Se connecter"Menurut lo Adriel nyembunyiin sesuatu gak dari gue? Dia punya rahasia?"Rocky menoleh. Untuk beberapa detik dia hanya memandang adiknya tanpa menjawab. "Semua orang punya rahasia."Vio mengerucutkan bibir. "Jawaban lo gak membantu.""Gue emang gak niat membantu.""Bang!"Rocky menghela napas. Ia duduk di ujung ranjang. "Vi, gue mau nanya satu hal.""Apa?""Lo percaya Adriel sayang sama lo?"Vio terdiam sesaat. "Percaya.""Yakin?"Vio mengangguk pelan."Terus kenapa lo mikir yang aneh-aneh?""Karena tingkah dia aneh."Rocky tertawa pendek. "Ya, itu gue setuju. Tapi kalo lo nanya apa dia nyimpen sesuatu dari lo, jawabannya mungkin iya."Vio langsung menegakkan badan.Rocky tersenyum tipis. "Gue tahu Adriel lagi gak baik-baik aja. Itu doang yang bisa gue bilang."Vio mengernyit. "Maksudnya?"Rocky berdiri. "Maksudnya, selama beberapa bulan terakhir hidup Adriel gak semudah yang lo kira." "Lo tahu sesuatu?"Rocky tersenyum tipis. "Gue tahu banyak hal. Tapi itu bukan
Vio menyalakan ponsel. "Masih hidup hapenya."Rocky melongokan kepalanya. "Oh iya, datanya pasti masih ada yang lo butuhin tuh."Vio membuka ponsel. Fitur pertama yang ia buka adalah aplikasi chat."Dok Vio, kita visit dulu. Saya tunggu di bangsal." Adriel berjalan cepat kearah loker untuk mengganti baju."Oh iya." Vio memasukkan ponsel ke dalam kotak lagi, "Sus, ini nitip dulu, ya.""Oh iya, dok."Pagi itu sejak visit, Adriel tidak seperti biasanya. Ia lebih banyak diam. Jika ada residen atau anak koas yang membuat kesalahan pun ia tidak sadar. "Dok Adriel?" Panggil Vio saat visit selesai.Adriel membalikkan badan. "Kenapa?"Vio menatap Adriel lama. "Kamu kenapa?""Gak papa. Kita gak punya banyak waktu. Pasien pasti udah nunggu.""Dari kemaren aku tugas di Fertilitas, kamu lupa ya?"Adriel menunduk. "Iya, aku gak inget."Vio menyentuh dahi Adriel. "Kamu sakit?"Adriel menggeleng. "Atau...bpermainan tadi pagi gak bikin kamu seneng?"Adriel tersenyum. "Seneng. Cuma ke
Mobil sudah sampai depan rumah eyang, tapi Adriel dan Vio tak kunjung keluar dari mobil."Sayang?" Vio menoleh. "Hm?""Jadi 'kan besok kita pulang ke rumah kita?"Vio mengangguk. Tangannya melingkar di lengan Adriel. "Besok aku juga ada kejutan."Vio mendongak antusias. "Apa?""Kita liat besok. Pulang dari rumah sakit aku langsung bawa kamu ke kesana."Vio mengangguk.Mereka turun dari mobil dan berjalan sambil bercanda. Adriel menggelitiki Vio."Udah-udah, geli tahu." Vio berlari menghindar sampai tidak sengaja menabrak eyang yang baru keluar dari kamar."Aduh eyang ditabrak bidadari." Eyang pura-pura kesakitan.Vio memeluk eyang. "Eyang gak papa? Maaf, yang, Adriel gelitikin aku soalnya."Eyang melirik Adriel, dan meyakini sesuatu sudah terjadi diantara mereka. "Eyang gak papa. Eyang 'kan kuat kayak abangmu."Vio pura-pura marah. "Kok kayak dia sih. Aku juga kuat."Eyang tertawa. Adriel berdehem. "Yang, sekalian mau pamit. Besok kita... Mau pulang ke rumah."Eyan
Rocky melirik wajah Adriel yang memerah. Tangannya dengan pelan menyentuh dada. "Tuhan, akhirnya kau mengabulkan doa hamba. Dua sejoli ini akhirnya kembali."Adriel mengangguk. "Boleh."Vio melendot manja dilengan Adriel. "Oke, sayang."Rocky melangkah lebih dulu dengan gaya paskibraka, tapi tangannya tetap nempel di dada. "Ponakan kedua om, im coming."Vio dan Adriel tertawa. Mereka menyusul Rocky.Di meja kantin yang hampir penuh, Vio akhirnya mendapatkan meja di tengah. Adriel mendesah pelan."Kayaknya kita makan di ruangan aja."Rocky dan Vio menoleh bersamaan. "Disini." Kata mereka kompak.Adriel menyerah. Satu lawan dua, tentu dia akan kalah.Mereka makan. Adriel makan cepat seperti dikejar sesuatu, sedangkan Rocky dan Vio sibuk melirik Adriel."Tenang dong. Lo ada hutang sama pinjol mana?" Ledek Rocky.Vio tertawa. "Pelan-pelan, sayang. Kalo keselek nanti kita gak bisa dinas malam."Rocky menutup mulutnya. "Kalian udah go publik.""Daripada keceplosan." Kata Vio ri
Ruang fertilitas masih sepi. Rocky berdiri di sisi meja sambil membaca berkas pasien dari tablet yang dipegang perawat. Wajahnya serius sampai pintu terbuka. Adriel masuk. Di belakangnya ada Vio. Dan yang bikin Rocky berhenti membaca adalah, Adriel mengantarkan Vio sampai ke dalam. Sampai Vio berdiri tepat di samping mejanya."Aku tinggal dulu?" Vio mengangguk tersenyum. Wajahnya sedikit memerah.Tidak ada yang aneh. Tidak ada sentuhan. Tidak ada kata sayang. Tapi Rocky langsung mengernyit. Dia menutup berkas. Mengendus pelan seperti anjing pelacak."Gue mencium bau sesuatu."Adriel pura-pura santai. “Pagi.”Vio langsung fokus ke papan tulis seolah hidupnya bergantung di sana.Rocky menatap mereka bergantian. “Ada yang maju tapi buka barisan."Adriel langsung berdiri tegak. “Gue harus siap-siap praktek.”Belum sempat Rocky menjawab, Adriel sudah jalan cepat keluar ruangan.Rocky menatap pintu yang tertutup, lalu berpindah melirik Vio yang berdiri menghadap papan tulis. Papa
Pagi itu kantin rumah sakit cukup ramai. Aroma kopi dan roti bercampur jadi satu. Vio duduk di sudut meja sambil menggigit roti isi yang bahkan tidak benar-benar ia nikmati. Sejak kejadian beberapa malam lalu, kepalanya terasa penuh. Bukan karena Adriel. Justru karena dirinya sendiri."Kasian Adriel. Dia pasti kecewa banget malam itu." Gumam Vio.Dia merasa sudah melakukan sesuatu yang tidak seharusnya. Meskipun pada akhirnya tidak terjadi apa-apa, dan dia malah membantu suaminya melewati malam-malam yang tidak nyaman itu, tetap saja perasaannya aneh."Kenapa mukanya kayak orang habis ketahuan nyontek?" suara Rocky tiba-tiba muncul.Sebelum Vio sempat menghindar, roti di tangannya sudah direbut."Eh!"Rocky mengangkat roti itu tinggi-tinggi."Balikin!" Vio berusaha meraih rotinya."Nggak.""Abang!""Kasih tahu dulu apa yang terjadi sama lo!"Vio mendengus kesal. Ia berhenti berjinjit untuk mengambil rotinya.Rocky malah semakin curiga. Dia menunjuk wajah Vio. "Sumpah deh,
Hari minggu, semua berkumpul sarapan dengan santai.Vio tak banyak bicara sejak keluar dari kamar. Perutnya agak mual."Tambah lagi?" Adriel menawari.Vio menggeleng. Ia malah menjauhkan piring yang masih terisi penuh. "Aku mual."Adriel minum sebelum bicara. "Berarti hari ini gak jadi ke r
Sabtu pagi, hari yang seharusnya tenang, sunyi, dan bebas dari stres—bagi Vio demi menunjang kehamilan yang sehat. Tapi kenyataannya? Vio duduk di sofa sambil menatap tak percaya ke arah dapur. Di sana, dua makhluk sedang ribut soal telur dadar.“Lo kebanyakan garem!” Adriel melirik tajam sepe
Pintu ruangan dibuka. "Ibu Viola, silakan." Adriel buru-buru bangun dari posisi jongkoknya. Ia berterima kasih dalam hati pada semesta yang kali ini berada di pihaknya. "Ayo." Vio melangkah paling cepat dan masuk ruang USG lebih dulu. Meski begitu ia masih penasaran dengan maksud ucapan Roc
“Kan-kandungan apa?”Tidak ada yang menjawab.Qairo baru sadar ucapannya salah. Wajahnya berubah pucat.Rocky mengusap wajahnya, Eyang berhenti menyiram Bonsai, dan Adriel tidak bergerak. Tangannya masih menggenggam gagang koper sampai jari-jarinya memutih karena terlalu kuat menekan.“Qai







