تسجيل الدخول"Kami dari keluarga Erik juga setuju, Pak. Tolong urus semuanya di sini," sahut ayah Erik dengan suara parau, menyembunyikan rasa malu yang teramat sangat.
Aiptu Sumardi mengangguk takzim. "Baik. Kami pastikan putra-putri Bapak dan Ibu akan disempurnakan haknya dengan sangat layak secara syariat."
Tepat setel
Warga Desa Cialas biasa memanggilnya Mang Ijum—pria lima puluh tahun, yang berprofesi sebagai pedagang sayur keliling di desa. Biasanya, Ijum berangkat menuju pasar untuk berbelanja sayur saat dini hari.Dia membawa dua keranjang yang terbuat dari bambu, dianyam berbentuk tabung lebar berdiameter lima puluh cm. Dia menggunakan bilah bambu untuk memikulnya, di depan dan belakang tubuhnya. Langkahnya ringan, melintasi jalan setapak di antara rimbun pohon rambutan dan kecapi. Semak belukar tampak basah oleh embun, melembapkan sandal karetnya yang sudah tipis.Ijum biasa ke pasar untuk membeli sayuran tertentu, yang tidak ditanam oleh para petani sayur di kaki gunung, untuk dijual kembali. Saat subuh, biasanya dia sudah sampai di pasar, lalu kembali ke desa dan mulai berkeliling—menjajakan dagangannya pada pukul 7 pagi. Kalau sampai siang dagangannya tak habis, dia menaruh sisa sayuran di warung Ipat, istrinya, yang akan melanjutkan penjualan, sed
Tiba-tiba MakAcihmerasakan deru angin kencang yang tadi membawanya, kembali menggulung tubuh.Membuatnya seperti tersedot dalam pusaran warna yang berputar kuat. MakAcihmemejamkan matanya. Dan saat ia kembali membuka netra, tahu-tahu ia sudah berada dalam bilik pemandian, di mana jenazah Endah terbujur, menunggu untuk dimandikan.Membuatnya seperti tersedot dalam pusaran warna yang berputar kuat. MakAcihmemejamkan matanya. Dan saat ia kembali membuka netra, tahu-tahu ia sudah berada dalam bilik pemandian, di mana jenazah Endah terbujur, menunggu untuk dimandikan.“Astaghfirullahhaladzim.”MakAcihberisti
Endah yang terkejut melihat pemandangan di depan matanya, langsung meminta ijin untuk pulang.Sepertinya, ia merasa, ada firasat buruk yang akan terjadi, kalau tetap berada di rumah itu.Si pemuda kembali membujuk Endah untuk tetap tinggal. Meski awalnya menolak, gadis remaja bertahi lalat di pipi itu pun akhirnya menurut untuk tetap berada di rumah itu.Firasat buruk langsung menyerbu benak MakAcih, ia pun buru-buru melangkah mendekati Endah.“Endah! Ayo pulang! Lari, Endah! Mereka mau berbuat jahat sama kamu!” MakAcihberteriak mengingatkan Endah sambil menepuk bahunya, tapi sebuah kesadaran membuatnya kembali m
Ucupdan Sanih langsung menghambur, memeluk dan menenangkan Sulis yang terus menangis. Beruntung, ia tak selemahSanah, yang beberapa kali jatuh pingsan kala mendengar berita kematian Entin. Hanya tangis Sulis yang tak terkontrol kala melihat jenazah sang putri dalam kondisi sangat menyedihkan.MakAcihdan Neneng beristigfar dalam hati melihat pemandangan memilukan di hadapan mereka. Perempuan sepuh itu menyentuh pelan jenazah Endah yang masih berada dalam kantung jenazah.“Assalamualaikum, Endah.Emakmau mandikan kamu. Tolong bantuEmak, ya,Geulis.” MakAcihmengucap salam deng
“Coba Endah enggakngebohonginsaya. Enggak akan jadi begini keadaannya. YaAlloh,Endaahh...!” Sulis tiba-tiba berteriak histeris sambil menangis sesenggukan, menyebutkan nama sang putri. Duka dan kekecewaan tampak jelas terlihat pada wajah perempuan 40 tahun itu. Dahinya berkerut menahan kesal dan kesedihan.Para pelayat langsung menghibur, mengajaknya beristigfar dan menasihati agar sang ibu bersabar menerima takdir, walau pahit dan menyakitkan.“KunaonEndahmaotnakudu awaskitu? Dosanaonurang teh, Mak?!”Sulis masih berteriak histeris. Ia mengguncang lengan MakAcihyang tak bisa berbuat banyak, selain mengajak Sulis untuk banyak-banyak beristigfar, memint
Azan Subuh baru saja berlalu. MakAcihbersiap hendak memasak air untuk anggota keluarga yang semalam menginap di rumahnya. Ia membuka pintu dapur, bermaksud menimba air dari sumur di belakang rumah. Ketika matanya melihat sosok mungil tengah berdiri di bawah pohon jambu, yang tumbuh di dekat kamar mandi.“Siapa itu, ya?” MakAcihbergumam, seraya mempertegas penglihatannya.“Endah?” tanya MakAcihtak yakin, saat ia melangkah menghampiri sosok gadis remaja, yang semalam sedang dicari oleh seluruh warga DesaCialas.Endah tidak menjawab. Ia menatap MakAcihtakut-takut. Di tangannya mendekap erat handuk putih, dan gayung kayu, yang berisi sabun, dan sam
Pagi yang cerah di DesaCialas. Tampak tiga orang berjalan beriringan menapaki jalan setapak berbatu, memasuki kompleks pemakaman umum desa yang berada di tengah-tengah areal persawahan.
Desa Cialas. Sepeninggal Bowo dan Herman menuju ke makam Entin, Dadang langsung berembuk dengan Sanah dan Euis mengenai Entin yang dikabarkan bergentayangan menghantui penduduk. “Bagaimana kalau kita tanyakan pada Aki Uwin? Minta dicarikan jalan keluar buat masalah ini?” Dadang memberi ide. Aki
“Bowo mengeluh pada saya, ia kerap dihantui oleh arwah Entin. Indri juga kerap didatangi, ya, Ndri?” tanya Herman pada Indri yang mengangguk lemah.“Anak bungsu saya juga sering mendadak sakit panas. Sudah diminumi obat, panasnya enggak turun-turun. Baru sembuh kalau saya berikan air y
Dengan sekuat tenaga, ia akhirnya berhasil menyusul Bowo yang kini sudah duduk manis di atas jok motornya.“Ah, payah luninggalingue.Udahdianterin, malahn







