Beranda / Romansa / Luka Asmara Adelia / Selingkuhan Suami Orang

Share

Selingkuhan Suami Orang

Penulis: Sikaa24
last update Tanggal publikasi: 2026-07-05 21:46:47

Namaku Adelia, dan hari ini aku baru tau kalau aku ternyata jadi selingkuhan suami orang.

"Jauh-jauh ke Jakarta dari Jawa Tengah mau apa, Sayang?" tanya ibu penjual soto yang melihatku makan lahap. Mungkin juga dia melihat air mataku yang menetes masuk ke dalam mangkuk soto.

"Mau cari kerja di sini, Bu," sahutku. Terpaksa mulut ini berbohong karena bingung harus menjawab apa.

Lama sekali aku menunggu Mas Arga yang katanya mau datang menjemputku. Yang jelas, aku belum memberitahunya kalau aku sudah tau tentang kemunafikan laki-laki itu.

Hatiku masih sakit memikirkan Uti di rumah. Bagaimana kalau dia tau Arga itu suami orang? Pantas laki-laki itu tak mau kalau teman-teman kerjanya tau dia melamarku, takut ketahuan belangnya!

Dulu alasannya karena tak mau teman-teman kerjanya itu mengutang di warung Uti atas namanya, tapi dasar manusia licik! Ternyata dia punya bini dan anak.

Sebuah sinar lampu motor mengejutkan mataku, seperti sengaja tepat menyorot sebagai hukuman.

"Lia!" seru seseorang yang sangat aku kenal suaranya. Suara yang berbulan-bulan aku rindukan, tapi kini mendengarnya aku jadi jijik. "Heh! Lia! Kamu ngapain sih sampai ke Jakarta?! Ayo, Mas antar pulang ke stasiun!"

Tiba-tiba Mas Arga menarikku paksa. Semua mata yang ada di sana sontak menatap kami dengan keheranan. Aku melepas satu tamparan ke pipinya.

Plak!

"Astaga!" seru ibu penjual soto.

"Lia? Kamu ..."

"Jangan sentuh, Mas," ucapku pada Arga. "Kamu tinggal di mana, Mas? Sama siapa? Kok tega kamu bohong sama saya!"

Karena sudah malu jadi bahan tontonan, Mas Arga kembali menarikku, tapi aku langsung menahannya lagi.

"Kita jangan ngomong di sini! Ayo ikut!" seru Arga yang kini berani berteriak padaku.

"Jangan sentuh saya sebelum kamu jujur sudah punya anak istri!"

Suaraku tiba-tiba terdengar seperti wanita dewasa yang pemberani. Aku juga kaget bisa melakukan hal itu.

Seketika semua orang membicarakan kami. Kepalang tanggung, sudah basah ya mandi sekalian. Toh aku bukan warga Jakarta. Habis ini niatku mau pesan tiket kereta dan pulang ke rumah.

"Wah! Wah! Lu ternyata udah punya bini, masih mau gaet perawan?!" ucap ibu penjual soto itu pada Mas Arga. "Tobat, lu."

"Diem! Bukan urusan lu, Nenek-nenek!" sahut Mas Arga. "Ayo, Lia! Perempuan kurang ajar! Setan!"

"Heh! Heh! Main tarik-tarik cewek aja. Lu udah salah, malah ngatain orang nenek-nenek lagi. Minta maaf atau mau digebukin banyak orang?!" Seorang mas-mas penjaga parkir lantas menarik Mas Arga karena berani menghinaku dan ibu penjual soto. Belakangan aku baru tau kalau mas-mas itu anak si ibu penjual soto.

Melihat situasi yang kacau, aku sudah tak peduli. Untung tadi sudah bayar makanan di awal, jadi aku langsung meraih tas dan pergi begitu saja.

Buatku itu benar-benar menakutkan karena aku tidak punya siapa-siapa di Jakarta selain berharap pada Mas Arga. Sekarang yang tersisa hanyalah keinginan untuk pulang.


Tersedu-sedu aku menangis di tepi jalan. Banyak orang melintas, hanya sekali melirik, lalu kembali berjalan tanpa bertanya kenapa aku menangis. Untungnya aku sudah jauh sekali dari tempat soto itu, dan aku tak mau tau bagaimana keadaan Mas Arga di sana.

"Bilang apa sama Uti nanti kalau ditanya kenapa mau batal nikah sama Mas Arga? Laki-laki nggak tau diri! Muka kayak ketek tapi sok mau punya istri dua!" gerutuku sendirian.

Tepat setelah kalimat itu selesai aku ucapkan, tiba-tiba saja sebuah mobil melintas, dan sebuah boneka jatuh tepat di depanku. Boneka beruang kecil yang ada bentuk hati di depannya.

Spontan aku mau menyelamatkannya sambil berteriak memanggil si empunya. Tapi, ternyata orang kampung ini dengan bodohnya menyamakan jalanan di desa dengan di Jakarta. Aku silap sekali lagi.

Sebuah mobil melaju kencang dan ... menabrakku. Aku terjatuh. Suara manusia mulai berteriak-teriak di sekelilingku, sedangkan tanganku masih memegang boneka yang nyawanya bisa aku selamatkan.

"Boneka Adeel!"

Satu kalimat itu yang terakhir aku dengar sebelum semuanya jadi ... gelap.

 

Aku berusaha sadar dengan penglihatan yang samar. Ini di mana juga, aku benar-benar tak tau. Semua terasa asing.

"Uti ... Uti ..." gumamku.

"Elang! Dia sadar!"

Jelas sekali suara seorang wanita menyebut nama Elang.

"Sadar, Ma?"

Aku membuka mata perlahan, dan yang pertama kali kulihat adalah sepasang mata indah yang juga menatapku.

"Iya. Cepetan panggil dokter!" perintah wanita di sebelahku pada laki-laki tadi.

"Saya ada di mana?" tanyaku pada wanita itu. Kepalaku rasanya pusing sekali dan tubuhku benar-benar lemas.

"Apa yang dirasakan, Nak? Sakit semua ya badannya?" tanya wanita itu, sementara mulutku masih belum sanggup menjawab. "Rumahmu di mana? Saya perlu bicara sama keluargamu."

Rumah? Ah, Uti! Sejak menginjak tanah Jakarta, aku belum meneleponnya sama sekali. Pasti dia sedang duduk di depan rumah sambil menunggu kabarku.

"HP saya di mana?"

Wanita itu terdiam sejenak, lalu tak lama sebuah plastik bening berisi benda yang tak asing di mataku muncul.

"Ponsel kamu ternyata remuk. Kayaknya terlempar waktu kamu tertabrak tadi dan terlindas. Itu sebabnya saya belum bisa menelepon keluarga kamu," jelas wanita itu.

"U-uti ..." seruku, lalu menangis lagi. Di saat itulah datang dokter, pemuda tadi, dan seorang laki-laki tak terlalu tua, tapi cukup untuk dipanggil dengan sebutan Bapak. Fokusku kembali ke ponsel yang sudah remuk. Sepertinya aku belum cukup dihukum hari ini.

"Saya minta maaf. Saya akan ganti rugi semua kerusakan kamu. Nama saya Rudi Hartono."

Laki-laki yang datang bersama dokter dan pemuda bernama Elang tadi memberikan kartu namanya padaku.

"Nama kamu siapa?" tanyanya lagi.

"Nama saya ..."

Saat itu juga tiba-tiba aku teringat pada barang-barangku. Tadi aku meninggalkannya di tepi jalan. "Tasku!"

"Tas? Tas siapa? Tas punya kamu?" tanya laki-laki bernama Elang itu padaku. Tentu aku mengangguk cepat, tapi katanya mereka tak tau di mana barang itu karena yang terpenting adalah menyelamatkan nyawaku.

Saat itu juga Elang langsung menelepon seseorang, dan tak lama seorang laki-laki berpakaian sopir datang bersama seorang wanita berpakaian pengasuh, juga seorang anak kecil di gendongannya.

"Omaaa! Oma, Adel mau pulang aja, Oma," ucap bocah itu. Di tangannya dia memeluk sebuah boneka yang tak asing. Ya, itu boneka yang membuat aku jadi kehilangan ponselku.

"Pak Kadir, tolong balik ke lokasi tadi. Cari tas warna ... warna apa tas kamu?" tanya Elang padaku.

"Warna ungu, ada tulisan namanya Adelia," jelasku.

Sontak semua mata menatap ke arahku ketika kusebutkan siapa aku. Anak kecil yang digendong tadi pun sama, justru dia yang lebih dulu tersenyum.

"Aku juga Adelia," ucapnya padaku.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Luka Asmara Adelia   Sedingin Salju, Sehangat Tawa

    "Tapi Pakde ndak pernah bilang sama Lia. Kenapa?" Kaki gadis itu lemas, tubuhnya ternyata tak siap menerima fakta kalau selama ini sosok ayahnya dirahasiakan. "Pakde bukannya ndak mau kasih tau, Nduk," jawab Pakde Yanto. "Memangnya siapa bapakmu?! Bapakmu sudah mati!" seru Uti, di depan wajah Rudi yang masih berharap Uti menghentikan sandiwaranya itu. "UTI!" pekik Lia. Seumur hidupnya, tak pernah sekalipun Lia melawan sang nenek, apalagi berteriak seperti sekarang ini. Dia masih takut karma kalau melawan orang yang lebih tua. Tapi kali ini lain, Lia kehabisan sabar melihat Uti yang selalu saja menolak memberitahunya soal Rudi. "Wes, Mbak. Sudahlah. Apa Mbak Yu ndak kasihan sama Nduk? Dia bingung," ucap Pakde Yanto, mencoba menembus tembok yang selama ini dipasang Uti. "Ngerti opo koe, To?! Aku ini yang besarkan dia! Aku! Bukan orang-orang kaya yang sudah buat anakmu mati! Apa kamu berharap cucuku juga ikut mati sama ibuknya hanya karena dia?! Begitu maumu, To!" seru

  • Luka Asmara Adelia   Siapa Ayahku?

    Beberapa jam sebelumnya ... Lia tampak canggung berada di satu mobil yang sama dengan Elang dan Rudi, padahal dia sudah bilang kalau dia bisa pulang sendiri ke desanya. Lia bersikeras kesehatannya sudah pulih. "Kamu lapar?" tanya Elang tiba-tiba, tanpa sepengetahuan Lia, dia melirik berulang kali ke arah gadis itu dari kaca dalam mobil. "Ndak, Mas," sahut Lia. "Kita berhenti sebentar aja di rest area, Lang. Masih pagi begini sepertinya enak minum kopi," ucap Rudi. Dia duduk di samping Elang sambil menjaga pemuda itu menyetir. "Gak apa-apa kan Lia, kita berhenti supaya Elang bisa minum kopi dulu?" tanyanya pada Lia. "Nggih, Pak." Tanpa sengaja, mata dua sejoli itu saling bertatapan, cepat-cepat Elang menatap ke depan lagi, sementara Lia menundukkan kepalanya. "Aku padahal bisa pulang sendiri naik kereta. Kalau begini kan susah mau tidur," batin Lia. "Om sengaja mau antar kamu langsung, Lia. Mau sekalian minta maaf sama Uti-mu karena sudah buat kamu sakit. Apa Uti-mu m

  • Luka Asmara Adelia   Rahasia Adelia

    "Uti katanya kenal sama Pak Rudi, ya?" tanya Liadengan polos."Kamu ngomong apa, Lia! Uti nggak kenal! Kalianpergi!" sentak Uti. Wanita yang sudah berusia lebih dari setengah abad itumemalingkan wajahnya dari hadapan Rudi."Saya Rudi, Bu." Tiba-tiba saja Rudi maju danberusaha meraih tangan Uti, tapi wanita itu malah menghempasnya begitu saja.Senyum tetap mengembang di wajah laki-laki yang sama sekali tak mendapatrespons baik dari Uti itu."Lia, masuk rumah. Istirahat!" ucap Uti."Yanto! Aku ndak jadi jualan, tutup saja warungnya!""Iya, Mbak," sahut Pakde Yanto."Uti, tapi Mas Elang sama Pak Rudi capek loh, Ti.Kasian mereka kan dari Jakarta, perjalanan jauh. Biar minum teh anget dulu, ya,Ti?"Uti memang tak bisa menolak permintaan cucu satu-satunyaitu.Setelah menikmati habis secangkir teh dan suguhan ubi rebusbuatan Lia, Elang dan Rudi merasa tubuh mereka segar kembali. Bayangkan saja,perjalanan begitu jauh untuk sampai ke desanya Lia. Apalagi Rudi memutuskanmereka berang

  • Luka Asmara Adelia   Dia Anakku

    Rudi termenung dengan beribu pertanyaan di perjalananpulangnya dari rumah sakit. Ia pernah melihat kalung itu, kalung yangdikenakan Lia di lehernya. Persis seperti,"Kalung Ayu," gumam laki-laki itu. "Apa dia ?Ah, mana mungkin. Mereka pindah ke luar pulau, kata orang-orang di sana dulu.Tapi, dia memang mirip Ayu waktu muda."Sudah dua puluh satu tahun berlalu, tapi rasa itu tak pernahhilang meski mata Rudi tak pernah lagi melihat wanita bernama Ayu itu.Berkali-kali Rudi mencoba kembali ke desa, berkali-kali juga kegagalan yangmenemuinya."Siapa Lia ini?" gumam Rudi.Ia tak mau berlarut-larut begini. Rasa penasarannya tak bisadicegah. Rudi lantas menepikan mobilnya, meraih ponsel yang sejak tadi ada disaku celana.Rudi kembali menghubungi Elang untuk membuktikan siapa Liasebetulnya. Tapi, kebetulan itu terlalu aneh karena kalung yang dipakai Liahanya ada satu, khusus dibuatkan Rudi untuk Ayu.["Halo, Elang? Om bisa minta tolong kirimkan alamatgadis yang tadi? Segera, ya."]

  • Luka Asmara Adelia   Penyesalan

    "Sudah malambegini, apa Nduk nggak mengabari juga, Mbak?" tanya laki-laki tua yangtadi pagi mengantar Lia ke jalan besar untuk mendapat bus ke stasiun.Suasana desa yang sepi, ditambah hujan yang mengguyur sejaksore, membuat Uti memikirkan cucunya semata wayang itu yang kini ada di tanahorang.Bukan apa-apa, Lia jarang pergi jauh. Sekalinya jauh, yapasti cuma ke pasar dan sekolah. Meskipun bilangnya mau bertemu dengan calonsuaminya, tetap saja hati seorang nenek yang sudah seperti ibu bagi Lia itu taktenang."Aku ndak tenang, To," ucap Uti pada Pakde Yanto.Sambil menghembuskan asap rokok yang keluar dari cerutunya,Pakde Yanto tersenyum. Ia ingat sekali kejadian ini sama persis dengan saatAyu, anaknya Uti, pergi dari rumah.Bilangnya mau merantau ke kota mencari pekerjaan supaya bisamembawa ibunya keluar dari kemiskinan, tapi pulang-pulang justru membawaseorang bayi kecil di gendongannya.Harapan Uti sirna seketika itu juga. Dia membesarkan Liaseorang diri sepeninggal Ayu,

  • Luka Asmara Adelia   Selingkuhan Suami Orang

    Namaku Adelia, dan hari ini aku baru tau kalau aku ternyatajadi selingkuhan suami orang."Jauh-jauh ke Jakarta dari Jawa Tengah mau apa,Sayang?" tanya ibu penjual soto yang melihatku makan lahap. Mungkin jugadia melihat air mataku yang menetes masuk ke dalam mangkuk soto."Mau cari kerja di sini, Bu," sahutku. Terpaksamulut ini berbohong karena bingung harus menjawab apa.Lama sekali aku menunggu Mas Arga yang katanya mau datangmenjemputku. Yang jelas, aku belum memberitahunya kalau aku sudah tau tentangkemunafikan laki-laki itu.Hatiku masih sakit memikirkan Uti di rumah. Bagaimana kalaudia tau Arga itu suami orang? Pantas laki-laki itu tak mau kalau teman-temankerjanya tau dia melamarku, takut ketahuan belangnya!Dulu alasannya karena tak mau teman-teman kerjanya itumengutang di warung Uti atas namanya, tapi dasar manusia licik! Ternyata diapunya bini dan anak.Sebuah sinar lampu motor mengejutkan mataku, seperti sengajatepat menyorot sebagai hukuman."Lia!" seru seseoran

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status