LOGIN"Arum... Katakan. Jangan menangis seperti ini." Pak Salim menggoncang tubuh Arum
"Paman.. hiks hiks hiks, yang dikatakan tuan Alfan benar.." jawabnya Pak Salim dan Bu Anita benar-benar sangat syok mendengar perkataan Arum dan mereka seperti tidak percaya jika putri mereka bisa melakukan itu semua. "Arum.. kamu yakin? Kamu tidak sedang berbohong atau tidak sedang bercanda kan?" Tanya Bu Anita lagi. Arum menggelengkan kepalanya dengan air mata yang masih membasahi wajah cantiknya. "Aku tidak berbohong tante.. Aku berbicara dengan jujur dan aku melihatnya dengan kedua mata kepalaku sendiri." Jelas Arum "Desi.. kenapa kamu melakukan ini semua." Lirih pak salim. Suara mobil yang memasuki perkarangan rumah itu membuat mereka semua menoleh ke arah mobil mewah yang sangat mereka kenali. Mobil itu adalah milik Aris, namun bukan Aris saja yang keluar dari mobil itu melainkan Desi. Desi sudah berlari menghampiri orang tuanya begitu juga dengan Aris yang berjalan menghampiri Arum. "Papa, mama.. apa yang terjadi di sini?" Tanya Desi yang berpura-pura tidak mengetahui semuanya Pak Salim berdiri dari duduknya dia menatap tajam ke arah putrinya itu. Plak! Satu tamparan keras mendarat di pipi Desi saat ini sehingga wanita itu sedang memegang pipinya yang terasa sangat panas. "Papa.. kenapa papa menampar Desi?" Bu Anita tidak terima ketika suaminya memberi tamparan yang cukup keras ke wajah anak kesayangannya itu. "Ini baru hanya tamparan.. tidak seberapa sakit yang dirasakan Arum saat ini." Jelas pak Salim "Papa.. papa harus mendengar penjelasanku." "Penjelasan apalagi yang harus papa dengar Desi. Apa benar-benar kecewa dengan kamu. Bagaimana bisa kamu melakukan hubungan itu dengan calon suami saudarimu sendiri. Kamu benar-benar tega Desi..." "Aku mencintai Mas Aris.. dan Mas Aris juga mencintaiku. Saling mencintai." Ucap Desi yang terlalu percaya diri "Aku tidak mencintai Desi.. aku hanya mencintai Arum hingga saat ini." Sela Aris ya menatap sinis ke arah Alfan yang berdiri di sampingnya. Alfan hanya menyunggikan senyum di sudut bibirnya untuk menanggapi perkataan Aris. Pak Salim berjalan menghampiri Aris dan kini sudah berdiri di hadapannya. Plak! Tidak hanya Desi, Aris juga mendapatkan tamparan yang cukup keras yang dilayangkan oleh pak salim. Aris mengusap sudut bibirnya yang berdarah karena tamparan itu. "Brengsek! Kau adalah pria brengsek Aris! Bagaimana bisa kau melakukan itu kepada putri dan keponakanku. Kau menghancurkan keduanya! Kau melukai hati mereka..." Aris tiba-tiba saja berlutut di hadapan pak Salim sambil memegang kaki pak Salim. "Maafkan aku Om.. aku khilaf. Aku benar-benar khilaf melakukan itu kepada Desi. Aku sangat mencintai Arum. Aku tidak ingin kehilangannya.. Aku tidak ingin pernikahan kami batal." Jelas Aris yang memohon kepada pak salim "Tentu saja pernikahan itu tidak akan batal karena Arum akan menikah dengan Tuan Alfan, dan setelah itu.. kau harus bertanggung jawab kepada Desi. Kau harus menikahi Desi." "Tidak Om.. aku tidak bisa menikah dengan Desi." "Jika tidak bisa kenapa kau melakukannya kepada Desi! Kau pikir Desi hanya boneka yang seenaknya kau pakai lalu kau buang. Kau harus bertanggung jawab..." "Tidak Om.." Plak! Satu tamparan kembali mendarat di pipi yang sama yang membuat darah kembali keluar dari sudut bibir Aris. "Bertanggung jawablah Aris." Ucap pak salim dengan penuh penekanan yang membuat Aris terdiam. "Pak Salim tenang saja.. Aku Yang akan membereskan ini semua. Dan terima kasih sudah menyetujui pernikahan aku dan Arum." Ujar Alfan Pak Salim menatap ke arah Alfan karena sebenarnya dia tidak yakin untuk menikahkan keponakannya kepada Alfan mengingat Alfan terkenal sangat kejam dan suka membunuh orang. Namun, tidak ada pilihan lain karena pernikahan itu akan di langsungkan seminggu lagi dan tidak mungkin akan di batalkan. "Terima kasih tuan.. saya percayakan ini semua kepada tuan." Ujar pak Salim Setelah itu, pak Salim kembali menatap Aris. "Saya benar-benar sangat kecewa denganmu!" Ucap pak Salim yang kemudian masuk kedalam rumahnya sambil menarik kasar Desi dan di susul dengan Bu Anita. Arum menatap sekilas kearah Alfan, kemudian dia pun masuk untuk menyusul keluarganya. Setelah pintu rumah itu tertutup, Alfan tertawa puas. "Ha ha ha.. aku tidak bisa membayangkan bagaimana jika papa mengetahui semua ini.. pasti dia akan marah besar dan kau tidak akan mendapatkan sepeserpun harta mamaku." Ucap Alfan yang membuat Aris mengepalkan kedua tangannya. "Tahan emosi mu... Simpan dan keluarkan di saat aku dan Arum menikah nanti. Hahhhh " ucap Alfan lagi yang kemudian masuk kedalam mobilnya. Setelah kepergian mobil itu, Aris menatap rumah kediaman pak Salim. "Aku tidak mungkin membiarkan Arum menikah dengan Alfan... Itu tidak akan terjadi." Gumam Aris Sementara itu, didalam rumah masih terjadi perdebatan antar pak Salim dan Bu Anita. Pak Salim sangat marah ketika Bu Anita membela putri mereka yang jelas-jelas salah. Bu Anita memang sangat menyayangi anaknya itu sehingga dia tidak terlalu menyukai suaminya yang terlalu memperhatikan Arum. Padahal mereka bisa hidup kaya seperti itu karena warisan dari orang tua Arum "Papa.. ini bukan salah Desi seutuhnya." Bu Anita memeluk Desi yang menangis "Lalu, salah siapa?" Tanya pak Salim "Papa tidak pernah mengajarkan kamu hal serendah ini Desi! Tapi kamu... Aaarrgghhh." Pak salim benar-benar marah kepada Desi. "Aku melakukan itu karena aku mencintai Mas Aris. Mas Aris juga mencintaiku.. itu yang dikatakannya di saat kami berdua." Ungkap Desi yang membuat arum tidak habis pikir karena bagaimana bisa dia mengatakan itu "Desi Sadarlah... Dia hanya memanfaatkan kamu saja. Kamu tidak dengar jika dia bilang masih ingin melanjutkan pernikahan itu dengan Arum. Arum itu saudarimu... Tapi kenapa bisa kamu melakukan ini semua Desi. Papa benar-benar kecewa dengan kamu." "Apa salah.. Mas Aris bilang dia hanya bahagia dengan aku tidak dengan Arum. Arum tidak bisa memberikan apa yang dia inginkan.." "Oleh karena itu kau memberikan tubuhmu dengan percuma-cuma?" Ujar Arum yang menyudutkan desi. "Dengar Desi.. aku memang tidak pernah ingin disentuh oleh Mas Aris Karena aku tahu batasannya. Aku belum menikah dengannya.. jadi aku tidak ingin disentuh oleh. Dia yang mencintaiku oleh karena itu dia menuruti perkataanku tapi kamu.. kamu memancingnya dengan tubuhmu sehingga dia melakukan hubungan itu denganmu tanpa dasar cinta. Seharusnya kamu sadar Desi.." "Diam!! Aku tidak butuh ocehanmu Arum. Aku mencintai Mas Aris.. dan dia juga mencintaiku." "Ambillah Mas aris mu itu... Aku sudah membuangi jadi kamu boleh memungut. Aku tidak butuh sampah sepertinya.. dan kini aku tahu, siapa kamu sebenarnya Desi. Bagaimana bisa kamu lebih memilih orang lain daripada keluargamu sendiri. Aku sadarimu.. tapi kamu tega melakukan itu dan seolah-olah akulah yang bersalah di sini. Aku sudah tidak membutuhkannya lagi.. jadi silakan ambil." Jelas Arum dengan suara yang bergetar. "Sudah cukup baru.. cukup menyudutkan Desi. Ini bukan salah dia saja tapi salah Aris. Jika kamu sudah mengikhlaskan Aris untuk Desi.. maka ikhlaskanlah jangan menyudutkannya seperti ini." Ucap Bu Anita yang tentu saja membela putrinya. "Tante tenang saja.. Aku tidak akan memungut sampah yang sudah kubuang." "Paman.. Aku masuk dulu. Aku lelah.." ujar Arum lagi yang kini berbicara dengan pamannya. Arum pun melangkah masuk untuk menuju kamarnya yang ada di lantai 2. Setelah sampai di kamarnya, dia merebahkan tubuhnya di atas ranjang sambil menatap langit-langit kamarnya. Tanpa terasa dari air matanya kembali keluar dari sudut-sudut matanya namun Arum dengan cepat mengusap air mata itu. Bohong jika saat ini Arum tidak terluka, dia hanya mencoba untuk tegar untuk menghadapi ini semua. Hatinya benar-benar sakit karena dikecewain oleh dua orang terdekatnya. Beberapa saat kemudian setelah kelelahan menangis akhirnya Arum pun tertidur dengan posisi wajah yang sembab. Besok paginya... Jam sudah menunjukkan pukul 9 pagi, namun Alfan dikejutkan dengan kedatangan Aris dan papanya di mansion miliknya. Selama ini Alfan hanya tinggal sendirian di Mansion itu sedangkan papa dan Mama tirinya tinggal di kediaman mereka yang tidak jauh dari Mansion itu. Sementara Aris selalu menghabiskan waktunya di apartemen dan sangat jarang pulang ke kediaman orang tuanya. "Ada apa pagi-pagi begini papa menggangguku?" Tanya Alfan yang kini sudah duduk di depan tuan heru dan Aris "Kenapa kau berulah lagi al?" "Maksud papa?" "Kenapa kau merebut Arum, kekasihnya Aris." "Apa? Merebut Arum?" Alfan membulatkan matanya dengan sempurna."ya, siapa ini?"Alfan menjawab telepon itu dengan nada dingin karena dia sangat kesal saat momen seperti itu, harus ada orang yang menggangu."Hai mas.. ini aku, kamu sudah tidak mengenal suara ku lagi?"Dahi Alfan seketika mengerutkan mendengar ucapan seorang wanita dari sebrang sana."Aku sibuk! Dan tidak ada waktu untuk melayani orang seperti mu!"Tekan Alfan disetiap perkataannya, dan dia ingin menyudahi pembicaraan itu "Mas.. ini aku, luna!"Alfan terdiam dan menatap Arum yang sedang memperhatikannya."Maaf, salah sambung!"Alfan kemudian mematikan sambungan teleponnya dan dengan sengaja mematikan telponnya."Siapa mas!" Tanya Arum yang melihat perubahan raut wajah Alfan."Salah sambung.""Hah? Salah sambung?""Sudahlah, jangan di pikirankan.. lebih baik kita nikmati saja makan malamnya.""Hmm." Arum tersenyum lalu melanjutkan memakan makanan yang sudah tersaji di meja mereka."Luna? Apakah itu dia? Kenapa.. kenapa dia menghubungiku setelah 3 tahun menghilang..." Batin Alfan ya
Dua Minggu kemudian Setelah dua Minggu kejadian itu, Aris tidak lagi kelihatan karena sudah di beri pelajaran oleh pengawal Alfan namun Alfan tidak bisa lengah seperti itu karena di balik itu semua Alfa memiliki firasat jika Aris pasti menyusun rencana untuk balas dendam.Selama 2 Minggu ini juga, Alfan tidak keluar dari Mansion, dia tidak ke perusahaan ataupun mengurus pekerjaan lain yang biasanya dia selalu sibuk namun kali ini dia memilih untuk bekerja dari mansion dan menyerahkan pekerjaannya kepada orang-orang kepercayaannya. Semua itu dia lakukan untuk menjaga Arum karena kondisi mental Arum sedang tidak baik-baik saja setelah kejadian malam itu. Cekleek Suara pintu kamar yang terbuka membuat wanita itu segera menoleh. Dia tersenyum ketika melihat Alfan yang masuk ke kamarnya. "Kamu sudah siap?" Tanya Alfan ya sudah sangat rapi dan sangat harum.Arum menganggukan kepalanya sambil tersenyum manis. "Aku sudah siap.. tapi sebenarnya kita mau ke mana? Kenapa Mas tidak bilang ju
"Sekarang.. aku sudah disini dan aku mau, kau harus bertanggung jawab atas kehamilannya Desi." Jelas Arum yang menatap Aris yang sedang tersenyum aneh kepadanya."Aku akan bertanggung jawab tapi..." Aris tidak meneruskan perkataannya karena dia melihat Arum yang sudah mulai tidak konsentrasi mendengar perkataannya. "Tapi apa?" Tanya Arum dengan pandangannya semakin memudar. "Ada apa dengan aku kenapa tiba-tiba aku sangat pusing sekali dan kenapa tiba-tiba di sini panas sekali.. ini pernah aku rasakan saat aku di beri minuman oleh pria yang di bar itu.. tidak, jangan-jangan... Pria ini mencampurkan sesuatu ke minumanku." Batin Arum yang merasa aneh dengan tubuhnya dan dia pernah merasakan kondisi yang sama ketika dia dipaksa minum di bar. Arum segera berdiri dari duduknya. "Apa yang kau campurkan di minumanku?" Tanya Arum "Maksud kamu apa?""Katakan padaku.. apa yang kamu campurkan dalam minumanku?" Tanya Arum lagi yang mencoba menyeimbangkan tubuhnya. "Ck, ternyata kau sudah sada
"halo Paman. ""Halo rum, Kamu apa kabar?" Tanya pak Salim dari seberang sana yang terdengar canggung."Baik paman. Hmm, kabar Paman bagaimana?""Hahhhh." Pak Salim menghembuskan nafas kasarnya. "Terjadi sesuatu paman?" Tanya Arum."Tadi malam, Desi mencoba bunuh diri.""Apa? Bunuh diri? Bagaimana bisa?""Paman juga tidak tahu.. sepertinya Desi benar-benar sangat frustasi dan putus asa karena Aris tidak ingin bertanggung jawab.""Apa? Bagaimana bisa dia tidak mau bertanggung jawab? Apakah Paman sudah berbicara dengannya?""Sudah.. Paman sudah berbicara dengannya tapi dia ingin bertanggung jawab dengan satu syarat.""Syarat?""Uhm.. dia ingin bertemu dengan kamu.""Apa? Syarat macam Apa itu Paman.""Paman juga tidak tahu kenapa dia ingin bertemu tapi dia bilang, dia ingin meminta maaf dan setelah itu, dia ingin bertanggung jawab atas kehamilan Desi. Oleh karena itu, Paman mohon sekali Arum.. temui Aris untuk terakhir kalinya. Pasti jika kamu yang berbicara dengan, dia akan menuruti pe
Sementara itu di kamar hotel, terlihat Arum yang perlahan terbangun dari tidurnya yang cukup nyenyak setelah permainan panasnya degan Alfan. Dia mengerjap kedua matanya dan melihat kamar yang asing baginya. Dia pun mendudukan tubuhnya dan melihat kamar itu yang sangat berantakan dan dia juga melihat dresnya yang tergeletak di lantai. Matanya langsung menuju tubuhnya yang hanya terbungkus selimut putih.Dia seperti orang linglung karena belum menyadari apa yang terjadi. Dia menoleh ke kiri dan kanan, namun dia tidak melihat siapapun. Dia pun akhirnya melihat pintu kamar mandi yang tertutup dengan rapat dan terdengar samar suara shower.Glek!Dia menelan kasar air liurnya dan kembali mengingat samar-samar kejadian tadi malam."Tidak.." lirihnya yang mengingat kejadian di bar, ketikan dirinya hampir di lecehkan oleh pria lain.Cekleek Mata Arum membulat dengan sempurna saat melihat suaminya yang keluar dari kamar mandi dan hanya menggunakan handuk yang melilit di pinggangnya. Otot-otot
Setelah masuk ke dalam kamar hotel dan Alfan baru saja mengunci pintu kamar itu tiba-tiba saja Arum menarik tubuhnya hingga Alfan terbaring di atas ranjang. Wanita itu yang sudah tidak bisa lagi menahan hasratnya, segera menindih Alfan dan memberikan ciuman-ciuman yang sangat agresif. Alfan juga mengimbangi permainan Arum dengan sangat baik. Dia tidak menyangka jika Arum bisa seliar itu. Entah apa yang di pikirkan Alfan saat ini karena dia sangat menyukai keagresifan Arum. Saat ini keduanya sudah tidak memakain sehelai benangpun dan dia segera membalikkan posisi mereka. "Biar aku yang melakukan dan kamu harus menikmatinya." Ucap Alfan yang begitu sensual lalu dia membuka lebar-lebar paha Arum dan memainkan lidahnya disana. Erangan-erangan indah yang keluar begitu saja menjadi alunan musik tersendiri yang membuat keduanya semakin menikmati permainan itu. Arum mencengkram kuat lungguh Alfan. "Aaakkhhh a-aku sudah tidak kuat.. cepat lakukan." Lirih Arum yang menatap sendu Alfan yang







