Mag-log inAditya memandang Kirana sambil tersenyum. Dia berjalan menghampiri istrinya itu dengan langkah lembut.
"Kalau kamu mau pergi arisan ketemu temen-temen itu engga apa-apa," ujar Aditya, suaranya terdengar tenang. Kirana menggeleng. Dia membalas tatapan lembut suaminya dengan ketus. Kedua tangannya dilipat di depan dada. "Bagaimana aku mau pergi? Aku saja tidak punya pakaian bagus. Lagipula, kau juga kerja. Jika rumah kita tinggalkan, siapa yang akan mengurus?" omel wanita itu. Aditya tersenyum. "Jangan khawatir, ada aku di sini." Kirana tidak mempedulikan ucapan suaminya. Dia memilih merebahkan diri di ranjang dan tidur. Sementara itu, Aditya memandang wajah cantiknya dengan senyum tipis. Harus diakui, pria itu merasa tidak nyaman dengan daster sederhana yang dikenakan Kirana. Biasanya, sang istri mengenakan gaun mahal dan elegan, sekarang tampak seperti pembantu. "Kamu tenang, Aja, Kir. Besok aku akan bekerja keras agar kamu bisa mengenakan gaun indah untuk arisan nanti. Aku pastikan, temen-temen kamu ga akan merendahkan kamu lagi," ucap Aditya pelan sambil mengusap rambut istrinya dan mengecup pelan keningnya. Setelah itu, Aditya pun pergi tidur di samping Kirana yang sudah terlelap. Dia memandang wajah lelah istrinya itu dengan penuh perhatian, sebelum memejamkan mata dan tertidur. *** Sesuai dengan niat semalam, Aditya pergi bekerja subuh-subuh. Dia diam-diam keluar tanpa memberitahu Kirana. Sengaja, karena wanita itu sedang tidur dan pria itu tidak mau mengusik ketenangan istrinya. Subuh masih basah oleh embun ketika Aditya melangkah keluar rumah. Udara dingin menyusup ke tulang, tapi tekadnya jauh lebih kuat daripada rasa menggigil yang ia tahan. Ia menutup pintu pelan, memastikan Kirana tetap terlelap tanpa gangguan. Di pasar, Aditya sudah disambut oleh beberapa pedagang yang sedang menata dagangannya. Suasana saat itu cukup terang karena cahaya rembulan masih menyinari. Beberapa orang melintasi area pasar dengan motor dan jalan kaki, membuat suasana tidak sunyi meski masih sepi. Pria itu berjalan di blok milik dia berjualan dan membuka gerobak sederhana yang selama ini menghidupi dia dan istri tersayangnya. Hari itu, Aditya memutuskan menjual barang lebih dari biasanya. Dia tidak akan pulang sebelum keinginan dia untuk mendapat uang banyak tercapai. Setidaknya, saat pulang dalam keadaan lelah, usahanya tidak sia-sia karena bisa menyenangkan Kirana. Aditya melihat salah satu buah tomat yang dia jual sedikit berdebu dan segera membersihkan agar jernih dengan kain lap. Setelah itu, pria itu kembali menata di atas gerobak. Saat dia tengah istirahat sebentar, tiba-tiba beberapa wanita tua datang berjalan melewati gerobak tersebut. “Mari dibeli, Bu. Masih bagus tomatnya, silakan dilihat!” suaranya terdengar ramah, meski tenggorokannya belum sepenuhnya hangat. Beberapa orang lewat begitu saja. Ada yang melirik, ada yang berhenti sebentar, lalu pergi lagi. Waktu berjalan lambat, matahari mulai naik, dan keringat mulai membasahi pelipisnya. Namun Aditya tidak menyerah. Seorang ibu akhirnya berhenti, dia memperhatikan salah satu sayuran yang ada di gerobak Aditya. “Berapa ini, Mas?” tanya ibu itu sambil menunjuk sawi hijau segar dan menatap Aditya. "Murah saja, Bu. Cuma 4 ribu seiket," jawab Aditya ramah. Ibu itu mengangguk-angguk. Dia pun menunjuk beberapa sayur sekaligus sambil berkata pada Aditya. "Aku mau sawi satu ikat, tomat 4, dan cabai seperempat," pintanya. Aditya mengangguk. Dia segera mengambil sayuran yang diminta oleh si ibu dan memberikannya. "Total ada 15 ribu ya, Bu." Ibu itu mengerutkan kening dan mengangkat bahu. "Tidak bisa kurang ya?" Lalu, ibu itu menawarkan harga yang menurutnya pas. Aditya sudah biasa menghadapi sikap ibu-ibu yang suka menawar di pasar. Bahkan beberapa pelanggan dia juga senang menawar seperti itu. Namun, setiap kali mereka mencoba berdiskusi transaksi, rasanya itu harga yang rendah. Bahkan balik modal saja tidak cukup dengan harga yang ditawarkan. Aditya ingin menolak, tapi sekilas dia teringat dengan wajah Kirana dan keinginan wanita itu agar bisa memakai gaun indah. Pria itu tidak jadi menolak dan mengangguk. "Silakan, Ibu. Entah karena sayurannya yang segar dan murah, atau karena sikap Aditya yang ramah saat berjualan. Kini, banyak pelanggan perlahan-lahan datang ke tempat dia untuk membeli. Aditya tersenyum dalam hati saat pembeli itu langsung membeli banyak sayur sekaligus. Menjelang siang, perlahan gerobak dia mulai kosong. Aditya duduk istirahat sebentar sambil membuka kotak uangnya. Kali ini ia mencoba tenang dan menghitung dengan teliti. Satu lembar, dua lembar, puluhan… ratusan… Napasnya tertahan. Cukup. Senyum perlahan terukir di wajahnya. Bukan senyum biasa, melainkan senyum lega yang datang dari dalam hati. Dia menarik napas dalam-dalam dan mengusap wajah yang mulai berkeringat. “Kir… kali ini kamu nggak perlu merasa malu lagi,” gumamnya pelan. Aditya menutup kotak itu dengan hati-hati, seolah menyimpan harapan di dalamnya. Tanpa membuang waktu, ia segera berkemas. Langkahnya kini terasa lebih ringan, meski tubuhnya lelah. Sebelum pulang ke rumah, Aditya pergi mampir ke toko busana untuk membelikan Kirana gaun yang elegan. *** Saat pulang ke rumah, Aditya disambut Kirana yang sudah duduk di ruang tamu sambil melipat tangan di dada. Wajah Kirana mengerut dan menatap penuh curiga. Di balik jendela, langit mulai terlihat gelap. Biasanya Aditya pulang di waktu senja, tapi dia tadi sedikit berlama-lama memilih baju saat belanja untuk Kirana di toko busana. "Sayang, kamu sudah makan?" tanya Aditya ramah sambil mengulurkan makanan yang masih dibungkus tas kresek. Kirana membalas tatapan lembut itu dengan ketus. Dia merampas kresek begitu saja. "Kamu dari mana saja si, mas?" tanya Kirana kesal sambil memandang Aditya penasaran. Aditya tersenyum tipis. "Maaf tadi aku lama karena aku sedang mencari sesuatu buat kamu," ucap Aditya. Aditya tersenyum tipis. “Maaf tadi aku lama karena aku sedang mencari sesuatu buat kamu,” ucapnya pelan. Kirana mengernyit, masih belum percaya. “Apa sih?” Tanpa banyak kata, Aditya meletakkan sebuah kantong di atas meja. Tangannya sedikit gemetar saat mendorongnya ke arah Kirana. “Coba kamu lihat dulu,” ujarnya lembut. Kirana sempat diam. Tatapannya turun ke kantong itu, lalu kembali ke wajah Aditya. Ada rasa penasaran… tapi juga gengsi yang masih menahan. Namun akhirnya, ia menarik kantong itu. Perlahan. Tangannya membuka lipatan plastik, lalu mengeluarkan sesuatu dari dalamnya. Seketika pupil mata Kirana membesar dan senyumnya lebar. Sebuah gaun biru lembut terjatuh di pangkuannya. Bahannya halus, potongannya elegan. Tidak berlebihan, tapi cukup untuk membuat siapa pun terlihat anggun. Kirana terdiam. Untuk beberapa detik, ia hanya menatap gaun itu tanpa berkata apa pun. “Ini… buat aku?” suaranya berubah, tak lagi setajam tadi. Aditya mengangguk pelan. “Iya. Biar kamu bisa datang ke arisan tanpa merasa malu.” Kirana mengangkat wajahnya. Ada sesuatu yang bergetar di matanya—antara haru dan tak percaya. “Kamu… beli ini pakai apa?” tanyanya lirih. Aditya tersenyum, sederhana. “Hasil jualan hari ini.” Kirana menggigit bibirnya. Hatinya seperti diremas. Ia tahu betul suaminya bekerja sekeras apa. Perlahan, ia memeluk gaun itu. “Terima kasih…” gumamnya pelan. Untuk pertama kalinya sejak lama, wajah Kirana benar-benar terlihat bahagia.Aditya memandang Kirana sambil tersenyum. Dia berjalan menghampiri istrinya itu dengan langkah lembut. "Kalau kamu mau pergi arisan ketemu temen-temen itu engga apa-apa," ujar Aditya, suaranya terdengar tenang.Kirana menggeleng. Dia membalas tatapan lembut suaminya dengan ketus. Kedua tangannya dilipat di depan dada. "Bagaimana aku mau pergi? Aku saja tidak punya pakaian bagus. Lagipula, kau juga kerja. Jika rumah kita tinggalkan, siapa yang akan mengurus?" omel wanita itu. Aditya tersenyum. "Jangan khawatir, ada aku di sini."Kirana tidak mempedulikan ucapan suaminya. Dia memilih merebahkan diri di ranjang dan tidur. Sementara itu, Aditya memandang wajah cantiknya dengan senyum tipis. Harus diakui, pria itu merasa tidak nyaman dengan daster sederhana yang dikenakan Kirana. Biasanya, sang istri mengenakan gaun mahal dan elegan, sekarang tampak seperti pembantu. "Kamu tenang, Aja, Kir. Besok aku akan bekerja keras agar kamu bisa mengenakan gaun indah untuk arisan nanti. Aku past
Pagi itu, Kirana sedang membersihkan halaman rumah dengan pelan. Dia sama sekali tidak terlihat muram atau lesu. Bahkan senyuman terus menghiasi wajahnya walau sedikit ada paksaan. Itu tidak mengurangi kecantikannya. Udara yang sejuk membuat hati Kiran terasa tenang. "Hai, Kiran," sapa seorang wanita berambut pirang memakai kaca mata hitam. Pakaian yang dia kenakan cukup modis dengan kaos kemeja putih dan celana jeans abu-abu. Dia segera menghampiri Kirana setelah memarkirkan mobilnya di pojok lapangan di dekat rumah kecil Aditya. Kirana mendengar ada yang memanggil, seketika menoleh. Dia masih diam memegang sapu sambil terpaku memandang perhiasan kalung dari emas yang melingkar di leher wanita itu. Saat wanita itu mengangkat tangan sekilas, dia juga tak sadar menunjukkan dua gelang emas di pergelangan tangannya. Kirana menunduk, dia menghela napas. Kenapa dia harus pamer seperti ini? batin Kirana yang merasa iri dengan perhiasan emas wanita itu sementara dia hanya memakai daste
Suara tawar-menawar bercampur dengan aroma tanah basah dan sayuran segar yang baru dibongkar dari karung. Di tengah hiruk pikuk itu, seorang pemuda dengan kemeja lusuh tampak sibuk menata tumpukan telur di meja kayu. Aditya berjualan telur karena sang pemilik sedang keluar kota dan Aditya dikenal sebagai pria serba bisa di pasar. “Dua kilo, Dit. Yang gak retak ya,” seru seorang ibu langganan sambil membawa tas belanja. "Iya, Bu. Saya pilihkan yang bagus." Aditya menatap tumpukan telur, lalu dengan cekatan menghitung dan menimbang. “Pas dua kilo, Bu. Empat puluh ribu aja. Saya tambahin satu bonus, biar besok belanja lagi di sini.” Senyum kecil mengembang di wajah pelanggan. “Wah, rezekinya istri kamu tuh, suami rajin dan murah hati.” Aditya tersenyum kikuk, mengelap peluh di kening. “Hehe, iya, Bu. Rezekinya istri saya memang di sini.” "Makasih ya, Dit." "Sama-sama, Bu. Balik lagi besok ya, Bu." Ibu itu hanya mengangguk dan buru-buru pergi. Pembeli kian berdatangan, tapi Adity
Malam, Lampu redup di sudut ruangan menyinari wajah Kirana yang sedang tertidur pulas di ranjang kecil. Napasnya teratur, rambut panjangnya terurai di bantal, dan wajah yang biasanya keras kini tampak tenang. Aditya duduk di tepi ranjang, memperhatikan perempuan itu lama. Ada senyum tipis yang tak bisa ia tahan."Kamu keliatan sangat cantik bahkan saat tidur, Kirana. Sayangnya kamu harus terjebak dalam kasur itu."Ia tahu, di balik sikap dingin dan cemberut Kirana selama ini, ada hati yang sedang berjuang menyesuaikan diri. Mungkin Kirana belum bisa mencintai kehidupannya yang sekarang, tapi Aditya yakin waktu akan menuntun semuanya."Maaf, tapi aku akan berusaha sebisaku."Perlahan, ia menundukkan kepala, menatap jemari Kirana yang halus. “Kamu nggak pernah tahu, Ran, seberapa besar artinya kamu buat aku,” bisiknya lirih.Aditya kemudian menoleh ke meja kecil di dekat jendela. Di sana, sebuah toples bening berisi uang logam 500 perak berdiri tenang. Ia berjalan mendekat, mengambil t
Pagi di sekitar rumah terasa aneh bagi Aditya. Biasanya orang-orang tersenyum ramah ketika ia lewat, tapi sejak pernikahannya dengan Kirana, semua berubah. Setiap langkahnya diiringi bisikan-bisikan yang menusuk seperti duri di telinga.“Lihat tuh, pengantin baru. Mahar cuma 500 perak,”“Beli permen aja nggak cukup. Kirana pasti nyesel setengah mati.”"Kenapa mereka terus membahas itu, gimana kalau Kirana dengar ini," gumam Aditya."Lihat itu, suaminya. Bahkan berpenampilan menarik aja dia nggak bisa. Kerja serabutan."Ibu-ibu tersebut menatap sinis pada Aditya. Mereka tidak takut didengar oleh Aditya. Seakan terang-terangan menjelekkan Aditya dan Kirana. Aditya menunduk, berusaha seolah tidak mendengar. Tapi dari pantulan kaca jendela toko di pinggir jalan, ia bisa melihat senyum sinis dan lirikan tajam yang mengikuti langkahnya. Tangannya mengepal di saku celana, menahan emosi yang mendesak keluar. Namun ia tetap melangkah.Sesampainya di rumah kecilnya, Aditya menghela napas panja
Kirana berdiri di depan cermin, menatap bayangannya. Riasan di wajahnya sederhana. Rambutnya dikuncir rendah, pakaian yang ia kenakan bukan lagi gaun mahal, melainkan kaos polos warna krem yang dibelikan Aditya dua hari lalu. Entah kenapa, pakaian itu terasa sangat asing di tubuhnya.Ia menarik napas panjang."Mulai hari ini, aku bukan lagi Kirana Prameswari yang hidup di rumah besar dengan segala kemewahan. Aku hanya istri dari Aditya pemuda miskin dengan mimpi kecil."Ia menutup matanya sesaat. Bayangan pernikahan mereka kembali terlintas di kepala ucapan ijab kabul dengan mahar lima ratus perak, sorot mata sinis para tamu, dan wajah ibunya yang menahan malu. Kirana menggigit bibir bawahnya, menahan getir yang masih belum hilang.“Lima ratus perak…” gumamnya lirih. “Bahkan sekarang pun aku masih sulit menerimanya.”Ia teringat senyum tipis Aditya saat menyerahkan mahar itu. Senyum yang penuh rahasia tapi juga penuh keyakinan.Namun, bagi Kirana, yang tertinggal hanyalah luka di harg







