LOGINNamaku Adelia, dan hari ini aku baru tau kalau aku ternyata jadi selingkuhan suami orang.
"Jauh-jauh ke Jakarta dari Jawa Tengah mau apa, Sayang?" tanya ibu penjual soto yang melihatku makan lahap. Mungkin juga dia melihat air mataku yang menetes masuk ke dalam mangkuk soto.
"Mau cari kerja di sini, Bu," sahutku. Terpaksa mulut ini berbohong karena bingung harus menjawab apa.
Lama sekali aku menunggu Mas Arga yang katanya mau datang menjemputku. Yang jelas, aku belum memberitahunya kalau aku sudah tau tentang kemunafikan laki-laki itu.
Hatiku masih sakit memikirkan Uti di rumah. Bagaimana kalau dia tau Arga itu suami orang? Pantas laki-laki itu tak mau kalau teman-teman kerjanya tau dia melamarku, takut ketahuan belangnya!
Dulu alasannya karena tak mau teman-teman kerjanya itu mengutang di warung Uti atas namanya, tapi dasar manusia licik! Ternyata dia punya bini dan anak.
Sebuah sinar lampu motor mengejutkan mataku, seperti sengaja tepat menyorot sebagai hukuman.
"Lia!" seru seseorang yang sangat aku kenal suaranya. Suara yang berbulan-bulan aku rindukan, tapi kini mendengarnya aku jadi jijik. "Heh! Lia! Kamu ngapain sih sampai ke Jakarta?! Ayo, Mas antar pulang ke stasiun!"
Tiba-tiba Mas Arga menarikku paksa. Semua mata yang ada di sana sontak menatap kami dengan keheranan. Aku melepas satu tamparan ke pipinya.
Plak!
"Astaga!" seru ibu penjual soto.
"Lia? Kamu ..."
"Jangan sentuh, Mas," ucapku pada Arga. "Kamu tinggal di mana, Mas? Sama siapa? Kok tega kamu bohong sama saya!"
Karena sudah malu jadi bahan tontonan, Mas Arga kembali menarikku, tapi aku langsung menahannya lagi.
"Kita jangan ngomong di sini! Ayo ikut!" seru Arga yang kini berani berteriak padaku.
"Jangan sentuh saya sebelum kamu jujur sudah punya anak istri!"
Suaraku tiba-tiba terdengar seperti wanita dewasa yang pemberani. Aku juga kaget bisa melakukan hal itu.
Seketika semua orang membicarakan kami. Kepalang tanggung, sudah basah ya mandi sekalian. Toh aku bukan warga Jakarta. Habis ini niatku mau pesan tiket kereta dan pulang ke rumah.
"Wah! Wah! Lu ternyata udah punya bini, masih mau gaet perawan?!" ucap ibu penjual soto itu pada Mas Arga. "Tobat, lu."
"Diem! Bukan urusan lu, Nenek-nenek!" sahut Mas Arga. "Ayo, Lia! Perempuan kurang ajar! Setan!"
"Heh! Heh! Main tarik-tarik cewek aja. Lu udah salah, malah ngatain orang nenek-nenek lagi. Minta maaf atau mau digebukin banyak orang?!" Seorang mas-mas penjaga parkir lantas menarik Mas Arga karena berani menghinaku dan ibu penjual soto. Belakangan aku baru tau kalau mas-mas itu anak si ibu penjual soto.
Melihat situasi yang kacau, aku sudah tak peduli. Untung tadi sudah bayar makanan di awal, jadi aku langsung meraih tas dan pergi begitu saja.
Buatku itu benar-benar menakutkan karena aku tidak punya siapa-siapa di Jakarta selain berharap pada Mas Arga. Sekarang yang tersisa hanyalah keinginan untuk pulang.
Tersedu-sedu aku menangis di tepi jalan. Banyak orang melintas, hanya sekali melirik, lalu kembali berjalan tanpa bertanya kenapa aku menangis. Untungnya aku sudah jauh sekali dari tempat soto itu, dan aku tak mau tau bagaimana keadaan Mas Arga di sana.
"Bilang apa sama Uti nanti kalau ditanya kenapa mau batal nikah sama Mas Arga? Laki-laki nggak tau diri! Muka kayak ketek tapi sok mau punya istri dua!" gerutuku sendirian.
Tepat setelah kalimat itu selesai aku ucapkan, tiba-tiba saja sebuah mobil melintas, dan sebuah boneka jatuh tepat di depanku. Boneka beruang kecil yang ada bentuk hati di depannya.
Spontan aku mau menyelamatkannya sambil berteriak memanggil si empunya. Tapi, ternyata orang kampung ini dengan bodohnya menyamakan jalanan di desa dengan di Jakarta. Aku silap sekali lagi.
Sebuah mobil melaju kencang dan ... menabrakku. Aku terjatuh. Suara manusia mulai berteriak-teriak di sekelilingku, sedangkan tanganku masih memegang boneka yang nyawanya bisa aku selamatkan.
"Boneka Adeel!"
Satu kalimat itu yang terakhir aku dengar sebelum semuanya jadi ... gelap.
Aku berusaha sadar dengan penglihatan yang samar. Ini di mana juga, aku benar-benar tak tau. Semua terasa asing.
"Uti ... Uti ..." gumamku.
"Elang! Dia sadar!"
Jelas sekali suara seorang wanita menyebut nama Elang.
"Sadar, Ma?"
Aku membuka mata perlahan, dan yang pertama kali kulihat adalah sepasang mata indah yang juga menatapku.
"Iya. Cepetan panggil dokter!" perintah wanita di sebelahku pada laki-laki tadi.
"Saya ada di mana?" tanyaku pada wanita itu. Kepalaku rasanya pusing sekali dan tubuhku benar-benar lemas.
"Apa yang dirasakan, Nak? Sakit semua ya badannya?" tanya wanita itu, sementara mulutku masih belum sanggup menjawab. "Rumahmu di mana? Saya perlu bicara sama keluargamu."
Rumah? Ah, Uti! Sejak menginjak tanah Jakarta, aku belum meneleponnya sama sekali. Pasti dia sedang duduk di depan rumah sambil menunggu kabarku.
"HP saya di mana?"
Wanita itu terdiam sejenak, lalu tak lama sebuah plastik bening berisi benda yang tak asing di mataku muncul.
"Ponsel kamu ternyata remuk. Kayaknya terlempar waktu kamu tertabrak tadi dan terlindas. Itu sebabnya saya belum bisa menelepon keluarga kamu," jelas wanita itu.
"U-uti ..." seruku, lalu menangis lagi. Di saat itulah datang dokter, pemuda tadi, dan seorang laki-laki tak terlalu tua, tapi cukup untuk dipanggil dengan sebutan Bapak. Fokusku kembali ke ponsel yang sudah remuk. Sepertinya aku belum cukup dihukum hari ini.
"Saya minta maaf. Saya akan ganti rugi semua kerusakan kamu. Nama saya Rudi Hartono."
Laki-laki yang datang bersama dokter dan pemuda bernama Elang tadi memberikan kartu namanya padaku.
"Nama kamu siapa?" tanyanya lagi.
"Nama saya ..."
Saat itu juga tiba-tiba aku teringat pada barang-barangku. Tadi aku meninggalkannya di tepi jalan. "Tasku!"
"Tas? Tas siapa? Tas punya kamu?" tanya laki-laki bernama Elang itu padaku. Tentu aku mengangguk cepat, tapi katanya mereka tak tau di mana barang itu karena yang terpenting adalah menyelamatkan nyawaku.
Saat itu juga Elang langsung menelepon seseorang, dan tak lama seorang laki-laki berpakaian sopir datang bersama seorang wanita berpakaian pengasuh, juga seorang anak kecil di gendongannya.
"Omaaa! Oma, Adel mau pulang aja, Oma," ucap bocah itu. Di tangannya dia memeluk sebuah boneka yang tak asing. Ya, itu boneka yang membuat aku jadi kehilangan ponselku.
"Pak Kadir, tolong balik ke lokasi tadi. Cari tas warna ... warna apa tas kamu?" tanya Elang padaku.
"Warna ungu, ada tulisan namanya Adelia," jelasku.
Sontak semua mata menatap ke arahku ketika kusebutkan siapa aku. Anak kecil yang digendong tadi pun sama, justru dia yang lebih dulu tersenyum.
"Aku juga Adelia," ucapnya padaku.
*** "Ahahaha! Seru ya, Papi. Kita jadi ada Kakak Lia lagi. Apa kita langsung pulang ke rumah ya, Papi? Enggak main sama Kakak?" tanya Adel, bocah kecil itu duduknya saja memepet ke arah Lia. Dia benar-benar fans Lia garis keras. Katanya kalau sudah besar, mau secantik Kakak Lia yang punya rambut panjang. Padahal Lia sendiri saja minder karena dia tidak seperti gadis kota yang berpenampilan menarik. "Iya, Lang? Kamu masih sibuk hari ini?" tanya Anita. "Enggak sih, Ma. Semua kerjaan bisa dihandle Ari," jelas Elang. "Bagus kalau gitu," sahut Anita. "Rud, gimana kalau kita pergi belanja? Boleh aku bawa Lia pergi belanja?" Rudi jelas setuju, hitung-hitung supaya putrinya itu tau kota Jakarta. Karena sebentar lagi dia akan resmi jadi penduduk tetap. "Belanja, Tante?" tanya Lia. "Uangku dari Uti kalo dibelanjain di Jakarta dapet apa, ya?" batinnya, yang malah memikirkan uang. "Tapi sepertinya aku gak bisa ikut, Kak. Harus ada yang aku selesaikan," jawab Rudi. "Kamu nan
***Makan siang bersama antara keluarga Franco dan Hartono membuat Adel sangat senang. Kali ini dia mau duduk antara Papi Elang dan Kakak Lia. Katanya itu dua orang favoritnya sekarang. "Kakak suka ikan, ya? Adel sukanya ayam," ucap Adel seraya makan ayam goreng yang sudah dipisah-pisah Elang. Mulutnya sekarang penuh dengan nasi. "Suka buanget. Ikan itu nanyak gizinya. Adel ndak ma'em ikan?" tanya Lia. "Ahaha. Kakak lucu deh bicaranya. Buanget, sama ma'em," kekeh bocah yang sekarang duduk sambil menyenderkan tubuh di kursi. Celotehannya jadi hiburan makan siang para orang dewasa hari ini. "Hahaha. Lucu, ya? Dah biasa ngomongnya begitu, nanti tak belajar ngomongnya kayak orang Jakarta ya. Adel mau ngajarin, ndak?" tanya Lia. "Mau. Adel bisa kok, Kakak. Itu ikannya enak, ya?" "Mau coba, ndak?" tanya Lia. "Biar nanti Adel saya pesankan yang lain, kamu makan aja," timpal Elang yang sejak tadi itu hanya diam saja mendengarkan obrolan dua manusia yang m
"Kamu jangan sok mahal gitu dong, Cia. Nanti malam pergi sama aku bisa?" tanya Aksa, laki-laki yang getol sekali mendekati Cia, karena gadis itu anak orang terpandang. "Terimakasih banyak atas tawarannya ya, Buaya Buntung. Alicia malam ini mau pergi sama Papanya." Terang saja Aksa yang kaget dengan kedatangan Aldo, langsung mengalihkan pandangannya dari Cia. Wajahnya kelihatan muak. "Hai," sapa Aldo. Senyum tengil khas putra bungsu keluarga Franco itu muncul lagi. "Lo lagi!" sentak Aksa. "Ya emang gue lagi. Lo berharap siapa yang dateng? Malaikat? Hiii! Serem! Takutnya Lo digeret ke neraka, karena tampang Lo kayak setan. Minggat dari meja ini!" "Gue masih sabar sama Lo, ya!" sentak Aksa, sampai bangkit dari kursinya dan menatap tajam ke arah adik Elang Franco itu, tapi respon Aldo justru sangat santai. Mata pemuda itu memutar, pertanda dia menganggap remeh lawan di depannya. "Kak Aldo. Jangan," ucap Cia. "Jangan apa? Maksudnya jangan nonjok dia, Cia? Begini?"
*** "Omaa!" seru seorang bocah yang baru saja keluar dari sekolah, diantar wali kelasnya. Adelia Franco, memang tak pernah gagal membuat sekitarnya ikut tertawa melihat tingkah gemas bocah satu itu. "Halo, Bu Anita. Adel hari ini pintar sekali membuat gambarnya. Katanya mau diberikan ke Kakak Lia," ucap Miss Dian, wali kelas Adel di taman kanak-kanak. "Ahaha. Oh ya, Adel? Mau dikasih kek Kakak Lia?" sahut Anita, wanita dengan tas mahalnya itu langsung mendapat pelukan dari sang cucu. "Adel malu," kekehnya. "Makasi ya, Miss Dian. Sampai jumpa besok," ucap Anita mewakili cucunya. "Salim dulu sama Miss, Sayang." "Dadah, Miss," ucap Adel. "Dah, Adel!" Sepasang nenek dan cucu itu lalu berjalan bersama sambil melempar senyum satu sama lain, Adelia rupanya sudah tak sabar ingin pulang dan menunjukkan gambar miliknya ke Papi Elang dan Kakak Lia nya. "Oma, ayo kita ketemu Papi Elang, Oma. Papi Elang sudah di rumah sama Kakak?" tanya Adel, sambil la
Sejak Rudi dan putrinya pergi meninggalkan kediaman Franco, gadis manis yang duduk di sebelah sang ayah yang sedang menyetir itu beberapa kali ketahuan tersenyum sendiri. Rudi jelas menebak sesuatu. Apakah mungkin ini karena tadi pagi Elang memberinya bunga? "Kenapa, Lia? Mukanya cerah sekali," tanya Rudi Hartono, ayah gadis berusia dua puluh satu tahun itu. "Mosok to, Pak?" sahut Lia malu-malu. "Rumah sakitnya masih jauh to, Pak?" "Sebentar lagi sampai. Lia nanti kalau mau beli apa-apa bilang sama Papa ya. Kita sekalian mampir," ucap Rudi. Lia hanya mengangguk, tapi mana mungkin dia meminta sesuatu pada orang selain Uti nya. Hasil tes DNA pasti tidak akan keluar secepat itu, makanya Lia tak mau merepotkan Rudi sampai semuanya terbukti, bahwa dia adalah putri kandung Rudi Hartono. Di saat bersamaan, ponsel gadis itu berbunyi. Lia cepat-cepat merogoh tas kecil yang ia selempang kan di leher. Rupanya satu panggilan masuk dari sang nenek. Wajahnya kembali berubah sumr
Beni melewati teman-temannya saat jam istirahat tiba, desas-desus kabar kedengaran di telinga Ariel soal hubungan rumah tangga ibu dan ayahnya sejak kejadian terbongkarnya perselingkuhan sang ayah. "Katanya nyokap gue, Bokapnya Beni selingkuh sama cewek lain. Itu dibongkar sama temen arisan nyokap gue. Seru banget katanya, nyokap nya Beni sampe pingsan," cerita seorang teman sekelas keduanya, Asila. "Beneran Lo, Sil? Kasian amat si Beni. Padahal Bokap nyokap nya kalau nganterin dia ke sekolah romantis banget," sahut yang lain lagi. Ariel mendengar semuanya, tapi dia tak berani tiba-tiba bertanya pada Beni apakah diam nya dia hari ini karena masalah perselingkuhan sang ayah. Remaja empat belas tahun itu memutuskan pergi dan membeli beberapa cemilan di kantin, alih-alih ikut makan menu spesial hari ini bersama teman-teman nya yang lain. Matanya melayang ke seluruh bagian sekolah, mencari di mana Beni di setiap gerombolan murid, atau bangku-bangku taman. Tapi tak kunjun







