Beranda / Horor / MAK ACIH. KISAH PEMANDI JENAZAH / PENYESALAN ENDAH (Bab. 3)

Share

PENYESALAN ENDAH (Bab. 3)

Penulis: Diah Pitasari
last update Tanggal publikasi: 2026-06-24 11:00:48

“Coba Endah enggak ngebohongin saya. Enggak akan jadi begini keadaannya. Ya Alloh, Endaahh ...!” Sulis tiba-tiba berteriak histeris sambil menangis sesenggukan, menyebutkan nama sang putri. Duka dan kekecewaan tampak jelas terlihat pada wajah perempuan 40 tahun itu. Dahinya berkerut menahan kesal dan kesedihan.

Para pelayat langsung menghibur, mengaja

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • MAK ACIH. KISAH PEMANDI JENAZAH    ROH YANG TERGANTUNG (Bab. 9)

    Tak hanya sekadar membeli, Haji Sobri bahkan menawarkan harga yang sangat pantas. Sama sekali tidak memanfaatkan kesempatan di situasi terdesakOcohuntuk menawar murah.Air mataOcohmenetes deras. Ia dan Danu berulang kali mengucapkan syukur dan terima kasih mendalam sambil menjabat erat tangan Haji Sobri. Uang pembayaran tanah pun diserahkan hari itu juga secara tunai.Sore harinya, rumahOcohramai dikunjungi warga.Satu per satu tetangga yang memiliki sangkutan utang dengan Mirah dipanggil masuk. Danu duduk di sampingOcoh, memegang catatan sederhana dan tumpukan uang tunai di atas meja."CeuJuju

  • MAK ACIH. KISAH PEMANDI JENAZAH    ROH YANG TERGANTUNG (Bab. 8)

    UstadzAgummembetulkanposisi duduknya, menatapOcohdan Danu dengan pandangan yang tenang."Lalu soal kebingunganCeuOcohdan Kang Danu terkait acara empat puluh hari ..."UstadzAgum menghela napas pelan."Dalam agama kita,membayar utang itu hukumnya wajib mutlak. Itu hak orang lain yang harus dikembalikan. Sedangkan mengadakan acara selamatan atau bersedekah makanan di hari keempat puluh ... itu niatnya baik, tapi hukumnyasunnah, bahkan sifatnya hanya tradisi kebiasaan warga."UstadzAgum memajukan tubuhnya, menatap mataOcohyang mulai berkaca-kaca. "Jangan dibalik c

  • MAK ACIH. KISAH PEMANDI JENAZAH    ROH YANG TERGANTUNG (Bab. 7)

    "Saya cuma mau bayar utang yang adabukti tertulisnya, Mak. Kuitansi, bon, atau tulisan tangan Mirah. Posisi saya ini cuma buruh serabutan, uang dari mana? Kalau saya main percayaajasama omongan orang tanpa bukti, nanti semua warga bisaajangaku-ngakudiutangi si Mirah deminyarikeuntungan. Saya takut dibodohi orang, Mak."Ocohmengusap dadanya yang terasa sesak. Ia paham kekhawatiran menantunya. Apa yang dikatakan Danu memang masuk akal secara hitungan duniawi, tapi kondisi arwah putrinya yang tak tenang terus membayangi pikiranOcoh.Ocohtertunduk layu. Ia tak bisa menyalahkan Danu, tapi ia sendiri juga tak berdaya.

  • MAK ACIH. KISAH PEMANDI JENAZAH    ROH YANG TERGANTUNG (Bab. 6)

    Siang itu, Ocoh sedang berjongkok di atas dingklik kayu di pojokan dapur, di area mencuci piringnya yang sederhana. Berukuran dua kali dua meter dengan lantai ubin semen yang selalu basah.Di tengah kesibukannya, telinga Ocoh tiba-tiba menangkap suara gesekan halus. Seseorang mendadak duduk berjongkok tepat di sampingnya, lalu ikut mengulurkan tangan membantu membasuh piring.Ocoh menoleh. Sosok yang sangat ia kenal berada di sana. Putri kandungnya, Mirah."Mirah?" panggil Ocoh bingung.Ada ganjalan aneh yang merayapi dadanya. Seperti ada logika yang salah di kepalan

  • MAK ACIH. KISAH PEMANDI JENAZAH    ROH YANG TERGANTUNG (Bab. 5)

    Bersamaan dengan itu, semilir angin sejuk berembus lembut dari lereng Gunung Salak, menerpa pepohonan kamboja di Pemakaman umum Desa Cialas. Angin itu terasa begitu dingin dan menenangkan, seolah menyapu habis sisa-sisa ketegangan dan keraguan di hati setiap orang yang hadir, termasuk Iis yang kini tertunduk bisu.Prosesi pemakaman pun berlanjut tanpa kendala. Papan penutup dipasang, dan tanah ditimbunkan kembali dengan lancar.Sebagai penutup, Ustadz Agum memimpin doa di samping nisan yang baru ditancapkan. Doa meluncur dari bibirnya dengan begitu indah, meresap, dan menyejukkan hati.Satu per satu pelayat mulai melangkah pulang meninggalkan pemakaman. Danu sempat melambaikan tangan terakhir di atas pusara istriny

  • MAK ACIH. KISAH PEMANDI JENAZAH    ROH YANG TERGANTUNG (Bab. 4)

    Merasa privasi dan nama baik keluarganya tersentil di depan umum, Kang Sodiq, kakak almarhumah Mirah melangkah maju dengan wajah merah padam."Ustadz! Maksudnya apa ini?!" tanya Sodiq dengan nada kesal. "Masa lagi berduka gini malah bahas utang? Tega-teganya orang-orang nagih hutang di saat adik saya belum juga dikubur! Enggak lihat-lihat keadaan banget!""Kang Sodiq, tenang dulu..." pangkas Ustadz Agum dengan nada tenang namun memikul ketegasan syariat. "Ini bukan untuk mempermalukan almarhumah, Kang. Menyelesaikan perkara utang-piutang sebelum jenazah dikuburkan itu wajib hukumnya. Jika lalai, kasihan Neng Mirah. Hal ini bisa memberatkan perjalanannya di alam selanjutnya ... Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, Rasululla

  • MAK ACIH. KISAH PEMANDI JENAZAH    NASIB BUNGA (Bag. 12)

    “Bowo mengeluh pada saya, ia kerap dihantui oleh arwah Entin. Indri juga kerap didatangi, ya, Ndri?” tanya Herman pada Indri yang mengangguk lemah.“Anak bungsu saya juga sering mendadak sakit panas. Sudah diminumi obat, panasnya enggak turun-turun. Baru sembuh kalau saya berikan air y

  • MAK ACIH. KISAH PEMANDI JENAZAH    RUMAH BARU UNTUK PARDI (Bag 1)

    Pagi yang cerah di Desa Cialas. Angin bertiup sepoi-sepoi, membawa kesejukan dan aroma segar udara pegunungan. Aki Amin melangkah sendirian menuju sawah Haji Kosim yang terbentang luas dan bertanah subur. Berada tepat di bawah perbukitan yang ditumbuhi pepohonan besar berusia tua. Ia dan beberapa te

  • MAK ACIH. KISAH PEMANDI JENAZAH    ANAKING JIMAT AWAKING (Bag. 1)

    Subuh yang dingin dan sepi di Desa Cialas. Sang raja siang masih enggan menampakkan sinarnya. Ketika tiba-tiba suasana syahdu pagi nan sunyi, dibuyarkan suara sepiker masjid yang mengumumkan kabar duka. Hari ini, seorang perempuan warga Desa Cialas, telah berpulang. Meninggalkan gemerlap duniawi ya

  • MAK ACIH. KISAH PEMANDI JENAZAH    SUSUK PEMIKAT LILIS (Bag. 4)

    “Kain kafannya dipotong sesuai tinggi jenazah, Neng, tapi ditambah kira-kira tiga jengkal.” Mak Acih membentang jemari tangan kanannya lebar-lebar. Neneng manggut-manggut. Ia mengambil gunting, bersiap memotong panjang kain sesuai yang diperintahkan sang bibi.“Bikin tiga helai, Neng.”“Panjangnya

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status