Share

Siapa Ayahku?

Penulis: Sikaa24
last update Tanggal publikasi: 2026-08-04 07:48:13

Beberapa jam sebelumnya ...

Lia tampak canggung berada di satu mobil yang sama dengan Elang dan Rudi, padahal dia sudah bilang kalau dia bisa pulang sendiri ke desanya. Lia bersikeras kesehatannya sudah pulih.

"Kamu lapar?" tanya Elang tiba-tiba, tanpa sepengetahuan Lia, dia melirik berulang kali ke arah gadis itu dari kaca dalam mobil.

"Ndak, Mas," sahut Lia.

"Kita berhenti sebentar aja di rest area, Lang. Masih pagi begini sepertinya enak minum kopi," ucap Rudi. Dia duduk di samping
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Luka Asmara Adelia   Sedingin Salju, Sehangat Tawa

    "Tapi Pakde ndak pernah bilang sama Lia. Kenapa?" Kaki gadis itu lemas, tubuhnya ternyata tak siap menerima fakta kalau selama ini sosok ayahnya dirahasiakan. "Pakde bukannya ndak mau kasih tau, Nduk," jawab Pakde Yanto. "Memangnya siapa bapakmu?! Bapakmu sudah mati!" seru Uti, di depan wajah Rudi yang masih berharap Uti menghentikan sandiwaranya itu. "UTI!" pekik Lia. Seumur hidupnya, tak pernah sekalipun Lia melawan sang nenek, apalagi berteriak seperti sekarang ini. Dia masih takut karma kalau melawan orang yang lebih tua. Tapi kali ini lain, Lia kehabisan sabar melihat Uti yang selalu saja menolak memberitahunya soal Rudi. "Wes, Mbak. Sudahlah. Apa Mbak Yu ndak kasihan sama Nduk? Dia bingung," ucap Pakde Yanto, mencoba menembus tembok yang selama ini dipasang Uti. "Ngerti opo koe, To?! Aku ini yang besarkan dia! Aku! Bukan orang-orang kaya yang sudah buat anakmu mati! Apa kamu berharap cucuku juga ikut mati sama ibuknya hanya karena dia?! Begitu maumu, To!" seru

  • Luka Asmara Adelia   Siapa Ayahku?

    Beberapa jam sebelumnya ... Lia tampak canggung berada di satu mobil yang sama dengan Elang dan Rudi, padahal dia sudah bilang kalau dia bisa pulang sendiri ke desanya. Lia bersikeras kesehatannya sudah pulih. "Kamu lapar?" tanya Elang tiba-tiba, tanpa sepengetahuan Lia, dia melirik berulang kali ke arah gadis itu dari kaca dalam mobil. "Ndak, Mas," sahut Lia. "Kita berhenti sebentar aja di rest area, Lang. Masih pagi begini sepertinya enak minum kopi," ucap Rudi. Dia duduk di samping Elang sambil menjaga pemuda itu menyetir. "Gak apa-apa kan Lia, kita berhenti supaya Elang bisa minum kopi dulu?" tanyanya pada Lia. "Nggih, Pak." Tanpa sengaja, mata dua sejoli itu saling bertatapan, cepat-cepat Elang menatap ke depan lagi, sementara Lia menundukkan kepalanya. "Aku padahal bisa pulang sendiri naik kereta. Kalau begini kan susah mau tidur," batin Lia. "Om sengaja mau antar kamu langsung, Lia. Mau sekalian minta maaf sama Uti-mu karena sudah buat kamu sakit. Apa Uti-mu m

  • Luka Asmara Adelia   Rahasia Adelia

    "Uti katanya kenal sama Pak Rudi, ya?" tanya Liadengan polos."Kamu ngomong apa, Lia! Uti nggak kenal! Kalianpergi!" sentak Uti. Wanita yang sudah berusia lebih dari setengah abad itumemalingkan wajahnya dari hadapan Rudi."Saya Rudi, Bu." Tiba-tiba saja Rudi maju danberusaha meraih tangan Uti, tapi wanita itu malah menghempasnya begitu saja.Senyum tetap mengembang di wajah laki-laki yang sama sekali tak mendapatrespons baik dari Uti itu."Lia, masuk rumah. Istirahat!" ucap Uti."Yanto! Aku ndak jadi jualan, tutup saja warungnya!""Iya, Mbak," sahut Pakde Yanto."Uti, tapi Mas Elang sama Pak Rudi capek loh, Ti.Kasian mereka kan dari Jakarta, perjalanan jauh. Biar minum teh anget dulu, ya,Ti?"Uti memang tak bisa menolak permintaan cucu satu-satunyaitu.Setelah menikmati habis secangkir teh dan suguhan ubi rebusbuatan Lia, Elang dan Rudi merasa tubuh mereka segar kembali. Bayangkan saja,perjalanan begitu jauh untuk sampai ke desanya Lia. Apalagi Rudi memutuskanmereka berang

  • Luka Asmara Adelia   Dia Anakku

    Rudi termenung dengan beribu pertanyaan di perjalananpulangnya dari rumah sakit. Ia pernah melihat kalung itu, kalung yangdikenakan Lia di lehernya. Persis seperti,"Kalung Ayu," gumam laki-laki itu. "Apa dia ?Ah, mana mungkin. Mereka pindah ke luar pulau, kata orang-orang di sana dulu.Tapi, dia memang mirip Ayu waktu muda."Sudah dua puluh satu tahun berlalu, tapi rasa itu tak pernahhilang meski mata Rudi tak pernah lagi melihat wanita bernama Ayu itu.Berkali-kali Rudi mencoba kembali ke desa, berkali-kali juga kegagalan yangmenemuinya."Siapa Lia ini?" gumam Rudi.Ia tak mau berlarut-larut begini. Rasa penasarannya tak bisadicegah. Rudi lantas menepikan mobilnya, meraih ponsel yang sejak tadi ada disaku celana.Rudi kembali menghubungi Elang untuk membuktikan siapa Liasebetulnya. Tapi, kebetulan itu terlalu aneh karena kalung yang dipakai Liahanya ada satu, khusus dibuatkan Rudi untuk Ayu.["Halo, Elang? Om bisa minta tolong kirimkan alamatgadis yang tadi? Segera, ya."]

  • Luka Asmara Adelia   Penyesalan

    "Sudah malambegini, apa Nduk nggak mengabari juga, Mbak?" tanya laki-laki tua yangtadi pagi mengantar Lia ke jalan besar untuk mendapat bus ke stasiun.Suasana desa yang sepi, ditambah hujan yang mengguyur sejaksore, membuat Uti memikirkan cucunya semata wayang itu yang kini ada di tanahorang.Bukan apa-apa, Lia jarang pergi jauh. Sekalinya jauh, yapasti cuma ke pasar dan sekolah. Meskipun bilangnya mau bertemu dengan calonsuaminya, tetap saja hati seorang nenek yang sudah seperti ibu bagi Lia itu taktenang."Aku ndak tenang, To," ucap Uti pada Pakde Yanto.Sambil menghembuskan asap rokok yang keluar dari cerutunya,Pakde Yanto tersenyum. Ia ingat sekali kejadian ini sama persis dengan saatAyu, anaknya Uti, pergi dari rumah.Bilangnya mau merantau ke kota mencari pekerjaan supaya bisamembawa ibunya keluar dari kemiskinan, tapi pulang-pulang justru membawaseorang bayi kecil di gendongannya.Harapan Uti sirna seketika itu juga. Dia membesarkan Liaseorang diri sepeninggal Ayu,

  • Luka Asmara Adelia   Selingkuhan Suami Orang

    Namaku Adelia, dan hari ini aku baru tau kalau aku ternyatajadi selingkuhan suami orang."Jauh-jauh ke Jakarta dari Jawa Tengah mau apa,Sayang?" tanya ibu penjual soto yang melihatku makan lahap. Mungkin jugadia melihat air mataku yang menetes masuk ke dalam mangkuk soto."Mau cari kerja di sini, Bu," sahutku. Terpaksamulut ini berbohong karena bingung harus menjawab apa.Lama sekali aku menunggu Mas Arga yang katanya mau datangmenjemputku. Yang jelas, aku belum memberitahunya kalau aku sudah tau tentangkemunafikan laki-laki itu.Hatiku masih sakit memikirkan Uti di rumah. Bagaimana kalaudia tau Arga itu suami orang? Pantas laki-laki itu tak mau kalau teman-temankerjanya tau dia melamarku, takut ketahuan belangnya!Dulu alasannya karena tak mau teman-teman kerjanya itumengutang di warung Uti atas namanya, tapi dasar manusia licik! Ternyata diapunya bini dan anak.Sebuah sinar lampu motor mengejutkan mataku, seperti sengajatepat menyorot sebagai hukuman."Lia!" seru seseoran

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status