Share

Bab 3

Author: Uun aya
last update publish date: 2026-03-12 21:43:59

"Arum... Katakan. Jangan menangis seperti ini." Pak Salim menggoncang tubuh Arum

"Paman.. hiks hiks hiks, yang dikatakan tuan Alfan benar.." jawabnya

Pak Salim dan Bu Anita benar-benar sangat syok mendengar perkataan Arum dan mereka seperti tidak percaya jika putri mereka bisa melakukan itu semua.

"Arum.. kamu yakin? Kamu tidak sedang berbohong atau tidak sedang bercanda kan?" Tanya Bu Anita lagi.

Arum menggelengkan kepalanya dengan air mata yang masih membasahi wajah cantiknya. "Aku tidak berbohong tante.. Aku berbicara dengan jujur dan aku melihatnya dengan kedua mata kepalaku sendiri." Jelas Arum

"Desi.. kenapa kamu melakukan ini semua." Lirih pak salim.

Suara mobil yang memasuki perkarangan rumah itu membuat mereka semua menoleh ke arah mobil mewah yang sangat mereka kenali. Mobil itu adalah milik Aris, namun bukan Aris saja yang keluar dari mobil itu melainkan Desi. Desi sudah berlari menghampiri orang tuanya begitu juga dengan Aris yang berjalan menghampiri Arum.

"Papa, mama.. apa yang terjadi di sini?" Tanya Desi yang berpura-pura tidak mengetahui semuanya

Pak Salim berdiri dari duduknya dia menatap tajam ke arah putrinya itu.

Plak!

Satu tamparan keras mendarat di pipi Desi saat ini sehingga wanita itu sedang memegang pipinya yang terasa sangat panas.

"Papa.. kenapa papa menampar Desi?" Bu Anita tidak terima ketika suaminya memberi tamparan yang cukup keras ke wajah anak kesayangannya itu.

"Ini baru hanya tamparan.. tidak seberapa sakit yang dirasakan Arum saat ini." Jelas pak Salim

"Papa.. papa harus mendengar penjelasanku."

"Penjelasan apalagi yang harus papa dengar Desi. Apa benar-benar kecewa dengan kamu. Bagaimana bisa kamu melakukan hubungan itu dengan calon suami saudarimu sendiri. Kamu benar-benar tega Desi..."

"Aku mencintai Mas Aris.. dan Mas Aris juga mencintaiku. Saling mencintai." Ucap Desi yang terlalu percaya diri

"Aku tidak mencintai Desi.. aku hanya mencintai Arum hingga saat ini." Sela Aris ya menatap sinis ke arah Alfan yang berdiri di sampingnya. Alfan hanya menyunggikan senyum di sudut bibirnya untuk menanggapi perkataan Aris.

Pak Salim berjalan menghampiri Aris dan kini sudah berdiri di hadapannya.

Plak!

Tidak hanya Desi, Aris juga mendapatkan tamparan yang cukup keras yang dilayangkan oleh pak salim. Aris mengusap sudut bibirnya yang berdarah karena tamparan itu.

"Brengsek! Kau adalah pria brengsek Aris! Bagaimana bisa kau melakukan itu kepada putri dan keponakanku. Kau menghancurkan keduanya! Kau melukai hati mereka..."

Aris tiba-tiba saja berlutut di hadapan pak Salim sambil memegang kaki pak Salim. "Maafkan aku Om.. aku khilaf. Aku benar-benar khilaf melakukan itu kepada Desi. Aku sangat mencintai Arum. Aku tidak ingin kehilangannya.. Aku tidak ingin pernikahan kami batal." Jelas Aris yang memohon kepada pak salim

"Tentu saja pernikahan itu tidak akan batal karena Arum akan menikah dengan Tuan Alfan, dan setelah itu.. kau harus bertanggung jawab kepada Desi. Kau harus menikahi Desi."

"Tidak Om.. aku tidak bisa menikah dengan Desi."

"Jika tidak bisa kenapa kau melakukannya kepada Desi! Kau pikir Desi hanya boneka yang seenaknya kau pakai lalu kau buang. Kau harus bertanggung jawab..."

"Tidak Om.."

Plak!

Satu tamparan kembali mendarat di pipi yang sama yang membuat darah kembali keluar dari sudut bibir Aris.

"Bertanggung jawablah Aris." Ucap pak salim dengan penuh penekanan yang membuat Aris terdiam.

"Pak Salim tenang saja.. Aku Yang akan membereskan ini semua. Dan terima kasih sudah menyetujui pernikahan aku dan Arum." Ujar Alfan

Pak Salim menatap ke arah Alfan karena sebenarnya dia tidak yakin untuk menikahkan keponakannya kepada Alfan mengingat Alfan terkenal sangat kejam dan suka membunuh orang.  Namun, tidak ada pilihan lain karena pernikahan itu akan di langsungkan seminggu lagi dan tidak mungkin akan di batalkan.

"Terima kasih tuan.. saya percayakan ini semua kepada tuan." Ujar pak Salim

Setelah itu, pak Salim kembali menatap Aris. "Saya benar-benar sangat kecewa denganmu!" Ucap pak Salim yang kemudian masuk kedalam rumahnya sambil menarik kasar Desi dan di susul dengan Bu Anita.

Arum menatap sekilas kearah Alfan, kemudian dia pun masuk untuk menyusul keluarganya.

Setelah pintu rumah itu tertutup, Alfan tertawa puas. "Ha ha ha.. aku tidak bisa membayangkan bagaimana jika papa mengetahui semua ini.. pasti dia akan marah besar dan kau tidak akan mendapatkan sepeserpun harta mamaku." Ucap Alfan yang membuat Aris mengepalkan kedua tangannya.

"Tahan emosi mu... Simpan dan keluarkan di saat aku dan Arum menikah nanti. Hahhhh " ucap Alfan lagi yang kemudian masuk kedalam mobilnya. Setelah kepergian mobil itu, Aris menatap rumah kediaman pak Salim.

"Aku tidak mungkin membiarkan Arum menikah dengan Alfan... Itu tidak akan terjadi." Gumam Aris

Sementara itu, didalam rumah masih terjadi perdebatan antar pak Salim dan Bu Anita. Pak Salim sangat marah ketika Bu Anita membela putri mereka yang jelas-jelas salah. Bu Anita memang sangat menyayangi anaknya itu sehingga dia tidak terlalu menyukai suaminya yang terlalu memperhatikan Arum. Padahal mereka bisa hidup kaya seperti itu karena warisan dari orang tua Arum

"Papa.. ini bukan salah Desi seutuhnya." Bu Anita  memeluk Desi yang menangis

"Lalu, salah siapa?" Tanya pak Salim

"Papa tidak pernah mengajarkan kamu hal serendah ini Desi! Tapi kamu... Aaarrgghhh." Pak salim benar-benar marah kepada Desi.

"Aku melakukan itu karena aku mencintai Mas Aris. Mas Aris juga mencintaiku.. itu yang dikatakannya di saat kami berdua." Ungkap Desi yang membuat arum tidak habis pikir karena bagaimana bisa dia mengatakan itu

"Desi Sadarlah... Dia hanya memanfaatkan kamu saja. Kamu tidak dengar jika dia bilang masih ingin melanjutkan pernikahan itu dengan Arum. Arum itu saudarimu... Tapi kenapa bisa kamu melakukan ini semua Desi. Papa benar-benar kecewa dengan kamu."

"Apa salah.. Mas Aris bilang dia hanya bahagia dengan aku tidak dengan Arum. Arum tidak bisa memberikan apa yang dia inginkan.."

"Oleh karena itu kau memberikan tubuhmu dengan percuma-cuma?" Ujar Arum yang menyudutkan desi.

"Dengar Desi.. aku memang tidak pernah ingin disentuh oleh Mas Aris Karena aku tahu batasannya. Aku belum menikah dengannya.. jadi aku tidak ingin disentuh oleh. Dia yang mencintaiku oleh karena itu dia menuruti perkataanku tapi kamu.. kamu memancingnya dengan tubuhmu sehingga dia melakukan hubungan itu denganmu tanpa dasar cinta. Seharusnya kamu sadar Desi.."

"Diam!! Aku tidak butuh ocehanmu Arum. Aku mencintai Mas Aris.. dan dia juga mencintaiku."

"Ambillah Mas aris mu itu... Aku sudah membuangi jadi kamu boleh memungut. Aku tidak butuh sampah sepertinya.. dan kini aku tahu, siapa kamu sebenarnya Desi. Bagaimana bisa kamu lebih memilih orang lain daripada keluargamu sendiri. Aku sadarimu.. tapi kamu tega melakukan itu dan seolah-olah akulah yang bersalah di sini. Aku sudah tidak membutuhkannya lagi.. jadi silakan ambil." Jelas Arum dengan suara yang bergetar.

"Sudah cukup baru.. cukup menyudutkan Desi. Ini bukan salah dia saja tapi salah Aris. Jika kamu sudah mengikhlaskan Aris untuk Desi.. maka ikhlaskanlah jangan menyudutkannya seperti ini." Ucap Bu Anita yang tentu saja membela putrinya.

"Tante tenang saja.. Aku tidak akan memungut sampah yang sudah kubuang."

"Paman.. Aku masuk dulu. Aku lelah.." ujar Arum lagi yang kini berbicara dengan pamannya.

Arum pun melangkah masuk untuk menuju kamarnya yang ada di lantai 2. Setelah sampai di kamarnya, dia merebahkan tubuhnya di atas ranjang sambil menatap langit-langit kamarnya. Tanpa terasa dari air matanya kembali keluar dari sudut-sudut matanya namun Arum dengan cepat mengusap air mata itu.

Bohong jika saat ini Arum tidak terluka, dia hanya mencoba untuk tegar untuk menghadapi ini semua. Hatinya benar-benar sakit karena dikecewain oleh dua orang terdekatnya.

Beberapa saat kemudian setelah kelelahan menangis akhirnya Arum pun tertidur dengan posisi wajah yang sembab.

Besok paginya...

Jam sudah menunjukkan pukul 9 pagi, namun Alfan dikejutkan dengan kedatangan Aris dan papanya di mansion miliknya. Selama ini Alfan hanya tinggal sendirian di Mansion itu sedangkan papa dan Mama tirinya tinggal di kediaman mereka yang tidak jauh dari Mansion itu. Sementara Aris selalu menghabiskan waktunya di apartemen dan sangat jarang pulang ke kediaman orang tuanya.

"Ada apa pagi-pagi begini papa menggangguku?" Tanya Alfan yang kini sudah duduk di depan tuan heru dan Aris

"Kenapa kau berulah lagi al?"

"Maksud papa?"

"Kenapa kau merebut Arum, kekasihnya Aris."

"Apa? Merebut Arum?" Alfan membulatkan matanya dengan sempurna.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • MAFIA HYPER ITU SUAMIKU    bab 6

    "Aku sedang membalas apa yang dia lakukan kepada putri kita!" Jawab Bu Anita yang tatapannya masih tertuju ke Arum yang sedang memegang pipinya yang terasa sangat panas karena tamparan yang cukup keras itu."Mama.. cukup. Mama tidak perlu seperti ini. Arum melakukan ini pasti karena ada alasan." Jelas pak Salim yang dimana dia lah satu-satunya orang yang menyayangi Arum seperti anaknya sendiri dan sering membela Arum didepan istri dan anaknya."Papa.. kenapa papa masih membelanya. Dia jelas-jelas salah karena sudah menampar Desi." Seru Bu Anita yang tidak terima jika suaminya malah membela Arum."Tante.. kenapa tante masih menyalahkan aku dalam situasi seperti ini. Aku adalah korban.. tapi Tante selalu membela desi yang jelas-jelas salah. Apakah tante tidak tahu jika saat ini Desi sedang hamil?" "Apa? Hamil?" Ucap pak Salim dan Bu Anita secara bersamaan."Ini..." Arum memberikan alat tes kehamilan itu kepada Bu Anita Bu Anita menatap alat tes kehamilan yang menunjuk tanda positif. "

  • MAFIA HYPER ITU SUAMIKU    bab 5

    Setelah berada di butik yang di kelola langsung oleh Arum, mereka pun langsung melakukan fitting baju. Hanya ada beberapa revisi di setelan jas yang akan di gunakan Alfan nantinya.Setelah semuanya selesai, Arum dan Alfan memutuskan untuk makan siang."Kenapa makan disini?" Tanya Alfan saat mobil yang dikendarainya berhenti didepan sebuah rumah makan yang sederhana dan tidak terlihat mewah"Sudah.. ikut saja. Makanan disini, enak-enak." Ujar Arum yang segera menarik kasar lengan jaket AlfaSetelah masuk dan memilih untuk duduk di sebuah gazebo yang dibawahnya ada kolam ikan, mereka pun memesan beberapa menu makanan best seller yang ada di rumah makan itu."Panas sekali " Alfan membuka jaket yang dia pakai"Kenapa mengajak ku makan disini? Seperti tidak ada restoran mewah lainnya saja." Ucap Alfan"Bukan tidak enakkan berarti enak kan, jika bukan makan di restoran mewah. Lagi pula tempat ini sangat bagus dan nyaman. Sudahlah.. aku ingin makan. Jika kamu tidak suka.. kamu bisa pergi, ak

  • MAFIA HYPER ITU SUAMIKU    bab 4

    "haha haha haha."Alfan tiba-tiba saja tertawa yang membuat pak Heru mengerutkan dahinya."Papa papa... Anak papa itu bukan Aris saja.. tapi aku juga. Tapi papa kenapa selalu tidak pernah mendengarkan perkataan ku dulu.. apakah aku terlalu jahat di mata papa?" Tanya Alfan"Al, papa tidak sedang bercanda. Papa hanya ingin tau kenapa kamu merebut Arum. Mereka akan menikah seminggu lagi.. tapi kenapa kamu merebutnya?""Itu karena anak anda yang brengsek!"Ucapan seseorang membuat mereka bertiga mengalihkan atensinya kesumber suara."A-arum..." Lirih ArisArum melangkah tanpa ragu dan saat ini dia berdiri disebelah Alfan."Arum.. tarik kata-kata mu. Kenapa kau mencela calon suami mu sendiri?" Tuan Heru tentu saja tidak menyukai hinaan dari Arum."Om.. aku tidak akan menarik kata-kata ku karena anak anda yang bernama Aris ini lebih dari kata brengsek.""Arum! Berani sekali kamu" Teriak tuan Heru"Aku berkata seperti ini bukan hanya sebuah kata-kata Om melainkan sebuah bukti. Bukankah Om bi

  • MAFIA HYPER ITU SUAMIKU    Bab 3

    "Arum... Katakan. Jangan menangis seperti ini." Pak Salim menggoncang tubuh Arum"Paman.. hiks hiks hiks, yang dikatakan tuan Alfan benar.." jawabnyaPak Salim dan Bu Anita benar-benar sangat syok mendengar perkataan Arum dan mereka seperti tidak percaya jika putri mereka bisa melakukan itu semua."Arum.. kamu yakin? Kamu tidak sedang berbohong atau tidak sedang bercanda kan?" Tanya Bu Anita lagi.Arum menggelengkan kepalanya dengan air mata yang masih membasahi wajah cantiknya. "Aku tidak berbohong tante.. Aku berbicara dengan jujur dan aku melihatnya dengan kedua mata kepalaku sendiri." Jelas Arum"Desi.. kenapa kamu melakukan ini semua." Lirih pak salim.Suara mobil yang memasuki perkarangan rumah itu membuat mereka semua menoleh ke arah mobil mewah yang sangat mereka kenali. Mobil itu adalah milik Aris, namun bukan Aris saja yang keluar dari mobil itu melainkan Desi. Desi sudah berlari menghampiri orang tuanya begitu juga dengan Aris yang berjalan menghampiri Arum."Papa, mama.. a

  • MAFIA HYPER ITU SUAMIKU    Bab 2

    Arum melirik kearah Alfan yang sedang menunggu jawaban darinya. "Aku tidak mungkin menikah dengan anda! Dan itu bukan cara balas dendam." Jelas Arum"Bukan, lalu apakah harus seperti ini?"Alfan tiba-tiba saja menindih Arum dan menahan tangan Arum."Apa yang kau lakukan, hah?" Teriak Arum yang ingin memberontak namun sayangnya, tenaganya tidak ada apa-apanya bagi alfan."Dia bisa melakukan itu dengan sepupu tapi kenapa tidak denganmu.. bukankah jika kau melakukan yang sama dengan apa yang dia lakukan, pasti pria itu merasa sakit hati." Ujar Alfan yang membuat arum kembali diamSuara dalam langkah kaki semakin mendekat ke arah kamar itu dan Alfan menyadari. Alfan pun tiba-tiba saja mencium dan melumat bibir Arum. arum membulatkan matanya dengan sempurna ketika mendapat serangan menjaga."Apa yang kalian lakukan?" Teriakan dari Aris yang kini sudah berdiri di ambang pintu membuat Alfan melepaskan ciumannya namun dia masih di posisi yang sekarang yaitu di atas tubuh Arum."Tidak sopan se

  • MAFIA HYPER ITU SUAMIKU    Bab 1

    "Ah.. ah.. ah.. lebih kuat mas.. lebih kuat" Rancau Desi saat tubuhnya di genjot oleh aris. Keduanya begitu menikmati permainan yang mungkin untuk kesekian kalinya mereka lakukan di apartemen pria yang bernama Aris itu."Ais... Sshh ahh sshhh..." Pria itu terus mendesah sambil terus menghujam wanita yang tidak memiliki status apapun didalam hidupnya.Desi meremas punggung lebar pria itu ketika aris yang menambah kecepatannya."Ahh ahh ah.. mas.. a-aku sudah tidak kuat." Lirih Desi sambil memejamkan matanya. Mereka sudah bermain satu jam namun sepertinya Aris belum ingin menyudahi Permainan panas itu karena dia sudah sangat merindukan tubuh wanita yang ada kungkungannya."M-mas.. ah, ah... " Desahan manja Desi membuat Aris semakin bergairah hingga dia terus saja menghujam tubuh Desi sehingga tempat tidur berdecit karena Permainan panas mereka.Saat keduanya larut dalam permainan mereka, sehingga mereka tidak menyadari jika sudah ada seorang wanita yang berdiri di ambang pintu menyaksik

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status