LOGINArum melirik kearah Alfan yang sedang menunggu jawaban darinya. "Aku tidak mungkin menikah dengan anda! Dan itu bukan cara balas dendam." Jelas Arum
"Bukan, lalu apakah harus seperti ini?" Alfan tiba-tiba saja menindih Arum dan menahan tangan Arum. "Apa yang kau lakukan, hah?" Teriak Arum yang ingin memberontak namun sayangnya, tenaganya tidak ada apa-apanya bagi alfan. "Dia bisa melakukan itu dengan sepupu tapi kenapa tidak denganmu.. bukankah jika kau melakukan yang sama dengan apa yang dia lakukan, pasti pria itu merasa sakit hati." Ujar Alfan yang membuat arum kembali diam Suara dalam langkah kaki semakin mendekat ke arah kamar itu dan Alfan menyadari. Alfan pun tiba-tiba saja mencium dan melumat bibir Arum. arum membulatkan matanya dengan sempurna ketika mendapat serangan menjaga. "Apa yang kalian lakukan?" Teriakan dari Aris yang kini sudah berdiri di ambang pintu membuat Alfan melepaskan ciumannya namun dia masih di posisi yang sekarang yaitu di atas tubuh Arum. "Tidak sopan sekali mengganggu orang sedang bercinta." Jelas Alfan yang tiba-tiba saja mengusap lembut bibir Arum. Aris yang sudah tidak bisa menahan emosinya lagi berjalan menghampiri Alfan lalu dia mendorong tubuh Alfan hingga Alfan ambruk di samping arum. Aris menarik tangan Arum dengan kasar. "Sakit! Lepaskan tanganku!" Arum menghempas kasar tangan Aris. "Apa yang kau lakukan bersamanya hah?" Tanya aris. "Aku tidak melakukan apapun." "Apakah menurutmu mataku buta. Aku melihatnya kau berciuman dengannya.. kau berselingkuh dariku." "Wah... Tuduhan macam apa ini? Contoh kau yang berselingkuh.. kenapa kau menuduhku. Aku melihat dengan kedua mata kepalaku sendiri jika kau dan Desi sedang berbagi keringat dan itu sangat menjijikkan. Dan untuk Apa lagi kamu mencariku.. kita sudah tidak ada hubungan lagi. Aku sudah memutuskan untuk tidak meneruskan pernikahan kita." "Tidak.. Aku tidak akan setuju! Aku ingin pernikahan ini tetap dilaksanakan." "Jangan mimpi Aris.. Aku tidak akan mau menikah dengan pria sepertimu.. lebih baik aku menikah dengan saudara dirimu. " "Apa?" Ari sangat terkejut dengan perkataan dari Arum yang mengatakan jika dia ingin menikah dengan saudara tirinya. Namun tidak dengan Alfan yang merasa senang dengan keputusan yang diucapkan oleh Arum Alfan mendekat ke arah Arum lalu tiba-tiba saja dia merangkul pinggang ramping Arum. "Apakah perkataan dari calon istriku tidak bisa kau dengar? Hm? Aku dan Arum akan menikah satu minggu lagi.. dan lebih baik kau menjauh darinya karena kau sudah tidak ada hubungan lagi dengannya." Jelas Alfan yang semakin memanas-mana sih perasaan Aris saat ini. Aris menarik tangan Arum untuk menjauh dari Alfan. "Tidak Arum.. kamu pasti bercanda kan? Kamu tidak mungkin menikahnya dengannya kan?" "Lepaskan tanganmu.. aku tidak Sudi disentuh oleh pria semacam kamu. Kau menjijikan!" Ucap Arum "Maafkan aku Arum... Aku minta maaf tapi mohon jangan batalkan pernikahan kita dan jangan menikah dengannya. Kamu tahu siapa dia kan.. dia maaf yang kejam.. jadi jangan menikah dengannya." "Jangan mengatur hidupku.. karena kau bukan siapa-siapa lagi di hidupku. Seharusnya aku sadar ketika Tina bilang kalau kamu diam-diam menjalin hubungan dengan Desi tapi sayangnya Aku tidak percaya dan menuduh Tina hanya ingin menjelek-jelekkan Desi tapi nyatanya kepercayaanku dihancurkan oleh pengharapan kalian. Aku benar-benar menyesal telah menjalin hubungan dengan pria sepertimu.." "Tidak sayang.. maafkan aku. Ini semua karena Desi.. dia yang telah menggodaku." "Jadi sekarang kamu menyalahkan Desi? Bukankah kalian sama-sama salah?" "Aku mohon sayang.. jangan batalkan pernikahan kita." "Mau beribu kali kamu memohon atau berlutut di hadapanku, aku tetap akan membatalkan pernikahan kita." "Bukan membatalkan.. hanya saja pengantin prianya tergantikan olehku." Sela Alfan tersenyum penuh kemenangan melihat Aris yang terlihat cantik karena wanita yang dia cintai akan menikah dengan saudara tiri yang sangat Dia benci selama ini. Bugh! Tiba-tiba saja Aris melayangkan pukulan ke wajah Alfan hingga sudut bibirnya terluka. "Apa yang kau lakukan..." Teriak Aris yang terlihat kasar karena selama ini Aris tidak pernah kasar di depan Arum. "Sepertinya kau sedang memperlihatkan jati dirimu sebenarnya." Ujar Alfan "Diam brengsek! Apa yang kau rencanakan sebenarnya.. pasti kau yang membuat arum ingin menikah denganmu" "Benarkah seperti itu? Tapi apa alasanku ya?" Ujar alfan yang semakin memanas-manasi keadaan. "Diam! Dasar pria brengsek!" Aris ingin kembali memeluk Alfan namun, Arum segera berdiri didepan Alfan "Jangan sentuh calon suamiku!" Ucapan Arum membuat Aris benar-benar sudah tidak ada harapan lagi untuk mendapatkan maaf dari wanita yang masih dia cintai saat ini. "Sayang..." "Jangan panggil aku sayang.. hubungan kita sudah berakhir." Ucap Arum dengan bibir yang bergetar lalu dia membalikan tubuhnya. Alfan memandangi wajah Arum yang kembali menangis. Alfan sangat tau jika Arum masih sangat mencintai Aris namun di satu sisi, Arum sangat membencinya karena pengkhianatan yang di lakukan Aris. "Jangan menikahinya.. kamu akan menyesal nantinya. Kamu tidak tahu siapa pria itu.." "Jangan mengatur hidupku lagi.. terserah aku ingin menikah dengan siapa. Kita sudah tidak ada hubungan lagi.." "Sayang.." "Jangan panggil aku dengan kata itu.. Aku jijik mendengarnya. Sekarang pergilah.." "Aku tidak akan pergi sebelum kamu membatalkan niat kamu untuk menikahi Alfan.. pria itu sangat berbahaya." "Benarkah seperti itu? Lalu bagaimana dengan kamu?" Arum kembali membalikkan tubuhnya dan menatap ke arah aris. "Kurang apa aku selama ini mas.. aku begitu percaya sama kamu sampai aku dibodohi oleh kepercayaan itu sendiri. Hatiku benar-benar sakit dan remuk.. aku melihat dengan kedua mataku sendiri jika pria yang akan aku nikahi seminggu lagi berbagi keringat dengan sepupuku sendiri. Apa kurang aku mah? Apakah karena aku tidak mengizinkan kamu untuk menyentuhku sebelum kita menikah?" Ujar Arum lagi yang membuat Afan sangat terkejut karena Aris belum pernah menyentuh Arum "Sayang... Maafkan Aku. Aku mohon maafkan Aku.. Aku tidak tahu bagaimana cara lagi agar mendapatkan Maaf darimu. Aku benar-benar khilaf.. tergoda oleh Desi." "Jika begitu lanjutkan saja permainan kalian dan jangan pedulikan aku... Aku sudah tidak ada hubungannya lagi dengan kamu. Aku akan membicarakan ini dengan paman.. sekarang pergilah." "Aku tidak akan pergi..." "Apakah aku perlu memanggil Jaka untuk mengusirmu dari sini." Ucap Alfan "Jangan ikut campur.. ini urusanku dan Arum." "Tapi ini akan menjadi urusanku karena Arum adalah calon istriku." Aris mengepalkan kedua tangannya karena dia benar-benar kesal dengan perkataan Alfan. "Jaka.. seret dia keluar dari sini." Perintah Alfan saat melihat Jaka yang kini sudah berdiri di ambang pintu. "Jangan sentuh aku.. aku bisa keluar sendiri." Aris menepis tangan Jaka yang ingin menyentuhnya lalu dia pun pergi meninggalkan kamar itu. Setelah kepergian Jaka, tubuh Arum ambruk di lantai sembari menangis dan memukul-mukul dadanya yang masih terasa sesak karena kenyataan yang harus dia terima hari ini. Alfan hanya memandang arumi yang menangis. Malam harinya.... Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, namun Arum masih berada di kamar Alfan. Dia hanya diam di atas ranjang dengan tatapan kosong dan Alfan membiarkannya. Makanan yang di atas nakas yang telah disediakan oleh Alfan tidak disentuh oleh wanita itu karena dia tidak memiliki selera untuk makan. Arum melihat Alfan yang baru saja keluar dari kamar mandi. "Aku ingin pulang..." Ucap Arum "Kamu yakin?" "Hm.. pasti paman mengkhawatirkan aku." "Tapi kamu pasti akan bertemu dengan wanita itu." "Aku tahu itu.. Aku juga ingin bertemu dengannya." "Baiklah kalau begitu.. aku akan mengantarkanmu." Alfan segera memakai jaket hitam ya karena dia yang akan mengantarkan Arum pulang ke kediamannya. Di dalam perjalanan menuju kediaman Arum, mereka sama sekali tidak berbicara. Arum hanya membuang pandangannya keluar jendela yang dia buka. "Apakah kau tidak dingin?" Ujar Alfan yang akhirnya memecah keheningan itu namun Arum tidak menjawab pertanyaan dari Alfan. Dia hanya mau tutup jendela itu. Tidak lama kemudian mobil mewah yang dikendarai akan memasuki perkarangan luas kediaman Arum. Di depan pintu masuk sudah berdiri sepasang suami istri paruh baya yang menunggu kepulangannya. arum segera keluar dari mobil dan disusul dengan Alfan yang berjalan ke arahnya namun kehadiran Alfan membuat pak Salim yang merupakan paman Arum terkejut. "arum Kamu dari mana saja dan kenapa kamu bisa pulang bersama Tuan Al." Tanya pak Salim yang melihat wajah pucat keponakannya itu. "Apakah Desi ada di rumah?" Tanya Arum "Desi tidak ada di rumah rum, Tante pikir dia sama kamu." Seru Bu Anita yang merupakan istri dari pak Salim. "Ck, ternyata dia tidak pulang juga." Gumam pelan Arum. Pak salim dan Bu Anita melihat Alfan yang sudah berdiri di dekat mereka. Mereka sangat tahu jika Alfan adalah saudara tiri dari Aris. "Tuan, kenapa Anda bisa mengantarkan Arum pulang?" Tanya pak Salim yang sebenarnya takut kepada Alfan karena Alfan terkenal sebagai mafia yang kejam. "Itu sudah tanggung jawab ku untuk mengantar arum." "Maksud Tuan?" Alfan menoleh ke arah Arum yang hanya diam. "Mulai saat ini, Aku adalah calon suami Aru dan akan menikahi Arum seminggu lagi." Pengakuan dari Alfan sungguh membuat pak Salim sangat terkejut begitu juga dengan Bu Anita. "Apa? Calon suami? Tuan jangan bercanda.. Arum akan menikah dengan Aris seminggu lagi." "Memang benar Arum akan menikah satu minggu lagi tapi calon prianya adalah aku bukan Aris." "Tuan.. ada apa ini. Kenapa tiba-tiba saja Tuan berbicara seperti ini." "Jika anda tidak percaya.. tanyakan saja kepada keponakan anda." Karena perkataan dari Alfan membuat pak Salim menatap ke arah arumnya sejak tadi hanya diam dan menundukkan pandangannya. "Arum, ada apa sebenarnya? Kenapa tiba-tiba saja Tuan Al berkata seperti ini. Apakah terjadi sesuatu yang tidak paman tau?" Tanya pak Salim. Arum mengambil nafas panjangnya dan menghembuskannya secara perlahan. Wanita itu sedang mengontrol emosinya saat ini agar kuat untuk menjalankan kenyataan yang sebenarnya. "Paman... Alfan benar.. jika aku akan menikah dengannya seminggu lagi bukan dengan Aris." Jelas Arum "Apa maksud kamu, rum. Jangan bercanda dalam situasi seperti ini." Ungkap Bu Anita "Aku tidak bercanda tante.. yang aku katakan benar jika aku akan menikah dengan Alfan 1 minggu lagi." "Kenapa kamu berbicara seperti itu.. sebenarnya apa yang terjadi. Kamu bertengkar dengan Aris?" Tanya pak Salim "Bukan bertengkar Paman tapi..." Arum menghentikan perkataannya karena sebenarnya dia tidak sanggup untuk menceritakan kebenarannya. Dia takut jika pamannya terkejut saat mengetahui jika Aris berselingkuh dengan putrinya sendiri. "Aris berselingkuh dengan Desi." Ujar Alfan yang membuat dua pasang mata tertuju ke arahnya. "Maksud Tuan apa? aris dan putriku berselingkuh? Tuan jangan menyebar fitnah seperti itu..." Bu Anita sungguh tidak percaya dengan perkataan alfan "Aku tidak sedang menyebar fitnah.. keponakan anda sendiri melihat dengan kedua mata kepalanya sendiri jika Aris sedang berbagi keringat dengan Desi." Jelas Alfan lagi yang membuat pak Salim hampir saja ambruk namun dengan cepat Arum menahan tubuh pak Salim "Paman.." Pak Salim memegang dadanya yang tiba-tiba saja berdebar begitu kuat saat mendengar penjelasan dari Alfan. "Tidak mungkin.. tidak mungkin Desi dan Aris berbuat seperti itu." Lirih pak Salim. "Tanyakan sendiri kepada Arum, bukan saja Arum yang melihatnya tapi juga aku." Jelas Alfan lagi. Pak Salim menatap ke arah Arum yang kini sudah banjir dengan air mata. "Arum.. katakan sejujurnya apakah yang dikatakan oleh Tuan Alfan itu benar?" Tanya pak Salim yang menatap lekat Arum yang sudah terisak dalam tangisnya.Setelah berada di butik yang di kelola langsung oleh Arum, mereka pun langsung melakukan fitting baju. Hanya ada beberapa revisi di setelan jas yang akan di gunakan Alfan nantinya.Setelah semuanya selesai, Arum dan Alfan memutuskan untuk makan siang."Kenapa makan disini?" Tanya Alfan saat mobil yang dikendarainya berhenti didepan sebuah rumah makan yang sederhana dan tidak terlihat mewah"Sudah.. ikut saja. Makanan disini, enak-enak." Ujar Arum yang segera menarik kasar lengan jaket AlfaSetelah masuk dan memilih untuk duduk di sebuah gazebo yang dibawahnya ada kolam ikan, mereka pun memesan beberapa menu makanan best seller yang ada di rumah makan itu."Panas sekali " Alfan membuka jaket yang dia pakai"Kenapa mengajak ku makan disini? Seperti tidak ada restoran mewah lainnya saja." Ucap Alfan"Bukan tidak enakkan berarti enak kan, jika bukan makan di restoran mewah. Lagi pula tempat ini sangat bagus dan nyaman. Sudahlah.. aku ingin makan. Jika kamu tidak suka.. kamu bisa pergi, ak
"haha haha haha."Alfan tiba-tiba saja tertawa yang membuat pak Heru mengerutkan dahinya."Papa papa... Anak papa itu bukan Aris saja.. tapi aku juga. Tapi papa kenapa selalu tidak pernah mendengarkan perkataan ku dulu.. apakah aku terlalu jahat di mata papa?" Tanya Alfan"Al, papa tidak sedang bercanda. Papa hanya ingin tau kenapa kamu merebut Arum. Mereka akan menikah seminggu lagi.. tapi kenapa kamu merebutnya?""Itu karena anak anda yang brengsek!"Ucapan seseorang membuat mereka bertiga mengalihkan atensinya kesumber suara."A-arum..." Lirih ArisArum melangkah tanpa ragu dan saat ini dia berdiri disebelah Alfan."Arum.. tarik kata-kata mu. Kenapa kau mencela calon suami mu sendiri?" Tuan Heru tentu saja tidak menyukai hinaan dari Arum."Om.. aku tidak akan menarik kata-kata ku karena anak anda yang bernama Aris ini lebih dari kata brengsek.""Arum! Berani sekali kamu" Teriak tuan Heru"Aku berkata seperti ini bukan hanya sebuah kata-kata Om melainkan sebuah bukti. Bukankah Om bi
"Arum... Katakan. Jangan menangis seperti ini." Pak Salim menggoncang tubuh Arum"Paman.. hiks hiks hiks, yang dikatakan tuan Alfan benar.." jawabnyaPak Salim dan Bu Anita benar-benar sangat syok mendengar perkataan Arum dan mereka seperti tidak percaya jika putri mereka bisa melakukan itu semua."Arum.. kamu yakin? Kamu tidak sedang berbohong atau tidak sedang bercanda kan?" Tanya Bu Anita lagi.Arum menggelengkan kepalanya dengan air mata yang masih membasahi wajah cantiknya. "Aku tidak berbohong tante.. Aku berbicara dengan jujur dan aku melihatnya dengan kedua mata kepalaku sendiri." Jelas Arum"Desi.. kenapa kamu melakukan ini semua." Lirih pak salim.Suara mobil yang memasuki perkarangan rumah itu membuat mereka semua menoleh ke arah mobil mewah yang sangat mereka kenali. Mobil itu adalah milik Aris, namun bukan Aris saja yang keluar dari mobil itu melainkan Desi. Desi sudah berlari menghampiri orang tuanya begitu juga dengan Aris yang berjalan menghampiri Arum."Papa, mama.. a
Arum melirik kearah Alfan yang sedang menunggu jawaban darinya. "Aku tidak mungkin menikah dengan anda! Dan itu bukan cara balas dendam." Jelas Arum"Bukan, lalu apakah harus seperti ini?"Alfan tiba-tiba saja menindih Arum dan menahan tangan Arum."Apa yang kau lakukan, hah?" Teriak Arum yang ingin memberontak namun sayangnya, tenaganya tidak ada apa-apanya bagi alfan."Dia bisa melakukan itu dengan sepupu tapi kenapa tidak denganmu.. bukankah jika kau melakukan yang sama dengan apa yang dia lakukan, pasti pria itu merasa sakit hati." Ujar Alfan yang membuat arum kembali diamSuara dalam langkah kaki semakin mendekat ke arah kamar itu dan Alfan menyadari. Alfan pun tiba-tiba saja mencium dan melumat bibir Arum. arum membulatkan matanya dengan sempurna ketika mendapat serangan menjaga."Apa yang kalian lakukan?" Teriakan dari Aris yang kini sudah berdiri di ambang pintu membuat Alfan melepaskan ciumannya namun dia masih di posisi yang sekarang yaitu di atas tubuh Arum."Tidak sopan se
"Ah.. ah.. ah.. lebih kuat mas.. lebih kuat" Rancau Desi saat tubuhnya di genjot oleh aris. Keduanya begitu menikmati permainan yang mungkin untuk kesekian kalinya mereka lakukan di apartemen pria yang bernama Aris itu."Ais... Sshh ahh sshhh..." Pria itu terus mendesah sambil terus menghujam wanita yang tidak memiliki status apapun didalam hidupnya.Desi meremas punggung lebar pria itu ketika aris yang menambah kecepatannya."Ahh ahh ah.. mas.. a-aku sudah tidak kuat." Lirih Desi sambil memejamkan matanya. Mereka sudah bermain satu jam namun sepertinya Aris belum ingin menyudahi Permainan panas itu karena dia sudah sangat merindukan tubuh wanita yang ada kungkungannya."M-mas.. ah, ah... " Desahan manja Desi membuat Aris semakin bergairah hingga dia terus saja menghujam tubuh Desi sehingga tempat tidur berdecit karena Permainan panas mereka.Saat keduanya larut dalam permainan mereka, sehingga mereka tidak menyadari jika sudah ada seorang wanita yang berdiri di ambang pintu menyaksik