Share

Bagian 6

last update Last Updated: 2025-12-03 21:17:03

Pagi itu, Kirana sedang membersihkan halaman rumah dengan pelan. Dia sama sekali tidak terlihat muram atau lesu. Bahkan senyuman terus menghiasi wajahnya walau sedikit ada paksaan. Itu tidak mengurangi kecantikannya. Udara yang sejuk membuat hati Kiran terasa tenang.

"Hai, Kiran," sapa seorang wanita berambut pirang memakai kaca mata hitam. Pakaian yang dia kenakan cukup modis dengan kaos kemeja putih dan celana jeans abu-abu. Dia segera menghampiri Kirana setelah memarkirkan mobilnya di pojok lapangan di dekat rumah kecil Aditya.

Kirana mendengar ada yang memanggil, seketika menoleh. Dia masih diam memegang sapu sambil terpaku memandang perhiasan kalung dari emas yang melingkar di leher wanita itu.

Saat wanita itu mengangkat tangan sekilas, dia juga tak sadar menunjukkan dua gelang emas di pergelangan tangannya. Kirana menunduk, dia menghela napas. Kenapa dia harus pamer seperti ini? batin Kirana yang merasa iri dengan perhiasan emas wanita itu sementara dia hanya memakai daster tanpa perhiasan apapun selain cincin kawin yang diberikan Aditya. Itupun juga masih kurang jika dibandingkan nilainya.

"Kirana, kamu kenapa bengong? Kamu pangling ya sama aku?" tanya wanita itu sambil melambaikan tangannya di depan wajah Kirana.

Kirana mengedipkan matanya sejenak, dia berusaha tetap tersenyum menatap wanita itu. "Engga ko, aku cuma ga nyangka kamu datang ke sini tiba-tiba, An," jawabnya dengan suara lembut.

Wanita bernama Anna itu tersenyum menepuk bahu Kiran pelan. "Namanya juga berkunjung, tadinya mau mampir ke rumah kamu. Pas di sana, orangtua kamu bilang kamu ikut tinggal sama suami. Jadi, aku ke sini."

Tidak ada tanggapan dari Kirana saat Anna menjelaskan kronologinya datang kemari. Dia memandang sekitar, kemudian menggandeng tangan Anna. "Ayo masuk ke dalam," ucapnya seolah sudah akrab dengan temannya itu seperti saudari sendiri.

Kondisi rumah yang sempit dan sedikit berantakan serta atap yang bocor membuat Anna merasa iba pada Kirana. Wanita itu bahkan menghela napas tatkala memandang temannya yang dulu selalu berpenampilan menarik kini malah tampak kumal. Dia menepuk bahu Kirana.

"Ran, kamu serius bahagia sama Aditya? Kamu engga nyesel kan menikah sama dia?" tanya Anna, suaranya penuh rasa khawatir dan kedua matanya terus menatap Kiran, mencoba mencari jawaban dari raut wajahnya. Dia menautkan alisnya, seolah rasa penasaran yang dia rasakan itu sangat dalam.

Kirana tersenyum simpul. Dia menggenggam tangan Anna sambil menatap teduh temannya itu. "Tenang, aku baik-baik saja. Aku juga tidak menyesal menikah dengan Aditya. Dia sangat mencintaiku," jelas wanita itu. Tidak ada rasa berat hati atau emosi kekesalan di suaranya. Justru rasa tenang dan damai seolah dia memang bahagia hidup bersama suaminya walau realita tidak menyenangkan seperti itu.

Anna mengangkat bahu acuh tak acuh. Dia memutar bola matanya malas. "Cinta saja tidak cukup, kau juga butuh uang untuk hidup. Bahkan dia saja cuma kasi mahar 500 perak kan? Di mana-mana cowo kalau cinta itu bakal kasi lebih dari itu," sinisnya.

Kirana memandang Anna dengan kesal. "Kalau kamu datang cuma untuk merendahkan suamiku, lebih baik kamu pergi. Aku tidak punya waktu untuk melayani orang julid sepertimu."

Mendengar Kirana akan mengusirnya, Anna pun membuang wajah sinis nya jauh-jauh. Dia mencoba tersenyum ramah sambil memegang tangan Kirana, berusaha menenangkan temannya itu.

"Maaf, Kiran. Aku tadi hanya khawatir. Kamu jangan salah paham, aku datang ke sini untuk kasi selamat atas pernikahanmu sama Aditya," ucap Anna sambil mengulurkan tangan sambil tersenyum. Kirana membalas genggaman tangan Anna meski sedikit kesal.

"Terimakasih," jawab Kirana ketus.

Anna mengeluarkan sekotak hadiah yang dia bungkus rapi dengan kertas kado yang indah. Dia memberikan itu pada Kirana tanpa menghilangkan senyum di wajahnya.

"Ini kado kecil untuk pernikahanmu, semoga kamu suka." Senyum di wajah Anna sedikit menipis saat Kirana hanya melirik sekilas kado yang masih dia pegang. Tatapan temannya itu masih tampak acuh tak acuh.

"Taruh saja di meja, tanganku kotor," ucap Kirana sambil menunjuk meja kecil yang ada di sana.

Meja itu sedikit kotor terkena debu dan beberapa barang yang berantakan di sana. Vas bunga yang agak rusak serta gelas kotor yang belum dibawa ke westafel.

Anna memandang meja itu dengan jijik, dia mengerutkan kening menatap Kirana. "Kau serius?" tanyanya, ada rasa jijik di kata yang keluar di bibir.

"Iya, taruh saja. Tadi aku lupa membersihkan. Mejanya tidak begitu kotor, rapi hanya ada barang yang agak acak," jelas Kirana sambil menata barang yang berantakan menjadi rapi kembali. Dia awalnya malas melakukan jika temannya tidak memandang risih.

Meja itu kini sedikit rapi dan bersih. Anna segera meletakkan hadiah yang dia bawa di sana. Setelahnya, dia tersenyuk menatap Kirana.

"Oya, aku sama temen-temen mau ngajak kamu reuni SMA di kafe kenangan. Mereka ga bisa datang ngunjungi kamu karena sibuk saat ini."

Kirana yang sedari tadi diam menjadi makin malu saat dengar kata-kata Anna. Saat temannya itu mengajak reuni, entah kenapa hatinya merasa gelisah. Dia menunduk memandang pakaian yang dia kenakan. Tampak kumal dan tidak semewah pas sebelum menikah dengan Aditya. Dia menghela napas dan menatap Anna dengan senyum simpul.

"Makasih ajakannya, aku pikir dulu soalnya aku sibuk ngurus rumah. Belum ada waktu untuk keluar," ujar Kirana menjelaskan keadaan yang dia jalani sekarang.

Anna menanggapi ucapan Kirana dengan senyuman. "Gapapa, aku harap kamu ga nyesel nanti. Oya, aku pamit dulu ya."

"Iya, terimakasih banyak sekalilagi buat hadiahnya," ucap Kirana sambil berteriak karena Anna sudah melangkah jauh dari rumahnya menuju parkiran mobil.

***

Aditya tiduran di atas kasur sambil menatap langit-langit kamar. Pandangannya beralih pada Kirana yang tiba-tiba masuk dengan langkah lesu dan wajah muram. Pria itu mengerutkan kening sambil memperbaiki posisi duduk.

"Kamu kenapa, Sayang?" tanya Aditya pada istrinya. Suaranya terdengar lembut dan tenang. Dia tidak berhenti memandang wajah Kirana dengan rasa tertarik tapi juga sedikit penasaran.

Kirana menghela napas. Pikirannya masih melayang pada saat Anna datang ke rumahnya tadi pagi. Sebagian hati kecil wanita itu terasa kesal dengan nasehat temannya itu.

"Cinta saja tidak cukup, bahkan kau hanya diberi mahar 500 perak kan?" Begitu terus yang didengar oleh Kirana dalam ingatannya. Tanpa sadar dia mengepalkan tangannya karena kesal.

Melihat itu, Aditya segera beranjak dari kasur dan mendekati Kirana yang duduk di depan meja rias. Tangan pria itu menyentuh pundak istrinya, membuat dia menoleh dan mereka saling berpandangan sejenak.

"Ada apa? Kamu kelihatan kesal?" tanya Aditya sekalilagi.

Kirana mengalihkan pandangannya. Dia menghela napas. "Aku kepikiran sama temenku. Tadi dia datang ke rumah, memberiku undangan untuk arisan," jawabnya.

"Lalu apa yang jadi masalahnya?"

"Aku malu, aku tidak ingin datang ketemu mereka. Aku ga mau dipandang rendah sama mereka, cuma karena punya suami miskin seperti kamu," tegas Kirana sambil menatap Aditya dengan sinis, membuat suaminya merasa tersinggung.

Tatapan cinta Aditya pada Kirana berubah. Wajahnya sedikit memerah dan matanya menyipit. "Apa maksudmu?"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • MAHAR 500 PERAK   Bagian 6

    Pagi itu, Kirana sedang membersihkan halaman rumah dengan pelan. Dia sama sekali tidak terlihat muram atau lesu. Bahkan senyuman terus menghiasi wajahnya walau sedikit ada paksaan. Itu tidak mengurangi kecantikannya. Udara yang sejuk membuat hati Kiran terasa tenang. "Hai, Kiran," sapa seorang wanita berambut pirang memakai kaca mata hitam. Pakaian yang dia kenakan cukup modis dengan kaos kemeja putih dan celana jeans abu-abu. Dia segera menghampiri Kirana setelah memarkirkan mobilnya di pojok lapangan di dekat rumah kecil Aditya. Kirana mendengar ada yang memanggil, seketika menoleh. Dia masih diam memegang sapu sambil terpaku memandang perhiasan kalung dari emas yang melingkar di leher wanita itu. Saat wanita itu mengangkat tangan sekilas, dia juga tak sadar menunjukkan dua gelang emas di pergelangan tangannya. Kirana menunduk, dia menghela napas. Kenapa dia harus pamer seperti ini? batin Kirana yang merasa iri dengan perhiasan emas wanita itu sementara dia hanya memakai daste

  • MAHAR 500 PERAK   Bagian 5

    Suara tawar-menawar bercampur dengan aroma tanah basah dan sayuran segar yang baru dibongkar dari karung. Di tengah hiruk pikuk itu, seorang pemuda dengan kemeja lusuh tampak sibuk menata tumpukan telur di meja kayu. Aditya berjualan telur karena sang pemilik sedang keluar kota dan Aditya dikenal sebagai pria serba bisa di pasar. “Dua kilo, Dit. Yang gak retak ya,” seru seorang ibu langganan sambil membawa tas belanja. "Iya, Bu. Saya pilihkan yang bagus." Aditya menatap tumpukan telur, lalu dengan cekatan menghitung dan menimbang. “Pas dua kilo, Bu. Empat puluh ribu aja. Saya tambahin satu bonus, biar besok belanja lagi di sini.” Senyum kecil mengembang di wajah pelanggan. “Wah, rezekinya istri kamu tuh, suami rajin dan murah hati.” Aditya tersenyum kikuk, mengelap peluh di kening. “Hehe, iya, Bu. Rezekinya istri saya memang di sini.” "Makasih ya, Dit." "Sama-sama, Bu. Balik lagi besok ya, Bu." Ibu itu hanya mengangguk dan buru-buru pergi. Pembeli kian berdatangan, tapi Adity

  • MAHAR 500 PERAK   Bagian 4

    Malam, Lampu redup di sudut ruangan menyinari wajah Kirana yang sedang tertidur pulas di ranjang kecil. Napasnya teratur, rambut panjangnya terurai di bantal, dan wajah yang biasanya keras kini tampak tenang. Aditya duduk di tepi ranjang, memperhatikan perempuan itu lama. Ada senyum tipis yang tak bisa ia tahan."Kamu keliatan sangat cantik bahkan saat tidur, Kirana. Sayangnya kamu harus terjebak dalam kasur itu."Ia tahu, di balik sikap dingin dan cemberut Kirana selama ini, ada hati yang sedang berjuang menyesuaikan diri. Mungkin Kirana belum bisa mencintai kehidupannya yang sekarang, tapi Aditya yakin waktu akan menuntun semuanya."Maaf, tapi aku akan berusaha sebisaku."Perlahan, ia menundukkan kepala, menatap jemari Kirana yang halus. “Kamu nggak pernah tahu, Ran, seberapa besar artinya kamu buat aku,” bisiknya lirih.Aditya kemudian menoleh ke meja kecil di dekat jendela. Di sana, sebuah toples bening berisi uang logam 500 perak berdiri tenang. Ia berjalan mendekat, mengambil t

  • MAHAR 500 PERAK   Bagian 3

    Pagi di sekitar rumah terasa aneh bagi Aditya. Biasanya orang-orang tersenyum ramah ketika ia lewat, tapi sejak pernikahannya dengan Kirana, semua berubah. Setiap langkahnya diiringi bisikan-bisikan yang menusuk seperti duri di telinga.“Lihat tuh, pengantin baru. Mahar cuma 500 perak,”“Beli permen aja nggak cukup. Kirana pasti nyesel setengah mati.”"Kenapa mereka terus membahas itu, gimana kalau Kirana dengar ini," gumam Aditya."Lihat itu, suaminya. Bahkan berpenampilan menarik aja dia nggak bisa. Kerja serabutan."Ibu-ibu tersebut menatap sinis pada Aditya. Mereka tidak takut didengar oleh Aditya. Seakan terang-terangan menjelekkan Aditya dan Kirana. Aditya menunduk, berusaha seolah tidak mendengar. Tapi dari pantulan kaca jendela toko di pinggir jalan, ia bisa melihat senyum sinis dan lirikan tajam yang mengikuti langkahnya. Tangannya mengepal di saku celana, menahan emosi yang mendesak keluar. Namun ia tetap melangkah.Sesampainya di rumah kecilnya, Aditya menghela napas panja

  • MAHAR 500 PERAK   Bagian 2

    Kirana berdiri di depan cermin, menatap bayangannya. Riasan di wajahnya sederhana. Rambutnya dikuncir rendah, pakaian yang ia kenakan bukan lagi gaun mahal, melainkan kaos polos warna krem yang dibelikan Aditya dua hari lalu. Entah kenapa, pakaian itu terasa sangat asing di tubuhnya.Ia menarik napas panjang."Mulai hari ini, aku bukan lagi Kirana Prameswari yang hidup di rumah besar dengan segala kemewahan. Aku hanya istri dari Aditya pemuda miskin dengan mimpi kecil."Ia menutup matanya sesaat. Bayangan pernikahan mereka kembali terlintas di kepala ucapan ijab kabul dengan mahar lima ratus perak, sorot mata sinis para tamu, dan wajah ibunya yang menahan malu. Kirana menggigit bibir bawahnya, menahan getir yang masih belum hilang.“Lima ratus perak…” gumamnya lirih. “Bahkan sekarang pun aku masih sulit menerimanya.”Ia teringat senyum tipis Aditya saat menyerahkan mahar itu. Senyum yang penuh rahasia tapi juga penuh keyakinan.Namun, bagi Kirana, yang tertinggal hanyalah luka di harg

  • MAHAR 500 PERAK   Bagian 1

    Di rumah Kirana, kursi-kursi rotan berderet rapi, bunga melati menebar aroma manis, dan di sudut ruangan, tirai putih bergoyang lembut diterpa angin.Akad pernikahan Kirana Prameswari dan Aditya Mahendra disusun sesederhana mungkin, atas permintaan mempelai pria yang tak ingin berlebihan, dan disetujui dengan berat hati oleh keluarga Kirana.Kirana duduk anggun di sisi dalam. Tangannya bergetar di pangkuan, jantungnya berdetak tak karuan. Ia menatap bayangan Aditya di seberang sana, pria yang kini akan menjadi suaminya.Aditya mengenakan jas putih sederhana, rambutnya disisir rapi, dan di antara senyum gugupnya, terlihat ketulusan yang meneduhkan. Di hadapan penghulu, ia menunduk hormat, suaranya tenang namun bergetar oleh emosi.“Baik,” ujar penghulu dengan suara lembut. “Kita mulai akad nikahnya.”Wijaya Kusuma, ayah Kirana, duduk di sisi depan, wajahnya tegas tanpa ekspresi. Di sebelahnya, Sulastri menegakkan punggung, memegang tas kecilnya erat-erat, seolah menahan diri dari sesua

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status