Home / Romansa / MAHLIGAI DOSA / Chapter 1. Sang Pramugari

Share

MAHLIGAI DOSA
MAHLIGAI DOSA
Author: Dewa Amour

Chapter 1. Sang Pramugari

Author: Dewa Amour
last update publish date: 2026-04-13 19:47:11

"Aah! Pelan-pelan, Kapten..."

Karina mencengkeram bahu Devran yang sedang bergerak liar di atasnya. Ia tahu ini dosa besar, namun kerapuhan dan putus asa membuatnya tak peduli apapun lagi selain mencari pelarian.

..............................................

Jakarta, 2025.

Langit di atas Bandara Soekarno-Hatta kelabu, seolah turut merasakan mendung yang menggelayuti hati Karina. Setiap tarikan napas terasa berat, membebani rongga dada yang sesak.

Koper kabinnya terasa seperti beban berton-ton, diseretnya perlahan di koridor terminal yang lengang, gema rodanya beradu dengan langkah kaki yang hampa. Karina, 21 tahun, seragam pramugari Samudera Airline membalut tubuhnya yang ramping, namun aura profesionalnya runtuh dihempas badai berita.

Wajah ayunya pias, air mata menggenang di pelupuk mata yang sembab, tak peduli pada tatapan samar dari beberapa penumpang yang berpapasan.

Beberapa menit sebelumnya, ponselnya bergetar di saku, menampilkan nama yang tak asing namun kini terasa asing: Ibu Mertua. Suara di seberang sana, yang biasanya lembut dan penuh perhatian, kini terdengar pecah oleh tangis dan histeria.

Ferdi mengalami kecelakaan saat pemotretan di puncak gunung. Kata-kata itu berputar-putar di benaknya, merobek ketenangan yang selama ini dipertahankannya.

Suaminya, Ferdi Prasetyo, sang fotografer petualang, kini terbaring tak berdaya. Tanpa pikir panjang, Karina mengajukan pembatalan penerbangan ke manajer on duty, suaranya tercekat. Ia harus kembali ke Jakarta, harus melihat Ferdi.

Di dalam taksi yang melaju membelah padatnya Jakarta, dunia terasa berputar lambat. Rintik hujan mulai membasahi kaca jendela, seolah mencerminkan air mata yang tak henti mengalir di pipi Karina.

Ia menyandarkan kepala ke sandaran kursi, memejamkan mata, berusaha mengusir bayangan Ferdi yang terbaring lemah. Namun, yang muncul justru kenangan setahun silam, saat dunia mereka masih sempurna.

Kilau cincin kawin di jarinya memantulkan cahaya lampu jalan, membawa Karina kembali pada hari itu. Ferdi, suaminya, seorang fotografer sukses yang namanya melambung tinggi.

Pria humoris, romantis, dan penuh kejutan yang tak pernah gagal membuatnya tertawa. Pernikahan mereka bagai dongeng yang menjadi nyata.

Sebuah rumah baru yang megah, mobil mewah yang berkilau, semua adalah hadiah pernikahan dari Ferdi, bukti cintanya yang melimpah ruah. Karina ingat bagaimana Ferdi selalu ada, selalu mendekapnya hangat, selalu berbagi impian.

Namun, segalanya berubah. Pelan-pelan, setahap demi setahap, kehangatan itu memudar. Tawa Ferdi menghilang, digantikan tatapan kosong. Sentuhan lembut berganti dengan jarak yang tak terucap.

Laki-laki yang dulu selalu menemukan cara untuk membuat kejutan manis, kini berubah menjadi patung es, membisu seribu bahasa. Berbulan-bulan. Berbulan-bulan Karina hidup dalam kebisuan, dalam dinginnya tembok yang tak terlihat.

Ia mencoba bertanya, mencoba mendekat, namun Ferdi hanya membuang muka, atau lebih parah lagi, menghilang dalam kesibukannya.

Karina mendesah pilu, menyeka air mata dengan punggung tangan. Perih. Ini lebih perih daripada luka fisik mana pun. Ia tak pernah menyalahkan Ferdi atas kesulitan finansial yang mulai melanda.

Proyek-proyek besar yang dulu menghampiri Ferdi kini jarang datang, dan Karina tahu itu membebani suaminya. Ia berusaha mengerti, berusaha mendukung, namun Ferdi justru semakin menjauh. Ia merindukan Ferdi yang dulu, Ferdi yang selalu menjadi sandaran hatinya.

Taksi berhenti di depan sebuah gedung megah; Rumah Sakit Permata. Jantung Karina berdebar tak karuan. Ia melangkah masuk, merasakan atmosfer muram yang menyelimuti lobi.

Bau antiseptik menusuk indra penciumannya, menambah kegelisahan. Di koridor menuju ICU, sosok Dewi, ibu Ferdi, dan Viona, kakak perempuan Ferdi, sudah menunggu.

Wajah mereka bukan menyiratkan keprihatinan, melainkan tatapan sinis yang menghunus hati Karina.

"Karina!" seru Dewi, suaranya tajam, sarat emosi. Tanpa basa-basi, wanita paruh baya itu menarik lengan Karina dengan kasar. "Ini semua gara-gara kamu! Ferdi jadi begini karena kamu!"

Karina terkesiap, tubuhnya menegang. Ia ingin membela diri, ingin menjelaskan, namun kata-kata tertahan di tenggorokannya.

Sebelum ia sempat berbicara, Viona menyambar, tatapan kakaknya menusuk. "Iya, lo sibuk sama karier lo itu! Terbang sana-sini, lupa suami! Lupa kewajiban sebagai istri!"

Sakit. Hati Karina serasa diremukkan. Di tengah duka dan kekhawatiran akan Ferdi, ia justru dihantam tuduhan keji. Air mata yang sempat tertahan kembali tumpah ruah, mengalir deras membasahi pipi.

Ia meraung dalam tangis, bukan hanya karena duka atas Ferdi, tapi juga karena keputusasaan. Justru ia yang selama ini tersiksa, justru ia yang selama ini berjuang menghadapi dinginnya Ferdi, dan kini ia yang disalahkan. Ketidakadilan ini terasa mencekiknya.

Dewi dan Viona terus melontarkan kata-kata pedas, mengabaikan tangis Karina yang memilukan. Karina hanya bisa menunduk, bahunya bergetar. Hatinya hancur berkeping-keping.

Dengan sisa kekuatan yang ada, Karina melepaskan diri dari cekalan ibu mertua, melangkah gontai menuju ruang ICU. Dari balik kaca, ia melihat Ferdi terbaring tak berdaya, wajahnya pucat pasi, kakinya dibalut gips tebal.

Pemandangan itu merobek hatinya. Ia masuk, menahan isak tangis yang tertahan di tenggorokannya.

"Mas Ferdi..." Suaranya berbisik, serak.

Ferdi, begitu menyadari kehadiran Karina, segera membuang wajahnya ke samping, menatap kosong ke dinding putih.

Ada harga diri yang terlalu tinggi di balik sikap itu, ketakutan untuk terlihat lemah di hadapan Karina yang kariernya sedang meroket. Ia tak ingin Karina melihat kerapuhannya. Sikapnya yang dingin tak pernah berubah, bahkan di ranjang rumah sakit.

Karina, dengan hati yang terluka, berusaha menahan kesabarannya. Ia mendekat, meraih jemari Ferdi yang tergeletak lemas di atas selimut.

Jemari itu dingin, tak lagi memancarkan kehangatan yang dulu selalu ia dambakan. Air mata kembali mengalir, membasahi tangannya yang menggenggam jemari Ferdi.

Ferdi merasakan sentuhan itu, merasakan kehangatan air mata Karina yang jatuh di punggung tangannya. Tanpa Karina ketahui, sebutir air mata mengalir di sudut mata Ferdi, menuruni pelipisnya dan menghilang di rambutnya.

Ia memang memalingkan wajah, menyembunyikan kerapuhan, namun hatinya tak sekeras batu. Ada penyesalan, ada rasa bersalah, yang tersembunyi di balik topeng dingin itu.

Sepulang dari rumah sakit, Karina kembali ke rumah yang terasa hampa. Suasana sepi mencekik. Belum sempat ia menenangkan diri, ponselnya kembali berdering.

Panggilan dari Samudera Airline. Besok, ia harus bertugas. Menggantikan pramugari senior yang berhalangan.

Jantung Karina mencelos. Besok? Ferdi masih di rumah sakit, masih membutuhkan dirinya. Ia ingin menolak, ingin berteriak bahwa ia tak bisa, namun keberanian itu menguap begitu saja.

Ia hanyalah pramugari baru, belum genap setahun bergabung dengan maskapai elite ini. Untuk bisa menjadi bagian dari Samudera Airline, perjuangannya tidak mudah. Ada persaingan ketat, pelatihan berat, dan tuntutan profesionalisme yang tinggi.

Menolak tugas, terutama tugas mendadak seperti ini, bisa berakibat fatal bagi kariernya yang baru menanjak. Ia menghela napas pasrah. Lagi-lagi, ia harus mengesampingkan perasaannya demi pekerjaan.

Pagi-pagi buta, sebelum matahari sepenuhnya terbit, Karina sudah mengenakan seragam pramugarinya yang rapi. Ia menyempatkan diri kembali ke rumah sakit, ingin melihat Ferdi sebelum terbang ke Batam.

Di samping ranjang Ferdi, ia berbisik lembut, "Mas, aku harus terbang ke Batam hari ini. Menggantikan senior."

Ferdi mengangguk pelan, tatapannya kosong. Sebuah izin yang terasa hambar. Karina membungkuk, mencium punggung tangan Ferdi, berharap ada kehangatan yang terpancar, namun yang ia rasakan hanya dingin. Pamitnya terasa berat, meninggalkan Ferdi dalam kondisi seperti itu.

Saat melangkah keluar dari kamar rawat, di koridor, ia berpapasan dengan Dewi dan Viona. Keduanya berdiri tegak, dengan tatapan menghakimi. Dewi menatap sinis pada seragam pramugari Karina, seolah seragam itu adalah simbol ketidakpedulian.

"Lihat tuh, Bu." ujar Viona dengan nada tajam, "Suami lagi sakit, kakinya patah, malah mau pergi kerja. Istri macam apa itu? Dasar nggak tahu diri!"

Karina merasakan hatinya kembali nyeri, namun ia mencoba menahan diri. Ia sudah terlalu lelah untuk berdebat. Dengan seulas senyum tipis, ia berusaha menyapa Dewi, hendak mencium tangannya sebagai bentuk hormat.

Namun, ibu mertuanya segera mundur, menatapnya jijik. Karina tercekat. Penghinaan ini terasa lebih menyakitkan daripada kata-kata.

"Harusnya kamu itu mikir, Karina. Ferdi sudah meninggalkan segalanya demi nikah sama kamu. Jadi orang kok nggak tahu diri banget," cetus Viona, menatap jijik pada wanita cantik berseragam pramugari di hadapannya.

Melihat jam di pergelangan tangannya, Karina memutuskan untuk tidak meladeni mereka. Ia akan terlambat jika terus berdebat.

"Maaf, Mbak Vio, Ibu... aku harus berangkat."

Dengan langkah cepat, ia bergegas meninggalkan rumah sakit, meninggalkan tatapan sinis dan kebencian yang menusuk.

Setibanya di kantor maskapai, suasana sudah ramai. Pramugari dan pramugara Samudera Airline, mengenakan seragam biru tua yang elegan, berbaris rapi, siap untuk penerbangan.

Karina segera bergabung di barisan, berusaha menata perasaannya yang kacau balau. Ia harus profesional. Ini adalah pekerjaannya, satu-satunya penopang finansial mereka saat ini.

Kemudian, pintu terbuka, dan seorang wanita muncul. Sosoknya tinggi semampai, mengenakan setelan blazer hitam yang pas di tubuh, rambutnya diikat rapi. Wajahnya tegas, dengan sorot mata tajam yang memancarkan otoritas. Dia, Renata Masayu, CEO Samudera Airline, sang pemilik maskapai.

Renata berjalan perlahan di sepanjang barisan, menatap setiap pramugari dan pramugara dengan teliti, seolah memindai setiap detail. Tatapannya berhenti pada Karina.

Ia menyipitkan mata, menatap Karina lebih lama dari yang lain, seolah menemukan sesuatu yang mencolok, yang entah mengapa menarik perhatiannya.

Deg.

Karina merasakan kegugupan menyeruak, namun ia mencoba mempertahankan sikap profesional.

Setelah memberikan beberapa arahan singkat, Renata membubarkan barisan. Namun, saat semua mulai bergerak, Renata memanggil Karina.

"Kamu, ikut saya sebentar."

Suara Renata dingin, tanpa emosi. Karina segera menghadap, merasa hormat sekaligus segan. Ia tidak tahu apa salahnya.

"Dengar," ucap Renata, menatap lurus ke mata Karina, "Di Samudera Airline ini, kami tidak membutuhkan pramugari yang kecentilan dan sok cantik. Paham?"

Karina terkejut, napasnya tertahan. Jantungnya berdebar kencang. Kecentilan? Sok cantik? Ia tak mengerti. Ia merasa tidak pernah melakukan hal seperti itu. Air muka Renata tidak menunjukkan sedikit pun keramahan, selain tatapan dingin.

"Sekarang, pergi. Susul yang lain," perintah Renata, tanpa memberikan Karina kesempatan untuk menjelaskan diri.

Karina hanya bisa mengangguk, bingung dan malu. Ia segera bergegas pergi, menyusul rekan-rekannya menuju pesawat. Ada perasaan tidak nyaman menyelimutinya.

Apa maksud Renata? Apakah ia melakukan kesalahan fatal tanpa menyadarinya?

Di dalam pesawat, ia bertemu dengan Ririn, seorang pramugari senior Samudera Airline yang dikenal ramah. Ririn menyambut Karina dengan senyum hangat.

"Lo Karina, kan? Yang baru gabung?" sapa Ririn. "Selamat datang di Samudera. Ini penerbangan eksklusif pertama lo, ya?"

Karina mengangguk, membalas senyum Ririn. "Iya, Mbak Ririn. Mohon bimbingannya."

"Santai aja," kata Ririn, sambil menata troli makanan. "Nanti gue kasih tahu aturan-aturan nggak tertulis di sini. Yang nggak ada di kontrak kerja."

Karina mengangguk, merasa sedikit lega dengan kehangatan Ririn. "Mbak, boleh tanya sesuatu?"

"Boleh. Tanya apa?"

"CEO kita... Bu Renata... dia kayaknya agak judes gitu, ya?" tanya Karina ragu-ragu.

Ririn tersenyum tipis, sebuah senyum yang sarat makna. "Bu Renata memang begitu. Dingin, angkuh, tapi profesional kok. Dia sangat menjunjung tinggi standar maskapai ini. Jadi, jangan heran kalau dia kelihatan agak judes."

Belum sempat Karina bertanya lebih lanjut, tiba-tiba terdengar suara pramugari lain menyapa dengan antusias.

"Kapten Devran! Selamat pagi!"

Karina dan Ririn menoleh ke arah kokpit. Sesosok pria tegap melangkah keluar, mengenakan seragam pilot Samudera Airline yang gagah.

Wajahnya tampan sempurna, rahang tegas, hidung mancung, dengan sorot mata yang teduh namun memancarkan kharisma. Rambutnya hitam legam, tersisir rapi. Senyumnya begitu menawan, mampu meluluhkan hati setiap wanita.

Dialah Kapten Devran Mahendra, pilot idaman para pramugari, bintang di maskapai ini. Pria yang dielu-elukan karena parasnya yang menawan dan kemampuannya yang tak diragukan. Ia adalah definisi kesempurnaan seorang laki-laki.

Devran menoleh, senyumnya semakin lebar saat matanya bertemu dengan Karina. Sebuah senyum ramah, tulus, yang langsung menembus ke dalam hati Karina.

Untuk sesaat, segala keputusasaan dan duka yang membelenggunya terlupakan. Ada getaran aneh, sebuah percikan kecil, yang tiba-tiba muncul.

Ririn menyenggol lengan Karina pelan, tatapan matanya memperingatkan. "Awas kecantol, Karina. Kapten Devran itu suaminya Bu Renata, CEO kita."

Karina tertegun, pandangannya beralih dari Devran ke Ririn, lalu kembali ke Devran.

Suami Bu Renata? CEO yang dingin dan angkuh itu?

Dunia serasa mengejeknya lagi. Sebuah kenyataan pahit, dan peringatan yang tegas. Jika Bu Renata tahu, Karina bisa dipecat. Senyum menawan Kapten Devran Mahendra kini terasa seperti racun yang mematikan, menjanjikan bahaya yang tak terlihat.

Karina menunduk, kembali merasakan keputusasaan yang lebih dalam pada nasib pernikahannya dengan Ferdi. Laki-laki yang begitu ia cintai, kini menjauh. Dan di hadapannya, ada sosok sempurna yang terlarang, yang seolah mengejek penderitaannya.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • MAHLIGAI DOSA   Chapter 101. Pelabuhan Terakhir (ending)

    Waktu bergulir tanpa kompromi. Tiga tahun berlalu penuh dinamika, membawa perubahan mendalam bagi mereka yang bertahan.Pagi ini, udara di luar Lembaga Pemasyarakatan Wanita terasa berbeda bagi Karina Prameswari. Hari ini adalah hari kebebasannya.​Di dalam sel tahanan yang telah menjadi rumahnya selama tiga tahun, Karina berkemas pelan. Langkah kaki sipir terdengar mendekat untuk menjemputnya.Sebelum melangkah menuju pintu gerbang utama, Karina memeluk erat teman-teman satu selnya.Loli dan beberapa tahanan lain meneteskan air mata haru, melepaskan wanita yang selama ini menjadi sosok lembut di antara kerasnya dinding penjara.​Di sudut ruangan, Elen—sang penguasa sel yang bertubuh tinggi tegap—hanya berdiri membisu, menyaksikan perpisahan itu tanpa niat bergabung.Karina memutar tubuhnya, menatap Elen. Wanita yang dulu selalu menindasnya di awal masa tahanan itu telah berubah menjadi sosok pelindung terdepan bagi Karina selama tiga tahun terakhir.​Karina melangkah mendekat. "Kak E

  • MAHLIGAI DOSA   Chapter 100. Memori Di Musim Semi

    Di Pulau Batam, cuaca siang terasa terik.​Rain Gumilang berjalan tergesa-gesa menyusuri lobi lantai lima kantor cabang Miracle Group—sebuah gedung pencakar langit megah yang baru saja diakuisisi oleh ayahnya dan belum sempat Rain kunjungi sebelumnya."Bos!" Reza berjalan setengah berlari di belakang Rain, membawa dua tas dokumen yang tebal. "Gue tahu lo juara lari maraton waktu di militer... tapi ini di kantor! Bisa nggak pelan dikit jalannya? Gue ngos-ngosan nih! Bos!"Rain tidak peduli dengan rengekan Reza. Ia harus sampai lebih dulu dari ayahnya. ​Namun, saat Rain hendak berbelok di koridor utama menuju ruang rapat—​BRUK!​Rain berbenturan keras dengan seorang wanita yang berjalan cepat dari arah berlawanan.​Tumpukan folder dokumen, kertas laporan, dan tablet yang dibawa wanita itu seketika terlepas dan berhamburan berantakan di atas lantai marmer.​"Aww!" wanita itu merintih, refleks memegangi lengannya.​Wanita itu bernama Natasha. Berusia setara dengan Karina, Natasha memilik

  • MAHLIGAI DOSA   Chapter 99. Warisan Keluarga Masayu

    "Saya enggak bisa menerimanya, Pak Malik," ucap Devran lirih namun tegas.​Pak Malik terkejut. Eric yang duduk di samping Devran langsung melotot tak percaya."Kenapa, Pak Devran?" tanya Pak Malik terheran-heran. "Ini adalah hak hukum Anda sebagai suami sah beliau."​"Saya merasa jijik sama diri saya sendiri kalau menerima semua ini," bisik Devran dengan nada penuh penyesalan. "Selama tiga tahun menikah, saya gak pernah membahagiakan Renata. Pernikahan kami cuma diisi kebencian. Kalau saya ambil warisan ini sekarang... saya cuma akan kelihatan seperti pria brengsek yang mengeruk keuntungan dari kematian tragis istrinya sendiri. Tolong alihkan saja semuanya."​Pak Malik menghela napas berat. "Jika Anda menolak secara resmi, Pak Devran, maka sesuai klausul cadangan, seluruh aset keluarga Masayu akan dibekukan dan dialihkan ke yayasan sosial. Tapi... saya minta Anda pikirkan baik-baik."​Eric yang sejak tadi menahan diri akhirnya tidak bisa tinggal diam lagi. Ia mencondongkan tubuhnya ke

  • MAHLIGAI DOSA   Chapter 98. Sesal Terakhir

    Pagi itu, udara Jakarta terasa luar biasa dingin. Kabut tipis menyelimuti deretan pohon kamboja di Pemakaman Umum Tanah Kusir.Mobil-mobil mewah berwarna hitam berderet rapi di sepanjang bahu jalan kompleks pemakaman.Puluhan orang berseragam gaun dan setelan jas hitam berkumpul mengelilingi liang lahat yang masih menganga lebar, menunggu prosesi pemakaman dimulai.​Tiga hari telah berlalu sejak malam mencekam di bangunan terbengkalai itu—malam yang diwarnai penyekapan, ledakan bom yang menewaskan Anggun dan Hexa, hingga ditemukannya jenazah kaku Renata Masayu di dalam kulkas.Hari ini, seluruh babak berdarah itu ditutup dengan keheningan yang abadi.​Devran berdiri paling depan di tepi liang lahat. Pria itu mengenakan kemeja dan jas hitam, matanya tertutup kacamata hitam untuk menyembunyikan sembap dan luka memar yang belum sepenuhnya pulih. Ia datang untuk mengantarkan mendiang istrinya ke peristirahatan terakhir.​Di dalam peti mati kayu jati berukir yang dihiasi hamparan mawar put

  • MAHLIGAI DOSA   Chapter 97. Penyesalan Mengusik Kenangan

    Berita penculikan kapten pilot Devran, ledakan bom di gedung tua yang menewaskan Anggun dan Hexa, hingga ditemukannya mayat tragis CEO Samudera Airlines, Renata Masayu di dalam kulkas perusahaannya sendiri, meledak menjadi berita utama di seluruh stasiun televisi dan media nasional siang itu.Seluruh Indonesia menahan napas; kenyataan bahwa sang CEO dibunuh secara keji oleh saudara kembar kandungnya sendiri yang selama ini disembunyikan dari publik menjadi skandal terbesar tahun ini.Di Lapas Wanita Cipinang, suasana kantin saat makan siang mendadak hening. Televisi gantung di sudut ruangan menayangkan breaking news mengenai kematian Renata Masayu.Karina, yang sedang duduk bersama Loli dan beberapa tahanan lain, menghentikan suapannya. Matanya menatap layar televisi tanpa berkedip. Wajahnya memucat, rasa syok mendalam merayapi dadanya.Loli menyenggol lengan Karina pelan, matanya membelalak. "Kar... bukannya itu mantan bos kamu di maskapai dulu? Si Renata Masayu yang terkenal galak i

  • MAHLIGAI DOSA   Chapter 96. Satu Kisah Tragis

    "Di mana Renata?! Apa yang sudah kalian lakukan padanya?!" bentak Devran.Anggun hanya terdiam, gemetaran dalam ketakutan.Melihat rahasia besar terbongkar dan Anggun terpojok, Hexa bergerak secepat kilat. Ia menarik pistol otomatis dari balik jasnya dan menodongkannya tepat ke dahi Devran."Tutup mulutmu, Pilot!"Namun Devran yang terlatih tidak tinggal diam. Dengan refleks secepat angin, Devran memutar tubuhnya, mengayunkan tendangan lurus yang menghantam pergelangan tangan Hexa keras.BUK!Pistol terlempar ke udara dan terjatuh di lantai beton. Perkelahian fisik yang sengit tak terhindarkan. Devran dan Hexa saling banting, melayangkan pukulan mentah di tengah kepungan debu dan reruntuhan.Di sudut lain, Anggun yang panik luar biasa berlutut di depan bom waktu. Mengingat sedikit pengetahuan tentang peledak, jemarinya yang gemetar mencabut asal salah satu kabel berwarna merah.BZZZZT!Layar digital bom mendadak mati. Penghitung waktu berhenti tepat di angka 01:12.Pada saat yang bers

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status