MasukSetelah mengantongi surat izin tertulis yang sah dari kedua belah pihak keluarga, tim dokter forensik langsung bergerak cepat untuk melakukan tindakan otopsi di dalam ruang bedah utama. Mengingat kondisi kedua jenazah yang ditemukan dalam posisi gancet, alias organ intim keduanya masih menyatu erat akibat kejang otot ekstrem saat kematian terjadi sebulan lalu, prosedur p
“Mas... lihat deh,” bisik Fanny dengan suara gemetar, mengarahkan lingkaran cahaya senter ke lantai semen tersebut. “Lantai semen di bawah kompor ini... beda warnanya sama lantai semen dapur yang lain. Cuma semen di bagian sini yang warnanya kelihatan lebih muda dan baru disemen ulang...”Rian membeku. Ustadz Agum dan seluruh warga yang mengerubungi tempat itu langsung membungkuk, berdesakan memperjelas pandangan mereka.Di bawah sorotan lampu senter, nampak jelas tambalan semen berbentuk persegi panjang yang warnanya jauh lebih terang dibandingkan semen lama di sekelilingnya. Sebuah tanda eksplisit, bahwa lantai di bawah kompor itu pernah dibongkar, digali, lalu dicor kembali secara terburu-buru.
“Dedi, Saya mau pinjam tubuh kamu sebentar. Saya mau ngobrol sama yang enggak kelihatan di rumah ini. Boleh?” tanya Ustadz Agum lembut.Dedi yang walau awalnya tampak bingung dan ragu, akhirnya mengangguk setuju. “Boleh, Tadz.”Ustadz Agum meminta Dedi untuk berdiri di tengah ruangan dan memejamkan mata. Tak lama, Ustadz Agum pun ikut memejamkan mata. Dengan konsentrasi penuh, ia mengulurkan telapak tangan kanannya ke udara, menggerakkan jemarinya seperti radar yang sedang mencari sinyal gaib.Hanya butuh beberapa detik, gerakan jemarinya mendadak berhenti di satu titik hampa. Seperti telah berhasil mengunci gelombang yang dicari, telapak tangan Ustadz Agum perlahan bergerak menuju dahi Dedi, seolah sedang menggiring sebuah energi asing agar masuk ke dalam tubuh pemuda itu.Fanny, Rian, dan seluruh warga yang hadir di sana menyaksikan proses itu dengan napas tertahan. Suasana dapur mendadak mencekam dan heni
Tepat di saat-saat kritis ketika nyawanya berada di ujung tanduk, samar-samar terdengar suara derap langkah kaki banyak orang yang berlarian masuk ke dalam rumah dan bergegas menuju dapur.Namun Rian yang sudah pasrah tidak bisa lagi merasakan apa-apa. Kesadarannya putus, pandangannya benar-benar gelap gulita, dan ia pun tidak ingat apa-apa lagi.Sebuah tepukan lembut yang berulang di pipinya perlahan mengembalikan kesadaran Rian. Ia membuka matanya yang terasa berat, lalu terkejut saat mendapati dirinya sedang berbaring di lantai ruang tengah dengan dikerubungi oleh beberapa orang warga desa. Rian memandang sekeliling dengan tatapan linglung, mencoba mencerna apa yang terjadi. Ingatan terakhirnya langsung berputar. Iadicekik oleh Fanny di dapur lalu mendadak pingsan.
Fanny berdiri mematung di dapur, napasnya memburu. Perasaan sebalnya pada Rian kian menjadi-jadi, menyelimuti hatinya dengan hawa dingin.Rumah itu kini tidak hanya dipenuhi oleh teror gaib, tetapi juga oleh bom waktu perselisihan rumah tangga yang siap meledak kapan saja.Perang dingin di dalam rumah itu ternyata mulai tercium oleh lingkungan sekitar. Pernikahan yang awalnya terlihat harmonis itu,kini tampak retak di mata warga desa.Siang harinya, Fanny berjalan dengan langkah gontai menuju warung Euis untuk membeli keperluan dapur. Wajahnyaterlihatlelah. Rautcemberuttampakkentara,sisadarikekesalan dan kurang tidur.Ia bahkan hampir tidak membalas sapaan ramah dari beberapa tetangga yang berpapasan di jalan.
"Rizky," panggil Rian dengan nada selembut mungkin. "Tadi...Ikiyke teras bawa teman namanya Fajri?"Rizky menggeleng pelan dengan wajah polos yang kebingungan. "Enggak ada, Pah.Ikiytadi sendirian di teras maunuruninmainan. Terus pas Mama keluar, Mamatahu-tahumelotot terus pingsan."Mendengar jawaban putranya, jantung Fanny rasanya seperti berhenti berdetak. "Enggak mungkin!Kiy, kamu jangan bohong sama Mama! Tadi jelas-jelas kamukenalindia ke Mama! Kamu bilang namanya Fajri!"Nada suaraFanny mulai naik lagi."Mah, Mah, tatap Mas. Tenang, tarik napas dulu," potong Rian dengan cepat. Ia kembali mendekap Fanny, mengunci tubuh istrinya yang mulai gem
Demi mengurangi sedikit rasa takutnya, Fanny sengaja membuka pintu depan dan semua jendela rumah lebar-lebar. Ia berharap sinar matahari pagi bisa mengusir atmosfer pekat di dalam rumah, sekaligus berpikir jika terjadi sesuatu yang buruk, ia bisa dengan mudah berlari keluar. Satu-satunya harapan Fanny saat ini adalah Rizky. Ia tak sabar menunggu putranya itu cepat pulang untuk menemaninya.Namun seperti biasa, begitu berganti baju, Rizky langsung meminta izin untuk bermain di kebun samping rumah bersama temannya. Walau berat hati, Fanny tetap merelakan putra sulungnya pergi. Ia tidak mungkin bersikap egois dengan menahan Rizky di dalam rumah hanya untuk menemaninya yang ketakutan. Apalagi, Rizky bermain tidak jauh, hanya di samping rumah mereka.Sepeninggal Rizky, rumah yang sempat ramai selama bebe
Tergesa, Neneng keluar rumah menuju arah kulon rumah Lilis, mencari letak pohon kelor yang ternyata tumbuh di antara pohon pepaya dan rambutan. Dirimbuni semak rumput liar. Bergegas ia memetik beberapa batang daun kelor, lalu memasukkannya dalam tas pandan. Sesuai perintah Mak Acih, buru-buru ia m
Hati Neneng terenyuh. Ia dan Lilis merupakan teman masa kecil. Mereka cukup dekat, walau perempuan cantik itu lebih tua beberapa tahun darinya. Komunikasi semakin berkurang, saat Lilis bersekolah di bangku SMP, sementara Neneng masih duduk di bangku kelas lima SD. Tahun-tahun berlalu tanpa pernah
Menjalani profesi sebagai pemandi jenazah, jelas bukan impian semua orang. Terutama bagi mereka yang berjiwa penakut dan materialistis. Sebuah profesi yang harus dilakukan dengan hati ikhlas lagi sabar, serta meluruskan niat hanya untuk beribadah sebagai amal jariah, bekal bagi diri saat berada di
Desa Cialas. Sepeninggal Bowo dan Herman menuju ke makam Entin, Dadang langsung berembuk dengan Sanah dan Euis mengenai Entin yang dikabarkan bergentayangan menghantui penduduk. “Bagaimana kalau kita tanyakan pada Aki Uwin? Minta dicarikan jalan keluar buat masalah ini?” Dadang memberi ide. Aki







