya bagaikan tersambar petir yang menggelegar hebat. Kalimat itu sangat mengejutkan baginya sebab Uti selalu bilang kalau ayah Lia sudah meninggal.
"Anak?" tanya Lia. "Maksudnya apa, Ti?"
"Masuk, kamu! Masuk sekarang!" perintah wanita itu, tapi Lia justru membatu di tempatnya.
Bertepatan dengan suara teriakan Uti yang kesekian kalinya, Elang pun datang dan memeriksa keadaan Rudi.
Wajahnya bingung melihat semua orang seperti baru saja menghadapi bencana besar. Dia bertanya pun tak ada yang menjawabnya.
"Aku besarkan Lia sendirian. Sudah aku bilang dia anaknya Ayu sama suaminya! Bukan kamu!" ucap Uti.
Wanita tua itu melawan sebisanya. Ia menyeret Lia masuk dan menutup pintu sekeras mungkin.
Braak!
Pintu terbanting tepat di depan wajah Elang dan Rudi yang masih tak percaya dengan perilaku Uti. Samar-samar mereka juga masih bisa mendengar ucapan Lia yang terus bertanya pada Uti-nya soal ucapan Rudi.
Di saat itulah Pakde Yanto datang lagi dengan membawa perlengkapan dagang Uti yang tadi masih tertinggal di warung.
Pakde Yanto sudah paham. Pasti terjadi keributan sampai pintu rumah Lia tertutup rapat dan tamu mereka tadi berada di luar rumah.
"Kenapa, Le?" tanya Pakde Yanto.
"Nggak ada apa-apa, Pak. Kami mau pamit pulang ke Jakarta," ucap Elang.
Baru saja kalimat itu terucap dari mulutnya, tiba-tiba Rudi kembali mengetuk pintu rumah Lia sambil menangis.
"Bu! Lia anakku, kan, Bu? Izinkan saya bertanggung jawab atas Lia, Bu. Tolong!" seru Rudi.
"Ayo, Om. Kita harus pulang," ucap Elang.
Dengan sangat terpaksa dia menarik Rudi. Daripada tetangga Lia berkerumun dan membuat kehebohan yang tentu saja membuat dua wanita di rumah itu tak nyaman.
Pakde Yanto membatu. Dia tak bisa berbuat apa-apa karena keputusan ada di tangan Uti. Ia hanya menatap mobil Elang yang mulai pergi dari halaman rumah Lia.
Tiba-tiba hatinya tergerak. Ia lebih kasihan pada Lia. Ini kesempatan bagi Lia untuk keluar dari kemiskinan dan mendapat hidup yang layak, pikirnya.
Laki-laki tua itu meninggalkan termos nasi Uti di depan pintu, lalu berlari mengejar mobil Elang sampai berhasil menyusulnya.
"Le! Tunggu, Le!" seru Pakde Yanto saat mobil terhenti dan Elang membuka pintunya.
"Ada apa, Pak?" tanya Elang.
"Rudi, kamu masih ingat saya, to? Saya yang kamu temui belasan tahun lalu waktu kamu datang. Lia itu anaknya Ayu, anak satu-satunya. Dan Ayu ndak pernah menikah sama siapa pun setelah melahirkan Lia," ucap Pakde Yanto.
Mendengar hal itu, Rudi langsung meminta Elang untuk kembali.
"Om mau jemput anak Om, Lang," ucap Rudi dengan suara bergetar.
*** "Ahahaha! Seru ya, Papi. Kita jadi ada Kakak Lia lagi. Apa kita langsung pulang ke rumah ya, Papi? Enggak main sama Kakak?" tanya Adel, bocah kecil itu duduknya saja memepet ke arah Lia. Dia benar-benar fans Lia garis keras. Katanya kalau sudah besar, mau secantik Kakak Lia yang punya rambut panjang. Padahal Lia sendiri saja minder karena dia tidak seperti gadis kota yang berpenampilan menarik. "Iya, Lang? Kamu masih sibuk hari ini?" tanya Anita. "Enggak sih, Ma. Semua kerjaan bisa dihandle Ari," jelas Elang. "Bagus kalau gitu," sahut Anita. "Rud, gimana kalau kita pergi belanja? Boleh aku bawa Lia pergi belanja?" Rudi jelas setuju, hitung-hitung supaya putrinya itu tau kota Jakarta. Karena sebentar lagi dia akan resmi jadi penduduk tetap. "Belanja, Tante?" tanya Lia. "Uangku dari Uti kalo dibelanjain di Jakarta dapet apa, ya?" batinnya, yang malah memikirkan uang. "Tapi sepertinya aku gak bisa ikut, Kak. Harus ada yang aku selesaikan," jawab Rudi. "Kamu nan
***Makan siang bersama antara keluarga Franco dan Hartono membuat Adel sangat senang. Kali ini dia mau duduk antara Papi Elang dan Kakak Lia. Katanya itu dua orang favoritnya sekarang. "Kakak suka ikan, ya? Adel sukanya ayam," ucap Adel seraya makan ayam goreng yang sudah dipisah-pisah Elang. Mulutnya sekarang penuh dengan nasi. "Suka buanget. Ikan itu nanyak gizinya. Adel ndak ma'em ikan?" tanya Lia. "Ahaha. Kakak lucu deh bicaranya. Buanget, sama ma'em," kekeh bocah yang sekarang duduk sambil menyenderkan tubuh di kursi. Celotehannya jadi hiburan makan siang para orang dewasa hari ini. "Hahaha. Lucu, ya? Dah biasa ngomongnya begitu, nanti tak belajar ngomongnya kayak orang Jakarta ya. Adel mau ngajarin, ndak?" tanya Lia. "Mau. Adel bisa kok, Kakak. Itu ikannya enak, ya?" "Mau coba, ndak?" tanya Lia. "Biar nanti Adel saya pesankan yang lain, kamu makan aja," timpal Elang yang sejak tadi itu hanya diam saja mendengarkan obrolan dua manusia yang m
"Kamu jangan sok mahal gitu dong, Cia. Nanti malam pergi sama aku bisa?" tanya Aksa, laki-laki yang getol sekali mendekati Cia, karena gadis itu anak orang terpandang. "Terimakasih banyak atas tawarannya ya, Buaya Buntung. Alicia malam ini mau pergi sama Papanya." Terang saja Aksa yang kaget dengan kedatangan Aldo, langsung mengalihkan pandangannya dari Cia. Wajahnya kelihatan muak. "Hai," sapa Aldo. Senyum tengil khas putra bungsu keluarga Franco itu muncul lagi. "Lo lagi!" sentak Aksa. "Ya emang gue lagi. Lo berharap siapa yang dateng? Malaikat? Hiii! Serem! Takutnya Lo digeret ke neraka, karena tampang Lo kayak setan. Minggat dari meja ini!" "Gue masih sabar sama Lo, ya!" sentak Aksa, sampai bangkit dari kursinya dan menatap tajam ke arah adik Elang Franco itu, tapi respon Aldo justru sangat santai. Mata pemuda itu memutar, pertanda dia menganggap remeh lawan di depannya. "Kak Aldo. Jangan," ucap Cia. "Jangan apa? Maksudnya jangan nonjok dia, Cia? Begini?"
*** "Omaa!" seru seorang bocah yang baru saja keluar dari sekolah, diantar wali kelasnya. Adelia Franco, memang tak pernah gagal membuat sekitarnya ikut tertawa melihat tingkah gemas bocah satu itu. "Halo, Bu Anita. Adel hari ini pintar sekali membuat gambarnya. Katanya mau diberikan ke Kakak Lia," ucap Miss Dian, wali kelas Adel di taman kanak-kanak. "Ahaha. Oh ya, Adel? Mau dikasih kek Kakak Lia?" sahut Anita, wanita dengan tas mahalnya itu langsung mendapat pelukan dari sang cucu. "Adel malu," kekehnya. "Makasi ya, Miss Dian. Sampai jumpa besok," ucap Anita mewakili cucunya. "Salim dulu sama Miss, Sayang." "Dadah, Miss," ucap Adel. "Dah, Adel!" Sepasang nenek dan cucu itu lalu berjalan bersama sambil melempar senyum satu sama lain, Adelia rupanya sudah tak sabar ingin pulang dan menunjukkan gambar miliknya ke Papi Elang dan Kakak Lia nya. "Oma, ayo kita ketemu Papi Elang, Oma. Papi Elang sudah di rumah sama Kakak?" tanya Adel, sambil la
Sejak Rudi dan putrinya pergi meninggalkan kediaman Franco, gadis manis yang duduk di sebelah sang ayah yang sedang menyetir itu beberapa kali ketahuan tersenyum sendiri. Rudi jelas menebak sesuatu. Apakah mungkin ini karena tadi pagi Elang memberinya bunga? "Kenapa, Lia? Mukanya cerah sekali," tanya Rudi Hartono, ayah gadis berusia dua puluh satu tahun itu. "Mosok to, Pak?" sahut Lia malu-malu. "Rumah sakitnya masih jauh to, Pak?" "Sebentar lagi sampai. Lia nanti kalau mau beli apa-apa bilang sama Papa ya. Kita sekalian mampir," ucap Rudi. Lia hanya mengangguk, tapi mana mungkin dia meminta sesuatu pada orang selain Uti nya. Hasil tes DNA pasti tidak akan keluar secepat itu, makanya Lia tak mau merepotkan Rudi sampai semuanya terbukti, bahwa dia adalah putri kandung Rudi Hartono. Di saat bersamaan, ponsel gadis itu berbunyi. Lia cepat-cepat merogoh tas kecil yang ia selempang kan di leher. Rupanya satu panggilan masuk dari sang nenek. Wajahnya kembali berubah sumr
Beni melewati teman-temannya saat jam istirahat tiba, desas-desus kabar kedengaran di telinga Ariel soal hubungan rumah tangga ibu dan ayahnya sejak kejadian terbongkarnya perselingkuhan sang ayah. "Katanya nyokap gue, Bokapnya Beni selingkuh sama cewek lain. Itu dibongkar sama temen arisan nyokap gue. Seru banget katanya, nyokap nya Beni sampe pingsan," cerita seorang teman sekelas keduanya, Asila. "Beneran Lo, Sil? Kasian amat si Beni. Padahal Bokap nyokap nya kalau nganterin dia ke sekolah romantis banget," sahut yang lain lagi. Ariel mendengar semuanya, tapi dia tak berani tiba-tiba bertanya pada Beni apakah diam nya dia hari ini karena masalah perselingkuhan sang ayah. Remaja empat belas tahun itu memutuskan pergi dan membeli beberapa cemilan di kantin, alih-alih ikut makan menu spesial hari ini bersama teman-teman nya yang lain. Matanya melayang ke seluruh bagian sekolah, mencari di mana Beni di setiap gerombolan murid, atau bangku-bangku taman. Tapi tak kunjun







