Share

Penyesalan

Penulis: Sikaa24
last update Tanggal publikasi: 2026-07-07 10:15:16

"Sudah malam begini, apa Nduk nggak mengabari juga, Mbak?" tanya laki-laki tua yang tadi pagi mengantar Lia ke jalan besar untuk mendapat bus ke stasiun.

Suasana desa yang sepi, ditambah hujan yang mengguyur sejak sore, membuat Uti memikirkan cucunya semata wayang itu yang kini ada di tanah orang.

Bukan apa-apa, Lia jarang pergi jauh. Sekalinya jauh, ya pasti cuma ke pasar dan sekolah. Meskipun bilangnya mau bertemu dengan calon suaminya, tetap saja hati seorang nenek yang sudah seperti ibu bagi Lia itu tak tenang.

"Aku ndak tenang, To," ucap Uti pada Pakde Yanto.

Sambil menghembuskan asap rokok yang keluar dari cerutunya, Pakde Yanto tersenyum. Ia ingat sekali kejadian ini sama persis dengan saat Ayu, anaknya Uti, pergi dari rumah.

Bilangnya mau merantau ke kota mencari pekerjaan supaya bisa membawa ibunya keluar dari kemiskinan, tapi pulang-pulang justru membawa seorang bayi kecil di gendongannya.

Harapan Uti sirna seketika itu juga. Dia membesarkan Lia seorang diri sepeninggal Ayu, ibu gadis cantik itu, yang meninggal karena sakit.

"Kalau sudah khawatir gitu, apa ndak ditelpon saja anaknya? Aku juga bisa tanyakan ke orang-orang kebun nomornya si Arga itu. Entahlah, Mbak. Aku kok merasa Arga itu ndak tulus sama cucumu."

Ucapan Pakde Yanto itu membuat Uti merinding. Sudah usia lanjut malah ditakut-takuti dengan kalimat seperti itu. Apesnya, ya Pakde Yanto harus merasakan cubitan Uti yang aduhai itu.

"Ngomongmu jangan sembarangan!" sergah wanita yang punya nama asli Sumirah itu. "Hatiku tambah ndak tenang gara-gara omongamu."

"Mbak, apa laki-laki gendeng itu masih hidup, ya? Kalau Nduk di Jakarta ketemu sama ..."

Padahal Pakde Yanto belum selesai berbicara, tapi Uti Mirah tahu maksud dan arah ucapan laki-laki yang ditinggal meninggal istrinya lima belas tahun yang lalu itu ke mana.

Sorot mata Uti berubah. Wajah tuanya menyiratkan kegelisahan yang hanya dimengerti oleh orang-orang yang tahu cerita masa lalu kedua orang tua Lia.

Melihat sisa puntung rokok Pakde Yanto yang tinggal sedikit, Uti beranjak dari kursi plastik yang sejak tadi menopangnya.

"Wes, ndang mulih! Pintunya mau tak tutup!" omel Uti.

"Hujan ini gimana pulangnya, Mbak? Tego tenan njenengan," ucap Pakde Yanto. "Nasib wong lanang hidup sendirian ya begini."

Suasana tampak canggung saat ini. Lia ditatap seorang bocah yang masih keheranan melihat perban di tangan dan kaki gadis itu.

Sementara itu, tangannya menggenggam erat boneka beruang berbentuk hati. Bagian berwarna merah itu ternyata bisa mengeluarkan suara saat ditekan.

"I love you, Adelia."

Suaranya begitu. Jelas kedengaran itu adalah suara laki-laki dan perempuan yang bicara bersamaan.

Gadis kecil bernama Adelia menatap gadis dewasa yang juga bernama Adelia. Siapa yang pertama kali tersenyum? Mengejutkannya, mereka tersenyum berdua.

"Itu ada suaranya, to?" tanya Lia.

"Iya. Ini suara Mama Papa aku ..."

Lia tak terlalu jelas mendengar jawaban Adel karena Elang tiba-tiba datang lagi ke ruang rawatnya beserta sebuah tas ungu milik gadis itu. Raut wajah Lia sontak terlihat lega.

Tas itu milik Uti, satu-satunya yang paling bagus. Katanya, mau dibawa untuk jalan-jalan nanti kalau sewaktu-waktu Arga mengajak mereka berlibur setelah menikah.

Pernikahan sudah pasti batal, tapi Lia tak mau mematahkan semangat Utinya yang mau melihat dunia luar itu. Dia tetap bertekad suatu saat akan membuat wanita itu keluar dari desanya.

"Ma, Mama pulang aja sama Adel dan Om Rudi. Istirahat. Biar aku yang jaga di sini," ucap Elang, laki-laki yang terlihat seperti kulkas dua pintu.

Ditinggal bersama laki-laki asing berdua di situ? Raut wajah terkejut Lia membuat wanita yang dipanggil Mama oleh Elang itu jadi tak enak.

"Kamu ada-ada aja. Biar Mama yang di sini. Kamu pulang sama Adel, nggak baik laki-laki berduaan sama perempuan di dalam kamar."

"Betul!" sahut Lia. Dia sepakat tanpa goyah sedikit pun.

Sepasang ibu dan anak itu berdebat panjang menentukan siapa yang tinggal dan siapa yang pulang di depan Lia dan Rudi.

Tiba-tiba saja Rudi mendekati Lia dengan wajah penuh senyum yang tulus.

"Rumah kamu di mana? Apa ada saudara yang bisa saya hubungi?" tanya Rudi.

"Jauh. Saya cuma tinggal sama Uti," jelas Lia polos.

Tangan yang belum pulih itu melayang dan mendarat ke sebuah kalung perak berbandul huruf A. Lia merindukan Utinya.

Tepat saat hal itu terjadi di depan mata Rudi, tubuhnya seketika mematung.

"Kenapa, Rud?" tanya Anita.

"Nggak ada apa-apa, Kak An," jawab Rudi syok.

"Om Rudi pulang aja. Aku akan jaga dia malam ini. Tenang aja, aku akan jaga di luar. Mama sama Om Rudi cepat pulang," jelas Elang.

Setelah perdebatan panjang itu, ternyata kesimpulannya tetap Elang yang menjaga Lia. Belakangan baru Lia tahu kalau Anita tak bisa kelelahan karena kondisi kesehatannya. Dia jadi maklum.

Lia menarik napas panjang.

Setelah Adel, Anita, dan Rudi berpamitan pulang, kini yang tersisa di ruangan rawat itu hanya Lia dan Elang. Keduanya sama-sama banyak diam, padahal sebetulnya banyak yang bisa mereka bicarakan, termasuk kejadian malam itu.

"Orang yang menabrak Anda itu namanya Om Rudi. Mobil kami beriringan tadi setelah pulang dari makan malam. Waktu Adel teriak bonekanya jatuh, saya baru menghentikan mobil, tapi ternyata mobil Om Rudi sudah menabrak kamu. Saya minta maaf."

Panjang lebar Elang menjelaskan kronologi kejadian yang menimpa Lia malam itu. Dia canggung, sementara Lia juga bukan tipe orang yang banyak bicara pada orang baru.

Kamar tempat Lia dirawat hanya diisi gadis itu, tidak ada pasien lain, dan terasa nyaman. Berbeda sekali dengan kamarnya di rumah Uti. Tapi, meski begitu, dia sungguh bersyukur karena itu rumah Uti sendiri.

Rasanya Lia lelah harus tiduran saja. Dia mencoba duduk dan membuat bantalnya menjadi sandaran, tapi itu sulit dilakukan dengan tangan yang lemah.

"Kamu mau apa? Biar saya bantu," ucap Elang.

"Saya mau nyender ..."

Belum selesai Lia bicara, tubuh Elang sudah mendekat. Begitu dekat dengannya sampai Lia bisa mencium wangi aroma parfum yang lembut. Mata Lia sejajar lurus dengan tengkuk laki-laki di hadapannya itu. Sontak membuatnya langsung menutup mata, takut disangka tak sopan.

"Apa sudah lebih baik?" tanya Elang. Tapi, yang didapatinya justru mata yang jelas sekali dipaksa menutup. Perlahan mata itu terbuka, dan keduanya saling menatap begitu dekat. "Maaf, sepertinya saya membuat kamu nggak nyaman," sambung Elang lagi.

Udara seketika jadi panas. Lia menyesal sudah banyak bertingkah di tengah rasa sakitnya itu. Harusnya tadi dia diam saja supaya Elang juga tak mendekat.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Luka Asmara Adelia   Rahasia Adelia

    "Uti katanya kenal sama Pak Rudi, ya?" tanya Liadengan polos."Kamu ngomong apa, Lia! Uti nggak kenal! Kalianpergi!" sentak Uti. Wanita yang sudah berusia lebih dari setengah abad itumemalingkan wajahnya dari hadapan Rudi."Saya Rudi, Bu." Tiba-tiba saja Rudi maju danberusaha meraih tangan Uti, tapi wanita itu malah menghempasnya begitu saja.Senyum tetap mengembang di wajah laki-laki yang sama sekali tak mendapatrespons baik dari Uti itu."Lia, masuk rumah. Istirahat!" ucap Uti."Yanto! Aku ndak jadi jualan, tutup saja warungnya!""Iya, Mbak," sahut Pakde Yanto."Uti, tapi Mas Elang sama Pak Rudi capek loh, Ti.Kasian mereka kan dari Jakarta, perjalanan jauh. Biar minum teh anget dulu, ya,Ti?"Uti memang tak bisa menolak permintaan cucu satu-satunyaitu.Setelah menikmati habis secangkir teh dan suguhan ubi rebusbuatan Lia, Elang dan Rudi merasa tubuh mereka segar kembali. Bayangkan saja,perjalanan begitu jauh untuk sampai ke desanya Lia. Apalagi Rudi memutuskanmereka berang

  • Luka Asmara Adelia   Dia Anakku

    Rudi termenung dengan beribu pertanyaan di perjalananpulangnya dari rumah sakit. Ia pernah melihat kalung itu, kalung yangdikenakan Lia di lehernya. Persis seperti,"Kalung Ayu," gumam laki-laki itu. "Apa dia ?Ah, mana mungkin. Mereka pindah ke luar pulau, kata orang-orang di sana dulu.Tapi, dia memang mirip Ayu waktu muda."Sudah dua puluh satu tahun berlalu, tapi rasa itu tak pernahhilang meski mata Rudi tak pernah lagi melihat wanita bernama Ayu itu.Berkali-kali Rudi mencoba kembali ke desa, berkali-kali juga kegagalan yangmenemuinya."Siapa Lia ini?" gumam Rudi.Ia tak mau berlarut-larut begini. Rasa penasarannya tak bisadicegah. Rudi lantas menepikan mobilnya, meraih ponsel yang sejak tadi ada disaku celana.Rudi kembali menghubungi Elang untuk membuktikan siapa Liasebetulnya. Tapi, kebetulan itu terlalu aneh karena kalung yang dipakai Liahanya ada satu, khusus dibuatkan Rudi untuk Ayu.["Halo, Elang? Om bisa minta tolong kirimkan alamatgadis yang tadi? Segera, ya."]

  • Luka Asmara Adelia   Penyesalan

    "Sudah malambegini, apa Nduk nggak mengabari juga, Mbak?" tanya laki-laki tua yangtadi pagi mengantar Lia ke jalan besar untuk mendapat bus ke stasiun.Suasana desa yang sepi, ditambah hujan yang mengguyur sejaksore, membuat Uti memikirkan cucunya semata wayang itu yang kini ada di tanahorang.Bukan apa-apa, Lia jarang pergi jauh. Sekalinya jauh, yapasti cuma ke pasar dan sekolah. Meskipun bilangnya mau bertemu dengan calonsuaminya, tetap saja hati seorang nenek yang sudah seperti ibu bagi Lia itu taktenang."Aku ndak tenang, To," ucap Uti pada Pakde Yanto.Sambil menghembuskan asap rokok yang keluar dari cerutunya,Pakde Yanto tersenyum. Ia ingat sekali kejadian ini sama persis dengan saatAyu, anaknya Uti, pergi dari rumah.Bilangnya mau merantau ke kota mencari pekerjaan supaya bisamembawa ibunya keluar dari kemiskinan, tapi pulang-pulang justru membawaseorang bayi kecil di gendongannya.Harapan Uti sirna seketika itu juga. Dia membesarkan Liaseorang diri sepeninggal Ayu,

  • Luka Asmara Adelia   Selingkuhan Suami Orang

    Namaku Adelia, dan hari ini aku baru tau kalau aku ternyatajadi selingkuhan suami orang."Jauh-jauh ke Jakarta dari Jawa Tengah mau apa,Sayang?" tanya ibu penjual soto yang melihatku makan lahap. Mungkin jugadia melihat air mataku yang menetes masuk ke dalam mangkuk soto."Mau cari kerja di sini, Bu," sahutku. Terpaksamulut ini berbohong karena bingung harus menjawab apa.Lama sekali aku menunggu Mas Arga yang katanya mau datangmenjemputku. Yang jelas, aku belum memberitahunya kalau aku sudah tau tentangkemunafikan laki-laki itu.Hatiku masih sakit memikirkan Uti di rumah. Bagaimana kalaudia tau Arga itu suami orang? Pantas laki-laki itu tak mau kalau teman-temankerjanya tau dia melamarku, takut ketahuan belangnya!Dulu alasannya karena tak mau teman-teman kerjanya itumengutang di warung Uti atas namanya, tapi dasar manusia licik! Ternyata diapunya bini dan anak.Sebuah sinar lampu motor mengejutkan mataku, seperti sengajatepat menyorot sebagai hukuman."Lia!" seru seseoran

  • Luka Asmara Adelia   Kedatanganku Membuka Kebenaran

    Dua bulan berlalu sejak hari pertunangan kami. Pikirankumasih diisi bayangan kedatangan calon suamiku, tapi kenyataan berbandingterbalik. Mas Arga tak pernah pulang dari Jakarta barang sebentar untukmenengok keadaanku. Sibuk, katanya. Pesanku hanya dibalas singkat. Bahkan,pernah satu minggu dia sama sekali tak membalas pesanku yang hanya berisikata-kata penyemangat kerja.Hingga hari ini, aku memutuskan menyusulnya ke kota orang.Kota yang katanya lebih kejam daripada ibu tiri: Jakarta."Lia, Uti mau bawain bekal untuk di jalan. Masih muatapa ndak tasmu?" tanya Mbah Utiku.Mbah Uti, orang tua sekaligus satu-satunya keluarga yang akupunya. Aku anak yatim piatu yang tinggal di desa, sekolah hanya sampai SMA.Sehari-harinya aku membantu Uti membuka warung makan di dekat kebun perusahaan,dan Mas Arga adalah salah satu pekerja di sana.Perkenalan kami singkat. Tahu-tahu Mas Arga datang danmemintaku menjadi istrinya tanpa kami berpacaran. Uti tampak senang cucunyaakan dipinang or

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status