Share

Rahasia Adelia

Penulis: Sikaa24
last update Tanggal publikasi: 2026-07-24 16:30:12

"Uti katanya kenal sama Pak Rudi, ya?" tanya Lia dengan polos.

"Kamu ngomong apa, Lia! Uti nggak kenal! Kalian pergi!" sentak Uti. Wanita yang sudah berusia lebih dari setengah abad itu memalingkan wajahnya dari hadapan Rudi.

"Saya Rudi, Bu." Tiba-tiba saja Rudi maju dan berusaha meraih tangan Uti, tapi wanita itu malah menghempasnya begitu saja. Senyum tetap mengembang di wajah laki-laki yang sama sekali tak mendapat respons baik dari Uti itu.

"Lia, masuk rumah. Istirahat!" ucap Uti. "Yanto! Aku ndak jadi jualan, tutup saja warungnya!"

"Iya, Mbak," sahut Pakde Yanto.

"Uti, tapi Mas Elang sama Pak Rudi capek loh, Ti. Kasian mereka kan dari Jakarta, perjalanan jauh. Biar minum teh anget dulu, ya, Ti?"

Uti memang tak bisa menolak permintaan cucu satu-satunya itu.

Setelah menikmati habis secangkir teh dan suguhan ubi rebus buatan Lia, Elang dan Rudi merasa tubuh mereka segar kembali. Bayangkan saja, perjalanan begitu jauh untuk sampai ke desanya Lia. Apalagi Rudi memutuskan mereka berangkat subuh supaya tak terlalu panas di jalan.

"Maaf, Nek. Apa saya boleh permisi ke toilet?" tanya Elang.

"Di belakang," sahut Uti yang masih belum mau menerima kedua orang itu di rumahnya.

"Saya anterin aja, Mas."

"Mau ngapain kamu, Lia! Nggak pantes anak gadis nemenin laki-laki ke kamar mandi!" omel Uti.

"Cuma nunjukin cara nimba air saja kok, Ti. Apa Uti sudah beli pompa air, ya? Atau Pakde Yanto yang ngisi gentong air hari ini?" tanya gadis itu.

"Yo wes. Tapi habis itu kembali lagi ke sini!" perintah wanita yang sudah beruban sepenuhnya itu.

Lia mengangguk paham, lalu mengajak Elang pergi ke belakang. Tiba-tiba saja gadis itu terkekeh sendiri.

"Kenapa?" tanya Elang. "Ada yang lucu?"

"Mas apa sakit perut karena makan makanan desa, ya?" tanya Lia, lalu keduanya menghilang di balik tembok sekat antara dapur dan ruang tamu.

Kini yang tertinggal hanya Uti dan Rudi. Suasana hening menemani keduanya. Tak ada yang membuka obrolan, atau bisa jadi Uti pun tak mau menyahuti apa pun yang dibicarakan Rudi.

"Saya baru tahu kalau Ayu sudah meninggal, Bu. Apa boleh saya pergi ke kuburan Ayu?" ucap Rudi.

Sontak raut wajah Uti berubah, bertambah sinis dari yang awalnya saja sudah menunjukkan ketidaksukaan pada Rudi.

"Bukan urusanmu! Jangan pernah datang ke makam anakku!"

Berbeda dengan Uti dan Rudi yang terlibat pertarungan sengit, Elang dan Lia justru saling menatap. Elang tak percaya masih ada yang belum punya pompa air di zaman sekarang, sedangkan Lia kaget karena ada anak laki-laki yang tak kuat menarik timba air.

"Ini berat," ucap Elang kewalahan setelah satu ember air diangkutnya dari sumur.

"Berat apanya, Mas? Ini memang begini kalau di desa," jelas Lia. "Kalau di kota kan enak, tinggal tekan-tekan sudah nyedot sendiri airnya. Kayak di rumahnya Pak Kades itu, loh. Saya juga mau ngasih hadiah Uti pompa air. Kira-kira mahal ndak, Mas?" tanya Lia.

Pemuda itu tak menjawab. Mana dia tahu harga pompa air? Selama ini yang mengurus rumah ada pekerjanya.

Daripada meladeni Lia yang kepalanya selalu penuh dengan pertanyaan, Elang lebih baik menimba lagi, lalu cepat-cepat masuk ke dalam kamar mandi.

"Jangan lama-lama ya, Mas!" seru Lia.

"Kalau saya lama memangnya kenapa? Kamu cerewet banget."

"Huuu!" gerutu Lia.

Gadis itu menyingkir dari sana sesuai dengan perintah Uti tadi. Niatnya mau masak sekalian supaya Rudi dan Elang bisa makan di sini, tapi tiba-tiba Uti memekik dari ruang tamu.

Suaranya menggelegar sampai ke dapur, meski memang rumah mereka tak terlalu luas.

"Pergi kamu! Pergi!" pekik Uti.

Lia segera berlari mendapati Uti-nya itu. Rudi didorong-dorong sampai hampir jatuh di depan pintu rumah mereka. Sontak Lia berlari dan melerai keduanya.

"Uti! Uti kenapa?" tanya Lia.

Wajahnya panik mendapati Uti-nya menangis sesegukan.

"Dia anakku, kan, Bu? Lia anakku!" seru Rudi.

Seketika Lia melotot kaget. Siang harinya bagaikan tersambar petir yang menggelegar hebat. Kalimat itu sangat mengejutkan baginya sebab Uti selalu bilang kalau ayah Lia sudah meninggal.

"Anak?" tanya Lia. "Maksudnya apa, Ti?"

"Masuk, kamu! Masuk sekarang!" perintah wanita itu, tapi Lia justru membatu di tempatnya.

Bertepatan dengan suara teriakan Uti yang kesekian kalinya, Elang pun datang dan memeriksa keadaan Rudi.

Wajahnya bingung melihat semua orang seperti baru saja menghadapi bencana besar. Dia bertanya pun tak ada yang menjawabnya.

"Aku besarkan Lia sendirian. Sudah aku bilang dia anaknya Ayu sama suaminya! Bukan kamu!" ucap Uti.

Wanita tua itu melawan sebisanya. Ia menyeret Lia masuk dan menutup pintu sekeras mungkin.

Braak!

Pintu terbanting tepat di depan wajah Elang dan Rudi yang masih tak percaya dengan perilaku Uti. Samar-samar mereka juga masih bisa mendengar ucapan Lia yang terus bertanya pada Uti-nya soal ucapan Rudi.

Di saat itulah Pakde Yanto datang lagi dengan membawa perlengkapan dagang Uti yang tadi masih tertinggal di warung.

Pakde Yanto sudah paham. Pasti terjadi keributan sampai pintu rumah Lia tertutup rapat dan tamu mereka tadi berada di luar rumah.

"Kenapa, Le?" tanya Pakde Yanto.

"Nggak ada apa-apa, Pak. Kami mau pamit pulang ke Jakarta," ucap Elang.

Baru saja kalimat itu terucap dari mulutnya, tiba-tiba Rudi kembali mengetuk pintu rumah Lia sambil menangis.

"Bu! Lia anakku, kan, Bu? Izinkan saya bertanggung jawab atas Lia, Bu. Tolong!" seru Rudi.

"Ayo, Om. Kita harus pulang," ucap Elang.

Dengan sangat terpaksa dia menarik Rudi. Daripada tetangga Lia berkerumun dan membuat kehebohan yang tentu saja membuat dua wanita di rumah itu tak nyaman.

Pakde Yanto membatu. Dia tak bisa berbuat apa-apa karena keputusan ada di tangan Uti. Ia hanya menatap mobil Elang yang mulai pergi dari halaman rumah Lia.

Tiba-tiba hatinya tergerak. Ia lebih kasihan pada Lia. Ini kesempatan bagi Lia untuk keluar dari kemiskinan dan mendapat hidup yang layak, pikirnya.

Laki-laki tua itu meninggalkan termos nasi Uti di depan pintu, lalu berlari mengejar mobil Elang sampai berhasil menyusulnya.

"Le! Tunggu, Le!" seru Pakde Yanto saat mobil terhenti dan Elang membuka pintunya.

"Ada apa, Pak?" tanya Elang.

"Rudi, kamu masih ingat saya, to? Saya yang kamu temui belasan tahun lalu waktu kamu datang. Lia itu anaknya Ayu, anak satu-satunya. Dan Ayu ndak pernah menikah sama siapa pun setelah melahirkan Lia," ucap Pakde Yanto.

Mendengar hal itu, Rudi langsung meminta Elang untuk kembali.

"Om mau jemput anak Om, Lang," ucap Rudi dengan suara bergetar.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Luka Asmara Adelia   Sedingin Salju, Sehangat Tawa

    "Tapi Pakde ndak pernah bilang sama Lia. Kenapa?" Kaki gadis itu lemas, tubuhnya ternyata tak siap menerima fakta kalau selama ini sosok ayahnya dirahasiakan. "Pakde bukannya ndak mau kasih tau, Nduk," jawab Pakde Yanto. "Memangnya siapa bapakmu?! Bapakmu sudah mati!" seru Uti, di depan wajah Rudi yang masih berharap Uti menghentikan sandiwaranya itu. "UTI!" pekik Lia. Seumur hidupnya, tak pernah sekalipun Lia melawan sang nenek, apalagi berteriak seperti sekarang ini. Dia masih takut karma kalau melawan orang yang lebih tua. Tapi kali ini lain, Lia kehabisan sabar melihat Uti yang selalu saja menolak memberitahunya soal Rudi. "Wes, Mbak. Sudahlah. Apa Mbak Yu ndak kasihan sama Nduk? Dia bingung," ucap Pakde Yanto, mencoba menembus tembok yang selama ini dipasang Uti. "Ngerti opo koe, To?! Aku ini yang besarkan dia! Aku! Bukan orang-orang kaya yang sudah buat anakmu mati! Apa kamu berharap cucuku juga ikut mati sama ibuknya hanya karena dia?! Begitu maumu, To!" seru

  • Luka Asmara Adelia   Siapa Ayahku?

    Beberapa jam sebelumnya ... Lia tampak canggung berada di satu mobil yang sama dengan Elang dan Rudi, padahal dia sudah bilang kalau dia bisa pulang sendiri ke desanya. Lia bersikeras kesehatannya sudah pulih. "Kamu lapar?" tanya Elang tiba-tiba, tanpa sepengetahuan Lia, dia melirik berulang kali ke arah gadis itu dari kaca dalam mobil. "Ndak, Mas," sahut Lia. "Kita berhenti sebentar aja di rest area, Lang. Masih pagi begini sepertinya enak minum kopi," ucap Rudi. Dia duduk di samping Elang sambil menjaga pemuda itu menyetir. "Gak apa-apa kan Lia, kita berhenti supaya Elang bisa minum kopi dulu?" tanyanya pada Lia. "Nggih, Pak." Tanpa sengaja, mata dua sejoli itu saling bertatapan, cepat-cepat Elang menatap ke depan lagi, sementara Lia menundukkan kepalanya. "Aku padahal bisa pulang sendiri naik kereta. Kalau begini kan susah mau tidur," batin Lia. "Om sengaja mau antar kamu langsung, Lia. Mau sekalian minta maaf sama Uti-mu karena sudah buat kamu sakit. Apa Uti-mu m

  • Luka Asmara Adelia   Rahasia Adelia

    "Uti katanya kenal sama Pak Rudi, ya?" tanya Liadengan polos."Kamu ngomong apa, Lia! Uti nggak kenal! Kalianpergi!" sentak Uti. Wanita yang sudah berusia lebih dari setengah abad itumemalingkan wajahnya dari hadapan Rudi."Saya Rudi, Bu." Tiba-tiba saja Rudi maju danberusaha meraih tangan Uti, tapi wanita itu malah menghempasnya begitu saja.Senyum tetap mengembang di wajah laki-laki yang sama sekali tak mendapatrespons baik dari Uti itu."Lia, masuk rumah. Istirahat!" ucap Uti."Yanto! Aku ndak jadi jualan, tutup saja warungnya!""Iya, Mbak," sahut Pakde Yanto."Uti, tapi Mas Elang sama Pak Rudi capek loh, Ti.Kasian mereka kan dari Jakarta, perjalanan jauh. Biar minum teh anget dulu, ya,Ti?"Uti memang tak bisa menolak permintaan cucu satu-satunyaitu.Setelah menikmati habis secangkir teh dan suguhan ubi rebusbuatan Lia, Elang dan Rudi merasa tubuh mereka segar kembali. Bayangkan saja,perjalanan begitu jauh untuk sampai ke desanya Lia. Apalagi Rudi memutuskanmereka berang

  • Luka Asmara Adelia   Dia Anakku

    Rudi termenung dengan beribu pertanyaan di perjalananpulangnya dari rumah sakit. Ia pernah melihat kalung itu, kalung yangdikenakan Lia di lehernya. Persis seperti,"Kalung Ayu," gumam laki-laki itu. "Apa dia ?Ah, mana mungkin. Mereka pindah ke luar pulau, kata orang-orang di sana dulu.Tapi, dia memang mirip Ayu waktu muda."Sudah dua puluh satu tahun berlalu, tapi rasa itu tak pernahhilang meski mata Rudi tak pernah lagi melihat wanita bernama Ayu itu.Berkali-kali Rudi mencoba kembali ke desa, berkali-kali juga kegagalan yangmenemuinya."Siapa Lia ini?" gumam Rudi.Ia tak mau berlarut-larut begini. Rasa penasarannya tak bisadicegah. Rudi lantas menepikan mobilnya, meraih ponsel yang sejak tadi ada disaku celana.Rudi kembali menghubungi Elang untuk membuktikan siapa Liasebetulnya. Tapi, kebetulan itu terlalu aneh karena kalung yang dipakai Liahanya ada satu, khusus dibuatkan Rudi untuk Ayu.["Halo, Elang? Om bisa minta tolong kirimkan alamatgadis yang tadi? Segera, ya."]

  • Luka Asmara Adelia   Penyesalan

    "Sudah malambegini, apa Nduk nggak mengabari juga, Mbak?" tanya laki-laki tua yangtadi pagi mengantar Lia ke jalan besar untuk mendapat bus ke stasiun.Suasana desa yang sepi, ditambah hujan yang mengguyur sejaksore, membuat Uti memikirkan cucunya semata wayang itu yang kini ada di tanahorang.Bukan apa-apa, Lia jarang pergi jauh. Sekalinya jauh, yapasti cuma ke pasar dan sekolah. Meskipun bilangnya mau bertemu dengan calonsuaminya, tetap saja hati seorang nenek yang sudah seperti ibu bagi Lia itu taktenang."Aku ndak tenang, To," ucap Uti pada Pakde Yanto.Sambil menghembuskan asap rokok yang keluar dari cerutunya,Pakde Yanto tersenyum. Ia ingat sekali kejadian ini sama persis dengan saatAyu, anaknya Uti, pergi dari rumah.Bilangnya mau merantau ke kota mencari pekerjaan supaya bisamembawa ibunya keluar dari kemiskinan, tapi pulang-pulang justru membawaseorang bayi kecil di gendongannya.Harapan Uti sirna seketika itu juga. Dia membesarkan Liaseorang diri sepeninggal Ayu,

  • Luka Asmara Adelia   Selingkuhan Suami Orang

    Namaku Adelia, dan hari ini aku baru tau kalau aku ternyatajadi selingkuhan suami orang."Jauh-jauh ke Jakarta dari Jawa Tengah mau apa,Sayang?" tanya ibu penjual soto yang melihatku makan lahap. Mungkin jugadia melihat air mataku yang menetes masuk ke dalam mangkuk soto."Mau cari kerja di sini, Bu," sahutku. Terpaksamulut ini berbohong karena bingung harus menjawab apa.Lama sekali aku menunggu Mas Arga yang katanya mau datangmenjemputku. Yang jelas, aku belum memberitahunya kalau aku sudah tau tentangkemunafikan laki-laki itu.Hatiku masih sakit memikirkan Uti di rumah. Bagaimana kalaudia tau Arga itu suami orang? Pantas laki-laki itu tak mau kalau teman-temankerjanya tau dia melamarku, takut ketahuan belangnya!Dulu alasannya karena tak mau teman-teman kerjanya itumengutang di warung Uti atas namanya, tapi dasar manusia licik! Ternyata diapunya bini dan anak.Sebuah sinar lampu motor mengejutkan mataku, seperti sengajatepat menyorot sebagai hukuman."Lia!" seru seseoran

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status